alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Menyikapi Musibah dengan Bijak

Oleh: Sri Mulyati

SETIDAKNYA ada empat bencana yang mewarnai di awal tahun 2021, di antaranya: (1) Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dengan rute penerbangan Jakarta-Pontianak, (2) Longsor di Desa Cihanjuang, Kabupaten Sumedang, (3) Banjir hebat di Kalimantan Selatan, termasuk di Kabupaten Landak (Kalbar) dan sejumlah daerah lainnya, (4) Gempa di Majene dan Mamuju Sulawesi Barat.

Bencana alam merupakan salah satu musibah yang tidak dapat dielakkan, semuanya sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Kuasa, Allah SWT. Manusia hidup di muka bumi ini tidak lepas dari masalah dan musibah yang memang telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Hadid [57] ayat 22: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya.”

Apapun yang rusak dan hilang dari kenikmatan hidup manusia adalah musibah. Di balik musibah yang terjadi selalu ada hikmah yang menyertainya. Di antara hikmah itu adalah agar manusia kembali menata diri untuk senantiasa berada di jalan yang benar. Bukankah musibah yang terjadi juga disebabkan oleh perbuatan yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri (lihat QS. Ar-Rum: 41).

Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk menyikapi musibah dengan bijak. Biasanya musibah menjadi alasan seseorang untuk bersedih, kecewa, menderita, dan bahkan berputus asa atau larut dalam kesedihan. Tapi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, musibah menjadi pilihan untuk meraup kenikmatan di sisi-Nya. Kenikmatan itu berupa kebaikan diri yang berbalaskan pahala, bahkan surga Allah SWT di akhirat nanti.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang-orang mukmin karena segala urusannya menjadi baik. Hal ini tidak terjadi pada semua orang kecuali pada orang-orang mukmin. Saat mendapat kenikmatan (kesenangan) ia bersyukur karena syukur itu baik untuk dirinya. Dan apabila ditimpa musibah, ia bersabar karena sabar itu baik untuk dirinya.” (HR. Muslim).

Baca Juga :  Malu Menjadi Seorang Doktor

Ada beberapa cara menyikapi musibah agar kita meraup kebaikan di sisi Allah SWT, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, berprasangka baik kepada Allah (husnuzhan ilallaah). Sebab, terjadinya musibah atas izin Allah (lihat QS. At-Taghaabun [64]: 11), dan Allah mustahil berkehendak menganiaya manusia. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 108). Sebab lain pentingnya husnuzhan kepada Allah, karena apa yang kita sangka buruk boleh jadi baik untuk kita dan apa yang kita sangka baik boleh jadi buruk untuk kita. Hanya Allah yang Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui apa yang terbaik untuk kita (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Kedua, muhasabah atau introspeksi diri. Musibah terjadi kebanyakan disebabkan atau diundang oleh kezaliman manusia sendiri. Allah Ta’aala berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka. Agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Seorang tabi’in bernama Imam Abul ‘Aliyah ar-Riyah, pernah berkata: “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di dalamnya, karena bumi dan langit baik hanya dengan ketaatan kepada Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir (7/183), tahqiq oleh Dr. Abdullah Alu Syaikh). Syaikh Abdurrahman aS-Sa’di berkata tentang QS. Ar Rum [30]: 41 dalam kitab Taisirul Karimir Rahman: “Bahwa segala musibah yang menimpa manusia, baik yang terjadi pada dirinya, harta, anak-anak, dan keluarga mereka tidak lain disebabkan oleh maksiat yang pernah mereka lakukan”.

Ketiga, setelah kita berprasangka baik, kemudian menyadari bahwa musibah yang terjadi ada koneksi dengan kemaksiatan dan dosa, maka nikmatilah musibah dengan bertobat kepada Allah SWT dengan tobat nashuha (Lihat QS. At-Tahrim [66]: 8). Terbukanya pintu tobat untuk pelaku maksiat adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan tobat, fluktuasi keimanan akan meningkat. Keimanan meningkat tanda kemampuan untuk meraih ketakwaan juga meningkat. Iman dan takwa, adalah syarat utama munculnya keberkahan hidup manusia yang melimpah, baik dari langit maupun bumi (lihat QS. Al-A’raaf [7]: 96).

