alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Hikmah Haji

Oleh : Dr. H. Harjani Hefni,MA

Syariat Haji

Rasulullah mengatakan bahwa Islam dibangun dengan lima pilar utama, salah satu di antaranya adalah menunaikan ibadah haji. Sabda Rasulullah saw tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang besarnya kontribusi ibadah haji bagi tegaknya bangunan Islam.

Amalan Haji

Amalan Haji dimulai dengan melakukan ihram dimiqat, kemudian melakukan thawaf qudum, sholat sunnat thawaf, dan melakukan sa’i. Kemudian bertahallul bagi yang melakukan haji tamattu’, dan terus memakai pakaian ihram bagi yang melaksanakan haji ifrad dan qiran. Pada hari ke- 8 Dzulhijjah, jamaah haji berangkat ke Mina. Di sini, jamaah melaksanakan sholat dzhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan shubuh. Kemudian hari ke-9 berangkat ke Arafah untuk wukuf. Selepas maghrib hari ke-9, berangkat menuju Muzdalifah dan mabit di sana.Setelah subuh hari ke-10, dari Muzdalifah’ para jamaah berangkat ke Mina dan tiba di Mina, mereka melempar jumrah aqabah. Setelah itu jamaah diminta untuk mencukur atau memendekkan rambut, kemudian menyembelih hewan kurban dan thawaf ifadhah. Setelah itu jamaah haji mabit di Mina untuk melempar jumrah pada hari ke-11, 12 dan 13. Secara umum rangkaian ibadah haji telah selesai dilaksanakan.

Al Qur’an dan Haji

Melihat amalan haji di atas, secara sepintas ibadah haji tidak lain hanyalah ibadah fisik. Tetapi kalau kita merujuk kepada al Qur’an, ternyata detail amalan fisik tidak mendapat tekanan yang signifikan. Penjelasannya sebagai berikut:

Pertama, tentang tempat berhaji, Allah berfirman bahwa tempat ini adalah daerah bebas syirik. Allah berfirman : “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan) : “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’dan sujud”. (Al Hajj : 26).

Maka amat wajar, jika selama menuju ke Baitullah sejak memasang ihram kaum muslimin diminta untuk mengucapkan talbiyah yang inti seruannya adalah janji untuk memenuhi panggilan Allah dan tidak ingin menyekutukan-Nya.

Baca Juga :  Nak, Ibu Merindukanmu

Kedua, Tentang tujuan ibadah haji, Allah berfirman ; “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak (QS.al Hajj: 27-28).

Ketiga, Ketika ibadah haji sedang berlangsung, Allah melarang para jamaah untuk    berbuat rafats, fasik dan berbantah-bantahan. Allah berfirman : “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan kata yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan haji.” (al Baqarah : 197)

Keempat, di antara perintah Allah dalam ibadah haji adalah :

  1. Mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (diantaranya bulan haram (Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah haram Mekkah, Ihram, dan menganggap semua maksiyat dan perkara haram adalah berat bebannya bagi dirinya, sebagaimana dia sangat takut untuk berbuat yang tidak baik selama di tanah haram.
  2. Mengagungkan syiar-syiar Allah (segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempatnya).
  3. Hasil dari ibadah haji yang diterima adalah kembali fitrah dan janji masuk surga. Rasulullah saw bersabda :” Barangsiapa haji, dan selama haji dia tidak berkata rafats dan tidak berbuat fusuq, maka dia pulang seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Muslim). Hadits lain, Rasul bersabda: ”Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa haji memiliki hikmah yang amat besar, diantaranya :

Pertama, Membangun komitmen baru untuk tidak berbuat syirik. Syirik membuat hidup orang gelap, dan membuat orang binasa atau sesat yang jauh . Allah berfirman :

Baca Juga :  Hikmah Taat

”Beribadahlah dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al Hajj: 31).

