alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Capaian Pemilihan Serentak 2020, Demokrasi yang Terbangun

Oleh: Sutami

PEMILIHAN serentak tahun 2020 sudah terlaksana. Pemungutan suaranya tanggal 9 Desember 2020. Tujuh kabupaten di Kalimantan Barat yang menggelar. Kabupaten Bengkayang, Melawi, Kapuas Hulu, Ketapang, Sambas, Sekadau dan Sintang.

Pemilihan serentak tahun 2020, dalam pelaksanaannya  menghadapi  tantangan tidak mudah. Pandemi Coronavirus Disease 19 (Covid-19) tengah melanda. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan menjadi kata kunci di semua tahapan. Kepatuhan tersebut harus dapat dijalankan dengan baik.

Komisi Pemilihan Umum (KPU), selaku penyelenggara teknis  menyiapkan langkah strategis, agar  seluruh tahapan dengan mekanisme adaptasi di masa pandemi dapat dijalankan. Saat pemungutan suara misalkan, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) ketika bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) mengenakan face shield, masker, dan sarung tangan. KPPS yang bertugas juga wajib rapid test. TPS disemprot disinfektan secara berkala selama proses pemungutan dan penghitungan suara.

Pemilih diminta mengenakan masker saat datang ke TPS. Jam kedatangan pemilih diatur agar tidak tiba bersamaan, guna mencegah timbulnya kerumuman. Jumlah pemilih di TPS dibatasi maksimal 500 pemilih.

Pengecekan suhu kepada petugas maupun pemilih dilakukan sebelum masuk TPS. Sarung tangan juga disiapkan bagi pemilih. Bilik khusus juga disediakan bila didapati pemilih bersuhu tubuh 36,7 derajat celcius.

Begitu pula saat pendaftaran pasangan calon. Pasangan bakal calon wajib sudah menjalani tes swab (usap) Polymerase Chain Reaction (PCR). Rombongan bakal calon ketika datang mendaftar ke KPU dibatasi jumlahnya. Saat cabut undi nomor urut pasangan calon, hanya pasangan calon diperkenankan masuk ke tempat pleno.

Pemungutan suara, pendaftaran pasangan calon, maupun cabut undi nomor urut pasangan calon, adalah sebagian dari seluruh tahapan yang dijalankan dalam pelaksanaan pemilihan serentak 2020. Karena, dalam pemilihan juga terdapat tahapan persiapan. Tahapan tersebut diantaranya pemutakhiran data pemilih.

Keseluruhan tahapan tersebut pastinya melibatkan banyak pihak. Tidak sebatas KPU saja,  beserta badan ad-hoc hingga tingkat desa. Pemerintah, TNI/Polri, stakeholder terkait serta masyarakat juga terlibat dalam memberi dukungan, untuk kelancaran pelaksanaan tahapan di pemilihan serentak.

Baca Juga :  Lupa Diri

Dukungan yang didapatkan KPU sebagai penyelenggara teknis, sangat penting bagi pelaksanaan tahapan. Kendati KPU dalam bekerja tetap memegang prinsip mandiri. Kelancaran rapid test misalkan di lingkungan KPU, mulai untuk Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), hingga KPPS. Sokongan tim Satgas Covid, dinas Kesehatan, hingga  petugas medis sangat dibutuhkan.

Rapid test tidak bakal dapat berjalan, apabila instansi yang menangani bidang kesehatan maupun tenaga medis tidak memberi dukungan. Dukungan tersebut termasuk menjadi muara penentu kelancaran tahapan. Penyelenggara untuk dapat bertugas mesti bebas Covid-19. Kepastian itu melalui rapid test yang diwajibkan kepada penyelenggara.

Dukungan pelaksanaan rapid test mengisyaratkan apabila dalam masa pandemi terbangun soliditas bersama. Saling sokong demi mensukseskan pemilihan serentak 2020. Proses demokrasi  dalam memilih pemimpin. Tantangan bagi seluruh komponen bangsa, terjawab dengan kesuksesan pemilihan serentak.