Baca Juga :  Dua Regulasi Mahkamah Agung RI yang Perlu Dikritisi

Keempat, menghadapi musibah dengan sabar dan salat. Kesabaran menentukan reaksi dan aksi saat musibah datang. Sedangkan salat memastikan kita tetap terhubung kepada Allah SWT sebagai buah dari kesabaran itu. Oleh sebab itu sikap sabar mengawali ibadah salat saat tertimpa musibah. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan kepada Allah melalui sabar dan salat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Kelima, nikmati musibah dengan melihat besarnya musibah yang telah dialami orang-orang terdahulu. Karena hal itu akan memotivasi kita untuk sabar dan kuat menghadapinya. Di sini, penting sekali kita membaca dan berkaca kepada sejarah orang-orang saleh yang gigih mempertahankan kebenaran meskipun di atas penderitaan, kelaparan, bahkan risiko kematian. Oleh sebab itu, banyak pilihan kita dalam menyikapi musibah. Saat musibah datang kita bisa memilih untuk menderita dan putus asa, atau menikmatinya dengan tetap muhasabah dan memperbaiki diri seraya rida atas ketetapan-Nya!

Mendengar dan melihat saudara kita yang tertimpa musibah saja, kita merasa empati dan turut bersedih dan duka. Apalagi jika kita sendiri yang mengalaminya. Berdoa dan memberikan donasi yang hanya bisa kita berikan kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Akhirnya, semoga dengan adanya musibah yang terjadi, kita selalu introspeksi diri dan berharap kesedihan yang kita rasakan bersama segera berlalu. Aamiin.**

*Penulis adalah Guru MTs. Negeri 4 Sambas, Kabupaten Sambas.

Oleh: Sri Mulyati

SETIDAKNYA ada empat bencana yang mewarnai di awal tahun 2021, di antaranya: (1) Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dengan rute penerbangan Jakarta-Pontianak, (2) Longsor di Desa Cihanjuang, Kabupaten Sumedang, (3) Banjir hebat di Kalimantan Selatan, termasuk di Kabupaten Landak (Kalbar) dan sejumlah daerah lainnya, (4) Gempa di Majene dan Mamuju Sulawesi Barat.

Bencana alam merupakan salah satu musibah yang tidak dapat dielakkan, semuanya sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Kuasa, Allah SWT. Manusia hidup di muka bumi ini tidak lepas dari masalah dan musibah yang memang telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Hadid [57] ayat 22: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya.”

Apapun yang rusak dan hilang dari kenikmatan hidup manusia adalah musibah. Di balik musibah yang terjadi selalu ada hikmah yang menyertainya. Di antara hikmah itu adalah agar manusia kembali menata diri untuk senantiasa berada di jalan yang benar. Bukankah musibah yang terjadi juga disebabkan oleh perbuatan yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri (lihat QS. Ar-Rum: 41).

Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk menyikapi musibah dengan bijak. Biasanya musibah menjadi alasan seseorang untuk bersedih, kecewa, menderita, dan bahkan berputus asa atau larut dalam kesedihan. Tapi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, musibah menjadi pilihan untuk meraup kenikmatan di sisi-Nya. Kenikmatan itu berupa kebaikan diri yang berbalaskan pahala, bahkan surga Allah SWT di akhirat nanti.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang-orang mukmin karena segala urusannya menjadi baik. Hal ini tidak terjadi pada semua orang kecuali pada orang-orang mukmin. Saat mendapat kenikmatan (kesenangan) ia bersyukur karena syukur itu baik untuk dirinya. Dan apabila ditimpa musibah, ia bersabar karena sabar itu baik untuk dirinya.” (HR. Muslim).

