alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Pendidikan Kehilangan Rohnya

Oleh: Aswandi*

ROH dan kehidupan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika roh telah tercabut dari jasatnya, berarti kehidupan mengalami kematian. Demikian pula di dunia pendidikan, matinya pendidikan ketika pendidikan telah kehilangan rohnya.

Revolusi, reformasi dan transformasi pendidikan, terakhir merdeka belajar. Apapun istilah yang digunakan, perubahan pendidikan, baik dalam skala kecil maupun skala besar tidak boleh tercabut dari rohnya, yakni belajar (learning).

Charles Darwin dalam bukunya “Asal Usul Manusia mengatakan bahwa belajar merupakan faktor anteseden yang mempengaruhi kemampuan seseorang beradaptasi terhadaap perubahan yang terjadi.

John C. Maxwell (2013) dan bukunya berjudul “Sometimes You Win Sometimes You Lose is Learn menyatakan kadang kita menang atau sukses, dan kadang kita kalah atau gagal, semua tergantung pada “Belajar atau Learning”.

Martin Seligman menambahkan “Ketidakberdayaan dampak dari proses pembelajaran”.  Banyak bukti menjelaskan pendidikan formal telah kehilangan rohnya, seperti: (1) sebanyak 32% milliarder tidak atau drop out dari sekolah, diantaranya: Thomas Alva Edison, Walt Disney, Steven Jobs dan Bill Gates; (2) sebanyak 50% perguruan tinggi di Amerika Serikat dalam 10-15 tahun ke depan bangkrut. Saat ini sudah banyak perguruan tinggi mati suri dan tutup; (3) sebanyak 65% siswa saat ini bakal mendapat pekerjaan dimana pekerjaan untuk mereka belum ada, sementara ribuan pekerjaan yang ada menghilang setiap tahunnya; (4) dunia usaha dan dunia industri (DUDI) tidak lagi mempersyaratkan ijasah dalam penerimaan (rekrutmen) pegawainya; (4) gelar kesarjanaan tidak lagi menjadi ukuran kompetensi; (5) lulusan tidak menjamin kemampuan berkarya; (6) program studi tidak ada korelasinya dengan karier lulusan. (7) akreditasi tidak menjadi jaminan mutu pendidikan; (8) kehadiran di ruang kelas tidak menjamin telah terjadi proses pembelajaran efektif; (9) setiap jam mahasiswa berada di dalam kampus tidak selalu relevan dengan masa depannya; (10) riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley (2003) sebagaimana tertulis pada sebuah buku berjudul “The Millionaire Mind”, menjelaskan hasil penelitiannya bahwa nilai (NEM, IPK, dan rangking) kategori baik hanyalah faktor sukses urutan ke-30, lulusan dari sekolah dan universitas favorit dunia urutan ke-23; dan (11) Robert Kiyosaki (2015) dalam bukunya “Why “A” Student Work for “C” Student” mengatakan sistem pendidikan selama ini menghasilkan siswa memperoleh prestasi akademik nilai “A” (terpuji) yang bekerja sebagai seorang birokrat, dan bergaji senilai “C” atau berpenghasilan rendah.

Sejak lama Ivan Illich (2000) dalam bukunya “Deschooling Society” mengingatkan, “Bebaskan masyarakat dari belenggu sekolah”. Albert Einten seorang fisikawan yang dikenal dengan teori relativitasnya menyesali hidupnya karena pernah sekolah. Bernard Shaw mengatakan, ditemui ada “Sekolah lebih kejam dari penjara, bukan sebuah rumah idaman yang memberikan perhatian dan kenyamanan.

Baca Juga :  Mereka Butuh Perhatianmu

Mengingat dan memperhatikan fenomena pembelajaran tersebut di atas, mendorong para ahli pembelajaran menyempurnakan teori dan konsep belajar dan pembelajaran.