Kedua, Menempa mental agar lebih matang menghadapi berbagai situasi dan model manusia. Jika pada musim haji, dia mampu untuk tidak berbuat rafats, fasik dan jadal, diharapkan dalam kondisi normal dia lebih mampu untuk mengendalikan diri. Jika dalam bulan ramadhan mental kita ditempa dengan ibadah yang lebih banyak terkonsentarsi kepada aspek ruhi, maka haji merupakan latihan di lapangan untuk menguji keberhasilan latihan kita selama ramadhan.

Ketiga, Menimba manfaat dunia dan akhirat selama melaksanakan ibadah haji. Manfaat dunia diantaranya : a. Melihat semangat kaum muslimin yang tinggi untuk beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. b. Semangat menuntut ilmu agama yang tinggi. c. Tapak tilas kehidupan Rasulullah di Makkah dan Madinah  d. Melihat lingkungan masyarakat, suasana pasar, pakaian masyarakat, lingkungan yang bebas dari patung, dll. Sedangkan manfaat akhirat adalah mencapai ridho Allah.

Keempat, Berusaha untuk mengagungkan ‘hurumatullah’ dan ‘sya’airillah’. Para jamaah haji dibina untuk merasa takut melakukan dosa selama di Makkah dan Madinah, sekembalinya mereka dari sana, jamaah diharapkan mampu untuk takut perkara haram lain yang telah ditetapkan oleh Allah. Begitu juga sya’airillah yang artinya awamirillah, jamaah diharapkan mampu untuk menganggap semua perintah Allah adalah penting, sebagaimana mereka menganggap semua perintah Allah selama ibadah haji penting.

Kelima, akhir dari semua ibadah bertujuan untuk mensucikan jiwa manusia agar siap menghadap Allah pada hari kiamat.

Mudah-mudahan para jamaah haji  dapat membawa pulang berbagai manfaat yang baik dan dapat diterapkan  di tanah air. Selamat Menunaikan Ibadah Haji, Semoga Memperoleh Haji Mabrur.

Penulis Dosen IAIN Pontianak

Oleh : Dr. H. Harjani Hefni,MA

Syariat Haji

Rasulullah mengatakan bahwa Islam dibangun dengan lima pilar utama, salah satu di antaranya adalah menunaikan ibadah haji. Sabda Rasulullah saw tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang besarnya kontribusi ibadah haji bagi tegaknya bangunan Islam.

Amalan Haji

Amalan Haji dimulai dengan melakukan ihram dimiqat, kemudian melakukan thawaf qudum, sholat sunnat thawaf, dan melakukan sa’i. Kemudian bertahallul bagi yang melakukan haji tamattu’, dan terus memakai pakaian ihram bagi yang melaksanakan haji ifrad dan qiran. Pada hari ke- 8 Dzulhijjah, jamaah haji berangkat ke Mina. Di sini, jamaah melaksanakan sholat dzhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan shubuh. Kemudian hari ke-9 berangkat ke Arafah untuk wukuf. Selepas maghrib hari ke-9, berangkat menuju Muzdalifah dan mabit di sana.Setelah subuh hari ke-10, dari Muzdalifah’ para jamaah berangkat ke Mina dan tiba di Mina, mereka melempar jumrah aqabah. Setelah itu jamaah diminta untuk mencukur atau memendekkan rambut, kemudian menyembelih hewan kurban dan thawaf ifadhah. Setelah itu jamaah haji mabit di Mina untuk melempar jumrah pada hari ke-11, 12 dan 13. Secara umum rangkaian ibadah haji telah selesai dilaksanakan.

Al Qur’an dan Haji

Melihat amalan haji di atas, secara sepintas ibadah haji tidak lain hanyalah ibadah fisik. Tetapi kalau kita merujuk kepada al Qur’an, ternyata detail amalan fisik tidak mendapat tekanan yang signifikan. Penjelasannya sebagai berikut:

Pertama, tentang tempat berhaji, Allah berfirman bahwa tempat ini adalah daerah bebas syirik. Allah berfirman : “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan) : “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’dan sujud”. (Al Hajj : 26).