Begitu pula dalam proses pemutakhiran data pemilih, sejak mulai pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih oleh PPDP hingga ditetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT), keterlibatan aktif berbagai pihak sangat besar. Masyarakat dapat memberi masukan terhadap data yang tersajikan, dengan diumumkan sampai tingkat desa.

Proses data pemilih bisa ditetapkan menjadi DPT,  tentu panjang tahapannya. Koordinasi dengan instansi yang berwenang mengurus data kependudukan, untuk ditingkat kabupaten misalkan dengan dinas kependudukan dan catatan sipil (Disdukcapil). Sokongan sangat diperlukan dalam kelancaran proses pemutakhiran data.

Begitupula pengawasan maupun pencermatan yang diberikan Bawaslu sampai jenjang desa, saat proses pemutakhiran data pemilih, sangat penting dalam upaya mengakurasi data pemilih. Sebelum kemudian data pemilih ditetapkan melalui pleno di KPU.

Karena itu, tahapan pemilihan serentak yang dijalankan dengan mematuhi protokol Kesehatan sepenuhnya  dapat terlaksana atas kontribusi besar segenap pihak, termasuk peserta pemilihan. Tatanan yang berjalan memastikan kesiapan untuk bahu membahu mensukseskan demokrasi. Terbangun kerjasama berbagai elemen dalam mewujudkannya.

Baca Juga :  Sultan Hamid II Bukan Pengkhianat Bangsa

Kiprah  besar bagi seluruh komponen besar bangsa sebagai bagian sejarah yang tak akan terhapus. Semua beranjak atas pelaksanaan pemilihan dimasa pandemi dapat terlaksana dengan baik dan lancar, akan menjadi sejarah dalam kepemiluan Indonesia.

Kendati dibeberapa negara juga ada  melaksanakan pemilihan umum  di masa pendemi mendahului dari pemilihan serentak 2020, antara lain Korea Selatan dan Amerika Serikat. Indonesia juga sudah menjawab dengan kesuksesan pelaksanaan pemilihan serentak. Regulasi yang mengatur secara teknis pelaksanaan pemilihan di Indonesia dengan negara manapun tidak dapat disamakan, karena tiap negara mempunyai konstitusi yang dipedomani dalam  kepemiluan.

Pada pemilihan serentak 2020, KPU juga menggunakan sistim informasi rekapitulasi elektronik (Sirekap) sebagai alat bantu penghitungaan dan rekapitulasi penghitungan suara. Petugas KPPS memfoto formulir C Hasil, dan langsung mengirim untuk ditampilkan ke info pemilu melalui Sirekap. Dimana informasi tersebut dapat diakses langsung masyarakat secara luas.  Publikasi tersajikan secara cepat, untuk hasil penghitungan suara di TPS. Penggunaan Sirekap ini juga pertama kali diterapkan dalam sejarah kepemiluaan di Indonesia.

Capaian sejarah dalam pelaksanaan pemilihan serentak, dari sisi penyelenggaraan di masa pandemi sekaligus mengaktualisasikan Sirekap, seyogyanya merupakan modal besar bagi bangsa untuk terus merawat tatanan demokrasi yang sudah berjalan. Menjalankan pemilu maupun pemilihan serentak sebagai sarana memilih pemimpin  secara langsung.

Semua tidak lepas atas dukungan penuh masyarakat secara luas, sekaligus kepercayaan yang diberikan kepada penyelenggara sebagai peletak dasar penting. Kesiapan penyelenggara dalam melaksanakan tahapan dapat berjalan dengan baik, tidak bisa lepas dari dukungan serta peran segenap pihak. Sokongan yang diberikan menjadi modal penting dalam menjalankan kepemiluan yang diamanatkan konstitusi.**

*Penulis, Komisioner KPU Sintang periode 2018-2023.