Yasraf A. Piliang (2005) pada pengantar buku karya John Horgan berjudul; ”The End of Science” mengatakan setidaknya terdapat tiga makna ”Kematian Ilmu Pengetahuan”, termasuk matinya ilmu pendidikan dan pembelajaran yakni kematian sebagai sesuatu yang melampaui batas untuk menuju titik ekstrem atau segala sesuatunya telah diasumsikan sempurna dan tidak ada lagi kebaruan (newness) yang bisa diharapkan karena semua telah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, peneburan dan pencampuradukan (trans), dan kondisi tidak ada lagi objek ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai akibat menurunnya penemuan ilmiah.

Jadi, “matinya ilmu pengetahuan justru terjadi ketika ilmu pengetahuan tersebut diyakini sebagai sesuatu yang telah sempurna, tidak perlu dipelajari, tidak perlu diteliti dan tidak perlu dikembangkan. Disamping itu matinya ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan tersebut telah kehilangan kekuatan kemajuan dan literasinya, kekuatan inovasi dan penemuan barunya, maka apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan adalah mencampuradukkan segala hal yang ada dalam sebuah kondisi turbulensi atau chaostik”.

Neil Postman (2002) dalam bukunya ”The End of Education” menegaskan bahwa kebermaknaan pendidikan bermula dari kata ”End”, yakni ”akhir” dan ”tujuan”. Artinya keberlanjutan pendidikan sangat tergantung pada apakah terdapat suatu dialog yang serius mengenai arah dan/atau tujuan pendidikan. Tanpa narasi, arah, dan tujuan yang bermakna, maka pendidikan atau persekolahan hanyalah rumah tahanan.

Agar pendidikan tidak kehilangan rohnya, teori dan konsep tentang pendidikan harus diyakini belumlah sempurna, masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena teori dan konsep pembelajaran mengalami penyempurnaan secara terus menerus, diantara perubahan tersebut adalah dari pandangan behavioristik menjadi konstruktivistik, dikutip dari Nyoman Degeng.

Dalam pandangan behavioristik pengetahuan bersifat objektif, pasti dan tetap, tidak berubah dan telah terstruktur dengan rapi. Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar.

Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman dan pengetahuan yang sama aapa yang disampaaikaan oleh pendidik atau sumber belajarnya.

Sementara pandangan konstruktivistik, pengetahuan adalah non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu. Belajar adalah penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Sementara mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargainya.

Sukses mengajar ditentukan oleh kesiapan belajar (readness of learning).  Dalam pandangan behavioristik, tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan. Belajar sebagai aktivitas yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis atau tes.

Baca Juga :  Saktinya Uang Bendahara Pemerintah

Sementara tujuan pembelajaran menurut pandangan konstruktivistik adalah menekankan bagaimana belajar, menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif, produktif dalam konteks nyata (kontektual) yang mendorong peserta didik untuk berfikir, memikir ulang dan mendemonstrasikan.

Dalam pandangan behavioristik, peserta didik dihadapkan pada aturan yang jelas dan ketat. “Disiplin” menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah objek yang harus berperilaku sesuai aturan. Kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam belajar dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai perilaku yang pantas diberi hadiah.

Sementara dalam pandangan konstruktivistik, peserta didik belajar harus bebas atau merdeka belajar (freedom of learning). Hanya di alam yang penuh kebebasan peserta didik dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasi terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata yang perlu dihargai. Kebebasan atau kemerdekaan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar dimana kontrol belajar dipegang oleh peserta didik, bukan pada orang lain.

Dalam pandangan behavioristik, penyajian isi atau content pembelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi dan mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Dan aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan menekankan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.

Sementara dalam pandangan konstruktivistik, penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa.

Dalam pandangan behavioristik, evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan terpisah, dan biasanya menggunakan paper, dan pensil test.

Evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban benar menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan tugas belajar. Dan evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individual.

Sementara dalam pandangan konstruktivistik, evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi menggunakan masalah dalam konteks nyata. Dan evaluasi menggali munculnya berfikir divergen, pemecahan ganda, bukan saja satu jawaban benar.

Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi menekankan pada ketrampilan proses dalam kelompok (

* Dosen FKIP Untan

Oleh: Aswandi*

ROH dan kehidupan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika roh telah tercabut dari jasatnya, berarti kehidupan mengalami kematian. Demikian pula di dunia pendidikan, matinya pendidikan ketika pendidikan telah kehilangan rohnya.

Revolusi, reformasi dan transformasi pendidikan, terakhir merdeka belajar. Apapun istilah yang digunakan, perubahan pendidikan, baik dalam skala kecil maupun skala besar tidak boleh tercabut dari rohnya, yakni belajar (learning).

Charles Darwin dalam bukunya “Asal Usul Manusia mengatakan bahwa belajar merupakan faktor anteseden yang mempengaruhi kemampuan seseorang beradaptasi terhadaap perubahan yang terjadi.

John C. Maxwell (2013) dan bukunya berjudul “Sometimes You Win Sometimes You Lose is Learn menyatakan kadang kita menang atau sukses, dan kadang kita kalah atau gagal, semua tergantung pada “Belajar atau Learning”.

Martin Seligman menambahkan “Ketidakberdayaan dampak dari proses pembelajaran”.  Banyak bukti menjelaskan pendidikan formal telah kehilangan rohnya, seperti: (1) sebanyak 32% milliarder tidak atau drop out dari sekolah, diantaranya: Thomas Alva Edison, Walt Disney, Steven Jobs dan Bill Gates; (2) sebanyak 50% perguruan tinggi di Amerika Serikat dalam 10-15 tahun ke depan bangkrut. Saat ini sudah banyak perguruan tinggi mati suri dan tutup; (3) sebanyak 65% siswa saat ini bakal mendapat pekerjaan dimana pekerjaan untuk mereka belum ada, sementara ribuan pekerjaan yang ada menghilang setiap tahunnya; (4) dunia usaha dan dunia industri (DUDI) tidak lagi mempersyaratkan ijasah dalam penerimaan (rekrutmen) pegawainya; (4) gelar kesarjanaan tidak lagi menjadi ukuran kompetensi; (5) lulusan tidak menjamin kemampuan berkarya; (6) program studi tidak ada korelasinya dengan karier lulusan. (7) akreditasi tidak menjadi jaminan mutu pendidikan; (8) kehadiran di ruang kelas tidak menjamin telah terjadi proses pembelajaran efektif; (9) setiap jam mahasiswa berada di dalam kampus tidak selalu relevan dengan masa depannya; (10) riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley (2003) sebagaimana tertulis pada sebuah buku berjudul “The Millionaire Mind”, menjelaskan hasil penelitiannya bahwa nilai (NEM, IPK, dan rangking) kategori baik hanyalah faktor sukses urutan ke-30, lulusan dari sekolah dan universitas favorit dunia urutan ke-23; dan (11) Robert Kiyosaki (2015) dalam bukunya “Why “A” Student Work for “C” Student” mengatakan sistem pendidikan selama ini menghasilkan siswa memperoleh prestasi akademik nilai “A” (terpuji) yang bekerja sebagai seorang birokrat, dan bergaji senilai “C” atau berpenghasilan rendah.

Sejak lama Ivan Illich (2000) dalam bukunya “Deschooling Society” mengingatkan, “Bebaskan masyarakat dari belenggu sekolah”. Albert Einten seorang fisikawan yang dikenal dengan teori relativitasnya menyesali hidupnya karena pernah sekolah. Bernard Shaw mengatakan, ditemui ada “Sekolah lebih kejam dari penjara, bukan sebuah rumah idaman yang memberikan perhatian dan kenyamanan.

Baca Juga :  Perilaku Mencabut Rambut

Mengingat dan memperhatikan fenomena pembelajaran tersebut di atas, mendorong para ahli pembelajaran menyempurnakan teori dan konsep belajar dan pembelajaran.

