alexametrics
26.7 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Gizi Optimal pada Generasi Milenial di Era New Normal

Oleh: Tri Hidayat, M.Gz

GENERASI milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980 sampai dengan tahun 2000. Mereka masuk pada masa transisi dari fase anak-anak ke fase remaja muda hingga dewasa dengan usia antara 10-19 tahun. Pada umumnya mereka merupakan generasi yang dekat dengan media sosial, kreatif, efisien, punya passion, produktif, ingin serba cepat, open minded, kritis dan berani.

Kemenkes RI (2020) menyatakan bahwa ada masalah gizi remaja milenial yang perlu diperhatikan, seperti : 23,8 persen remaja putri mengalami anemia, 16 persen remaja usia 13-15 tahun mengalami kegemukan dan obesitas serta 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun tergolong kurus dan sangat kurus. Hal ini didukung dengan perilaku remaja milenial saat ini yang dikutip dari data Kemenkes RI (2019) seperti kebiasaan begadang, pola makan berantakan, mager, terlalu banyak minum kopi dan main ponsel terlalu lama.

Selain itu, pola konsumsi remaja yang kurang baik seperti yang dilansir oleh data Kemenkes RI (2020) bahwa 27,93 persen gemar minum minuman soda ≥ 1x/hari, 44,6 persen tidak sarapan secara teratur, 55,4 persen mengonsumsi fast food ≥ 1x/minggu, dan 68,3 persen tidak rutin membawa bekal. Kompleksnya masalah gizi pada generasi milenial ini menandakan bahwa generasi ini perlu peningkatan pengetahuan terkait gizi optimal untuk memperbaiki kebiasaan yang salah yang akan berdampak pada masalah gizi remaja di kemudian hari.

Belum selesai masalah gizi remaja milenial, kemudian ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 yang berdampak pada semua kalangan termasuk remaja. Pandemi Covid-19 membatasi pergerakan masyarakat termasuk kalangan remaja yang harus membatasi berbagai kegiatan untuk memutus rantai penularan. Masyarakat juga diedukasi untuk menerapkan pola hidup sehat dengan mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, memakai masker ketika berpergian keluar rumah serta menjaga jarak.

Pelaksanaan proses belajar mengajar di era pandemi Covid-19 juga harus merubah kebiasaan pembelajaran dari luring menjadi daring/jarak jauh yang juga menimbulkan stres karena tidak cukup mudah diterima oleh siswa atau mahasiswa. Menurut American Psychological Association (APA), kecemasan merupakan keadaan emosi yang muncul saat individu sedang stress, dan ditandai oleh perasaan tegang, pikiran yang membuat individu merasa khawatir dan disertai respon fisik (jantung berdetak kencang, naiknya tekanan darah, dan lain sebagainya).

Ada beberapa hal yang menjadi poin penting untuk mencapai gizi optimal pada remaja milenial di era new normal.

Pentingnya Sarapan

Pola konsumsi remaja yang perlu mendapat perhatian salah satunya adalah kebiasaan sarapan pagi serta konsumsi makanan bergizi yang membantu penyerapan zat gizi seperti buah, sayur dan lauk-pauk sumber protein. Sarapan pagi merupakan kegiatan yang paling penting dalam memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi dalam sehari. Apabila remaja melewatkan sarapan maka pemenuhan energi dan zat gizi tidak tercapai.

Remaja membutuhkan zat gizi yang berfungsi sebagai sumber energi serta berperan dalam metabolisme tubuh termasuk pembentukan hemoglobin. Asupan zat gizi akan berkurang sebanyak ± 30 persen jika seseorang melewatkan sarapan pagi dan secara langsung mengurangi produksi hemoglobin sehingga menyebabkan anemia.

Baca Juga :  Intoleransi di Balik Seragam Sekolah

Berdasarkan data RISKESDAS (2018), Prevalensi remaja putri di Indonesia yang mengalami anemia sebesar 48,9 persen. Remaja yang memiliki aktivitas fisikyang banyak membutuhkan kalori, protein, dan mikronutrien baik secara kualitatif maupun kuantitatif makanan yang dikonsumsi saat sarapan mengandung sumber zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur dalam jumlah seimbang serta mengandung sepertiga kecukupan gizi dalam sehari dan remaja sangat membutuhkan nutrisidi pagi hari sebelum melakukan aktivitas.

Anak yang terbiasa sarapan akan menjadi lebih bersemangat belajar, konsentrasi dan daya ingat meningkat serta kondisi emosional cenderung baik. Sarapan berperan dalam menjaga fungsi kognisi. Konsentrasi berpikir merupakan bagian dari fungsi kognisi. Kondisi kosongnya lambung dapat membuat kadar glukosa darah menurun.