Oleh: Sutami

PEMILIHAN serentak tahun 2020 sudah terlaksana. Pemungutan suaranya tanggal 9 Desember 2020. Tujuh kabupaten di Kalimantan Barat yang menggelar. Kabupaten Bengkayang, Melawi, Kapuas Hulu, Ketapang, Sambas, Sekadau dan Sintang.

Pemilihan serentak tahun 2020, dalam pelaksanaannya  menghadapi  tantangan tidak mudah. Pandemi Coronavirus Disease 19 (Covid-19) tengah melanda. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan menjadi kata kunci di semua tahapan. Kepatuhan tersebut harus dapat dijalankan dengan baik.

Komisi Pemilihan Umum (KPU), selaku penyelenggara teknis  menyiapkan langkah strategis, agar  seluruh tahapan dengan mekanisme adaptasi di masa pandemi dapat dijalankan. Saat pemungutan suara misalkan, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) ketika bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) mengenakan face shield, masker, dan sarung tangan. KPPS yang bertugas juga wajib rapid test. TPS disemprot disinfektan secara berkala selama proses pemungutan dan penghitungan suara.

Pemilih diminta mengenakan masker saat datang ke TPS. Jam kedatangan pemilih diatur agar tidak tiba bersamaan, guna mencegah timbulnya kerumuman. Jumlah pemilih di TPS dibatasi maksimal 500 pemilih.

Pengecekan suhu kepada petugas maupun pemilih dilakukan sebelum masuk TPS. Sarung tangan juga disiapkan bagi pemilih. Bilik khusus juga disediakan bila didapati pemilih bersuhu tubuh 36,7 derajat celcius.

Begitu pula saat pendaftaran pasangan calon. Pasangan bakal calon wajib sudah menjalani tes swab (usap) Polymerase Chain Reaction (PCR). Rombongan bakal calon ketika datang mendaftar ke KPU dibatasi jumlahnya. Saat cabut undi nomor urut pasangan calon, hanya pasangan calon diperkenankan masuk ke tempat pleno.

Pemungutan suara, pendaftaran pasangan calon, maupun cabut undi nomor urut pasangan calon, adalah sebagian dari seluruh tahapan yang dijalankan dalam pelaksanaan pemilihan serentak 2020. Karena, dalam pemilihan juga terdapat tahapan persiapan. Tahapan tersebut diantaranya pemutakhiran data pemilih.

Keseluruhan tahapan tersebut pastinya melibatkan banyak pihak. Tidak sebatas KPU saja,  beserta badan ad-hoc hingga tingkat desa. Pemerintah, TNI/Polri, stakeholder terkait serta masyarakat juga terlibat dalam memberi dukungan, untuk kelancaran pelaksanaan tahapan di pemilihan serentak.

Baca Juga :  Refleksi atas Wejangan Nenek

Dukungan yang didapatkan KPU sebagai penyelenggara teknis, sangat penting bagi pelaksanaan tahapan. Kendati KPU dalam bekerja tetap memegang prinsip mandiri. Kelancaran rapid test misalkan di lingkungan KPU, mulai untuk Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), hingga KPPS. Sokongan tim Satgas Covid, dinas Kesehatan, hingga  petugas medis sangat dibutuhkan.

Rapid test tidak bakal dapat berjalan, apabila instansi yang menangani bidang kesehatan maupun tenaga medis tidak memberi dukungan. Dukungan tersebut termasuk menjadi muara penentu kelancaran tahapan. Penyelenggara untuk dapat bertugas mesti bebas Covid-19. Kepastian itu melalui rapid test yang diwajibkan kepada penyelenggara.

Dukungan pelaksanaan rapid test mengisyaratkan apabila dalam masa pandemi terbangun soliditas bersama. Saling sokong demi mensukseskan pemilihan serentak 2020. Proses demokrasi  dalam memilih pemimpin. Tantangan bagi seluruh komponen bangsa, terjawab dengan kesuksesan pemilihan serentak.

