alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Kematian

Oleh: Hermansyah

DALAM beberapa bulan terakhir ini, hampir setiap hari kita mendapat kabar kematian kawan, saudara, handai taulan, tetangga, melalui berbagai grup media sosial. Bahkan kadang-kadang kita sendiri yang mengabarkan berita itu, karena yang meninggal itu adalah orang yang sangat dekat dengan kita. Dan pasti suatu saat kitalah yang diberitakan itu. Jangan tanya umur dan kesehatan, karena kematian tidak berhubungan dengan umur dan kesehatan.

Bagi mereka yang tidak bertuhan, kematian hanya peristiwa yang tidak bermakna, ia hanyalah peristiwa alam biasa yang tidak ada pangkal dan ujungnya. Kematian hanyalah kebinasaan yang disebabkan oleh waktu (Lihat QS, al-Jatsiyah: 24). Sehinga hidupnya semaunya. Dalam kitab Al-Qur’an dikabarkan bahwa kematian dan kehidupan adalah sarana untuk menguji manusia: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…”(QS. Al-Mulk: 2).

Ujian itu diberikan kepada manusia karena dalam diri manusia terdapat amanah Allah yakni iman sekaligus kencenderungan untuk kafir. “Dialah yang menciptakan kamu maka dari dirimu ada yang kafir dan ada yang mukmin…” (QS. At-Taghabun: 2). Dalam suatu riwayat disebutkan: “Musuh yang paling berbahaya adalah hawa nafsumu, yang berada di antara kedua lambungmu.” Untuk mengalahkan si kafir, manusia harus berjihad sepanjang hayat. Jihad ini bukan terhadap pihak luar tetapi pertarungan melawan kekafiran dalam diri. Potensi kekafiran itu bersemayam dalam setiap diri. Karenanya manusia tidak boleh merasa, menganggap, dan menyatakan dirinya sebagai orang yang baik dan suci:”…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An-Najm: 32).

Perintah, larangan, janji, dan ancaman dalam Al-Qur’an utamanya ditujukan kepada tiap-tiap diri. Setiap manusia diperintahkan untuk lebih mengutamakan melihat dan memperbaiki kesalahan diri ketimbang orang lain. Bagi yang berhasil berjihad memperbaiki diri terus-menerus selama hidup maka mereka akan  memenangkan pertarungan itu. Hasilnya adalah ketenangan diri, karena dapat menaklukkan sang kafir dalam dirinya.  Pada saat kematiannya Allah panggil mereka dengan kelembutan dan kasih sayang: “Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Baca Juga :  Amankan Kekayaan Laut Indonesia

Dalam suatu riwayat digambarkan ruh seorang mukmin akan meninggalkan jasadnya sebagaimana air keluar dari mulut wadah dari kulit. Setelah keluar ruhnya, para malaikat berwajah putih segera mengambil ruh tersebut dari Malaikat Maut dan membungkusnya dengan kafan dan wewangian surga, dan merebaklah aroma harum melebihi wewangian di bumi.

Ruh itu pun naik ke langit dan ketika melewati sekelompok malaikat, dikatakan, “Siapakah ruh yang baik ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling bagus yang dulunya ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut.

Dibukakan pintu langit hingga ruh tersebut tiba di langit ke tujuh. Terdengarlah seruan dari langit, “Telah benar hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga.” (Alam) kuburnya menjadi lapang sejauh pandangan mata dan datanglah seseorang berwajah indah, berpakaian bagus, dan wangi aromanya. Dikatakan kepada sang mukmin, “Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.” Orang tersebut adalah amalan salehnya. (Ringkasan makna dari HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Sebaliknya, bagi mukmin yang kalah oleh kafir dalam diri akan mengalami sesuatu yang mengerikan. Dari al-Bara bin Azib, Nabi Saw bersabda (yang maknanya), “Jika orang kafir menghadapi saat-saat berpisah dari dunia dan menghadap akhirat, turunlah kepadanya para malaikat berwajah hitam dari langit. Mereka membawa kain yang sangat jelek, lalu duduk di sekitarnya sejauh pandangan mata. Sesudah itu, datanglah malaikat maut. Malaikat itu duduk di sisi kepalanya dan berkata, ‘Wahai jiwa yang hina, keluarlah kepada kemurkaan dan kemarahan Allah’.

