alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Pandemi di Dunia Pendidikan

Oleh: Amalia Irfani

TAHUN 2021 masih menjadi tahun kelabu bagi dunia pendidikan tanah air tanpa terkecuali di Kalimantan Barat. Kegiatan belajar mengajar  masih didominasi tanpa tatap muka (online/daring), kalaupun ada yang tatap muka, aturan protokol ketat Covid-19 wajib dilakukan.  Misalnya tersedianya sarana sanitasi dan kebersihan toilet yang layak, wilayah sekolah  masuk di zona kuning, mendapat persetujuan dari orang tua siswa, serta selama proses belajar wajib memakai masker dengan menjaga jarak duduk.

Seluruh perangkat sekolah juga sudah harus mendapatkan vaksinasi mulai dari guru hingga petugas tata usaha sekolah. Petugas kesehatan secara kontinu akan memantau proses tersebut, sebab kerumunan dikhawatirkan akan memunculkan cluster baru yang secara sosial-psikologis akan memengaruhi masyarakat sekitarnya.

Terasa panjang perjalanan pandemi Covid-19, padahal “ia” baru satu tahun membuat keresahan sosial. Memunculkan banyak kebimbangan bahkan menyisakan kisah dan memori pilu karena banyak masyarakat harus kehilangan anggota keluarga yang meninggal dunia akibat terpapar positif Covid-19.

Di dunia pendidikan sendiri, ternyata kecemasan demi kecemasan akibat Covid-19 dirasakan oleh banyak pihak mulai dari tenaga pengajar (guru/dosen), peserta didik (siswa/mahasiswa)  juga orang tua yang sekarang berperan sebagai orang pertama dalam memantau proses belajar anaknya. Setahun sudah orang tua harus berbagi ponsel atau laptop kepada anaknya, bahkan tidak jarang ada orang tua yang harus “sekolah lagi” karena mengerjakan tugas anak-anaknya.

Baca Juga :  Tanpa Disadari Perilaku Basa-Basi Menjadi Sebab Munculnya Stres

Terasa miris, tetapi itulah fakta dramatis yang dialami oleh mayoritas masyarakat di sekitar kita. Nilai kejujuran pelan-pelan tergerus, kedisiplinan bahkan kecerdasan siswa pun semakin terjerembab. Stres kini bukan lagi dihadapi oleh remaja (usia 20 hingga 29 tahun), karena sejak pandemi Covid-19 banyak dialami oleh anak usia sekolah dasar. Mereka merasa bosan  dan terancam dengan cara belajar yang monoton. Anoraga (2001) dalam teorinya berujar stres adalah tanggapan seseorang, baik secara fisik maupun mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. Anak yang bosan akan malas dan tidak semangat mengerjakan tugas sekolah, mereka merasakan banyak kecemasan dan terancam secara psikologis.

Pandemi lain di dunia pendidikan adalah semakin banyaknya peserta didik (siswa/mahasiswa) yang memutuskan untuk berhenti mengenyam pendidikan. Ekonomi menjadi alasan utama dari sekian banyak alasan yang diungkapkan oleh beberapa peserta didik yang memutuskan untuk tidak lagi bersekolah. Fakta ini penulis dapatkan saat memberikan pendampingan  konseling bulan Februari hingga Maret 2021 di Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat.

Baca Juga :  ABK Bagi Guru

Anak yang berhenti sekolah (usia SMP dan SMA) pada akhirnya memutuskan untuk menikah dini. Beberapa orang mengaku terbebani dengan sekolah online karena harus membeli paket data, gawai yang standar karena terkait aplikasi dalam mengerjakan tugas, sedangkan keadaan ekonomi keluarga yang tidak mendukung, beberapa yang lain mengaku bosan dan tertekan dengan tugas sekolah yang diberikan oleh guru. Bahkan ada  orang tua ketika ditanya tentang pentingnya pendidikan  menjawab, untuk apa anak sekolah jika ujung-ujungnya menjadi kuli.

Pandemi Covid-19 memang nyata membuat kegalauan di kalangan masyarakat, nyata telah menghilangkan semangat meraih cita-cita bagi sebagian kecil generasi.

Fakta di atas sebagai bukti bahwa banyak akibat yang telah dirasakan oleh masyarakat khususnya di dunia pendidikan karena pandemi Covid-19. Sekolah sebagai solusi menjaga negeri tetap lestari harusnya bisa menjaga eksistensi walaupun di tsunami berkali-kali. Peran yang tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau kalangan pendidik saja, tetapi juga oleh semua masyarakat. Wallahu’alam.