Begitu pula dalam proses pemutakhiran data pemilih, sejak mulai pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih oleh PPDP hingga ditetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT), keterlibatan aktif berbagai pihak sangat besar. Masyarakat dapat memberi masukan terhadap data yang tersajikan, dengan diumumkan sampai tingkat desa.

Proses data pemilih bisa ditetapkan menjadi DPT,  tentu panjang tahapannya. Koordinasi dengan instansi yang berwenang mengurus data kependudukan, untuk ditingkat kabupaten misalkan dengan dinas kependudukan dan catatan sipil (Disdukcapil). Sokongan sangat diperlukan dalam kelancaran proses pemutakhiran data.

Begitupula pengawasan maupun pencermatan yang diberikan Bawaslu sampai jenjang desa, saat proses pemutakhiran data pemilih, sangat penting dalam upaya mengakurasi data pemilih. Sebelum kemudian data pemilih ditetapkan melalui pleno di KPU.

Karena itu, tahapan pemilihan serentak yang dijalankan dengan mematuhi protokol Kesehatan sepenuhnya  dapat terlaksana atas kontribusi besar segenap pihak, termasuk peserta pemilihan. Tatanan yang berjalan memastikan kesiapan untuk bahu membahu mensukseskan demokrasi. Terbangun kerjasama berbagai elemen dalam mewujudkannya.

Baca Juga :  Hilangnya Kepercayaan Publik

Kiprah  besar bagi seluruh komponen besar bangsa sebagai bagian sejarah yang tak akan terhapus. Semua beranjak atas pelaksanaan pemilihan dimasa pandemi dapat terlaksana dengan baik dan lancar, akan menjadi sejarah dalam kepemiluan Indonesia.

Kendati dibeberapa negara juga ada  melaksanakan pemilihan umum  di masa pendemi mendahului dari pemilihan serentak 2020, antara lain Korea Selatan dan Amerika Serikat. Indonesia juga sudah menjawab dengan kesuksesan pelaksanaan pemilihan serentak. Regulasi yang mengatur secara teknis pelaksanaan pemilihan di Indonesia dengan negara manapun tidak dapat disamakan, karena tiap negara mempunyai konstitusi yang dipedomani dalam  kepemiluan.

Pada pemilihan serentak 2020, KPU juga menggunakan sistim informasi rekapitulasi elektronik (Sirekap) sebagai alat bantu penghitungaan dan rekapitulasi penghitungan suara. Petugas KPPS memfoto formulir C Hasil, dan langsung mengirim untuk ditampilkan ke info pemilu melalui Sirekap. Dimana informasi tersebut dapat diakses langsung masyarakat secara luas.  Publikasi tersajikan secara cepat, untuk hasil penghitungan suara di TPS. Penggunaan Sirekap ini juga pertama kali diterapkan dalam sejarah kepemiluaan di Indonesia.

Capaian sejarah dalam pelaksanaan pemilihan serentak, dari sisi penyelenggaraan di masa pandemi sekaligus mengaktualisasikan Sirekap, seyogyanya merupakan modal besar bagi bangsa untuk terus merawat tatanan demokrasi yang sudah berjalan. Menjalankan pemilu maupun pemilihan serentak sebagai sarana memilih pemimpin  secara langsung.

Semua tidak lepas atas dukungan penuh masyarakat secara luas, sekaligus kepercayaan yang diberikan kepada penyelenggara sebagai peletak dasar penting. Kesiapan penyelenggara dalam melaksanakan tahapan dapat berjalan dengan baik, tidak bisa lepas dari dukungan serta peran segenap pihak. Sokongan yang diberikan menjadi modal penting dalam menjalankan kepemiluan yang diamanatkan konstitusi.**

*Penulis, Komisioner KPU Sintang periode 2018-2023.

Most Read

Artikel Terbaru

/