Ruh tersebut justru tenggelam dalam jasadnya. Malaikat maut kemudian mencabutnya seperti mencabut batangan besi yang biasa dipakai untuk membakar daging dari jalinan benang wol basah, hingga malaikat itu mengambil ruh tersebut. Saat malaikat maut mengambilnya, para malaikat yang lain tidak membiarkannya walaupun hanya sekejap. Mereka segera mengambil dan meletakkannya pada kain kasar tadi. Muncullah bau yang amat busuk seperti bau bangkai terbusuk yang pernah ada di muka bumi. Mereka lalu membawanya naik ke langit. Setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka selalu ditanya: ‘Siapakah ruh yang buruk ini?’ Mereka menjawab: ‘Fulan bin Fulan’, dengan menyebutkan nama terjeleknya sewaktu di dunia. Mereka pun meminta agar pintu langit dibuka, tetapi pintu itu tidak dibukakan untuknya’”.

Baca Juga :  PLTN Bukan Solusi

Setelah itu, Nabi SAW membaca, “Tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum” (QS. Al-A’raf: 40). Selanjutnya, Allah Azza wa Jalla berkata, “Catatlah kitab amalnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah.” Lantas, ruhnya dilemparkan. Kemudian Nabi membaca, “….Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh  (QS. Al-Haj: 31). Supaya manusia dapat kembali ke asalnya dengan tenang, Al-Quran mengabarkan caranya yakni dengan memohon pertolongan Allah melalui sabar dan shalat (Lihat QS. Al-Baqarah: 45). Karena hanya dengan sabar dan shalatlah mukmin dalam diri dapat dimenangkan dan  mencapai kebahagiaan. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (QS.Al-Mukminun: 1-2).  Hanya dengan shalat yang dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Hubungan melalui ingat Allah sebagai hakikat shalat itulah yang membantu mukmin memenangkan diri atas kekufuran sehingga ajakan untuk ingkar dapat dicegah (lihat QS. Al-Ankabut: 45).

Shalat yang khusyu’ adalah shalat orang yang yakin berjumpa dengan Tuhan. Karena perjumpaan itu hanya mungkin terjadi jika dikehendaki-Nya maka, ikhtiar untuk mencapai khusyu’ yang dapat dilakukan adalah dengan mengarahkan badan secara lahiriah dan ingatan secara batiniah ke arah masjidilharam atau baitullah sebagaimana yang ditunjuki-Nya (QS. Al-Baqarah: 144). Dengan pertolongan Allah, kekhusyuan dalam shalat akan melahirkan ketenangan jiwa pelakunya dan lahirlah darinya akhlak yang mulia, sehingga wajarlah ketika meninggal diiringi dengan ucapan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya jugalah kami kembali).**

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Oleh: Hermansyah

DALAM beberapa bulan terakhir ini, hampir setiap hari kita mendapat kabar kematian kawan, saudara, handai taulan, tetangga, melalui berbagai grup media sosial. Bahkan kadang-kadang kita sendiri yang mengabarkan berita itu, karena yang meninggal itu adalah orang yang sangat dekat dengan kita. Dan pasti suatu saat kitalah yang diberitakan itu. Jangan tanya umur dan kesehatan, karena kematian tidak berhubungan dengan umur dan kesehatan.

Bagi mereka yang tidak bertuhan, kematian hanya peristiwa yang tidak bermakna, ia hanyalah peristiwa alam biasa yang tidak ada pangkal dan ujungnya. Kematian hanyalah kebinasaan yang disebabkan oleh waktu (Lihat QS, al-Jatsiyah: 24). Sehinga hidupnya semaunya. Dalam kitab Al-Qur’an dikabarkan bahwa kematian dan kehidupan adalah sarana untuk menguji manusia: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…”(QS. Al-Mulk: 2).

Ujian itu diberikan kepada manusia karena dalam diri manusia terdapat amanah Allah yakni iman sekaligus kencenderungan untuk kafir. “Dialah yang menciptakan kamu maka dari dirimu ada yang kafir dan ada yang mukmin…” (QS. At-Taghabun: 2). Dalam suatu riwayat disebutkan: “Musuh yang paling berbahaya adalah hawa nafsumu, yang berada di antara kedua lambungmu.” Untuk mengalahkan si kafir, manusia harus berjihad sepanjang hayat. Jihad ini bukan terhadap pihak luar tetapi pertarungan melawan kekafiran dalam diri. Potensi kekafiran itu bersemayam dalam setiap diri. Karenanya manusia tidak boleh merasa, menganggap, dan menyatakan dirinya sebagai orang yang baik dan suci:”…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An-Najm: 32).

