alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Remaja dan Pernikahan Dini

Oleh: Dedah Kuslinah 

PERNIKAHAN dini dan kehamilan tak terencana, masih marak di kalangan masyarakat Kalbar. Bahkan, pernikahan dini kelompok usia 15-19 tahun, tertinggi se-Indonesia. Di tahun lalu, angka kehamilan tidak direncanakan akibat pergaulan bebas mencapai angka 24,7 persen. Adapun, Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sambas mendominasi angka pernikahan di bawah umur dibarengi kehamilan yang tidak diinginkan.

Hal ini menjadi konsen BKKBN, yang menilai bahwasannya pernikahan dini memupuk perceraian, meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga dan pupuslah harapan mengejar kehidupan karirnya dan cita-citanya. Maka BKKBN menggulirkan program Generasi Berencana sejak lima tahun yang lalu. Mengajak generasi remaja supaya merencanakan empat hal dalam hidupnya. Yakni, pendidikan, pekerjaan, pernikahan dan jumlah anak ketika telah berkeluarga.

Fakta Tak Seindah Ekspektasi

Program Generasi Berencana, merupakan wadah untuk mengembangkan karakter bangsa karena mengajarkan remaja untuk menjauhi pernikahan dini, seks pra nikah, dan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Dengan harapan menghasilkan remaja tangguh dan dapat berkontribusi dalam pembangunan serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Untuk itu, digalakkanlah kampanye pernikahan ideal. Dimana usia yang paling ideal untuk melakukan pernikahan pada usia 21 tahun untuk perempuan dan laki-laki 25 tahun. Tujuan utamanya memberikan kesempatan untuk meniti karier dan menuntut pendidikan serta merencanakan kehidupan yang lebih baik.

Tidak hanya cukup dengan menggalakkan program pernikahan ideal saja. Juga diluncurkan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Pojok Kependudukan yang akan diterapkan di sekolah-sekolah tingkat SMA dan sederajat, dan telah diterapkan di pondok pesantren Ushuluddin Singkawang. Program SSK ini diharapkan dapat menekan pernikahan dini.

Program Pojok Kependudukan adalah salah satu sumber belajar dan informasi bagi peserta didik berisi materi-materi dan data yang terkait dengan kependudukan yang ditujukan dalam upaya pembentukan generasi berencana, kata Tenny Soriton Kepala Perwakilan BKKBN Kalbar.

Baca Juga :  Transaksi Satuan Kerja Pengelola APBN Wilayah KPPN SingkawangTransaksi Satuan Kerja Pengelola APBN Wilayah KPPN Singkawang

Fakta tak seindah ekspektasi. Meskipun program GenRe yang beragam terus disuarakan, sementara seruan seks bebas pun merajalela lewat film, sinetron, buku-buku cerita dan lewat media porno yang tanpa ada batasan.

Memang benar ada larangan, namun tidak lebih dari hanya bersifat imbauan, tidak sampai menyentuh program riil. Sementara menikah di usia dini yang dibolehkan agama, sangat gencar pelarangannya. Ironisnya, seks tidak tabu untuk dilakukan, tetapi tabu untuk dibicarakan. Tak terpungkiri, seks bebas merajalela. Kehamilan tak diinginkan meroket. Aborsi menjamur dan perceraian, tetap masih sangat tinggi, tidak bisa ditekan.

Remaja dan pernikahan Dini

Pernikahan dini merupakan salah satu bentuk dari kekerasan seksual, demikian para feminisme menalarkannya. Rasa suka terhadap lawan jenis, di kalangan remaja adalah sesuatu yang wajar. Bukan sebuah urgensi bahwa mereka harus segera dinikahkan karena takut terjadi perzinahan.

Di usia remaja, emosi yang labil tidak akan mampu memecahkan masalah bagaimana memperoleh susu dan popok anak yang sulit terbeli. Jadi, untuk menghindari perzinahan, pernikahan juga tidak bisa dibenarkan. Dan pernikahan bukanlah solusi untuk perbaikan ekonomi. Ironis sekali, jika masih berpikiran tradisional mengenai pernikahan.

Biarkan mereka menikmati masa kecil dan masa remajanya. Biarkan mereka mendapatkan pendidikan yang layak sehingga suatu hari nanti dapat memberikan perubahan nasib bagi dirinya dan juga keluarganya. Biarkan mereka melakukan hal-hal yang mereka sukai, sehingga suatu hari nanti mereka bisa bangga dengan dirinya sendiri, dengan pencapaian-pencapaian yang sudah diraihnya.

Pernikahan dini dapat dicegah dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Karena permasalahan ini adalah permasalahan bangsa yang harus dipikirkan solusinya secara bersama-sama.