Maka amat wajar, jika selama menuju ke Baitullah sejak memasang ihram kaum muslimin diminta untuk mengucapkan talbiyah yang inti seruannya adalah janji untuk memenuhi panggilan Allah dan tidak ingin menyekutukan-Nya.

Baca Juga :  Nikmat Sehat

Kedua, Tentang tujuan ibadah haji, Allah berfirman ; “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak (QS.al Hajj: 27-28).

Ketiga, Ketika ibadah haji sedang berlangsung, Allah melarang para jamaah untuk    berbuat rafats, fasik dan berbantah-bantahan. Allah berfirman : “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan kata yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan haji.” (al Baqarah : 197)

Keempat, di antara perintah Allah dalam ibadah haji adalah :

  1. Mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (diantaranya bulan haram (Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah haram Mekkah, Ihram, dan menganggap semua maksiyat dan perkara haram adalah berat bebannya bagi dirinya, sebagaimana dia sangat takut untuk berbuat yang tidak baik selama di tanah haram.
  2. Mengagungkan syiar-syiar Allah (segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempatnya).
  3. Hasil dari ibadah haji yang diterima adalah kembali fitrah dan janji masuk surga. Rasulullah saw bersabda :” Barangsiapa haji, dan selama haji dia tidak berkata rafats dan tidak berbuat fusuq, maka dia pulang seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Muslim). Hadits lain, Rasul bersabda: ”Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa haji memiliki hikmah yang amat besar, diantaranya :

Pertama, Membangun komitmen baru untuk tidak berbuat syirik. Syirik membuat hidup orang gelap, dan membuat orang binasa atau sesat yang jauh . Allah berfirman :

Baca Juga :  Perhutanan Sosial Mendukung Ketahanan Pangan dan Mitigasi Perubahan Iklim

”Beribadahlah dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al Hajj: 31).

Kedua, Menempa mental agar lebih matang menghadapi berbagai situasi dan model manusia. Jika pada musim haji, dia mampu untuk tidak berbuat rafats, fasik dan jadal, diharapkan dalam kondisi normal dia lebih mampu untuk mengendalikan diri. Jika dalam bulan ramadhan mental kita ditempa dengan ibadah yang lebih banyak terkonsentarsi kepada aspek ruhi, maka haji merupakan latihan di lapangan untuk menguji keberhasilan latihan kita selama ramadhan.

Ketiga, Menimba manfaat dunia dan akhirat selama melaksanakan ibadah haji. Manfaat dunia diantaranya : a. Melihat semangat kaum muslimin yang tinggi untuk beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. b. Semangat menuntut ilmu agama yang tinggi. c. Tapak tilas kehidupan Rasulullah di Makkah dan Madinah  d. Melihat lingkungan masyarakat, suasana pasar, pakaian masyarakat, lingkungan yang bebas dari patung, dll. Sedangkan manfaat akhirat adalah mencapai ridho Allah.

Keempat, Berusaha untuk mengagungkan ‘hurumatullah’ dan ‘sya’airillah’. Para jamaah haji dibina untuk merasa takut melakukan dosa selama di Makkah dan Madinah, sekembalinya mereka dari sana, jamaah diharapkan mampu untuk takut perkara haram lain yang telah ditetapkan oleh Allah. Begitu juga sya’airillah yang artinya awamirillah, jamaah diharapkan mampu untuk menganggap semua perintah Allah adalah penting, sebagaimana mereka menganggap semua perintah Allah selama ibadah haji penting.

Kelima, akhir dari semua ibadah bertujuan untuk mensucikan jiwa manusia agar siap menghadap Allah pada hari kiamat.

Mudah-mudahan para jamaah haji  dapat membawa pulang berbagai manfaat yang baik dan dapat diterapkan  di tanah air. Selamat Menunaikan Ibadah Haji, Semoga Memperoleh Haji Mabrur.

Penulis Dosen IAIN Pontianak

Most Read

Artikel Terbaru

/