Kondisi glukosa yang menurun akan mengakibatkan pasokan glukosa bagi otak terganggu. Glukosa darah adalah satu-satunya penyalur energi bagi otak untuk bekerja optimal. Glukosa yang rendah hingga mencapai <70 mg/dl akan menyebabkan penurunan konsentrasi belajar atau daya ingat, tubuh melemah, pusing dan gemetar.

Memperbaiki Pola Makan yang Mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang

Pola makan memberikan gambaran mengenai frekuensi, macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari. Pola makan yang dianjurkan adalah makanan gizi seimbang bagi remaja yang terdiri atas sumber zat tenaga misalnya roti, tepung-tepungan, sumber zat pembangun misalnya ikan, telur, ayam, daging, susu, kacang-kacangan, tahu, tempe,dan sumber zat pengatur seperti sayur-sayuran, buah-buahan. Masa remaja terdapat peningkatan asupan makan siap saji yang cenderung tinggi lemak, energi, natrium dan rendah asamfolat, serat dan vitamin A.

Jenis bahan makanan yang seimbang apabila dikonsumsi setiap hari akan memenuhi kebutuhan gizi tubuh remaja. Diet yang seimbang menghasilkan kecukupan asupan zat gizi sehingga kejadian defisiensi zat gizi spesifik berkurang.

Pola makan yang salah dan pengaruh pergaulan karena ingin langsing dan diet yang ketat menyebabkan berat badan turun. Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang akan memberikan energi yang cukup, sebaliknya jika asupan makan kurang akan berakibat menurunnya kemampuan otak dan menurunnya semangat remaja dalam belajar. Takut berat badan naik dan kebiasaan makan yang tidak teratur dapat menjadi salah satu penyebab anemia pada remaja. Sehingga penting sekali berkonsultasi kepada ahli gizi atau dietisien terkait pengaturan makan untuk mencapai status gizi normal pada remaja.

Berolahraga Secara Rutin dan Aman

Olahraga terukur dan terprogram serta asupan gizi seimbang merupakan faktor penting untuk menjaga imunitas tubuh, seperti saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Namun tidak semua cabang olahraga dapat dilakukan masyarakat pada saat pandemi. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan, di antaranya dapat dilakukan di dalam atau di sekitar halaman rumah, efisien dari sisi waktu dan alat yang digunakan. Agar olahraga bisa membuat imunitas membaik, maka harus memenuhi kriteria FITT.

FITT merupakan singkatan dari frequency, intensity, time, type. Frequency, olahraga sebaiknya dilakukan 3-5 kali seminggu. Intensity, lakukanlah olahraga dengan intensitas sedang atau 65 persen-75persen dari denyut nadi maksimal (DNM) dikurangi umur (220-umur).

Time, atau lamanya berolahraga. Lakukan olahraga 20-30 menit, dan apabila kemampuannya memungkinkan, bisa dilakukan selama satu jam. Type atau jenis olahraga yang dilakukan harus bersifat aerobik. Di masa pandemi karena harus diam di rumah, jenis olahraga yang mudah dilakukan adalah dengan sepeda statis, jalan/jogging, loncat-loncat di tempat tanpa berhenti, sesuai kemampuan. lakukan olahraga dengan suasana hati gembira agar dapat mengoptimalkan produksi hormon kebahagiaan atau endorphin dan meningkatkan imunitas.

Baca Juga :  Dua Persen Penduduk Indonesia Ada Di Kalbar

Sama halnya makan, gerak (olahraga) merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya terus-menerus; artinya olahraga sebagai alat untuk mempertahankan hidup, memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Seperti halnya makan, olahraga pun hanya akan dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kesehatan pada mereka yang melakukan kegiatan olahraga. Bila orang hanya menonton olahraga, maka sama halnya dengan orang yang hanya menonton orang makan, artinya ia tidak akan dapat merasakan nikmatnya berolahraga dan tidak akan dapat memperoleh manfaat dari olahraga bagi kesehatannya.

Mengendalikan Stres

Usia remaja dapat dikatakan usia yang masih labil dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tidak terduga. Kondisi emosi remaja akan mudah terguncang seperti, anxiety (perasaan gugup atau gelisah) yang berlebihan, ketakutan akan tertular virus ini dan sebagainya. Anxiety yang dialami remaja akan berdampak kepada empat hal.

