alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Merdeka, Percaya Kekuatan Sendiri

Oleh: Ferry Yasin

ADA sebuah ‘kesalahan’ dalam penulisan dan pengajaran sejarah selama ini kepada para peserta didik kita. Kalau kita tanya kepada mereka, berapa lama kita dijajah oleh Belanda, tanpa ragu mereka menjawab 350 tahun. Bahkan, ketika pertanyaan ini dilontarkan kepada mereka yang segenerasi dengan penulis, dengan sangat yakin mereka mengamini tiga setengah abad kita ditindas oleh negeri Ratu Juliana itu. Tiga setengah abad bukan masa yang singkat, tetapi alam bawah sadar kita sudah di-setting bahwa itulah era terpanjang penderitaan bangsa Indonesia yang harus dilewati.

Momen 350 tahun ini berawal dari kedatangan Cornelis de Houtman di Nusantara. Cornelis de Houtman, yang lahir di Belanda pada 2 April 1565, adalah seorang penjelajah Belanda yang menemukan jalan pelayaran dari Eropa ke Indonesia dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi Belanda. Saat itu Kerajaan Portugis mempunyai monopoli terhadap perdagangan tersebut, dan penjelajahan de Houtman adalah kemenangan simbolis bagi Pihak Belanda.

Awalnya bangsa Eropa datang untuk ‘berdagang’, tetapi kemudian terjadi subordinasi terhadap daerah yang didatangi. Terjadi ‘kesepakatan’ sepihak alias penjajahan di beberapa tempat. Pada tahun 1667 bangsa Minahasa (Sulawesi Utara) bangkit melawan Spanyol dan berakhir dengan kekalahan telak di pihak Spanyol. Ini juga berkat diplomasi bangsa Minahasa dengan Belanda yang kala itu berada di Maluku. Kekalahan Spanyol ini menyebabkan terciptanya perjanjian antara Minahasa dan Belanda (VOC) pada 10 Januari 1679.

Dari perjanjian itu menyiratkan bahwa, bangsa Minahasa sebenarnya tidak pernah mengakui bahwa Minahasa pernah dijajah oleh Belanda. Kedua bangsa adalah sejajar dan sederajat. Oleh sebab itu perlakuan Belanda terhadap Minahasa kurang lebih berorientasi pada perjanjian tahun 1679 tersebut dimana aspek-aspek pendidikan rakyat sangat menonjol (Mamahit). Di Sulawesi Utara pendidikan telah lama maju dan berkembang, bahkan kesetaraan gender telah lama ada di negeri dengan predikat Nyiur Melambai ini. Begitu juga dengan tingkat melek hurufnya, merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Baca Juga :  Merawat dan Meruwat Bahasa Daerah

Setali tiga uang dengan Aceh. Apakah Aceh benar-benar dijajah oleh Belanda? Apakah negeri Serambi Mekah ini merana dan meratap selama tiga setengah abad karena Belanda? Semangat heroik dan puritan rakyat aceh dan kepemimpinan yang kuat Kesultanan Aceh ternyata membuat Belanda pusing tujuh keliling untuk mencengkeram daerah itu. Menurut penulis, ini sebenarnya merupakan daerah yang tak tertundukkan, sampai akhirnya Belanda memakai siasat baru menempatkan seorang bernama Snouck Hurgronje sebagai penasehatnya untuk lebih memahami masalah sosial dan budaya Aceh.

KEKUATAN SENDIRI

Indoktrinasi lamanya kita dijajah Belanda memberi beberapa implikasi pada kesadaran berbangsa kita.

Pertama, memberi kesan bahwa Penjajah Belanda adalah benar-benar jahat dan merupakan monster. Penulis yakin bahwa tidak ada penjajahan yang enak dan Pembukaan UU kita mengamanatkan penghapusan penjajahan dari muka bumi. Saat ini kita juga mendukung kemerdekaan Palestina dari segala bentuk penindasan dan okupasi wilayah. Tetapi penjajahan yang kita alami tidak seluruhnya terjadi selama masa itu, dan juga pasti ada sisi-sisi baiknya.

Persentuhan kita dengan penjajah memberikan perspektif dan ilmu baru tentang tekonologi dan organisasi dan infrastruktur yang kuat. Perhatikan jalan, jembatan dan bangunan yang dibangun oleh Belanda. Selain strukturnya kuat, ada nilai estetis sekaligus juga tahan lama. Sedangkan infrastruktur yang dibangun oleh para anak bangsa sendiri banyak yang telah rusak sebelum waktunya. Ada juga kaum sosialis di pihak Belanda yang memperjuangan pendidikan dan kesejahteraan seperti Douwes Dekker dan Multatuli.

