alexametrics
30.6 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Simalakama Sekolah Tatap Muka

Oleh: Y Priyono Pasti*

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terjadinya semesta porak-poranda dalam hampir semua aspek kehidupan. Sejak pertama kali ditemukannya kasus positif corona pada Maret 2020 yang lalu, kini sudah hampir setahun kita berjibaku melawan dan memitigasi rantai penularan virus tersebut. Namun, sampai hari ini belum ada tanda-tanda yang signifikan akan berakhirnya pandemi Covid-19.

Salah satu lembaga yang sangat terdampak akibat pandemi Covid-19 adalah dunia pendidikan. Sudah hampir setahun (Maret 2020 hingga Februari 2021) sekolah tatap muka ditiadakan diganti dengan pembelajaran daring/online (belajar dari rumah).

Faktanya, pembelajaran daring tak segampang yang dibayangkan. Ada banyak persoalan dan aduan keluhan yang menyertainya. Mulai dari terbatasnya kuota, sulitnya akses internet, penugasan yang terlalu berat, sulit berkonsentrasi, sulit membagi waktu, sulit memotivasi anak untuk belajar, hingga sulitnya mengelola pembelajaran daring.

Singkatnya, pembelajaran daring (belajar dari rumah-BDR) dalam praktiknya bermasalah. Selain berbagai masalah tersebut, terlalu lama meninggalkan pembelajaran tatap muka ternyata berdampak buruk pada siswa. Estimasi Bank Dunia, penutupan sekolah hingga Juli 2020 saja pencapaian

pembelajaran jarak jauh rata-rata hanya memenuhi 33 persen dari hasil pembelajaran di kelas. Semakin lama sekolah ditutup, hilang belajar (learning lost) semakin besar. Dampak buruk lainnya, penutupan sekolah berkepanjangan selama pandemi Covid-19 telah mengganggu proses belajar mengajar secara holistik. Sebagaimana diungkapkan lembaga dana PBB untuk anak (UNICEF), belajar dari rumah membuat angka eksploitasi dan kekerasan pada anak meningkat.

Pembelajaran dari rumah yang terlalu lama, juga membuat anak-anak Indonesia kehilangan 11 poin pada skala membaca (literasi) program penilaian siswa internasional (PISA). Belum lagi ancaman putus sekolah hingga ketimpangan pendidikan yang semakin besar.

Baca Juga :  Masa Depan Penanggulangan Karhutla selama Pandemi

Mengingat dampak negatif menutup sekolah berkepanjangan bagi perkembangan (psikologis) anak dan memicu munculnya masalah sosial lainnya itu, wacana sekolah tatap muka terus  dikumandangkan dan dimatangkan.

 

Simalakama

Sekolah tatap muka menjadi simalakama. Pembukaan kembali sekolah di tengah wabah pandemi Covid-19 yang masih saja terjadi penularannya sampai saat ini, menjadi pertaruhan bagi pemda, sekolah, dan orangtua. Hal itu bisa memicu persoalan baru yang lebih kompleks karena menempatkan anak-anak kian rentan terpapar Covid-19. Anak-anak bisa tertular dan juga menularkan kepada orang lain.

Menurut para epidemiolog, pembukaan sekolah sebelum wabah terkendali malah bakal memicu ledakan penularan. Karena itu, para epidemiolog menegaskan sekolah hanya boleh dibuka jika transmisi virus di komunitas sudah sangat kecil dan bisa dikendalikan.

Ketika pembukaan sekolah tatap muka, apalagi di zona kuning sungguh direalisasikan, hemat penulis, sikap kehati-hatian bahkan ekstra hati-hati dari semua pihak yang terkait menjadi sangat penting. Sikap ekstra hati-hati ini mutlak dilakukan mengingat hasil penelitian terbaru menunjukkan, anak-anak rentan terinfeksi virus korona.

Ketika sekolah melakukan pembelajaran tatap muka, pihak sekolah harus memastikan bahwa sekolahnya benar-benar aman dan bebas dari Covid-19. Hal itu ditunjukkan terpenuhinya protokol kesehatan yang disyaratkan. Tersedianya toilet yang bersih, sarana prasarana alat pelindung diri (APD), sarana prasarana cuci tangan, tersedianya hand sanitizer di setiap ruangan, membersihkan serta melakukan penyemprotan disinfektan sarana prasarana sekolah secara rutin sebelum digunakan, dan hal-hal lainnya yang diperlukan.