Pertama, kurang tidur yang dapat menyebabkan insomnia dan masalah tidur lainnya. Untuk mengatasi kurang tidur dapat dilakukan dengan fokus pada cara-cara untuk meningkatan kualitas tidur. Pertahankanlah waktu tidur yang konsisten, batasi konsumsi kopi dan alkohol, rutin olahraga, dan berjemur pada paparan sinar matahari setiap hari. Hal lain yang dapat dilakukan menjauhi gadget agar lebih cepat tidur

Kedua, kesulitan untuk fokus, Covid-19 telah mengancam kesehatan fisik dan psikis, dan cara hidup sehari-hari. Masalahnya adalah, selama di rumah juga harus tetap fokus untuk belajar. Akibat pemberitaan Covid-19, pikiran menjadi tidak fokus dan sulit berkonsentrasi pada pelajaran. Cara untuk meningkatkan konsentrasi pada masa pandemi ini adalah memaksimalkan istirahat yang cukup.

Ketiga, sering lupa, anxiety dapat memengaruhi memori. Apa pun yang merilekskan tubuh akan membantu ingatan, karena relaksasi melibatkan sistem saraf parasimpatis. Kegiatan relaksasi yang baik seperti olahraga juga dapat merelaksasi ingatan. Melakukan permainan yang mengasah kemampuan untuk fokus seperti teka-teki silang, Sudoku, membuat kerajinan tangan, bermain video games, atau bermain alat musik juga dapatmembantu untuk mengurangi lupa.

Keempat, meningkatnya iritabilitas dan mudah marah, anxiety dapat merubah emosi remaja seperti mudah marah. Anxiety yangdialami tiap orang berbeda-beda, tentu saja hal ini berkontribusi terhadap iritabilitas dan kemarahan.

Peran zat gizi untuk remaja milenial sudah pasti sangat penting. Makanan yang dikonsumsi sangat berpengaruh pada kesehatan dan tumbuh kembang selama masa pertumbuhan. Ingat bahwa generasi milenial saat ini harus lebih sehat dari generasi sebelumnya. Jangan lupa beri tahu informasi ini kepada teman sebaya atau remaja milenial di sekitar kita, karena dengan berbagi ilmu yang nilainya positif kepada orang lain maka kita adalah generasi milenial yang luar biasa.**

*Penulis, Mahasiswa Profesi Dietisien Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya.

Oleh: Tri Hidayat, M.Gz

GENERASI milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980 sampai dengan tahun 2000. Mereka masuk pada masa transisi dari fase anak-anak ke fase remaja muda hingga dewasa dengan usia antara 10-19 tahun. Pada umumnya mereka merupakan generasi yang dekat dengan media sosial, kreatif, efisien, punya passion, produktif, ingin serba cepat, open minded, kritis dan berani.

Kemenkes RI (2020) menyatakan bahwa ada masalah gizi remaja milenial yang perlu diperhatikan, seperti : 23,8 persen remaja putri mengalami anemia, 16 persen remaja usia 13-15 tahun mengalami kegemukan dan obesitas serta 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun tergolong kurus dan sangat kurus. Hal ini didukung dengan perilaku remaja milenial saat ini yang dikutip dari data Kemenkes RI (2019) seperti kebiasaan begadang, pola makan berantakan, mager, terlalu banyak minum kopi dan main ponsel terlalu lama.

Selain itu, pola konsumsi remaja yang kurang baik seperti yang dilansir oleh data Kemenkes RI (2020) bahwa 27,93 persen gemar minum minuman soda ≥ 1x/hari, 44,6 persen tidak sarapan secara teratur, 55,4 persen mengonsumsi fast food ≥ 1x/minggu, dan 68,3 persen tidak rutin membawa bekal. Kompleksnya masalah gizi pada generasi milenial ini menandakan bahwa generasi ini perlu peningkatan pengetahuan terkait gizi optimal untuk memperbaiki kebiasaan yang salah yang akan berdampak pada masalah gizi remaja di kemudian hari.

Belum selesai masalah gizi remaja milenial, kemudian ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 yang berdampak pada semua kalangan termasuk remaja. Pandemi Covid-19 membatasi pergerakan masyarakat termasuk kalangan remaja yang harus membatasi berbagai kegiatan untuk memutus rantai penularan. Masyarakat juga diedukasi untuk menerapkan pola hidup sehat dengan mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, memakai masker ketika berpergian keluar rumah serta menjaga jarak.

