alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Elegi Belanja

Oleh: Herlin

PARA pembaca mungkin masih ingat bagaimana dahulu kita mengikuti ayah atau ibu kita belanja ke pasar. Mungkin ada sebagian dari pembaca yang pernah ikut berbelanja pakaian. Pada masa itu, jalan-jalan masih belum dibangun sehingga banyak yang menuju pasar dengan menggunakan sepeda atau jalur transportasi air. Kadang mau belanja harus menunggu uang terkumpul dulu karena ke pasar itu jauh dan cukup sulit.

Ajaibnya lagi, kadang bahkan bisa menghabiskan waktu setengah harian karena jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke pasar. Tak jarang kita mengikut di belakang ibu memutar-mutar di pasar dua bahkan tiga kali. Masuk satu toko, tanya-tanya harga, tawar- menawar kemudian tidak terjadi kesepakatan lalu berjalan ke toko lain lagi. Masuk lagi toko yang lain, tanya-tanya harga, tidak cocok warna maupun ukuan, keluar lagi,  Memutar lagi, namun belum ketemu juga yang pas.

Lucunya, terkadang saat berkeliling pasar, kita melewati toko yang sama dan penjualnya masih terus menawarkan dagangannya sambil negosiasi harga bahkan menawarkan produk lain yang mungkin cocok. Eh, karena sudah capek berkeliling, akhirnya hati luluh juga dirayu pedagang yang rajin menawarkan harga dan melayani kita. Kemudian kita pulang dengan perasaan gembira meski pulang hanya dengan dua pasang pakaian, seikat sawi keriting dan sebungkus es cendol.

Baca Juga :  Mengislamisasikan Ilmu Komunikasi

Nah, kalau sekarang kita tidak perlu lagi jalan-jalan ke pasar. Tinggal buka hp android, kemudian jalan-jalan pakai jari jempol mengelilingi banyak toko dengan aneka jualan lengkap, dari makanan, perabot, elektronik bahkan sampai underwear alias pakaian dalam. Tak cukup begitu kemudahan yang kita terima. Ada pelayanan delivery atau pengantaran, pelayanan bayar di tempat serta bayar transfer  juga. Selesai. Kita bisa membeli apa pun sambil minum segelas kopi dan semangkok bakso di rumah sembari menyimak ceramah di Youtube.

Tapi tentu saja ada tantangannya. Kadang saat kita tertarik dengan barang yang dijual, kita sebenarnya ingin tanya-tanya mengenai harga maupun warna serta ukuran yang kita inginkan. Tapi ada rasa takut, takut kalau tidak jadi beli. Soalnya ada banyak status penjual yang menulis “Khusus untuk pembeli yang serius, bukan PHP alias pemberi harapan palsu!!!.” Padahal kita sudah serius. Cuma belum tentu cocok saja. Bisa jadi kita cocok tapi suami kita yang tidak suka.

Lucunya, kalau kita bilang, “Aku tanya suami dulu ya.”  Eh, tiba-tiba beredar status, “Yang mau pakai gamisnya, kamu atau suaminya sih,” dilengkapi dengan icon ledekan. Ha…akhirnya kita jadi bawa perasaan alias baper. Padahal katanya kalau pakai sosmed tidak boleh baper. Akhirnya tidak jadi beli plus baper pula. Belum lagi kalau jadi beli barang tapi barang yang datang jauh beda dengan ekspektasi kita. Aduhai…

Baca Juga :  Kehebatan Surah Al Fatihah

Ini ilustrasi saja tapi banyak terjadi. Dan banyak teman dengan pengalaman yang sama, baik itu sebagai penjual maupun sebagai pembeli. Sebagai penjual, lain lagi ceritanya. Ada yang kena tipu dengan bukti transfer palsu, ada yang tawar-menawar sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu dan minta keep pula eh tahu-tahu sudah sebulan ia bilang lupa dan kemudian tidak jadi beli. Macam-macam cerita ada di sana.

Terlepas dari apa pun ceritanya, semoga ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua agar menjadi pembeli yang baik dan penjual yang ramah dan sabar dalam melayani para customer.  Dan satu lagi, wajib bagi penjual menempatkan ketetapan Allah atas semua taqdir termasuk rezeki. Teruslah melayani dengan baik karena dengan akhlak baik tersebut kita mendapatkan pahala. Selanjutnya Allahlah yang menetapkan mereka jadi membeli atau tidak. Semoga bermanfaat.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Singkawang

Oleh: Herlin

PARA pembaca mungkin masih ingat bagaimana dahulu kita mengikuti ayah atau ibu kita belanja ke pasar. Mungkin ada sebagian dari pembaca yang pernah ikut berbelanja pakaian. Pada masa itu, jalan-jalan masih belum dibangun sehingga banyak yang menuju pasar dengan menggunakan sepeda atau jalur transportasi air. Kadang mau belanja harus menunggu uang terkumpul dulu karena ke pasar itu jauh dan cukup sulit.