Yasraf A. Piliang (2005) pada pengantar buku karya John Horgan berjudul; ”The End of Science” mengatakan setidaknya terdapat tiga makna ”Kematian Ilmu Pengetahuan”, termasuk matinya ilmu pendidikan dan pembelajaran yakni kematian sebagai sesuatu yang melampaui batas untuk menuju titik ekstrem atau segala sesuatunya telah diasumsikan sempurna dan tidak ada lagi kebaruan (newness) yang bisa diharapkan karena semua telah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, peneburan dan pencampuradukan (trans), dan kondisi tidak ada lagi objek ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai akibat menurunnya penemuan ilmiah.

Jadi, “matinya ilmu pengetahuan justru terjadi ketika ilmu pengetahuan tersebut diyakini sebagai sesuatu yang telah sempurna, tidak perlu dipelajari, tidak perlu diteliti dan tidak perlu dikembangkan. Disamping itu matinya ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan tersebut telah kehilangan kekuatan kemajuan dan literasinya, kekuatan inovasi dan penemuan barunya, maka apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan adalah mencampuradukkan segala hal yang ada dalam sebuah kondisi turbulensi atau chaostik”.

Neil Postman (2002) dalam bukunya ”The End of Education” menegaskan bahwa kebermaknaan pendidikan bermula dari kata ”End”, yakni ”akhir” dan ”tujuan”. Artinya keberlanjutan pendidikan sangat tergantung pada apakah terdapat suatu dialog yang serius mengenai arah dan/atau tujuan pendidikan. Tanpa narasi, arah, dan tujuan yang bermakna, maka pendidikan atau persekolahan hanyalah rumah tahanan.

Agar pendidikan tidak kehilangan rohnya, teori dan konsep tentang pendidikan harus diyakini belumlah sempurna, masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena teori dan konsep pembelajaran mengalami penyempurnaan secara terus menerus, diantara perubahan tersebut adalah dari pandangan behavioristik menjadi konstruktivistik, dikutip dari Nyoman Degeng.

Dalam pandangan behavioristik pengetahuan bersifat objektif, pasti dan tetap, tidak berubah dan telah terstruktur dengan rapi. Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar.

Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman dan pengetahuan yang sama aapa yang disampaaikaan oleh pendidik atau sumber belajarnya.

Sementara pandangan konstruktivistik, pengetahuan adalah non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu. Belajar adalah penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Sementara mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargainya.

Sukses mengajar ditentukan oleh kesiapan belajar (readness of learning).  Dalam pandangan behavioristik, tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan. Belajar sebagai aktivitas yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis atau tes.

Baca Juga :  Tidur

Sementara tujuan pembelajaran menurut pandangan konstruktivistik adalah menekankan bagaimana belajar, menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif, produktif dalam konteks nyata (kontektual) yang mendorong peserta didik untuk berfikir, memikir ulang dan mendemonstrasikan.

Dalam pandangan behavioristik, peserta didik dihadapkan pada aturan yang jelas dan ketat. “Disiplin” menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah objek yang harus berperilaku sesuai aturan. Kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam belajar dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai perilaku yang pantas diberi hadiah.

Sementara dalam pandangan konstruktivistik, peserta didik belajar harus bebas atau merdeka belajar (freedom of learning). Hanya di alam yang penuh kebebasan peserta didik dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasi terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata yang perlu dihargai. Kebebasan atau kemerdekaan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar dimana kontrol belajar dipegang oleh peserta didik, bukan pada orang lain.

Dalam pandangan behavioristik, penyajian isi atau content pembelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi dan mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Dan aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan menekankan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.

Sementara dalam pandangan konstruktivistik, penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa.

Dalam pandangan behavioristik, evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan terpisah, dan biasanya menggunakan paper, dan pensil test.

Evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban benar menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan tugas belajar. Dan evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individual.

Sementara dalam pandangan konstruktivistik, evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi menggunakan masalah dalam konteks nyata. Dan evaluasi menggali munculnya berfikir divergen, pemecahan ganda, bukan saja satu jawaban benar.

Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi menekankan pada ketrampilan proses dalam kelompok (

* Dosen FKIP Untan

Most Read

Artikel Terbaru

/