alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Mbah Kukuh

Oleh: Leo Sutrisno

DALAM buku Bausastra (Kamus) bahasa Jawa-Indonesia, karangan S. Prawiroatmodjo, ada berbagai padanan dari kata ‘kukuh’ dalam bahasa Indonesia. Di antaranya adalah: teguh, tetap hati, keras hati, dan pasti.

Mbah Kukuh adalah seorang koster sebuah kapel kecil. Pekerjaan itu diperoleh sebagai ‘warisan’ dari almarhum kakeknya. Layaknya seorang koster di desa yang jauh dari kantor paroki, mbah Kukuh selain melayani keperluan pastor yang sedang turne,  juga merangkap sebagai satpam, tukang kebun, pesuruh, dan tentu saja sebagai ‘kepala rumah tangga kapel’.

Tidak terkecuali membunyikan lonceng  tiga kali sehari yang memberi tahu umat sekitar bahwa saat itu adalah waktu berdoa Malaekat Tuhan. Atas kesepakatan penduduk sekitar, lonceng  kapel, karena bunyinya yang nyaring, juga digunakan sebagai tanda bahaya. Jika ada bahaya yang datang mengancam perdukuhan sekitar, mbah Kukuh akan membunyikan lonceng  tiga-tiga beberapa kali. Itu kesepakatan penduduk setempat.

Konon, tanah kapel itu milik kakeknya yang diwakafkan kepada gereja. Oleh pastor paroki kala itu, kakeknya diizinkan menggunakan sebagian tanah di pojok belakang kapel untuk membangun pondok. Kini, Mbah kukuh tinggal di pondok itu sendirian. Karena, memang tidak menikah.  Dari umat, ia mendapat gelar  sebagai ‘pastor tak berstempel’.

Siang itu, Mbah Kukuh  membunyikan lonceng tiga-tiga berulang kali. Banjir besar hampir mendekati  rumah-rumah penduduk di sekitar kapel.  Ada tanggul sungai yang melintas di bagian atas perdukuhan sekitar kapel  bobol.

Baca Juga :  Menutup Aib Murid

Penduduk sudah berlarian ke luar  rumah sambil mengamankan beberapa  benda berharga  ke perdukuhan lain yang lebih tinggi. Beberapa orang sempat mengajak Mbah Kukuh mengungsi. Tetapi, ia selalu menjawab, “Maaf, imanku tidak setipis iman kalian. Tuhan pasti akan menyelamatkan  orang  yang tebal  imannya”.

Ia yakin akan hal itu. Karena,  seluruh  hidupnya  telah  digunakan  untuk  mengurus  kapel dengan  segala  macam  tetek bengek-nya. Tentu ia juga tidak lupa selalu berdoa di bawah salib kapel. Awalnya,  ia memilih naik ke atas meja. Dengan harapan, air hanya akan setinggi meja. Namun, perkiraannya meleset.  Air terus datang dan menggenangi perdukuhan. Permukaan air  terus-menerus  semakin  tinggi.

Ketika ia berada di atas atap pondoknya,  datang  rombongan tim SAR dengan perahu karet dan membujuknya mengungsi. Namun, Mbah Kukuh tetap bertahan dengan jawaban ajakan yang pertama.

Tampaknya, hujan di hulu belum juga berhenti. Sebaliknya, justru semakin lebat, ditambah dengan angin kencang. Ia pun berenang menuju bumbungan atap kapel. Kembali tim SAR datang mengirimkan bantuan dan mengajak Mbah Kukuh mengungsi. Namun, tim itu kembali dengan tangan kosong.

Baca Juga :  Desa Mandiri dan Ketahanan Pangan di Kalbar

Menjelang magrib,  belum ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti. Ia pun berenang meninggalkan atap kapel yang sudah tergenang itu menuju pohon kelapa pekarangan tetangga. Di puncak pohon, Mbah Kukuh merasakan angin besar mengguncang-guncang pohon itu. Ia menjadi ketakutan. Kemudian, ia berteriak lantang, “Tuhan, Kau tidak adil! Kekuranganku apa?! Seluruh hidup kugunakan untuk mengurus kapel dengan segala keperluannya. Bahkan, aku  rela tidak menikah demi tugas itu. Tetapi, Kau tidak mau menyelamatkan aku”.

Malam telah menutupi seluruh perdukuhan.  Hujan  belum kunjung berhenti. Bahkan, permukaan air justru  merambati ketinggian pohon itu. Selain diguyur hujan lebat. Angin kencang juga menerpa  pepohonan. Tidak terkecuali pohon kelapa yang dipanjat Mbah Kukuh.

Mbah Kukuh  merasa lelah dan tentu saja lapar. Di antara sadar dan tidak, ia mendengar bisikan lembut,  “Kukuh,  kau menuduh-Ku tidak manolongmu. Selama hujan ini Aku sudah datang menolongmu tiga kali. Tetapi,  kau berkeras hati, bertahan pada pendiranmu”.

Ketika banjir sudah surut,  pagi berikutnya,  penduduk sibuk mencari-cari keberadaan Mbah Kukuh.  Mereka hanya menemukan, ada sebatang pohon kelapa sebelah kapel yang tercabut terbawa hanyut. Tak ada yang tahu dimana keberadaan mbah Kukuh.  Tinggal kisahnya yang selalu muncul di kala bencana melanda perdukuhan itu.**

*Penulis, Pemerhati Pendidikan.