Ajaibnya lagi, kadang bahkan bisa menghabiskan waktu setengah harian karena jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke pasar. Tak jarang kita mengikut di belakang ibu memutar-mutar di pasar dua bahkan tiga kali. Masuk satu toko, tanya-tanya harga, tawar- menawar kemudian tidak terjadi kesepakatan lalu berjalan ke toko lain lagi. Masuk lagi toko yang lain, tanya-tanya harga, tidak cocok warna maupun ukuan, keluar lagi,  Memutar lagi, namun belum ketemu juga yang pas.

Lucunya, terkadang saat berkeliling pasar, kita melewati toko yang sama dan penjualnya masih terus menawarkan dagangannya sambil negosiasi harga bahkan menawarkan produk lain yang mungkin cocok. Eh, karena sudah capek berkeliling, akhirnya hati luluh juga dirayu pedagang yang rajin menawarkan harga dan melayani kita. Kemudian kita pulang dengan perasaan gembira meski pulang hanya dengan dua pasang pakaian, seikat sawi keriting dan sebungkus es cendol.

Baca Juga :  Manfaatkan Pasar Secara Maksimal

Nah, kalau sekarang kita tidak perlu lagi jalan-jalan ke pasar. Tinggal buka hp android, kemudian jalan-jalan pakai jari jempol mengelilingi banyak toko dengan aneka jualan lengkap, dari makanan, perabot, elektronik bahkan sampai underwear alias pakaian dalam. Tak cukup begitu kemudahan yang kita terima. Ada pelayanan delivery atau pengantaran, pelayanan bayar di tempat serta bayar transfer  juga. Selesai. Kita bisa membeli apa pun sambil minum segelas kopi dan semangkok bakso di rumah sembari menyimak ceramah di Youtube.

Tapi tentu saja ada tantangannya. Kadang saat kita tertarik dengan barang yang dijual, kita sebenarnya ingin tanya-tanya mengenai harga maupun warna serta ukuran yang kita inginkan. Tapi ada rasa takut, takut kalau tidak jadi beli. Soalnya ada banyak status penjual yang menulis “Khusus untuk pembeli yang serius, bukan PHP alias pemberi harapan palsu!!!.” Padahal kita sudah serius. Cuma belum tentu cocok saja. Bisa jadi kita cocok tapi suami kita yang tidak suka.

Lucunya, kalau kita bilang, “Aku tanya suami dulu ya.”  Eh, tiba-tiba beredar status, “Yang mau pakai gamisnya, kamu atau suaminya sih,” dilengkapi dengan icon ledekan. Ha…akhirnya kita jadi bawa perasaan alias baper. Padahal katanya kalau pakai sosmed tidak boleh baper. Akhirnya tidak jadi beli plus baper pula. Belum lagi kalau jadi beli barang tapi barang yang datang jauh beda dengan ekspektasi kita. Aduhai…

Baca Juga :  Bappebti Heran Harga Daging Sapi di Pontianak Tinggi

Ini ilustrasi saja tapi banyak terjadi. Dan banyak teman dengan pengalaman yang sama, baik itu sebagai penjual maupun sebagai pembeli. Sebagai penjual, lain lagi ceritanya. Ada yang kena tipu dengan bukti transfer palsu, ada yang tawar-menawar sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu dan minta keep pula eh tahu-tahu sudah sebulan ia bilang lupa dan kemudian tidak jadi beli. Macam-macam cerita ada di sana.

Terlepas dari apa pun ceritanya, semoga ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua agar menjadi pembeli yang baik dan penjual yang ramah dan sabar dalam melayani para customer.  Dan satu lagi, wajib bagi penjual menempatkan ketetapan Allah atas semua taqdir termasuk rezeki. Teruslah melayani dengan baik karena dengan akhlak baik tersebut kita mendapatkan pahala. Selanjutnya Allahlah yang menetapkan mereka jadi membeli atau tidak. Semoga bermanfaat.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Singkawang

Most Read

Kemenangan El Clasico ke-100

Target Capaian Vaksin 80 Persen

Kompetensi Dalam Memanajeman Sekolah

Sopir Bus Positif Narkoba

Artikel Terbaru

/