Baca Juga :  Anak Terpapar Gawai

Kedua, penjelasan kuantitatif 350 tahun menyebabkan kita diliputi terus mental bangsa yang dijajah. Ada semacam inferiority complex yang dialami bangsa ini karena guru-guru di sekolah terus mendengungkan dan memastikan betapa kita tak berdaya karena penjajahan yang demikian lama ini. Ini pada gilirannya kita tak memiliki rasa percaya diri pada kekuatan sendiri. Dianugerahi dengan sumber daya alam yang melimpah harusnya ini merupakan modal dasar untuk bangkit dan menjadi tuan di negeri sendiri. Diberkahi dengan 260 juta manusia, harusnya ini menjadi kekuatan penggerak mengelola sumber daya alam yang luar biasa ini dengan arif dan bijaksana. Difasilitasi dengan iklim yang relatif moderat, harusnya ini memacu kita untuk terus belajar, bekerja dan mengembangkan diri.

Ketiga, menggeser dan menenggelamkan tonggak-tonggak (milestone) bangsa ini seperti kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Indonesia lahir dari peradaban-peradan besar miliknya sendiri. Dua kerajaan itu adalah bukti dari semua ini. Kekuasaannya sampai di Negeri Champa (Kamboja sekarang ini) mengindikasikan bahwa semangat dan teknologi pada saat itu telah mumpuni sehingga membawa kerajaan ini mengokupasi hampir seluruh wilayah Asia Tenggara. Kalau saja kita memberi porsi yang besar terhadap bagian ini, pasti kita akan muncul sebagai bangsa yang percaya akan kekuatan sendiri dan menjadi besar. Sekarang pun sedang berproses ke arah sana.
Merdeka adalah bebas, kita telah lepas dari penjajahan fisik selama 74 tahun. Tetapi kita saat ini juga harus sama sekali merdeka, bebas dan lepas dari berbagai penindasan bentuk lain seperti kemiskinan, kebodohan, tekanan ekonomi dan politik dan kepentingan negara lain, dengan cara percaya dengan kekuatan sendiri. Bangsa Indonesia kuat!

Penulis: Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kab Kubu Raya

Oleh: Ferry Yasin

ADA sebuah ‘kesalahan’ dalam penulisan dan pengajaran sejarah selama ini kepada para peserta didik kita. Kalau kita tanya kepada mereka, berapa lama kita dijajah oleh Belanda, tanpa ragu mereka menjawab 350 tahun. Bahkan, ketika pertanyaan ini dilontarkan kepada mereka yang segenerasi dengan penulis, dengan sangat yakin mereka mengamini tiga setengah abad kita ditindas oleh negeri Ratu Juliana itu. Tiga setengah abad bukan masa yang singkat, tetapi alam bawah sadar kita sudah di-setting bahwa itulah era terpanjang penderitaan bangsa Indonesia yang harus dilewati.

Momen 350 tahun ini berawal dari kedatangan Cornelis de Houtman di Nusantara. Cornelis de Houtman, yang lahir di Belanda pada 2 April 1565, adalah seorang penjelajah Belanda yang menemukan jalan pelayaran dari Eropa ke Indonesia dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi Belanda. Saat itu Kerajaan Portugis mempunyai monopoli terhadap perdagangan tersebut, dan penjelajahan de Houtman adalah kemenangan simbolis bagi Pihak Belanda.

Awalnya bangsa Eropa datang untuk ‘berdagang’, tetapi kemudian terjadi subordinasi terhadap daerah yang didatangi. Terjadi ‘kesepakatan’ sepihak alias penjajahan di beberapa tempat. Pada tahun 1667 bangsa Minahasa (Sulawesi Utara) bangkit melawan Spanyol dan berakhir dengan kekalahan telak di pihak Spanyol. Ini juga berkat diplomasi bangsa Minahasa dengan Belanda yang kala itu berada di Maluku. Kekalahan Spanyol ini menyebabkan terciptanya perjanjian antara Minahasa dan Belanda (VOC) pada 10 Januari 1679.