Oleh: Leo Sutrisno

DALAM buku Bausastra (Kamus) bahasa Jawa-Indonesia, karangan S. Prawiroatmodjo, ada berbagai padanan dari kata ‘kukuh’ dalam bahasa Indonesia. Di antaranya adalah: teguh, tetap hati, keras hati, dan pasti.

Mbah Kukuh adalah seorang koster sebuah kapel kecil. Pekerjaan itu diperoleh sebagai ‘warisan’ dari almarhum kakeknya. Layaknya seorang koster di desa yang jauh dari kantor paroki, mbah Kukuh selain melayani keperluan pastor yang sedang turne,  juga merangkap sebagai satpam, tukang kebun, pesuruh, dan tentu saja sebagai ‘kepala rumah tangga kapel’.

Tidak terkecuali membunyikan lonceng  tiga kali sehari yang memberi tahu umat sekitar bahwa saat itu adalah waktu berdoa Malaekat Tuhan. Atas kesepakatan penduduk sekitar, lonceng  kapel, karena bunyinya yang nyaring, juga digunakan sebagai tanda bahaya. Jika ada bahaya yang datang mengancam perdukuhan sekitar, mbah Kukuh akan membunyikan lonceng  tiga-tiga beberapa kali. Itu kesepakatan penduduk setempat.

Konon, tanah kapel itu milik kakeknya yang diwakafkan kepada gereja. Oleh pastor paroki kala itu, kakeknya diizinkan menggunakan sebagian tanah di pojok belakang kapel untuk membangun pondok. Kini, Mbah kukuh tinggal di pondok itu sendirian. Karena, memang tidak menikah.  Dari umat, ia mendapat gelar  sebagai ‘pastor tak berstempel’.

Siang itu, Mbah Kukuh  membunyikan lonceng tiga-tiga berulang kali. Banjir besar hampir mendekati  rumah-rumah penduduk di sekitar kapel.  Ada tanggul sungai yang melintas di bagian atas perdukuhan sekitar kapel  bobol.

Baca Juga :  Merdeka Belajar untuk Kita Semua

Penduduk sudah berlarian ke luar  rumah sambil mengamankan beberapa  benda berharga  ke perdukuhan lain yang lebih tinggi. Beberapa orang sempat mengajak Mbah Kukuh mengungsi. Tetapi, ia selalu menjawab, “Maaf, imanku tidak setipis iman kalian. Tuhan pasti akan menyelamatkan  orang  yang tebal  imannya”.

Ia yakin akan hal itu. Karena,  seluruh  hidupnya  telah  digunakan  untuk  mengurus  kapel dengan  segala  macam  tetek bengek-nya. Tentu ia juga tidak lupa selalu berdoa di bawah salib kapel. Awalnya,  ia memilih naik ke atas meja. Dengan harapan, air hanya akan setinggi meja. Namun, perkiraannya meleset.  Air terus datang dan menggenangi perdukuhan. Permukaan air  terus-menerus  semakin  tinggi.

Ketika ia berada di atas atap pondoknya,  datang  rombongan tim SAR dengan perahu karet dan membujuknya mengungsi. Namun, Mbah Kukuh tetap bertahan dengan jawaban ajakan yang pertama.

Tampaknya, hujan di hulu belum juga berhenti. Sebaliknya, justru semakin lebat, ditambah dengan angin kencang. Ia pun berenang menuju bumbungan atap kapel. Kembali tim SAR datang mengirimkan bantuan dan mengajak Mbah Kukuh mengungsi. Namun, tim itu kembali dengan tangan kosong.

Baca Juga :  Usaha Rumah Tangga

Menjelang magrib,  belum ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti. Ia pun berenang meninggalkan atap kapel yang sudah tergenang itu menuju pohon kelapa pekarangan tetangga. Di puncak pohon, Mbah Kukuh merasakan angin besar mengguncang-guncang pohon itu. Ia menjadi ketakutan. Kemudian, ia berteriak lantang, “Tuhan, Kau tidak adil! Kekuranganku apa?! Seluruh hidup kugunakan untuk mengurus kapel dengan segala keperluannya. Bahkan, aku  rela tidak menikah demi tugas itu. Tetapi, Kau tidak mau menyelamatkan aku”.

Malam telah menutupi seluruh perdukuhan.  Hujan  belum kunjung berhenti. Bahkan, permukaan air justru  merambati ketinggian pohon itu. Selain diguyur hujan lebat. Angin kencang juga menerpa  pepohonan. Tidak terkecuali pohon kelapa yang dipanjat Mbah Kukuh.

Mbah Kukuh  merasa lelah dan tentu saja lapar. Di antara sadar dan tidak, ia mendengar bisikan lembut,  “Kukuh,  kau menuduh-Ku tidak manolongmu. Selama hujan ini Aku sudah datang menolongmu tiga kali. Tetapi,  kau berkeras hati, bertahan pada pendiranmu”.

Ketika banjir sudah surut,  pagi berikutnya,  penduduk sibuk mencari-cari keberadaan Mbah Kukuh.  Mereka hanya menemukan, ada sebatang pohon kelapa sebelah kapel yang tercabut terbawa hanyut. Tak ada yang tahu dimana keberadaan mbah Kukuh.  Tinggal kisahnya yang selalu muncul di kala bencana melanda perdukuhan itu.**

*Penulis, Pemerhati Pendidikan.

Most Read

Artikel Terbaru

/