Pelaksanaan proses belajar mengajar di era pandemi Covid-19 juga harus merubah kebiasaan pembelajaran dari luring menjadi daring/jarak jauh yang juga menimbulkan stres karena tidak cukup mudah diterima oleh siswa atau mahasiswa. Menurut American Psychological Association (APA), kecemasan merupakan keadaan emosi yang muncul saat individu sedang stress, dan ditandai oleh perasaan tegang, pikiran yang membuat individu merasa khawatir dan disertai respon fisik (jantung berdetak kencang, naiknya tekanan darah, dan lain sebagainya).

Ada beberapa hal yang menjadi poin penting untuk mencapai gizi optimal pada remaja milenial di era new normal.

Pentingnya Sarapan

Pola konsumsi remaja yang perlu mendapat perhatian salah satunya adalah kebiasaan sarapan pagi serta konsumsi makanan bergizi yang membantu penyerapan zat gizi seperti buah, sayur dan lauk-pauk sumber protein. Sarapan pagi merupakan kegiatan yang paling penting dalam memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi dalam sehari. Apabila remaja melewatkan sarapan maka pemenuhan energi dan zat gizi tidak tercapai.

Remaja membutuhkan zat gizi yang berfungsi sebagai sumber energi serta berperan dalam metabolisme tubuh termasuk pembentukan hemoglobin. Asupan zat gizi akan berkurang sebanyak ± 30 persen jika seseorang melewatkan sarapan pagi dan secara langsung mengurangi produksi hemoglobin sehingga menyebabkan anemia.

Baca Juga :  Data Berkualitas Itu Mahal

Berdasarkan data RISKESDAS (2018), Prevalensi remaja putri di Indonesia yang mengalami anemia sebesar 48,9 persen. Remaja yang memiliki aktivitas fisikyang banyak membutuhkan kalori, protein, dan mikronutrien baik secara kualitatif maupun kuantitatif makanan yang dikonsumsi saat sarapan mengandung sumber zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur dalam jumlah seimbang serta mengandung sepertiga kecukupan gizi dalam sehari dan remaja sangat membutuhkan nutrisidi pagi hari sebelum melakukan aktivitas.

Anak yang terbiasa sarapan akan menjadi lebih bersemangat belajar, konsentrasi dan daya ingat meningkat serta kondisi emosional cenderung baik. Sarapan berperan dalam menjaga fungsi kognisi. Konsentrasi berpikir merupakan bagian dari fungsi kognisi. Kondisi kosongnya lambung dapat membuat kadar glukosa darah menurun.

Kondisi glukosa yang menurun akan mengakibatkan pasokan glukosa bagi otak terganggu. Glukosa darah adalah satu-satunya penyalur energi bagi otak untuk bekerja optimal. Glukosa yang rendah hingga mencapai <70 mg/dl akan menyebabkan penurunan konsentrasi belajar atau daya ingat, tubuh melemah, pusing dan gemetar.

Memperbaiki Pola Makan yang Mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang

Pola makan memberikan gambaran mengenai frekuensi, macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari. Pola makan yang dianjurkan adalah makanan gizi seimbang bagi remaja yang terdiri atas sumber zat tenaga misalnya roti, tepung-tepungan, sumber zat pembangun misalnya ikan, telur, ayam, daging, susu, kacang-kacangan, tahu, tempe,dan sumber zat pengatur seperti sayur-sayuran, buah-buahan. Masa remaja terdapat peningkatan asupan makan siap saji yang cenderung tinggi lemak, energi, natrium dan rendah asamfolat, serat dan vitamin A.

Jenis bahan makanan yang seimbang apabila dikonsumsi setiap hari akan memenuhi kebutuhan gizi tubuh remaja. Diet yang seimbang menghasilkan kecukupan asupan zat gizi sehingga kejadian defisiensi zat gizi spesifik berkurang.

Pola makan yang salah dan pengaruh pergaulan karena ingin langsing dan diet yang ketat menyebabkan berat badan turun. Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang akan memberikan energi yang cukup, sebaliknya jika asupan makan kurang akan berakibat menurunnya kemampuan otak dan menurunnya semangat remaja dalam belajar. Takut berat badan naik dan kebiasaan makan yang tidak teratur dapat menjadi salah satu penyebab anemia pada remaja. Sehingga penting sekali berkonsultasi kepada ahli gizi atau dietisien terkait pengaturan makan untuk mencapai status gizi normal pada remaja.

Berolahraga Secara Rutin dan Aman

Olahraga terukur dan terprogram serta asupan gizi seimbang merupakan faktor penting untuk menjaga imunitas tubuh, seperti saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Namun tidak semua cabang olahraga dapat dilakukan masyarakat pada saat pandemi. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan, di antaranya dapat dilakukan di dalam atau di sekitar halaman rumah, efisien dari sisi waktu dan alat yang digunakan. Agar olahraga bisa membuat imunitas membaik, maka harus memenuhi kriteria FITT.