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Oleh: Amalia Irfani

TAHUN 2021 masih menjadi tahun kelabu bagi dunia pendidikan tanah air tanpa terkecuali di Kalimantan Barat. Kegiatan belajar mengajar  masih didominasi tanpa tatap muka (online/daring), kalaupun ada yang tatap muka, aturan protokol ketat Covid-19 wajib dilakukan.  Misalnya tersedianya sarana sanitasi dan kebersihan toilet yang layak, wilayah sekolah  masuk di zona kuning, mendapat persetujuan dari orang tua siswa, serta selama proses belajar wajib memakai masker dengan menjaga jarak duduk.

Seluruh perangkat sekolah juga sudah harus mendapatkan vaksinasi mulai dari guru hingga petugas tata usaha sekolah. Petugas kesehatan secara kontinu akan memantau proses tersebut, sebab kerumunan dikhawatirkan akan memunculkan cluster baru yang secara sosial-psikologis akan memengaruhi masyarakat sekitarnya.

Terasa panjang perjalanan pandemi Covid-19, padahal “ia” baru satu tahun membuat keresahan sosial. Memunculkan banyak kebimbangan bahkan menyisakan kisah dan memori pilu karena banyak masyarakat harus kehilangan anggota keluarga yang meninggal dunia akibat terpapar positif Covid-19.

Di dunia pendidikan sendiri, ternyata kecemasan demi kecemasan akibat Covid-19 dirasakan oleh banyak pihak mulai dari tenaga pengajar (guru/dosen), peserta didik (siswa/mahasiswa)  juga orang tua yang sekarang berperan sebagai orang pertama dalam memantau proses belajar anaknya. Setahun sudah orang tua harus berbagi ponsel atau laptop kepada anaknya, bahkan tidak jarang ada orang tua yang harus “sekolah lagi” karena mengerjakan tugas anak-anaknya.

Baca Juga :  Pendidikan Keluarga di Era Digital

Terasa miris, tetapi itulah fakta dramatis yang dialami oleh mayoritas masyarakat di sekitar kita. Nilai kejujuran pelan-pelan tergerus, kedisiplinan bahkan kecerdasan siswa pun semakin terjerembab. Stres kini bukan lagi dihadapi oleh remaja (usia 20 hingga 29 tahun), karena sejak pandemi Covid-19 banyak dialami oleh anak usia sekolah dasar. Mereka merasa bosan  dan terancam dengan cara belajar yang monoton. Anoraga (2001) dalam teorinya berujar stres adalah tanggapan seseorang, baik secara fisik maupun mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. Anak yang bosan akan malas dan tidak semangat mengerjakan tugas sekolah, mereka merasakan banyak kecemasan dan terancam secara psikologis.

Pandemi lain di dunia pendidikan adalah semakin banyaknya peserta didik (siswa/mahasiswa) yang memutuskan untuk berhenti mengenyam pendidikan. Ekonomi menjadi alasan utama dari sekian banyak alasan yang diungkapkan oleh beberapa peserta didik yang memutuskan untuk tidak lagi bersekolah. Fakta ini penulis dapatkan saat memberikan pendampingan  konseling bulan Februari hingga Maret 2021 di Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Pengolahan Limbah Sabut Kelapa Jadi Pot Tanam

Anak yang berhenti sekolah (usia SMP dan SMA) pada akhirnya memutuskan untuk menikah dini. Beberapa orang mengaku terbebani dengan sekolah online karena harus membeli paket data, gawai yang standar karena terkait aplikasi dalam mengerjakan tugas, sedangkan keadaan ekonomi keluarga yang tidak mendukung, beberapa yang lain mengaku bosan dan tertekan dengan tugas sekolah yang diberikan oleh guru. Bahkan ada  orang tua ketika ditanya tentang pentingnya pendidikan  menjawab, untuk apa anak sekolah jika ujung-ujungnya menjadi kuli.

Pandemi Covid-19 memang nyata membuat kegalauan di kalangan masyarakat, nyata telah menghilangkan semangat meraih cita-cita bagi sebagian kecil generasi.

Fakta di atas sebagai bukti bahwa banyak akibat yang telah dirasakan oleh masyarakat khususnya di dunia pendidikan karena pandemi Covid-19. Sekolah sebagai solusi menjaga negeri tetap lestari harusnya bisa menjaga eksistensi walaupun di tsunami berkali-kali. Peran yang tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau kalangan pendidik saja, tetapi juga oleh semua masyarakat. Wallahu’alam.

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/