alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Tidak Ada Teman (Musuh) yang Abadi

Oleh: Ferry Yasin

Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto memiliki rumah di dekat Sungai Kalimas Surabaya. Di tempat itulah terjalin sebuah pertemanan tiga anak manusia. Tiga pemuda perantau, Soekarno, Semaoen dan Sekarmadji (Kartosoewirjo) indekos di rumah tersebut sekaligus berguru dengan sang tuan rumah. Ketiganya adalah sahabat karib dan merupakan murid spesial bagi Tuan Tjokro. Soekarno belia sudah nampak bakat organisasinya dan benih cikal bakal sebagai orator ulung. Semaoen juga pemuda yang mantap. Semenjak usia 14 tahun telah mengenal politik dan tergila-gila dengan Karl Marx. Sedang Sekarmadji yang cenderung pendiam memiliki cita-cita mendirikan negara berdasar agama (Kompasiana).

Kapabilitas dan kapasitas dalam diri ketiga orang tersebut membawa mereka sebagai  tokoh pergerakan kemerdekaan. Dan seiring berjalannya waktu ketiga teman karib itu berjalan ke arah mata angin yang berbeda. Soekarno mengambil jalan nasionalis. Semaoen berkiprah di ideologi komunis. Dan Sekarmadji menapaki jalan islamisnya. Tiga anak muda energik dan dinamis serta bersahabat. Dari satu rumah dengan tiga kamar berbeda. Mendapat wejangan dari satu guru piawai yang sama. Kemudian melangkah ke arah berbeda. Bahkan menjadi seteru pasca kemerdekaan. Diawali sebagai teman, dan diakhiri sebagai musuh satu sama lain. Musuh dalam arti yang sebenar-benarnya yang berakar pada ideologi  yang berbeda.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘teman’ memiliki arti kawan atau sahabat. Teman adalah orang yang bersama-sama bekerja, sama-sama berbuat dan sama-sama berjalan. Teman juga bisa berarti lawan seseorang ketika sedang berbicara. Setiap orang memiliki teman, suatu keniscayaan dalam hidup. Karena manusia tidak dapat hidup sendiri. Pepatah lama Tiongkok kuno mengatakan ‘satu musuh terlalu banyak dan seribu teman terlalu sedikit’. Ini mengindikasikan betapa teman sangat berguna dalam hidup. Teman banyak pun masih kurang dan harus menambah teman lagi.

Hal ini menjadi wajar karena pada dasarnya manusia itu  makhluk sosial (homo socius). Artinya manusia sebagai individu tidak akan mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia yang lain. Semenjak lahir manusia  harus hidup bersama dengan manusia lainnya, setidak-tidaknya dengan ibu dan ayahnya.  Keharusan hidup bersama itu didasari oleh kebutuhan manusia yang hanya dapat dipenuhi apabila berhubungan dengan manusia lain. Dengan kata lain, manusia harus hidup bermasyarakat. Manusia harus memiliki teman. Hidup berinteraksi dan berhubungan satu sama lain guna memperjuangkan dan memenuhi kepentingannya.

Baca Juga :  Kepala Daerah Mau, Daerah Maju

Dalam klasifikasi kelompok sosial, teman atau pertemanan ini bisa dilihat dalam perspektif Charles Horton Cooly sebagai kelompok primer. Dalam bukunya ‘Social Organisation’ (1909), ia menjabarkan apa itu kelompok primer. Kelompok primer ditandai dengan ciri kenal-mengenal antara anggota-anggotanya serta kerjasama yang erat yang bersifat pribadi. Sebagai salah satu hubungan yang erat yang bersifat pribadi tadi adalah peleburan individu-individu ke dalam kelompok kelompok. Dengan demikian tujuan individu menjadi tujuan kelompok.

Pertemanan dalam kelompok-kelompok tersebut memiliki makna penting. Ini merupakan wadah perwujudan cita-cita sosial individu. Hasil hubungan timbal-balik antara anggota-anggota kelompok tersebut secara psikologis, adalah peleburan individu dengan cita-citanya masing-masing. Sehingga tujuan dan cita-cita individu menjadi cita-cita bersama.

Dalam realita hubungan pertemanan dalam kelompok tersebut tidak bisa dikatakan mulus tanpa hambatan sama sekali. Tentunya, adakalanya terjadi perbedaan-perbedaan paham dan pertentangan, namun kesemuanya itu buat kepentingan kelompok juga. Secara teori dapat disimpulkan bahwa hubungan pertemanan dalam kelompok bisa dikatakan permanen dan berdasarkan kenal-mengenal secara pribadi antara anggotanya.

Dalam politik ada adagium populer yang mengatakan bahwa ‘tidak ada teman dan musuh yang abadi. Yang ada hanya kepentingan yang sama’. Pernyataan ini harus dimengerti dengan cara sebagai berikut. Yang pertama, memang tidak ada teman dan musuh yang abadi, karena hayat manusia ada batasnya. Usia terbatas, seseorang tidak akan menjadi teman atau musuh selamanya. Kedua, dalam politik sepatutnya tidak ada musuh yang benar-benar musuh. Yang ada hanyalah lawan. Untuk adu gagasan, adu ide, adu program, adu kebijakan perlu lawan yang setara dan sebanding demi menghasilkan gagasan brilian selanjutnya.

