alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Mengenal Surah Al Anfal

Oleh: Dr. H. Harjani Hefni, Lc, MA*

Al Anfal ‘rampasan perang’ jadi perhatian

Surah kedelapan dalam urutan Alquran

Dengan tujuhpuluh lima ayatnya hati dikuatkan

Agar godaan harta tak goyahkan iman

Al Anfal ‘Rampasan Perang’ jadi Perhatian

Di antara sekian banyak kata yang terdapat dalam Surah al-Anfal, kata al-Anfal terpilih untuk menjadi nama surah. Pilihan ini tidak mungkin kebetulan, dan dipastikan kata ini penting dalam surah ini dan menjadi kata kunci atau ruh dari surah.

Secara Bahasa, Al-Anfal adalah jamak dari kata al-nafl. Menurut Bahasa, al-nafl artinya adalah tambahan. Salat nafilah artinya salat tambahan selain wajib. Al Anfal di sini artinya pemberian tambahan dari ghanimah (rampasan perang) setelah dibagi berdasarkan kebijakan dari pemimpin dengan mempertimbangkan besar kecilnya kontribusi seseorang dalam peperangan. Sebagian kalangan menyatakan bahwa Al Anfal adalah al ghanimah atau rampasan perang itu sendiri.

Surah al-Anfal menceritakan tentang pembagian harta rampasan perang pasca-Perang Badar. Peristiwa ini menjadi perhatian utama surah ini. Pertanyaan yang  mungkin akan muncul dari kita: ada apa dengan Al anfal, sehingga menjadi isu besar dan diabadikan dalam Alquran? Pertanyaan ini akan terjawab saat kita mengetahui tentang tabiat harta. Harta ternyata sangat menggoda, menggiurkan, memukau dan kadang melupakan. Karena tabiat harta seperti itu, maka di antara  masalah utama yang paling ditakutkan oleh Rasulullah saw dari ummatnya adalah fitnah harta. Dari ‘Amr bin ‘Auf al Anshari, sesungguhnya Rasulullah saw mengutus Abu Ubaidah bin al Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyah, saat itu Rasulullah sudah membuat perjanjian damai dengan penduduk Bahrain, dan diangkatlah al ‘Ala’ bin Hadhrami sebagai pemimpin mereka. Lalu datanglah Abu Ubaidah membawa harta dari Bahrain. Penduduk Madinah mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Kedatangan itu bersamaan dengan salat subuh. Para sahabatpun salat subuh bersama Rasulullah.  Setelah salat, Nabi meninggalkan mereka. Lalu para sahabatpun menyambangi beliau. Melihat mereka mendekat, Rasulullah tersenyum, sambil berkata: saya menduga kalian sudah mendengar kedatangan Abu ubaidah? Mereka menjawab: benar wahai Rasul. Beliau berkata: Berbahagialah dengan hal yg memudahkan hidup kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang lebih aku takuti dari kalian. Tapi aku khawatir jika dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan kepada orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba memperebutkannya sebagaimana mereka telah melakukannya, lalu harta itu mencelakan kalian sebagaimana mereka binasa. (Mukhtashar Shahih al Bukhari)

Surah kedelapan dalam urutan Alquran

Baca Juga :  Membangun Daya Saing Daerah

Sebelum kita melihat muatan Surah kedelapan, kita ulang sejenak muatan Surah Al-A’raf. Di antara kisah dalam Surah Al A’raf adalah tentang Iblis, Adam  dan Hawwa.  Karena digoda Iblis,  Adam dan Hawwa menjadi lupa dengan larangan Tuhan mereka untuk tidak mendekati apalagi memakan buah khuldi. Kisah Nabi Adam adalah potret tentang karakter dasar manusia. Karena itu, manusia sepanjang jaman berpeluang tergoda dan melakukan kesalahan, sehingga amalan baiknya bisa tergerus oleh amal-amal keburukan.  Tetapi, sepanjang manusia mau mengakui kesalahannya dan lekas bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Setelah al A’raf Allah suguhkan kepada kita kisah Al Anfal. Surah ini menyoroti harta yang didapat pasca jihad. Di antara pesan yang dikirim oleh Surah Al Anfal kepada para pembacanya adalah tentang amal, seperti yang juga disebutkan dalam Surah al A’raf. Allah sampaikan kepada pembaca Surah Al Anfal, wahai kaum muslimin, hat-hati kalian dari kebangkrutan atau gugurnya amal kalian, meskipun amal itu adalah jihad, karena syetan tidak pernah berhenti dan selalu mencari titik kelemahan kalian. Di antara titik lemah orang yang berjihad adalah berperang karena ingin dibilang pahlawan atau pemberani atau berperang karena ingin mendapatkan ghanimah.  Surah Al Anfal sebagai bentuk kasih sayang yang nyata dari Allah, mengingatkan kaum muslimin untuk tetap menjaga niat karena Allah, dan terus berusaha fokus untuk melakukan amal-amal terbaik, agar bisa meningkat menjadikan al mukminuna haqqan (orang mukmin yang sebenarnya).

