alexametrics
32 C
Pontianak
Friday, July 1, 2022

Menakar Jiwa Nasionalisme Generasi Kita

Oleh: Azwari, S.Pd.PKn.

Nasionalisme adalah paham untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air yang bertujuan memberikan identitas suatu bangsa dan menghilangkan tuntutan berlebihan. Menurut KBBI, nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Pengertian lain, nasionalisme adalah kesadaran sebagai warga yang merupakan bagian dari suatu bangsa yang memiliki potensi dan secara aktual untuk mempertahankan, mengabdikan dan kemakmuran semangat kebangsaan.

Dalam catatan sejarah, jiwa nasionalisme sudah ditunjukkan oleh pendiri bangsa dan juga para pejuang kemerdekaan dengan semangat persatuan dan persamaan dengan tujuan merebut kemerdekaan dari tangan penjajahan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Jiwa nasionalisme berada pada titik klimaks ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno bersama M. Hatta pada 17 Agustus 1945. Suka cita dan gegap gempita rasa bebas dari belenggu penjajahan membahana dari Sabang sampai Merauke.

Lalu bagaimana dengan para generasi kita sekarang, apakah rasa nasionalisme masih terpatri kuat dalam jiwa sebagaimana para pejuang? Jika tidak, pernahkah kita membayangkan bagaimana para pendahulu kita mengalami rasa takut dan suasana mencekam di zaman penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda plus 3,5 tahun oleh Jepang? Para pejuang merebut kemerdekaan dari penjajahan pada zaman kolonialis dengan bersusah payah sampai mempertaruhkan nyawa. Mereka rela berkorban dan bertaruh apa saja untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan. Semua itu dilakukan dengan penuh rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

Seiring dengan berkembangnya zaman, rasa nasionalisme seolah sudah mulai luntur. Ibarat baju berwarna merah yang sudah lama dipakai, lama-kelamaan berubah warnanya menjadi merah muda alias pink. Contoh sederhana saja dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari generasi muda kita, di antaranya mereka lebih bangga memakai produk luar negeri daripada produk bangsa sendiri, enggan mempelajari dan/atau menyanyikan lagu-lagu nasional, mereka lebih hafal dengan lirik lagu-lagu barat. Juga lebih suka memilih gaya hidup dan budaya dari negara luar daripada dalam negeri.

Baca Juga :  Pendidikan Politik Meningkatkan Kualitas Pemilu

Rasa nasionalisme akan tersulut apabila ada suatu faktor pendorong, seperti pengklaiman kebudayaan daerah Indonesia oleh negara lain, namun seiring dengan meredanya konflik itu nasionalisme luntur kembali. Ironis memang bila kita bandingkan dengan semangat dan usaha gigih para pejuang kita untuk merebut kemerdekaan dari belenggu penjajahan. Fungsi pendidikan melalui pembiasaan di sekolah akan bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang berbhineka tunggal ika merupakan langkah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Sejak dini kita perkenalkan pada generasi muda kita, produk negeri kita, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bendera negara dan perjuangan para pahlawan kita.

Menurut Dr. Hertz, ada empat unsur nasionalisme, yaitu hasrat untuk mencapai kesatuan, hasrat untuk mencapai kemerdekaan, hasrat untuk mecapai keaslian, dan hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa. (Wahjudi Djaja, 2009). Sekarang rasa nasionalisme dan kebangsaan sebagian besar dari generasi muda kita sudah mulai luntur, hal ini disebabkan karena semakin minimnya pemahaman mereka terhadap budaya dan sejarah bangsanya. Generasi muda sekarang lebih cenderung meniru budaya luar dan mereka merasa bangga dengan budaya bangsa lain. Kita lihat saja di kalangan pelajar kita yang demam drama Korea, mulai dari model pakaian, rambut, sepatu, film, nyanyian dan kecantikan, semuanya meniru budaya Korea.

Generasi muda sekarang lebih cenderung mengikuti budaya barat yang sangat jauh perbandingannya dengan norma dan adat istiadat bangsa kita. Mereka malu menggunakan produk lokal karena mereka menganggap produk lokal tidak mengikuti perkembangan zaman. Di samping itu, perilaku yang sangat menonjol dari kalangan pelajar adalah suka begadang, kumpul-kumpul yang tidak jelas, penyalahgunaan Narkoba (termasuk ngelem), pergaulan bebas yang pada gilirannya seks bebas, tawuran yang kadang kala memakan korban nyawa. Hal ini menandakan semakin menipisnya rasa persatuan di antara sesama pelajar, yang mengarah kepada lunturnya nasionalisme.

