alexametrics
27 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Menginternalisasi Kandungan Nilai Surah al Fatihah

Oleh: Dr. Harjani Hefni, Lc, MA

SURAH al Fatihah memiliki keistimewaan yang tidak diberikan kepada surah yang lain, diantaranya adalah kewajiban untuk dibaca ulang setiap jumlah rakaat salat. Pengulangan ini menuntut pembacanya tidak sekadar mengulang, tapi berusaha untuk mengambil pelajaran dari bacaan yang berulang ini, agar memberikan makna buat kehidupan yang membacanya dengan keimanan.

Upaya untuk menjadikan pesan yang dibaca berubah menjadi sikap dan standar perilaku disebut dengan internalisasi. Internalisasi diartikan sebagai penghayatan. Bisa juga diartikan sebagai “pendalaman; pengasingan”.

Internalisasi diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat dan seterusnya di dalam kepribadian. Tulisan kali ini mengangkat tentang nilai-nilai yang perlu kita internalisasikan pada saat membaca tujuh pesan utama dalam Surah al Fatihah, serta bagaimana langkah untuk mengaplikasikannya.

Tujuh Pesan Nilai Surah al Fatihah

Nilai-nilai yang diinternalisasi dalam pelatihan dari Surah al-Fatihah adalah: Pertama, Bismillàhirrahmànirrahím. Nilai-nilai yang digali dari ayat ini di antaranya: a) Merasakan kehadiran Allah; b) Bersemangat melakukan kebaikan; c) Takut melanggar aturan; d) Memiliki ketajaman nurani. Dari nilai-nilai ayat pertama ini diharapkan melahirkan budaya integritas.

Pesan Kedua, Alhamdulillah Rabb al-Ãlamín. Nilai-nilai yang digali dari ayat ini di antaranya: a) Bahagia dan senang dengan nikmat yang ada; b) Mengapresiasi nikmat dengan cara mengungkapkan; c) Menggunakan nikmat sesuai dengan amanah pemberi nikmat; d) Mengembangkan nikmat yang ada; d) Tahu diri dan ingin berbakti; e) Berbagi dengan sesama. Dari nilai-nilai ayat kedua ini diharapkan melahirkan budaya senang bekerja.

Pesan Ketiga, Al-Rahmàn al-Rahím. Nilai-nilai yang digali dari ayat ketiga ini di antaranya: a) Memiliki cara pandang positif terhadap realitas kehidupan; b) Merasa selalu diperhatikan Allah dalam setiap kondisi; c) Tidak goyah menghadapi persoalan hidup; d) Empati dengan sesama. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya berpikir positif kepada Allah dan kepada sesama.

Baca Juga :  Ikhlaskanlah Ibadahmu

Pesan Keempat, Màliki yaum al-dín. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Menyadari bahwa hidup akan berakhir; b) Meyakini bahwa segala perbuatan di dunia akan dipertanggungjawabkan; c) Menumbuhkan kesadaran untuk berpacu dengan waktu dalam melakukan amal-amal positif; d) Mengasah kemampuan untuk menghubungkan amal hari ini dengan balasan akhirat; e) Mengasah keberanian untuk mengatakan ya atau tidak. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya visioner dan bertanggungjawab.

Pesan Kelima, Iyyàka Na‘budu wa iyyàka nasta‘ín. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Memiliki kemampuan membaca kecenderungan orientasi hidup; b) Menjadikan ibadah sebagai tujaun hidup; c) Memahami makna ibadah secara utuh; d) Komitmen untuk menjadikan seluruh ibadah sebagai ibadah; e) Berjanji untuk semakin taat beribadah; f) Menumbuhkan budaya melapor dan memohon kepada Allah; g) Mengenal waktu-waktu mustajab untuk berdoa; h) Mengenal doa-doa pilihan. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya produktif dan bersemangat bekerja secara profesional.

Pesan Keenam, Ihdinas Shiràth al-mustaqím. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Menumbuhkan kesadaran bahwa jalan hidup berliku; b) Menumbuhkan kesadaran bahwa godaan di jalan sangat banyak; c) Menyadari bahwa kita lemah di hadapan godaan; d) Menumbuhkan keyakinan bahwa istiqomah adalah solusi; e) Membangun komunitas istiqomah. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya memiliki daya tahan.