Dengan tujuhpuluh lima ayatnya hati dikuatkan

Jumlah ayat dalam Surah Al Anfal adalah tujuhpuluh lima. Isinya beragam tema, di antaranya tentang keimanan dengan berbagai sub temanya, hukum-hukum. Kisah-kisah, dan lain-lain. Tapi, dari tema-tema yang beragam itu, ciri orang mukmin yang sebenarnya dan bagaimana mewujudkannya menjadi tema utama Surah al-Anfal. Hal itu tergambar dalam ayat-ayat pertama surah dan ayat-ayat terakhir surah.  Di awal surah Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4). Sedangkan menjelang akhir surah, tepatnya di ayat ke 74, sifat orang mukmin disebutkan lagi: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.”

Baca Juga :  Menakar Tingkat Residivisme

Agar godaan harta tak goyahkan iman

Ubadah bin Shamit meriwayatkan: Rasulullah saw keluar menuju Badar, dan Beliau Bersama kaum muslimin bertemu dengan pasukan musuh. Ketika pasukan  musuh dikalahkan oleh Allah, sekelompok kaum muslimin ada yang menguntit pasukan musuh dan membunuh mereka, sekelompok yang lain mengawal Rasulullah saw, dan kelompok yang lain mengepung musuh. Ketika Allah telah mengusir pasukan musuh dan orang-orang yang mengejar mereka sudah kembali ke pasukan kaum muslimin, mereka berkata: al anfal hanya untuk kami, karena Kamilah yang mengejar mereka, dan karena kami Allah mengusir dan mengalahkan mereka. Orang yang mengawal Rasulullah berkata: kalian tidak lebih berhak dibandingkan kami. Al Anfal lebih pantas hanya untuk kami, Kamilah yang mengawal Rasulullah saw, sehingga pasukan musuh tidak bisa menyentuh dan menyerang Beliau. Pasukan yang mengepung dan mengambil rampasan berkata: kalian tidak lebih berhak dibandingkan kami, Al anfal adalah hanya milik kami, karena kami yang mengepung mereka dan merampas harta dari mereka….akibat perdebatan ini maka Allah turunkan “Yas’alunaka ‘an Al anfaal…”

Memang harta sangat menggiurkan dan menggoda…Surah ini mengajarkan, hanya orang-orang yang berhias dengan iman yang kuat saja yang mampu membendung godaan ini. Mereka adalah orang yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Selain sifat di atas mereka buktikan keimanan mereka dengan berjihad, berhijrah bagi selain orang Madinah. Sedangkan orang Madinah, mereka memberikan pertolongan buat orang yang berhijrah. Orang yang memiliki sifat-sifat di atas dan dibuktikan dengan perjuangan nyata meninggikan kalimat Islam, merekalah yang berpeluang besar untuk selamat dari godaan harta dan istiqomah bersama Rasulullah dalam berjuang.