Baca Juga :  Guru Pendidik Generasi Z

Sebuah proses dialektika yang memunculkan kebenaran yang lebih tinggi yang baik buat khalayak ramai. Semua berakhir pada tercapainya sebuah kekuasaan, yaitu memegang tampuk pemerintahan. Artinya, kuasa yang ada yang dipegang oleh sekelompok teman, diberikan untuk sebesar-besarnya demi  kepentingan dan kebutuhan rakyat.

Mencermati gonjang-ganjing salah satu partai yang ada di negeri ini, maka judul di atas sangat pas sebagai sekadar pedoman  pencermatan  apa yang sebenarnya terjadi dalam partai Demokrat besutan banyak orang pada masa reformasi ini. Ketika mengawali mendirikan partai, tentunya satu sama lain bukanlah orang asing tetapi sudah saling mengenal. Sebuah chemistry yang sama demi sebuah rekatan mewujudkan cita-cita sosial invividu yang mengkristal dalam sebuah visi besar partai. Passion ini mengarah pada perjalanan partai yang spektakuler dengan prestasi melejit. Pada pemilu tahun 2009 partai ini menyabet suara terbanyak dari 38 partai kontestan yang ikut serta. Dan Demokrat menempatkan bapak SBY menjadi presiden dua kali masa.

Lalu kini, dimulailah prahara itu. Ketidakpuasan intern partai menyebabkan diadakannya Kongres Luar Biasa.  Gelembung konflik panas mulai membumbung tinggi. Semua mata tertuju padanya. Sungguh sangat disayangkan apabila salah satu pilar demokrasi ini terjerambab dan terhempas begitu saja. Tetap harus diingat oleh setiap komponen anak bangsa, bahwa dalam politik tidak ada teman (dan musuh) yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang sama.

Oleh karena itu, pertahankan kepentingan yang sama. Kembali mengingat komitmen pertemanan di awal pembentukan partai adalah hal yang layak untuk diapresiasi. Yang berlanjut dalam proses untuk menggapai visi besar partai. Juga penting untuk menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Mencipta stabilitas dan membangun bangsa dengan melepas ego ambisius masing-masing. Setiap retakan, perbedaan pendapat, konflik dan pertentangan, bukankah sudah ada ilmunya berupa manajemen konflik?**

*Penulis, Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kabupaten Kubu Raya.

Oleh: Ferry Yasin

Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto memiliki rumah di dekat Sungai Kalimas Surabaya. Di tempat itulah terjalin sebuah pertemanan tiga anak manusia. Tiga pemuda perantau, Soekarno, Semaoen dan Sekarmadji (Kartosoewirjo) indekos di rumah tersebut sekaligus berguru dengan sang tuan rumah. Ketiganya adalah sahabat karib dan merupakan murid spesial bagi Tuan Tjokro. Soekarno belia sudah nampak bakat organisasinya dan benih cikal bakal sebagai orator ulung. Semaoen juga pemuda yang mantap. Semenjak usia 14 tahun telah mengenal politik dan tergila-gila dengan Karl Marx. Sedang Sekarmadji yang cenderung pendiam memiliki cita-cita mendirikan negara berdasar agama (Kompasiana).

Kapabilitas dan kapasitas dalam diri ketiga orang tersebut membawa mereka sebagai  tokoh pergerakan kemerdekaan. Dan seiring berjalannya waktu ketiga teman karib itu berjalan ke arah mata angin yang berbeda. Soekarno mengambil jalan nasionalis. Semaoen berkiprah di ideologi komunis. Dan Sekarmadji menapaki jalan islamisnya. Tiga anak muda energik dan dinamis serta bersahabat. Dari satu rumah dengan tiga kamar berbeda. Mendapat wejangan dari satu guru piawai yang sama. Kemudian melangkah ke arah berbeda. Bahkan menjadi seteru pasca kemerdekaan. Diawali sebagai teman, dan diakhiri sebagai musuh satu sama lain. Musuh dalam arti yang sebenar-benarnya yang berakar pada ideologi  yang berbeda.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘teman’ memiliki arti kawan atau sahabat. Teman adalah orang yang bersama-sama bekerja, sama-sama berbuat dan sama-sama berjalan. Teman juga bisa berarti lawan seseorang ketika sedang berbicara. Setiap orang memiliki teman, suatu keniscayaan dalam hidup. Karena manusia tidak dapat hidup sendiri. Pepatah lama Tiongkok kuno mengatakan ‘satu musuh terlalu banyak dan seribu teman terlalu sedikit’. Ini mengindikasikan betapa teman sangat berguna dalam hidup. Teman banyak pun masih kurang dan harus menambah teman lagi.