Baca Juga :  Pelajaran Kehidupan, Pelajaran Tanpa Ruang dan Waktu

Faktor utama melunturnya rasa nasionalisme adalah disebabkan oleh contoh yang kurang baik yang diperlihatkan generasi tua yang cenderung mementingkan kepentingan pribadi dan golongan daripada kepentingan bangsa dan negara. Oknum pejabat negara dari kaum tua yang memperlihatkan contoh sikap tidak disiplin dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan negaranya, seperti korupsi, penggelapan uang negara dan penyalahgunaan jabatan membuat generasi muda kecewa terhadap kinerjanya. Sikap etnosentris di kalangan generasi muda juga dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Tertinggalnya Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan membuat anak muda tidak bangga menjadi bagian dari Indonesia, demokrasi yang melewati batas etika dan moral, dan paham individualisme dari barat mengikis rasa kebersamaan di masyarakat.

Berbagai pengaruh tersebut memang tidak langsung berdampak terhadap rasa nasionalisme generasi muda. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi luntur atau bahkan hilang. Untuk itu sebelum rasa nasionalisme itu benar-benar hilang, maka perlu adanya kolaborasi yang apik dan berkesinambungan dari keluarga, para pendidik dan pemerintah. Dalam keluarga tanamkan rasa cinta kepada bangsa dengan memberikan teladan kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya sejak dini. Di lingkungan sekolah, pelajar kita dibekali materi pendidikan kewarganegaraan, pendidikan Pancasila, pendidikan moral dan etika sehingga mereka bisa memfilter nilai-nilai negatif.

Pemerintah menggalakkan berbagai kegiatan yang dapat menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya seperti seminar kebangsaan, pameran kebudayaan atau pergelaran seni, atau pemerintah mewajibkan pemakaian batik atau songket sebagai warisan budaya yang sudah diakui oleh UNESCO. Oleh karena itu, harus ada upaya-upaya yang dapat membentengi generasi muda kita untuk tetap mencintai dan memiliki rasa nasionalisme. Jangan sampai mereka terkontaminasi pengaruh globalisasi dan westernisasi sehingga rasa nasionalisme mulai luntur atau bahkan menghilang seketika.**

Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Oleh: Azwari, S.Pd.PKn.

Nasionalisme adalah paham untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air yang bertujuan memberikan identitas suatu bangsa dan menghilangkan tuntutan berlebihan. Menurut KBBI, nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Pengertian lain, nasionalisme adalah kesadaran sebagai warga yang merupakan bagian dari suatu bangsa yang memiliki potensi dan secara aktual untuk mempertahankan, mengabdikan dan kemakmuran semangat kebangsaan.

Dalam catatan sejarah, jiwa nasionalisme sudah ditunjukkan oleh pendiri bangsa dan juga para pejuang kemerdekaan dengan semangat persatuan dan persamaan dengan tujuan merebut kemerdekaan dari tangan penjajahan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Jiwa nasionalisme berada pada titik klimaks ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno bersama M. Hatta pada 17 Agustus 1945. Suka cita dan gegap gempita rasa bebas dari belenggu penjajahan membahana dari Sabang sampai Merauke.

Lalu bagaimana dengan para generasi kita sekarang, apakah rasa nasionalisme masih terpatri kuat dalam jiwa sebagaimana para pejuang? Jika tidak, pernahkah kita membayangkan bagaimana para pendahulu kita mengalami rasa takut dan suasana mencekam di zaman penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda plus 3,5 tahun oleh Jepang? Para pejuang merebut kemerdekaan dari penjajahan pada zaman kolonialis dengan bersusah payah sampai mempertaruhkan nyawa. Mereka rela berkorban dan bertaruh apa saja untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan. Semua itu dilakukan dengan penuh rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

Seiring dengan berkembangnya zaman, rasa nasionalisme seolah sudah mulai luntur. Ibarat baju berwarna merah yang sudah lama dipakai, lama-kelamaan berubah warnanya menjadi merah muda alias pink. Contoh sederhana saja dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari generasi muda kita, di antaranya mereka lebih bangga memakai produk luar negeri daripada produk bangsa sendiri, enggan mempelajari dan/atau menyanyikan lagu-lagu nasional, mereka lebih hafal dengan lirik lagu-lagu barat. Juga lebih suka memilih gaya hidup dan budaya dari negara luar daripada dalam negeri.