FITT merupakan singkatan dari frequency, intensity, time, type. Frequency, olahraga sebaiknya dilakukan 3-5 kali seminggu. Intensity, lakukanlah olahraga dengan intensitas sedang atau 65 persen-75persen dari denyut nadi maksimal (DNM) dikurangi umur (220-umur).

Time, atau lamanya berolahraga. Lakukan olahraga 20-30 menit, dan apabila kemampuannya memungkinkan, bisa dilakukan selama satu jam. Type atau jenis olahraga yang dilakukan harus bersifat aerobik. Di masa pandemi karena harus diam di rumah, jenis olahraga yang mudah dilakukan adalah dengan sepeda statis, jalan/jogging, loncat-loncat di tempat tanpa berhenti, sesuai kemampuan. lakukan olahraga dengan suasana hati gembira agar dapat mengoptimalkan produksi hormon kebahagiaan atau endorphin dan meningkatkan imunitas.

Baca Juga :  Pendampingan Perhutanan Sosial Di Era Revolusi Industri 4.0

Sama halnya makan, gerak (olahraga) merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya terus-menerus; artinya olahraga sebagai alat untuk mempertahankan hidup, memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Seperti halnya makan, olahraga pun hanya akan dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kesehatan pada mereka yang melakukan kegiatan olahraga. Bila orang hanya menonton olahraga, maka sama halnya dengan orang yang hanya menonton orang makan, artinya ia tidak akan dapat merasakan nikmatnya berolahraga dan tidak akan dapat memperoleh manfaat dari olahraga bagi kesehatannya.

Mengendalikan Stres

Usia remaja dapat dikatakan usia yang masih labil dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tidak terduga. Kondisi emosi remaja akan mudah terguncang seperti, anxiety (perasaan gugup atau gelisah) yang berlebihan, ketakutan akan tertular virus ini dan sebagainya. Anxiety yang dialami remaja akan berdampak kepada empat hal.

Pertama, kurang tidur yang dapat menyebabkan insomnia dan masalah tidur lainnya. Untuk mengatasi kurang tidur dapat dilakukan dengan fokus pada cara-cara untuk meningkatan kualitas tidur. Pertahankanlah waktu tidur yang konsisten, batasi konsumsi kopi dan alkohol, rutin olahraga, dan berjemur pada paparan sinar matahari setiap hari. Hal lain yang dapat dilakukan menjauhi gadget agar lebih cepat tidur

Kedua, kesulitan untuk fokus, Covid-19 telah mengancam kesehatan fisik dan psikis, dan cara hidup sehari-hari. Masalahnya adalah, selama di rumah juga harus tetap fokus untuk belajar. Akibat pemberitaan Covid-19, pikiran menjadi tidak fokus dan sulit berkonsentrasi pada pelajaran. Cara untuk meningkatkan konsentrasi pada masa pandemi ini adalah memaksimalkan istirahat yang cukup.

Ketiga, sering lupa, anxiety dapat memengaruhi memori. Apa pun yang merilekskan tubuh akan membantu ingatan, karena relaksasi melibatkan sistem saraf parasimpatis. Kegiatan relaksasi yang baik seperti olahraga juga dapat merelaksasi ingatan. Melakukan permainan yang mengasah kemampuan untuk fokus seperti teka-teki silang, Sudoku, membuat kerajinan tangan, bermain video games, atau bermain alat musik juga dapatmembantu untuk mengurangi lupa.

Keempat, meningkatnya iritabilitas dan mudah marah, anxiety dapat merubah emosi remaja seperti mudah marah. Anxiety yangdialami tiap orang berbeda-beda, tentu saja hal ini berkontribusi terhadap iritabilitas dan kemarahan.

Peran zat gizi untuk remaja milenial sudah pasti sangat penting. Makanan yang dikonsumsi sangat berpengaruh pada kesehatan dan tumbuh kembang selama masa pertumbuhan. Ingat bahwa generasi milenial saat ini harus lebih sehat dari generasi sebelumnya. Jangan lupa beri tahu informasi ini kepada teman sebaya atau remaja milenial di sekitar kita, karena dengan berbagi ilmu yang nilainya positif kepada orang lain maka kita adalah generasi milenial yang luar biasa.**

*Penulis, Mahasiswa Profesi Dietisien Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya.

Most Read

Artikel Terbaru

/