Pesan Ketujuh, Shiràth alladzína an‘amta ‘alaihim, Ghair al-Mahgdhúbi ‘alaihim wala al-dhàllín. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Manusia memiliki sifat imitasi; b) Mengenal tiga tipologi manusia: an‘amta ‘alaihim, al-maghdhúbi ‘alaihim, adh-dhàllín. c) Berkomitmen untuk bercermin dan hidup bersama orang-orang dengan tipologi an’amta ‘alaihim. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya kerja bercermin, cepat belajar dari orang lain dan menjadi teladan untuk orang lain.

Baca Juga :  Pengembangan Diri untuk Mengawal Bonus Demografi

Tiga Tahapan Internalisasi

Agar internalisasi efektif, ada tiga tahapan yang harus dilakukan oleh guru yang mengajarkan Surah al fatihah atau pembaca Surah al Fatihah. Tiga tahapan itu adalah:

a. Tahap Transformasi Nilai: Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru yang mengajarkan al Fatihah dalam menginformasikan nilai nilai yang baik  yang terdapat dalam Surah al Fatihah. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik. Komunikasi verbal juga bisa terjadi antara trainer dengan peserta. Target utama dalam tahapan taransformasi adalah meyakinkan kepada para peserta didik atau peserta training tentang petingnya Surah al Fatihah dalam kehidupan setiap manusia.

b. Tahap Transaksi Nilai: Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik atau trainer dengan peserta yang bersifat interaksi timbal-balik. Target dalam transaksi nilai ini adalah terjadi hubungan timbal balik dan diskusi hangat antara pendidik atau trainer dengan peserta tentang Surah al Fatihah, sehingga tidak ada pesan yang tidak jelas yang disampaikan oleh pendidik atau trainer.

c. Tahap Transinternalisasi: Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif. Target dari tahap ini adalah memahamkan peserta akan makna surah al Fatihah, merasa terpanggil untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadikan tujuh nilai dalam Surah al Fatihah ini sebagai nilai-nilai luhur dan terwujud dalam perilaku dan karakter.

Semoga kita terpanggil untuk mendalami makna dan kandungan utama Surah al Fatihah, menginternalisasikan maknanya dan menjadikannya sebagai karakter dalam kehidupan kita. (*)

Oleh: Dr. Harjani Hefni, Lc, MA

SURAH al Fatihah memiliki keistimewaan yang tidak diberikan kepada surah yang lain, diantaranya adalah kewajiban untuk dibaca ulang setiap jumlah rakaat salat. Pengulangan ini menuntut pembacanya tidak sekadar mengulang, tapi berusaha untuk mengambil pelajaran dari bacaan yang berulang ini, agar memberikan makna buat kehidupan yang membacanya dengan keimanan.

Upaya untuk menjadikan pesan yang dibaca berubah menjadi sikap dan standar perilaku disebut dengan internalisasi. Internalisasi diartikan sebagai penghayatan. Bisa juga diartikan sebagai “pendalaman; pengasingan”.

Internalisasi diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat dan seterusnya di dalam kepribadian. Tulisan kali ini mengangkat tentang nilai-nilai yang perlu kita internalisasikan pada saat membaca tujuh pesan utama dalam Surah al Fatihah, serta bagaimana langkah untuk mengaplikasikannya.

Tujuh Pesan Nilai Surah al Fatihah

Nilai-nilai yang diinternalisasi dalam pelatihan dari Surah al-Fatihah adalah: Pertama, Bismillàhirrahmànirrahím. Nilai-nilai yang digali dari ayat ini di antaranya: a) Merasakan kehadiran Allah; b) Bersemangat melakukan kebaikan; c) Takut melanggar aturan; d) Memiliki ketajaman nurani. Dari nilai-nilai ayat pertama ini diharapkan melahirkan budaya integritas.

Pesan Kedua, Alhamdulillah Rabb al-Ãlamín. Nilai-nilai yang digali dari ayat ini di antaranya: a) Bahagia dan senang dengan nikmat yang ada; b) Mengapresiasi nikmat dengan cara mengungkapkan; c) Menggunakan nikmat sesuai dengan amanah pemberi nikmat; d) Mengembangkan nikmat yang ada; d) Tahu diri dan ingin berbakti; e) Berbagi dengan sesama. Dari nilai-nilai ayat kedua ini diharapkan melahirkan budaya senang bekerja.