Baca Juga :  Pendidikan Karakter Berlalu Lintas di Jalan

Ada beberapa cara menyikapi musibah agar kita meraup kebaikan di sisi Allah SWT, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, berprasangka baik kepada Allah (husnuzhan ilallaah). Sebab, terjadinya musibah atas izin Allah (lihat QS. At-Taghaabun [64]: 11), dan Allah mustahil berkehendak menganiaya manusia. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 108). Sebab lain pentingnya husnuzhan kepada Allah, karena apa yang kita sangka buruk boleh jadi baik untuk kita dan apa yang kita sangka baik boleh jadi buruk untuk kita. Hanya Allah yang Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui apa yang terbaik untuk kita (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Kedua, muhasabah atau introspeksi diri. Musibah terjadi kebanyakan disebabkan atau diundang oleh kezaliman manusia sendiri. Allah Ta’aala berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka. Agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Seorang tabi’in bernama Imam Abul ‘Aliyah ar-Riyah, pernah berkata: “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di dalamnya, karena bumi dan langit baik hanya dengan ketaatan kepada Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir (7/183), tahqiq oleh Dr. Abdullah Alu Syaikh). Syaikh Abdurrahman aS-Sa’di berkata tentang QS. Ar Rum [30]: 41 dalam kitab Taisirul Karimir Rahman: “Bahwa segala musibah yang menimpa manusia, baik yang terjadi pada dirinya, harta, anak-anak, dan keluarga mereka tidak lain disebabkan oleh maksiat yang pernah mereka lakukan”.

Ketiga, setelah kita berprasangka baik, kemudian menyadari bahwa musibah yang terjadi ada koneksi dengan kemaksiatan dan dosa, maka nikmatilah musibah dengan bertobat kepada Allah SWT dengan tobat nashuha (Lihat QS. At-Tahrim [66]: 8). Terbukanya pintu tobat untuk pelaku maksiat adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan tobat, fluktuasi keimanan akan meningkat. Keimanan meningkat tanda kemampuan untuk meraih ketakwaan juga meningkat. Iman dan takwa, adalah syarat utama munculnya keberkahan hidup manusia yang melimpah, baik dari langit maupun bumi (lihat QS. Al-A’raaf [7]: 96).

Baca Juga :  Ditulis untuk Dibaca

Keempat, menghadapi musibah dengan sabar dan salat. Kesabaran menentukan reaksi dan aksi saat musibah datang. Sedangkan salat memastikan kita tetap terhubung kepada Allah SWT sebagai buah dari kesabaran itu. Oleh sebab itu sikap sabar mengawali ibadah salat saat tertimpa musibah. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan kepada Allah melalui sabar dan salat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Kelima, nikmati musibah dengan melihat besarnya musibah yang telah dialami orang-orang terdahulu. Karena hal itu akan memotivasi kita untuk sabar dan kuat menghadapinya. Di sini, penting sekali kita membaca dan berkaca kepada sejarah orang-orang saleh yang gigih mempertahankan kebenaran meskipun di atas penderitaan, kelaparan, bahkan risiko kematian. Oleh sebab itu, banyak pilihan kita dalam menyikapi musibah. Saat musibah datang kita bisa memilih untuk menderita dan putus asa, atau menikmatinya dengan tetap muhasabah dan memperbaiki diri seraya rida atas ketetapan-Nya!

Mendengar dan melihat saudara kita yang tertimpa musibah saja, kita merasa empati dan turut bersedih dan duka. Apalagi jika kita sendiri yang mengalaminya. Berdoa dan memberikan donasi yang hanya bisa kita berikan kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Akhirnya, semoga dengan adanya musibah yang terjadi, kita selalu introspeksi diri dan berharap kesedihan yang kita rasakan bersama segera berlalu. Aamiin.**

*Penulis adalah Guru MTs. Negeri 4 Sambas, Kabupaten Sambas.

Most Read

Janji Segera Berikan Bonus Atlet

60 Dosen Lapor Pajak Via E-Filing

Bupati Lepas Keberangkatan Satgas BGC TNI

Artikel Terbaru

/