Semoga Allah menumbuhkan kecintaan kita dengan keimanan dan menghiasi hati kita dengannya, diberikan kemudahan untuk berdakwah dan menegakkan agama Allah, dan dijaga dari berbagai fitnah yang memalingkan kita dari iman dan Islam. Amiin.**

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak       

Oleh: Dr. H. Harjani Hefni, Lc, MA*

Al Anfal ‘rampasan perang’ jadi perhatian

Surah kedelapan dalam urutan Alquran

Dengan tujuhpuluh lima ayatnya hati dikuatkan

Agar godaan harta tak goyahkan iman

Al Anfal ‘Rampasan Perang’ jadi Perhatian

Di antara sekian banyak kata yang terdapat dalam Surah al-Anfal, kata al-Anfal terpilih untuk menjadi nama surah. Pilihan ini tidak mungkin kebetulan, dan dipastikan kata ini penting dalam surah ini dan menjadi kata kunci atau ruh dari surah.

Secara Bahasa, Al-Anfal adalah jamak dari kata al-nafl. Menurut Bahasa, al-nafl artinya adalah tambahan. Salat nafilah artinya salat tambahan selain wajib. Al Anfal di sini artinya pemberian tambahan dari ghanimah (rampasan perang) setelah dibagi berdasarkan kebijakan dari pemimpin dengan mempertimbangkan besar kecilnya kontribusi seseorang dalam peperangan. Sebagian kalangan menyatakan bahwa Al Anfal adalah al ghanimah atau rampasan perang itu sendiri.

Surah al-Anfal menceritakan tentang pembagian harta rampasan perang pasca-Perang Badar. Peristiwa ini menjadi perhatian utama surah ini. Pertanyaan yang  mungkin akan muncul dari kita: ada apa dengan Al anfal, sehingga menjadi isu besar dan diabadikan dalam Alquran? Pertanyaan ini akan terjawab saat kita mengetahui tentang tabiat harta. Harta ternyata sangat menggoda, menggiurkan, memukau dan kadang melupakan. Karena tabiat harta seperti itu, maka di antara  masalah utama yang paling ditakutkan oleh Rasulullah saw dari ummatnya adalah fitnah harta. Dari ‘Amr bin ‘Auf al Anshari, sesungguhnya Rasulullah saw mengutus Abu Ubaidah bin al Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyah, saat itu Rasulullah sudah membuat perjanjian damai dengan penduduk Bahrain, dan diangkatlah al ‘Ala’ bin Hadhrami sebagai pemimpin mereka. Lalu datanglah Abu Ubaidah membawa harta dari Bahrain. Penduduk Madinah mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Kedatangan itu bersamaan dengan salat subuh. Para sahabatpun salat subuh bersama Rasulullah.  Setelah salat, Nabi meninggalkan mereka. Lalu para sahabatpun menyambangi beliau. Melihat mereka mendekat, Rasulullah tersenyum, sambil berkata: saya menduga kalian sudah mendengar kedatangan Abu ubaidah? Mereka menjawab: benar wahai Rasul. Beliau berkata: Berbahagialah dengan hal yg memudahkan hidup kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang lebih aku takuti dari kalian. Tapi aku khawatir jika dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan kepada orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba memperebutkannya sebagaimana mereka telah melakukannya, lalu harta itu mencelakan kalian sebagaimana mereka binasa. (Mukhtashar Shahih al Bukhari)

Surah kedelapan dalam urutan Alquran

Baca Juga :  Transaksi Satuan Kerja Pengelola APBN Wilayah KPPN SingkawangTransaksi Satuan Kerja Pengelola APBN Wilayah KPPN Singkawang