Pesan Ketiga, Al-Rahmàn al-Rahím. Nilai-nilai yang digali dari ayat ketiga ini di antaranya: a) Memiliki cara pandang positif terhadap realitas kehidupan; b) Merasa selalu diperhatikan Allah dalam setiap kondisi; c) Tidak goyah menghadapi persoalan hidup; d) Empati dengan sesama. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya berpikir positif kepada Allah dan kepada sesama.

Baca Juga :  Beribu Manfaat Minyak Kelapa

Pesan Keempat, Màliki yaum al-dín. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Menyadari bahwa hidup akan berakhir; b) Meyakini bahwa segala perbuatan di dunia akan dipertanggungjawabkan; c) Menumbuhkan kesadaran untuk berpacu dengan waktu dalam melakukan amal-amal positif; d) Mengasah kemampuan untuk menghubungkan amal hari ini dengan balasan akhirat; e) Mengasah keberanian untuk mengatakan ya atau tidak. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya visioner dan bertanggungjawab.

Pesan Kelima, Iyyàka Na‘budu wa iyyàka nasta‘ín. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Memiliki kemampuan membaca kecenderungan orientasi hidup; b) Menjadikan ibadah sebagai tujaun hidup; c) Memahami makna ibadah secara utuh; d) Komitmen untuk menjadikan seluruh ibadah sebagai ibadah; e) Berjanji untuk semakin taat beribadah; f) Menumbuhkan budaya melapor dan memohon kepada Allah; g) Mengenal waktu-waktu mustajab untuk berdoa; h) Mengenal doa-doa pilihan. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya produktif dan bersemangat bekerja secara profesional.

Pesan Keenam, Ihdinas Shiràth al-mustaqím. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Menumbuhkan kesadaran bahwa jalan hidup berliku; b) Menumbuhkan kesadaran bahwa godaan di jalan sangat banyak; c) Menyadari bahwa kita lemah di hadapan godaan; d) Menumbuhkan keyakinan bahwa istiqomah adalah solusi; e) Membangun komunitas istiqomah. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya memiliki daya tahan.

Pesan Ketujuh, Shiràth alladzína an‘amta ‘alaihim, Ghair al-Mahgdhúbi ‘alaihim wala al-dhàllín. Nilai-nilai yang digali dari ayat keempat ini di antaranya: a) Manusia memiliki sifat imitasi; b) Mengenal tiga tipologi manusia: an‘amta ‘alaihim, al-maghdhúbi ‘alaihim, adh-dhàllín. c) Berkomitmen untuk bercermin dan hidup bersama orang-orang dengan tipologi an’amta ‘alaihim. Dari nilai-nilai ayat ketiga ini dihasilkan budaya kerja bercermin, cepat belajar dari orang lain dan menjadi teladan untuk orang lain.

Baca Juga :  Mensyukuri  76 Tahun Kemerdekaan

Tiga Tahapan Internalisasi

Agar internalisasi efektif, ada tiga tahapan yang harus dilakukan oleh guru yang mengajarkan Surah al fatihah atau pembaca Surah al Fatihah. Tiga tahapan itu adalah:

a. Tahap Transformasi Nilai: Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru yang mengajarkan al Fatihah dalam menginformasikan nilai nilai yang baik  yang terdapat dalam Surah al Fatihah. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik. Komunikasi verbal juga bisa terjadi antara trainer dengan peserta. Target utama dalam tahapan taransformasi adalah meyakinkan kepada para peserta didik atau peserta training tentang petingnya Surah al Fatihah dalam kehidupan setiap manusia.

b. Tahap Transaksi Nilai: Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik atau trainer dengan peserta yang bersifat interaksi timbal-balik. Target dalam transaksi nilai ini adalah terjadi hubungan timbal balik dan diskusi hangat antara pendidik atau trainer dengan peserta tentang Surah al Fatihah, sehingga tidak ada pesan yang tidak jelas yang disampaikan oleh pendidik atau trainer.

c. Tahap Transinternalisasi: Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif. Target dari tahap ini adalah memahamkan peserta akan makna surah al Fatihah, merasa terpanggil untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadikan tujuh nilai dalam Surah al Fatihah ini sebagai nilai-nilai luhur dan terwujud dalam perilaku dan karakter.

Semoga kita terpanggil untuk mendalami makna dan kandungan utama Surah al Fatihah, menginternalisasikan maknanya dan menjadikannya sebagai karakter dalam kehidupan kita. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/