alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Memaknai Kemerdekaan

Oleh: Amalia Irfani*

Usia boleh menua, tetapi semangat harus selalu muda. Kalimat sederhana tapi jelas penuh makna dalam hidup. Dalam hal apapun,  pertambahan usia adalah keberkahan sekaligus  motivasi untuk lebih baik. Dalam hal semangat, ia harus dikencangkan lebih erat karena pertambahan usia akan selalu identik dengan kualitas hidup seseorang.

Selama 76 tahun sudah Indonesia merdeka, usia yang sudah tua jika diukur dari umur manusia. Tapi untuk ukuran suatu negeri 76 tahun masih tergolong muda dan belia.  Masih harus tumbuh dan berkembang untuk dewasa maksimal. Sesuai motto di HUT Indonesia  tahun ini “Indonesia tangguh Indonesia tumbuh”.

Merdeka pada hakikatnya kebebasan dalam koridor bertanggung jawab. Pembukaan UUD 45 alenia pertama tertulis jelas bahwa, “kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Karena ia adalah hak segala bangsa, maka negara manapun dalam bentuk apapun harus memiliki hak yang sama. Setiap kita dijamin untuk berekspresi, berkembang positif tanpa melupakan kewajiban utama yakni menjaga kemerdekaan itu dengan kekuatan diri dan doa. Firman Allah, “Berbuatlah kamu, maka Allah, Rasul-Nya dan Orang-orang beriman akan melihat perbuatanmu.” (QS. At Taubah : 105).

Baca Juga :  Malu Menjadi Seorang Doktor

Meraih kemerdekaan bukanlah perkara mudah, terlebih menjaganya. Merdeka tidaklah sesederhana tidak lagi terjajah secara fisik oleh penjajah, tetapi lebih dari itu, merdeka adalah terbebasnya masyarakat  dari  kemiskinan dan ketidakadilan.  Jika kemiskinan masih tampak dan nyata menyengsarakan masyarakat,  maka negara  belumlah terkategori merdeka.

Kemiskinan seperti yang kita ketahui  adalah salah satu  masalah besar bangsa ini, dan akan selalu  menjadi  momok menakutkan jika tidak sesegera mungkin diantisipasi untuk dicari solusi meminimalisirnya, terlebih sejak pandemi covid 19 merundung negeri, semakin banyak masyarakat yang hidup digaris kemiskinan karena ketiadaan sumber penghasilan.

Merdeka pun bermakna bebas atau terlepas dari perlakuan ketidakadilan. Di mata hukum, siapapun kita sama.  Kita berhak mendapat perlindungan hukum oleh negara. Memperoleh keadilan sebagai bentuk Hak Asasi Manusia  (HAM) yang wajib diberikan tanpa harus diminta. Sila kelima Pancasila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, secara tegas dan jelas menggambarkan bahwa negara wajib menjamin keadilan untuk rakyatnya, tidak hanya pendidikan, pekerjaan dan penghidupan yang layak demi kemanusiaan, tetapi juga kebebasan menjalankan syariat agama masing-masing.

Baca Juga :  Belajar Matematika Dengan Model Pembelajaran Problem Posing

Memaknai kemerdekaan dulu, kini dan nanti tidaklah berbeda secara esensi. Perbedaan mungkin hanya tampak pada cara memaknai kemerdekaan sesuai tempat, waktu dan zamannya. Jika dulu tahun 60an hingga tahun 2000an, memaknai kemerdekaan lebih kepada suka cita dengan upacara, perlombaan, pertandingan persahabatan atau hanya menaikan bendera. Berbeda dimasa sekarang, memaknai kemerdekaan lebih kepada kesadaran masing-masing dalam mengaktualisasikan diri sesuai kemampuan dan perannya. Kita semua mempunyai peran sebagai masyarakat atau pemimpin. Apapun peran tersebut, kita berkewajiban memelihara persatuan bangsa, menjaga serta melestarikan budaya dan kearifan lokal daerah.

Memaknai kemerdekaan dapat dijadikan sebagai momen untuk mempersatukan bangsa, menyinggirkan perbedaan, perselisihan yang tampak atau sebaliknya tidak tampak. Kembali memunculkan jiwa dan semangat nasionalisme yang mungkin mulai memudar. Bapak Proklamator Ir. Sukarno pernah berujar, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Masih panjang perjalanan hingga titik akhir dimana kesejahteraan bukan hanya sekedar teori, tetapi sudah menjadi bukti dan dirasakan oleh seluruh rakyat. **

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak.