Baca Juga :  Fatherless Country dan Peran Ayah

Rasa nasionalisme akan tersulut apabila ada suatu faktor pendorong, seperti pengklaiman kebudayaan daerah Indonesia oleh negara lain, namun seiring dengan meredanya konflik itu nasionalisme luntur kembali. Ironis memang bila kita bandingkan dengan semangat dan usaha gigih para pejuang kita untuk merebut kemerdekaan dari belenggu penjajahan. Fungsi pendidikan melalui pembiasaan di sekolah akan bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang berbhineka tunggal ika merupakan langkah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Sejak dini kita perkenalkan pada generasi muda kita, produk negeri kita, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bendera negara dan perjuangan para pahlawan kita.

Menurut Dr. Hertz, ada empat unsur nasionalisme, yaitu hasrat untuk mencapai kesatuan, hasrat untuk mencapai kemerdekaan, hasrat untuk mecapai keaslian, dan hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa. (Wahjudi Djaja, 2009). Sekarang rasa nasionalisme dan kebangsaan sebagian besar dari generasi muda kita sudah mulai luntur, hal ini disebabkan karena semakin minimnya pemahaman mereka terhadap budaya dan sejarah bangsanya. Generasi muda sekarang lebih cenderung meniru budaya luar dan mereka merasa bangga dengan budaya bangsa lain. Kita lihat saja di kalangan pelajar kita yang demam drama Korea, mulai dari model pakaian, rambut, sepatu, film, nyanyian dan kecantikan, semuanya meniru budaya Korea.

Generasi muda sekarang lebih cenderung mengikuti budaya barat yang sangat jauh perbandingannya dengan norma dan adat istiadat bangsa kita. Mereka malu menggunakan produk lokal karena mereka menganggap produk lokal tidak mengikuti perkembangan zaman. Di samping itu, perilaku yang sangat menonjol dari kalangan pelajar adalah suka begadang, kumpul-kumpul yang tidak jelas, penyalahgunaan Narkoba (termasuk ngelem), pergaulan bebas yang pada gilirannya seks bebas, tawuran yang kadang kala memakan korban nyawa. Hal ini menandakan semakin menipisnya rasa persatuan di antara sesama pelajar, yang mengarah kepada lunturnya nasionalisme.

Baca Juga :  Pendidikan Politik Meningkatkan Kualitas Pemilu

Faktor utama melunturnya rasa nasionalisme adalah disebabkan oleh contoh yang kurang baik yang diperlihatkan generasi tua yang cenderung mementingkan kepentingan pribadi dan golongan daripada kepentingan bangsa dan negara. Oknum pejabat negara dari kaum tua yang memperlihatkan contoh sikap tidak disiplin dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan negaranya, seperti korupsi, penggelapan uang negara dan penyalahgunaan jabatan membuat generasi muda kecewa terhadap kinerjanya. Sikap etnosentris di kalangan generasi muda juga dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Tertinggalnya Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan membuat anak muda tidak bangga menjadi bagian dari Indonesia, demokrasi yang melewati batas etika dan moral, dan paham individualisme dari barat mengikis rasa kebersamaan di masyarakat.

Berbagai pengaruh tersebut memang tidak langsung berdampak terhadap rasa nasionalisme generasi muda. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi luntur atau bahkan hilang. Untuk itu sebelum rasa nasionalisme itu benar-benar hilang, maka perlu adanya kolaborasi yang apik dan berkesinambungan dari keluarga, para pendidik dan pemerintah. Dalam keluarga tanamkan rasa cinta kepada bangsa dengan memberikan teladan kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya sejak dini. Di lingkungan sekolah, pelajar kita dibekali materi pendidikan kewarganegaraan, pendidikan Pancasila, pendidikan moral dan etika sehingga mereka bisa memfilter nilai-nilai negatif.

Pemerintah menggalakkan berbagai kegiatan yang dapat menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya seperti seminar kebangsaan, pameran kebudayaan atau pergelaran seni, atau pemerintah mewajibkan pemakaian batik atau songket sebagai warisan budaya yang sudah diakui oleh UNESCO. Oleh karena itu, harus ada upaya-upaya yang dapat membentengi generasi muda kita untuk tetap mencintai dan memiliki rasa nasionalisme. Jangan sampai mereka terkontaminasi pengaruh globalisasi dan westernisasi sehingga rasa nasionalisme mulai luntur atau bahkan menghilang seketika.**

Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Most Read

Artikel Terbaru

/