Remaja Bervisi

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Tuhannya sampai ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya dihabiskan dimana, tentang masa mudanya dihabiskan untuk apa, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan kemana dibelanjakan dan tentang ilmunya diamalkan untuk apa.” (HR At-Tirmidzi).

Baca Juga :  Memaknai Kemerdekaan

Untuk itu hendaknya para remaja memiliki visi tentang bagaimana pengelolaan waktu, masa muda dan ilmunya. Imam As Syafii berkata, “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu demi Allah hanya dengan ilmu dan taqwa (memiliki ilmu dan bertaqwa) karena apabila yang dua hal itu tidak ada tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)”.

Tak terpungkiri jika, “Di setiap kebangkitan pemuda lah pilarnya, di setiap pemikiran pemuda lah pengibar panji-panjinya,” (Hasan Al Banna).  Namun ibarat pepatah,  singa akan melahirkan singa. Karena anak singa lahir dari singa, bukan dari yang lain. Maka, kalau ingin mempunyai anak-anak hebat, belajarlah menjadi orang tua yang hebat dan luar biasa bagi anak-anak.

Imam Syafii, menjadi seorang Imam Mujtahid yang hebat, tidak bisa dilepaskan dari peran orang tuanya. Meski lahir sebagai anak yatim dan miskin, tetapi ibunda Imam Syafii adalah wanita yang luar biasa. Tekad bajanya membawa Imam Syafii kecil dari Gaza ke Makkah berguru kepada Ibn ‘Uyainah. Setelah selesai dari sana berangkat ke Madinah berguru kepada Imam Malik. Dengan berbagai kisah hidupnya yang menyesakkan dada, hinga menjadi Imam Mujtahid yang luar biasa. Semuanya ada jasa ibundanya yang luar biasa.

Dengan demikian, jangan kambinghitamkan pernikahan dini, hentikan pengadopsian nilai-nilai kebebasan liberal dan konsep-konsep non-Islam yang datang dari pikiran bebas. Alam pendidikan sekuler hari ini berhasil memberi stimulus hampir pada semua manusia intelektual Islam maupun di luar Islam, agar membangun cita-cita keilmuan, padahal bersifat komersial dan material. Seyogianya untuk membangun taqwa dalam jiwa individu, masyarakat,dan negara sehingga akan menyadari kewajiban yang dibebankan kepadanya dan menyadari Tuhannya dalam kehidupan pribadi dan umum. Sehingga tidak ada celah untuk bermaksiat. Wallahu’alam bishawab.**

*Penulis, Muslimah Ideologis Khatulistiwa.

Oleh: Dedah Kuslinah 

PERNIKAHAN dini dan kehamilan tak terencana, masih marak di kalangan masyarakat Kalbar. Bahkan, pernikahan dini kelompok usia 15-19 tahun, tertinggi se-Indonesia. Di tahun lalu, angka kehamilan tidak direncanakan akibat pergaulan bebas mencapai angka 24,7 persen. Adapun, Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sambas mendominasi angka pernikahan di bawah umur dibarengi kehamilan yang tidak diinginkan.

Hal ini menjadi konsen BKKBN, yang menilai bahwasannya pernikahan dini memupuk perceraian, meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga dan pupuslah harapan mengejar kehidupan karirnya dan cita-citanya. Maka BKKBN menggulirkan program Generasi Berencana sejak lima tahun yang lalu. Mengajak generasi remaja supaya merencanakan empat hal dalam hidupnya. Yakni, pendidikan, pekerjaan, pernikahan dan jumlah anak ketika telah berkeluarga.

Fakta Tak Seindah Ekspektasi

Program Generasi Berencana, merupakan wadah untuk mengembangkan karakter bangsa karena mengajarkan remaja untuk menjauhi pernikahan dini, seks pra nikah, dan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Dengan harapan menghasilkan remaja tangguh dan dapat berkontribusi dalam pembangunan serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Untuk itu, digalakkanlah kampanye pernikahan ideal. Dimana usia yang paling ideal untuk melakukan pernikahan pada usia 21 tahun untuk perempuan dan laki-laki 25 tahun. Tujuan utamanya memberikan kesempatan untuk meniti karier dan menuntut pendidikan serta merencanakan kehidupan yang lebih baik.

Tidak hanya cukup dengan menggalakkan program pernikahan ideal saja. Juga diluncurkan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Pojok Kependudukan yang akan diterapkan di sekolah-sekolah tingkat SMA dan sederajat, dan telah diterapkan di pondok pesantren Ushuluddin Singkawang. Program SSK ini diharapkan dapat menekan pernikahan dini.

Program Pojok Kependudukan adalah salah satu sumber belajar dan informasi bagi peserta didik berisi materi-materi dan data yang terkait dengan kependudukan yang ditujukan dalam upaya pembentukan generasi berencana, kata Tenny Soriton Kepala Perwakilan BKKBN Kalbar.