Oleh: Amalia Irfani*

Usia boleh menua, tetapi semangat harus selalu muda. Kalimat sederhana tapi jelas penuh makna dalam hidup. Dalam hal apapun,  pertambahan usia adalah keberkahan sekaligus  motivasi untuk lebih baik. Dalam hal semangat, ia harus dikencangkan lebih erat karena pertambahan usia akan selalu identik dengan kualitas hidup seseorang.

Selama 76 tahun sudah Indonesia merdeka, usia yang sudah tua jika diukur dari umur manusia. Tapi untuk ukuran suatu negeri 76 tahun masih tergolong muda dan belia.  Masih harus tumbuh dan berkembang untuk dewasa maksimal. Sesuai motto di HUT Indonesia  tahun ini “Indonesia tangguh Indonesia tumbuh”.

Merdeka pada hakikatnya kebebasan dalam koridor bertanggung jawab. Pembukaan UUD 45 alenia pertama tertulis jelas bahwa, “kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Karena ia adalah hak segala bangsa, maka negara manapun dalam bentuk apapun harus memiliki hak yang sama. Setiap kita dijamin untuk berekspresi, berkembang positif tanpa melupakan kewajiban utama yakni menjaga kemerdekaan itu dengan kekuatan diri dan doa. Firman Allah, “Berbuatlah kamu, maka Allah, Rasul-Nya dan Orang-orang beriman akan melihat perbuatanmu.” (QS. At Taubah : 105).

Baca Juga :  Kehebatan Surah Al Fatihah

Meraih kemerdekaan bukanlah perkara mudah, terlebih menjaganya. Merdeka tidaklah sesederhana tidak lagi terjajah secara fisik oleh penjajah, tetapi lebih dari itu, merdeka adalah terbebasnya masyarakat  dari  kemiskinan dan ketidakadilan.  Jika kemiskinan masih tampak dan nyata menyengsarakan masyarakat,  maka negara  belumlah terkategori merdeka.

Kemiskinan seperti yang kita ketahui  adalah salah satu  masalah besar bangsa ini, dan akan selalu  menjadi  momok menakutkan jika tidak sesegera mungkin diantisipasi untuk dicari solusi meminimalisirnya, terlebih sejak pandemi covid 19 merundung negeri, semakin banyak masyarakat yang hidup digaris kemiskinan karena ketiadaan sumber penghasilan.

Merdeka pun bermakna bebas atau terlepas dari perlakuan ketidakadilan. Di mata hukum, siapapun kita sama.  Kita berhak mendapat perlindungan hukum oleh negara. Memperoleh keadilan sebagai bentuk Hak Asasi Manusia  (HAM) yang wajib diberikan tanpa harus diminta. Sila kelima Pancasila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, secara tegas dan jelas menggambarkan bahwa negara wajib menjamin keadilan untuk rakyatnya, tidak hanya pendidikan, pekerjaan dan penghidupan yang layak demi kemanusiaan, tetapi juga kebebasan menjalankan syariat agama masing-masing.

Baca Juga :  Akreditasi Pilar Mutu Pendidikan

Memaknai kemerdekaan dulu, kini dan nanti tidaklah berbeda secara esensi. Perbedaan mungkin hanya tampak pada cara memaknai kemerdekaan sesuai tempat, waktu dan zamannya. Jika dulu tahun 60an hingga tahun 2000an, memaknai kemerdekaan lebih kepada suka cita dengan upacara, perlombaan, pertandingan persahabatan atau hanya menaikan bendera. Berbeda dimasa sekarang, memaknai kemerdekaan lebih kepada kesadaran masing-masing dalam mengaktualisasikan diri sesuai kemampuan dan perannya. Kita semua mempunyai peran sebagai masyarakat atau pemimpin. Apapun peran tersebut, kita berkewajiban memelihara persatuan bangsa, menjaga serta melestarikan budaya dan kearifan lokal daerah.

Memaknai kemerdekaan dapat dijadikan sebagai momen untuk mempersatukan bangsa, menyinggirkan perbedaan, perselisihan yang tampak atau sebaliknya tidak tampak. Kembali memunculkan jiwa dan semangat nasionalisme yang mungkin mulai memudar. Bapak Proklamator Ir. Sukarno pernah berujar, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Masih panjang perjalanan hingga titik akhir dimana kesejahteraan bukan hanya sekedar teori, tetapi sudah menjadi bukti dan dirasakan oleh seluruh rakyat. **

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/