Dari perjanjian itu menyiratkan bahwa, bangsa Minahasa sebenarnya tidak pernah mengakui bahwa Minahasa pernah dijajah oleh Belanda. Kedua bangsa adalah sejajar dan sederajat. Oleh sebab itu perlakuan Belanda terhadap Minahasa kurang lebih berorientasi pada perjanjian tahun 1679 tersebut dimana aspek-aspek pendidikan rakyat sangat menonjol (Mamahit). Di Sulawesi Utara pendidikan telah lama maju dan berkembang, bahkan kesetaraan gender telah lama ada di negeri dengan predikat Nyiur Melambai ini. Begitu juga dengan tingkat melek hurufnya, merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Baca Juga :  Merawat dan Meruwat Bahasa Daerah

Setali tiga uang dengan Aceh. Apakah Aceh benar-benar dijajah oleh Belanda? Apakah negeri Serambi Mekah ini merana dan meratap selama tiga setengah abad karena Belanda? Semangat heroik dan puritan rakyat aceh dan kepemimpinan yang kuat Kesultanan Aceh ternyata membuat Belanda pusing tujuh keliling untuk mencengkeram daerah itu. Menurut penulis, ini sebenarnya merupakan daerah yang tak tertundukkan, sampai akhirnya Belanda memakai siasat baru menempatkan seorang bernama Snouck Hurgronje sebagai penasehatnya untuk lebih memahami masalah sosial dan budaya Aceh.

KEKUATAN SENDIRI

Indoktrinasi lamanya kita dijajah Belanda memberi beberapa implikasi pada kesadaran berbangsa kita.

Pertama, memberi kesan bahwa Penjajah Belanda adalah benar-benar jahat dan merupakan monster. Penulis yakin bahwa tidak ada penjajahan yang enak dan Pembukaan UU kita mengamanatkan penghapusan penjajahan dari muka bumi. Saat ini kita juga mendukung kemerdekaan Palestina dari segala bentuk penindasan dan okupasi wilayah. Tetapi penjajahan yang kita alami tidak seluruhnya terjadi selama masa itu, dan juga pasti ada sisi-sisi baiknya.

Persentuhan kita dengan penjajah memberikan perspektif dan ilmu baru tentang tekonologi dan organisasi dan infrastruktur yang kuat. Perhatikan jalan, jembatan dan bangunan yang dibangun oleh Belanda. Selain strukturnya kuat, ada nilai estetis sekaligus juga tahan lama. Sedangkan infrastruktur yang dibangun oleh para anak bangsa sendiri banyak yang telah rusak sebelum waktunya. Ada juga kaum sosialis di pihak Belanda yang memperjuangan pendidikan dan kesejahteraan seperti Douwes Dekker dan Multatuli.

Baca Juga :  Memaknai Kemerdekaan

Kedua, penjelasan kuantitatif 350 tahun menyebabkan kita diliputi terus mental bangsa yang dijajah. Ada semacam inferiority complex yang dialami bangsa ini karena guru-guru di sekolah terus mendengungkan dan memastikan betapa kita tak berdaya karena penjajahan yang demikian lama ini. Ini pada gilirannya kita tak memiliki rasa percaya diri pada kekuatan sendiri. Dianugerahi dengan sumber daya alam yang melimpah harusnya ini merupakan modal dasar untuk bangkit dan menjadi tuan di negeri sendiri. Diberkahi dengan 260 juta manusia, harusnya ini menjadi kekuatan penggerak mengelola sumber daya alam yang luar biasa ini dengan arif dan bijaksana. Difasilitasi dengan iklim yang relatif moderat, harusnya ini memacu kita untuk terus belajar, bekerja dan mengembangkan diri.

Ketiga, menggeser dan menenggelamkan tonggak-tonggak (milestone) bangsa ini seperti kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Indonesia lahir dari peradaban-peradan besar miliknya sendiri. Dua kerajaan itu adalah bukti dari semua ini. Kekuasaannya sampai di Negeri Champa (Kamboja sekarang ini) mengindikasikan bahwa semangat dan teknologi pada saat itu telah mumpuni sehingga membawa kerajaan ini mengokupasi hampir seluruh wilayah Asia Tenggara. Kalau saja kita memberi porsi yang besar terhadap bagian ini, pasti kita akan muncul sebagai bangsa yang percaya akan kekuatan sendiri dan menjadi besar. Sekarang pun sedang berproses ke arah sana.
Merdeka adalah bebas, kita telah lepas dari penjajahan fisik selama 74 tahun. Tetapi kita saat ini juga harus sama sekali merdeka, bebas dan lepas dari berbagai penindasan bentuk lain seperti kemiskinan, kebodohan, tekanan ekonomi dan politik dan kepentingan negara lain, dengan cara percaya dengan kekuatan sendiri. Bangsa Indonesia kuat!

Penulis: Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kab Kubu Raya

Most Read

Artikel Terbaru

/