Baca Juga :  Penyakit Merasa Diri Penting

Fakta tak seindah ekspektasi. Meskipun program GenRe yang beragam terus disuarakan, sementara seruan seks bebas pun merajalela lewat film, sinetron, buku-buku cerita dan lewat media porno yang tanpa ada batasan.

Memang benar ada larangan, namun tidak lebih dari hanya bersifat imbauan, tidak sampai menyentuh program riil. Sementara menikah di usia dini yang dibolehkan agama, sangat gencar pelarangannya. Ironisnya, seks tidak tabu untuk dilakukan, tetapi tabu untuk dibicarakan. Tak terpungkiri, seks bebas merajalela. Kehamilan tak diinginkan meroket. Aborsi menjamur dan perceraian, tetap masih sangat tinggi, tidak bisa ditekan.

Remaja dan pernikahan Dini

Pernikahan dini merupakan salah satu bentuk dari kekerasan seksual, demikian para feminisme menalarkannya. Rasa suka terhadap lawan jenis, di kalangan remaja adalah sesuatu yang wajar. Bukan sebuah urgensi bahwa mereka harus segera dinikahkan karena takut terjadi perzinahan.

Di usia remaja, emosi yang labil tidak akan mampu memecahkan masalah bagaimana memperoleh susu dan popok anak yang sulit terbeli. Jadi, untuk menghindari perzinahan, pernikahan juga tidak bisa dibenarkan. Dan pernikahan bukanlah solusi untuk perbaikan ekonomi. Ironis sekali, jika masih berpikiran tradisional mengenai pernikahan.

Biarkan mereka menikmati masa kecil dan masa remajanya. Biarkan mereka mendapatkan pendidikan yang layak sehingga suatu hari nanti dapat memberikan perubahan nasib bagi dirinya dan juga keluarganya. Biarkan mereka melakukan hal-hal yang mereka sukai, sehingga suatu hari nanti mereka bisa bangga dengan dirinya sendiri, dengan pencapaian-pencapaian yang sudah diraihnya.

Pernikahan dini dapat dicegah dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Karena permasalahan ini adalah permasalahan bangsa yang harus dipikirkan solusinya secara bersama-sama.

Remaja Bervisi

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Tuhannya sampai ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya dihabiskan dimana, tentang masa mudanya dihabiskan untuk apa, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan kemana dibelanjakan dan tentang ilmunya diamalkan untuk apa.” (HR At-Tirmidzi).

Baca Juga :  Panic Buying saat Ramadan

Untuk itu hendaknya para remaja memiliki visi tentang bagaimana pengelolaan waktu, masa muda dan ilmunya. Imam As Syafii berkata, “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu demi Allah hanya dengan ilmu dan taqwa (memiliki ilmu dan bertaqwa) karena apabila yang dua hal itu tidak ada tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)”.

Tak terpungkiri jika, “Di setiap kebangkitan pemuda lah pilarnya, di setiap pemikiran pemuda lah pengibar panji-panjinya,” (Hasan Al Banna).  Namun ibarat pepatah,  singa akan melahirkan singa. Karena anak singa lahir dari singa, bukan dari yang lain. Maka, kalau ingin mempunyai anak-anak hebat, belajarlah menjadi orang tua yang hebat dan luar biasa bagi anak-anak.

Imam Syafii, menjadi seorang Imam Mujtahid yang hebat, tidak bisa dilepaskan dari peran orang tuanya. Meski lahir sebagai anak yatim dan miskin, tetapi ibunda Imam Syafii adalah wanita yang luar biasa. Tekad bajanya membawa Imam Syafii kecil dari Gaza ke Makkah berguru kepada Ibn ‘Uyainah. Setelah selesai dari sana berangkat ke Madinah berguru kepada Imam Malik. Dengan berbagai kisah hidupnya yang menyesakkan dada, hinga menjadi Imam Mujtahid yang luar biasa. Semuanya ada jasa ibundanya yang luar biasa.

Dengan demikian, jangan kambinghitamkan pernikahan dini, hentikan pengadopsian nilai-nilai kebebasan liberal dan konsep-konsep non-Islam yang datang dari pikiran bebas. Alam pendidikan sekuler hari ini berhasil memberi stimulus hampir pada semua manusia intelektual Islam maupun di luar Islam, agar membangun cita-cita keilmuan, padahal bersifat komersial dan material. Seyogianya untuk membangun taqwa dalam jiwa individu, masyarakat,dan negara sehingga akan menyadari kewajiban yang dibebankan kepadanya dan menyadari Tuhannya dalam kehidupan pribadi dan umum. Sehingga tidak ada celah untuk bermaksiat. Wallahu’alam bishawab.**

*Penulis, Muslimah Ideologis Khatulistiwa.

Most Read

Artikel Terbaru

/