Para siswa harus membawa makanan dan minuman sendiri dari rumah. Para siswa, pendidik dan tenaga kependidikan, bahkan tamu yang datang ke sekolah wajib memakai masker, mencuci tangan dengan sabun.

Baca Juga :  Pendidik Penggerak Perubahan

Di dalam kelas, siswa harus tetap jaga jarak minimal satu meter antarsiswa. Demikian halnya guru yang berada di kantor, tetap harus jaga jarak duduknya. Jumlah siswa saat tatap muka pembelajaran dibatasi hanya 50 persen dari jumlah siswa yang ada (sistem sip/gantian). Demikian juga jumlah jam pelajaran, setiap hari cukup 50 persen dari beban kurikulum normal. Kekurangannya bisa dalam bentuk tugas mandiri. Waktu pembelajaran tatap muka cukup 30 menit. Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya kontak langsung antarsiswa ditiadakan.

Guru yang mengajar harus memakai Face Shield, minimal wajib memakai masker sembari tetap menjaga jarak antara guru dan siswa. Singkatnya, agar sekolah dapat melakukan pembelajaran tatap muka, bangunan harus sehat, kebijakan sehat, kelas sehat, jadwal sehat, dan aktivitas sehat.

Jika pihak sekolah dapat memenuhi protokol kesehatan dan hal-hal penting lainnya yang disyaratkan untuk memitigasi penularan Covid-19 di kalangan siswa, jaminan keamanan dari pihak sekolah bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memitigasi virus korona, terpenuhinya panduan sehat yang direkomendasikan serta mendapat dukungan dari orangtua, sekolah di zona kuning dapat dilakukan.

Jika tidak, sebaiknya ditunda karena membuka sekolah di zona kuning berpotensi menjadikan sekolah sebagai kluster baru penyebaran Covid-19. Bukankah ini menimbulkan masalah baru karena menyangkut nyawa manusia sebagai taruhannya?**

*Penulis adalah Alumnus USD Yogya, Kepala SMP /Guru SMA Asisi, dan penulis buku “Guru Sebagai Jalan Kehormatan”.

Oleh: Y Priyono Pasti*

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terjadinya semesta porak-poranda dalam hampir semua aspek kehidupan. Sejak pertama kali ditemukannya kasus positif corona pada Maret 2020 yang lalu, kini sudah hampir setahun kita berjibaku melawan dan memitigasi rantai penularan virus tersebut. Namun, sampai hari ini belum ada tanda-tanda yang signifikan akan berakhirnya pandemi Covid-19.

Salah satu lembaga yang sangat terdampak akibat pandemi Covid-19 adalah dunia pendidikan. Sudah hampir setahun (Maret 2020 hingga Februari 2021) sekolah tatap muka ditiadakan diganti dengan pembelajaran daring/online (belajar dari rumah).

Faktanya, pembelajaran daring tak segampang yang dibayangkan. Ada banyak persoalan dan aduan keluhan yang menyertainya. Mulai dari terbatasnya kuota, sulitnya akses internet, penugasan yang terlalu berat, sulit berkonsentrasi, sulit membagi waktu, sulit memotivasi anak untuk belajar, hingga sulitnya mengelola pembelajaran daring.

Singkatnya, pembelajaran daring (belajar dari rumah-BDR) dalam praktiknya bermasalah. Selain berbagai masalah tersebut, terlalu lama meninggalkan pembelajaran tatap muka ternyata berdampak buruk pada siswa. Estimasi Bank Dunia, penutupan sekolah hingga Juli 2020 saja pencapaian

pembelajaran jarak jauh rata-rata hanya memenuhi 33 persen dari hasil pembelajaran di kelas. Semakin lama sekolah ditutup, hilang belajar (learning lost) semakin besar. Dampak buruk lainnya, penutupan sekolah berkepanjangan selama pandemi Covid-19 telah mengganggu proses belajar mengajar secara holistik. Sebagaimana diungkapkan lembaga dana PBB untuk anak (UNICEF), belajar dari rumah membuat angka eksploitasi dan kekerasan pada anak meningkat.

Pembelajaran dari rumah yang terlalu lama, juga membuat anak-anak Indonesia kehilangan 11 poin pada skala membaca (literasi) program penilaian siswa internasional (PISA). Belum lagi ancaman putus sekolah hingga ketimpangan pendidikan yang semakin besar.