Sebelum kita melihat muatan Surah kedelapan, kita ulang sejenak muatan Surah Al-A’raf. Di antara kisah dalam Surah Al A’raf adalah tentang Iblis, Adam  dan Hawwa.  Karena digoda Iblis,  Adam dan Hawwa menjadi lupa dengan larangan Tuhan mereka untuk tidak mendekati apalagi memakan buah khuldi. Kisah Nabi Adam adalah potret tentang karakter dasar manusia. Karena itu, manusia sepanjang jaman berpeluang tergoda dan melakukan kesalahan, sehingga amalan baiknya bisa tergerus oleh amal-amal keburukan.  Tetapi, sepanjang manusia mau mengakui kesalahannya dan lekas bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Setelah al A’raf Allah suguhkan kepada kita kisah Al Anfal. Surah ini menyoroti harta yang didapat pasca jihad. Di antara pesan yang dikirim oleh Surah Al Anfal kepada para pembacanya adalah tentang amal, seperti yang juga disebutkan dalam Surah al A’raf. Allah sampaikan kepada pembaca Surah Al Anfal, wahai kaum muslimin, hat-hati kalian dari kebangkrutan atau gugurnya amal kalian, meskipun amal itu adalah jihad, karena syetan tidak pernah berhenti dan selalu mencari titik kelemahan kalian. Di antara titik lemah orang yang berjihad adalah berperang karena ingin dibilang pahlawan atau pemberani atau berperang karena ingin mendapatkan ghanimah.  Surah Al Anfal sebagai bentuk kasih sayang yang nyata dari Allah, mengingatkan kaum muslimin untuk tetap menjaga niat karena Allah, dan terus berusaha fokus untuk melakukan amal-amal terbaik, agar bisa meningkat menjadikan al mukminuna haqqan (orang mukmin yang sebenarnya).

Dengan tujuhpuluh lima ayatnya hati dikuatkan

Jumlah ayat dalam Surah Al Anfal adalah tujuhpuluh lima. Isinya beragam tema, di antaranya tentang keimanan dengan berbagai sub temanya, hukum-hukum. Kisah-kisah, dan lain-lain. Tapi, dari tema-tema yang beragam itu, ciri orang mukmin yang sebenarnya dan bagaimana mewujudkannya menjadi tema utama Surah al-Anfal. Hal itu tergambar dalam ayat-ayat pertama surah dan ayat-ayat terakhir surah.  Di awal surah Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4). Sedangkan menjelang akhir surah, tepatnya di ayat ke 74, sifat orang mukmin disebutkan lagi: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.”

Baca Juga :  Para Guru Diberi Ruang Kemerdekaan yang Luas

Agar godaan harta tak goyahkan iman

Ubadah bin Shamit meriwayatkan: Rasulullah saw keluar menuju Badar, dan Beliau Bersama kaum muslimin bertemu dengan pasukan musuh. Ketika pasukan  musuh dikalahkan oleh Allah, sekelompok kaum muslimin ada yang menguntit pasukan musuh dan membunuh mereka, sekelompok yang lain mengawal Rasulullah saw, dan kelompok yang lain mengepung musuh. Ketika Allah telah mengusir pasukan musuh dan orang-orang yang mengejar mereka sudah kembali ke pasukan kaum muslimin, mereka berkata: al anfal hanya untuk kami, karena Kamilah yang mengejar mereka, dan karena kami Allah mengusir dan mengalahkan mereka. Orang yang mengawal Rasulullah berkata: kalian tidak lebih berhak dibandingkan kami. Al Anfal lebih pantas hanya untuk kami, Kamilah yang mengawal Rasulullah saw, sehingga pasukan musuh tidak bisa menyentuh dan menyerang Beliau. Pasukan yang mengepung dan mengambil rampasan berkata: kalian tidak lebih berhak dibandingkan kami, Al anfal adalah hanya milik kami, karena kami yang mengepung mereka dan merampas harta dari mereka….akibat perdebatan ini maka Allah turunkan “Yas’alunaka ‘an Al anfaal…”

Memang harta sangat menggiurkan dan menggoda…Surah ini mengajarkan, hanya orang-orang yang berhias dengan iman yang kuat saja yang mampu membendung godaan ini. Mereka adalah orang yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Selain sifat di atas mereka buktikan keimanan mereka dengan berjihad, berhijrah bagi selain orang Madinah. Sedangkan orang Madinah, mereka memberikan pertolongan buat orang yang berhijrah. Orang yang memiliki sifat-sifat di atas dan dibuktikan dengan perjuangan nyata meninggikan kalimat Islam, merekalah yang berpeluang besar untuk selamat dari godaan harta dan istiqomah bersama Rasulullah dalam berjuang.

Semoga Allah menumbuhkan kecintaan kita dengan keimanan dan menghiasi hati kita dengannya, diberikan kemudahan untuk berdakwah dan menegakkan agama Allah, dan dijaga dari berbagai fitnah yang memalingkan kita dari iman dan Islam. Amiin.**

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak       

Most Read

Artikel Terbaru

/