Hal ini menjadi wajar karena pada dasarnya manusia itu  makhluk sosial (homo socius). Artinya manusia sebagai individu tidak akan mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia yang lain. Semenjak lahir manusia  harus hidup bersama dengan manusia lainnya, setidak-tidaknya dengan ibu dan ayahnya.  Keharusan hidup bersama itu didasari oleh kebutuhan manusia yang hanya dapat dipenuhi apabila berhubungan dengan manusia lain. Dengan kata lain, manusia harus hidup bermasyarakat. Manusia harus memiliki teman. Hidup berinteraksi dan berhubungan satu sama lain guna memperjuangkan dan memenuhi kepentingannya.

Baca Juga :  Bajakah dan Kelestarian Lingkungan Hidup

Dalam klasifikasi kelompok sosial, teman atau pertemanan ini bisa dilihat dalam perspektif Charles Horton Cooly sebagai kelompok primer. Dalam bukunya ‘Social Organisation’ (1909), ia menjabarkan apa itu kelompok primer. Kelompok primer ditandai dengan ciri kenal-mengenal antara anggota-anggotanya serta kerjasama yang erat yang bersifat pribadi. Sebagai salah satu hubungan yang erat yang bersifat pribadi tadi adalah peleburan individu-individu ke dalam kelompok kelompok. Dengan demikian tujuan individu menjadi tujuan kelompok.

Pertemanan dalam kelompok-kelompok tersebut memiliki makna penting. Ini merupakan wadah perwujudan cita-cita sosial individu. Hasil hubungan timbal-balik antara anggota-anggota kelompok tersebut secara psikologis, adalah peleburan individu dengan cita-citanya masing-masing. Sehingga tujuan dan cita-cita individu menjadi cita-cita bersama.

Dalam realita hubungan pertemanan dalam kelompok tersebut tidak bisa dikatakan mulus tanpa hambatan sama sekali. Tentunya, adakalanya terjadi perbedaan-perbedaan paham dan pertentangan, namun kesemuanya itu buat kepentingan kelompok juga. Secara teori dapat disimpulkan bahwa hubungan pertemanan dalam kelompok bisa dikatakan permanen dan berdasarkan kenal-mengenal secara pribadi antara anggotanya.

Dalam politik ada adagium populer yang mengatakan bahwa ‘tidak ada teman dan musuh yang abadi. Yang ada hanya kepentingan yang sama’. Pernyataan ini harus dimengerti dengan cara sebagai berikut. Yang pertama, memang tidak ada teman dan musuh yang abadi, karena hayat manusia ada batasnya. Usia terbatas, seseorang tidak akan menjadi teman atau musuh selamanya. Kedua, dalam politik sepatutnya tidak ada musuh yang benar-benar musuh. Yang ada hanyalah lawan. Untuk adu gagasan, adu ide, adu program, adu kebijakan perlu lawan yang setara dan sebanding demi menghasilkan gagasan brilian selanjutnya.

Baca Juga :  Ras Itu Tidak Rasis

Sebuah proses dialektika yang memunculkan kebenaran yang lebih tinggi yang baik buat khalayak ramai. Semua berakhir pada tercapainya sebuah kekuasaan, yaitu memegang tampuk pemerintahan. Artinya, kuasa yang ada yang dipegang oleh sekelompok teman, diberikan untuk sebesar-besarnya demi  kepentingan dan kebutuhan rakyat.

Mencermati gonjang-ganjing salah satu partai yang ada di negeri ini, maka judul di atas sangat pas sebagai sekadar pedoman  pencermatan  apa yang sebenarnya terjadi dalam partai Demokrat besutan banyak orang pada masa reformasi ini. Ketika mengawali mendirikan partai, tentunya satu sama lain bukanlah orang asing tetapi sudah saling mengenal. Sebuah chemistry yang sama demi sebuah rekatan mewujudkan cita-cita sosial invividu yang mengkristal dalam sebuah visi besar partai. Passion ini mengarah pada perjalanan partai yang spektakuler dengan prestasi melejit. Pada pemilu tahun 2009 partai ini menyabet suara terbanyak dari 38 partai kontestan yang ikut serta. Dan Demokrat menempatkan bapak SBY menjadi presiden dua kali masa.

Lalu kini, dimulailah prahara itu. Ketidakpuasan intern partai menyebabkan diadakannya Kongres Luar Biasa.  Gelembung konflik panas mulai membumbung tinggi. Semua mata tertuju padanya. Sungguh sangat disayangkan apabila salah satu pilar demokrasi ini terjerambab dan terhempas begitu saja. Tetap harus diingat oleh setiap komponen anak bangsa, bahwa dalam politik tidak ada teman (dan musuh) yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang sama.

Oleh karena itu, pertahankan kepentingan yang sama. Kembali mengingat komitmen pertemanan di awal pembentukan partai adalah hal yang layak untuk diapresiasi. Yang berlanjut dalam proses untuk menggapai visi besar partai. Juga penting untuk menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Mencipta stabilitas dan membangun bangsa dengan melepas ego ambisius masing-masing. Setiap retakan, perbedaan pendapat, konflik dan pertentangan, bukankah sudah ada ilmunya berupa manajemen konflik?**

*Penulis, Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kabupaten Kubu Raya.

Most Read

Artikel Terbaru

/