Baca Juga :  Elegi Belanja

Mengingat dampak negatif menutup sekolah berkepanjangan bagi perkembangan (psikologis) anak dan memicu munculnya masalah sosial lainnya itu, wacana sekolah tatap muka terus  dikumandangkan dan dimatangkan.

 

Simalakama

Sekolah tatap muka menjadi simalakama. Pembukaan kembali sekolah di tengah wabah pandemi Covid-19 yang masih saja terjadi penularannya sampai saat ini, menjadi pertaruhan bagi pemda, sekolah, dan orangtua. Hal itu bisa memicu persoalan baru yang lebih kompleks karena menempatkan anak-anak kian rentan terpapar Covid-19. Anak-anak bisa tertular dan juga menularkan kepada orang lain.

Menurut para epidemiolog, pembukaan sekolah sebelum wabah terkendali malah bakal memicu ledakan penularan. Karena itu, para epidemiolog menegaskan sekolah hanya boleh dibuka jika transmisi virus di komunitas sudah sangat kecil dan bisa dikendalikan.

Ketika pembukaan sekolah tatap muka, apalagi di zona kuning sungguh direalisasikan, hemat penulis, sikap kehati-hatian bahkan ekstra hati-hati dari semua pihak yang terkait menjadi sangat penting. Sikap ekstra hati-hati ini mutlak dilakukan mengingat hasil penelitian terbaru menunjukkan, anak-anak rentan terinfeksi virus korona.

Ketika sekolah melakukan pembelajaran tatap muka, pihak sekolah harus memastikan bahwa sekolahnya benar-benar aman dan bebas dari Covid-19. Hal itu ditunjukkan terpenuhinya protokol kesehatan yang disyaratkan. Tersedianya toilet yang bersih, sarana prasarana alat pelindung diri (APD), sarana prasarana cuci tangan, tersedianya hand sanitizer di setiap ruangan, membersihkan serta melakukan penyemprotan disinfektan sarana prasarana sekolah secara rutin sebelum digunakan, dan hal-hal lainnya yang diperlukan.

Para siswa harus membawa makanan dan minuman sendiri dari rumah. Para siswa, pendidik dan tenaga kependidikan, bahkan tamu yang datang ke sekolah wajib memakai masker, mencuci tangan dengan sabun.

Baca Juga :  Relasi Emosional Positif dalam Pembelajaran Daring

Di dalam kelas, siswa harus tetap jaga jarak minimal satu meter antarsiswa. Demikian halnya guru yang berada di kantor, tetap harus jaga jarak duduknya. Jumlah siswa saat tatap muka pembelajaran dibatasi hanya 50 persen dari jumlah siswa yang ada (sistem sip/gantian). Demikian juga jumlah jam pelajaran, setiap hari cukup 50 persen dari beban kurikulum normal. Kekurangannya bisa dalam bentuk tugas mandiri. Waktu pembelajaran tatap muka cukup 30 menit. Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya kontak langsung antarsiswa ditiadakan.

Guru yang mengajar harus memakai Face Shield, minimal wajib memakai masker sembari tetap menjaga jarak antara guru dan siswa. Singkatnya, agar sekolah dapat melakukan pembelajaran tatap muka, bangunan harus sehat, kebijakan sehat, kelas sehat, jadwal sehat, dan aktivitas sehat.

Jika pihak sekolah dapat memenuhi protokol kesehatan dan hal-hal penting lainnya yang disyaratkan untuk memitigasi penularan Covid-19 di kalangan siswa, jaminan keamanan dari pihak sekolah bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memitigasi virus korona, terpenuhinya panduan sehat yang direkomendasikan serta mendapat dukungan dari orangtua, sekolah di zona kuning dapat dilakukan.

Jika tidak, sebaiknya ditunda karena membuka sekolah di zona kuning berpotensi menjadikan sekolah sebagai kluster baru penyebaran Covid-19. Bukankah ini menimbulkan masalah baru karena menyangkut nyawa manusia sebagai taruhannya?**

*Penulis adalah Alumnus USD Yogya, Kepala SMP /Guru SMA Asisi, dan penulis buku “Guru Sebagai Jalan Kehormatan”.

Most Read

Artikel Terbaru

/