Perintah, larangan, janji, dan ancaman dalam Al-Qur’an utamanya ditujukan kepada tiap-tiap diri. Setiap manusia diperintahkan untuk lebih mengutamakan melihat dan memperbaiki kesalahan diri ketimbang orang lain. Bagi yang berhasil berjihad memperbaiki diri terus-menerus selama hidup maka mereka akan  memenangkan pertarungan itu. Hasilnya adalah ketenangan diri, karena dapat menaklukkan sang kafir dalam dirinya.  Pada saat kematiannya Allah panggil mereka dengan kelembutan dan kasih sayang: “Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Baca Juga :  Transaksi Satuan Kerja Pengelola APBN Wilayah KPPN SingkawangTransaksi Satuan Kerja Pengelola APBN Wilayah KPPN Singkawang

Dalam suatu riwayat digambarkan ruh seorang mukmin akan meninggalkan jasadnya sebagaimana air keluar dari mulut wadah dari kulit. Setelah keluar ruhnya, para malaikat berwajah putih segera mengambil ruh tersebut dari Malaikat Maut dan membungkusnya dengan kafan dan wewangian surga, dan merebaklah aroma harum melebihi wewangian di bumi.

Ruh itu pun naik ke langit dan ketika melewati sekelompok malaikat, dikatakan, “Siapakah ruh yang baik ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling bagus yang dulunya ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut.

Dibukakan pintu langit hingga ruh tersebut tiba di langit ke tujuh. Terdengarlah seruan dari langit, “Telah benar hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga.” (Alam) kuburnya menjadi lapang sejauh pandangan mata dan datanglah seseorang berwajah indah, berpakaian bagus, dan wangi aromanya. Dikatakan kepada sang mukmin, “Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.” Orang tersebut adalah amalan salehnya. (Ringkasan makna dari HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Sebaliknya, bagi mukmin yang kalah oleh kafir dalam diri akan mengalami sesuatu yang mengerikan. Dari al-Bara bin Azib, Nabi Saw bersabda (yang maknanya), “Jika orang kafir menghadapi saat-saat berpisah dari dunia dan menghadap akhirat, turunlah kepadanya para malaikat berwajah hitam dari langit. Mereka membawa kain yang sangat jelek, lalu duduk di sekitarnya sejauh pandangan mata. Sesudah itu, datanglah malaikat maut. Malaikat itu duduk di sisi kepalanya dan berkata, ‘Wahai jiwa yang hina, keluarlah kepada kemurkaan dan kemarahan Allah’.

Ruh tersebut justru tenggelam dalam jasadnya. Malaikat maut kemudian mencabutnya seperti mencabut batangan besi yang biasa dipakai untuk membakar daging dari jalinan benang wol basah, hingga malaikat itu mengambil ruh tersebut. Saat malaikat maut mengambilnya, para malaikat yang lain tidak membiarkannya walaupun hanya sekejap. Mereka segera mengambil dan meletakkannya pada kain kasar tadi. Muncullah bau yang amat busuk seperti bau bangkai terbusuk yang pernah ada di muka bumi. Mereka lalu membawanya naik ke langit. Setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka selalu ditanya: ‘Siapakah ruh yang buruk ini?’ Mereka menjawab: ‘Fulan bin Fulan’, dengan menyebutkan nama terjeleknya sewaktu di dunia. Mereka pun meminta agar pintu langit dibuka, tetapi pintu itu tidak dibukakan untuknya’”.

Baca Juga :  Transisi Menuju Normal Baru

Setelah itu, Nabi SAW membaca, “Tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum” (QS. Al-A’raf: 40). Selanjutnya, Allah Azza wa Jalla berkata, “Catatlah kitab amalnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah.” Lantas, ruhnya dilemparkan. Kemudian Nabi membaca, “….Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh  (QS. Al-Haj: 31). Supaya manusia dapat kembali ke asalnya dengan tenang, Al-Quran mengabarkan caranya yakni dengan memohon pertolongan Allah melalui sabar dan shalat (Lihat QS. Al-Baqarah: 45). Karena hanya dengan sabar dan shalatlah mukmin dalam diri dapat dimenangkan dan  mencapai kebahagiaan. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (QS.Al-Mukminun: 1-2).  Hanya dengan shalat yang dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Hubungan melalui ingat Allah sebagai hakikat shalat itulah yang membantu mukmin memenangkan diri atas kekufuran sehingga ajakan untuk ingkar dapat dicegah (lihat QS. Al-Ankabut: 45).

Shalat yang khusyu’ adalah shalat orang yang yakin berjumpa dengan Tuhan. Karena perjumpaan itu hanya mungkin terjadi jika dikehendaki-Nya maka, ikhtiar untuk mencapai khusyu’ yang dapat dilakukan adalah dengan mengarahkan badan secara lahiriah dan ingatan secara batiniah ke arah masjidilharam atau baitullah sebagaimana yang ditunjuki-Nya (QS. Al-Baqarah: 144). Dengan pertolongan Allah, kekhusyuan dalam shalat akan melahirkan ketenangan jiwa pelakunya dan lahirlah darinya akhlak yang mulia, sehingga wajarlah ketika meninggal diiringi dengan ucapan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya jugalah kami kembali).**

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak.

Most Read

Artikel Terbaru

/