alexametrics
27 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Penyakit Merasa Diri Penting

Oleh: Aswandi*

 TIDAK hanya Virus Corona 19 yang lagi mewabah, melainkan ada satu jenis virus penyakit mental yang tidak kalah penyebarannya di masyarakat akhir-akhir ini, yakni penyakit merasa diri penting. Sering sekali kita mendengar teman bercerita bahwa mereka baru saja bertemu seorang yang mengaku dirinya penting atau suka menyobongkan diri. Di antara mereka terdapat negarawan, politisi, usahawan, akademisi dan ilmuwan, olahragawan, artis, selebritis serta banyak profesi lainnya.

Tidak terbatas ruang dan waktu, di mana-mana dan kapan saja dengan mudahnya kita temui banyak saudara kita yang telah tertular virus penyakit mental “Merasa Diri Penting” tersebut. Mereka banyak berada di sekitar kekuasaan atau orang-orang yang berpengaruh dan tidak terkecuali mereka berada di rumah-rumah ibadah. Mereka senang memajangkan foto dirinya bersama penguasa dan orang penting lainnya. Di mana ada penguasa, di situlah dia terlihat menyibukkan diri.

Penyakit “Merasa Diri Penting” sepertinya terdapat pada masyarakat kita dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Ada yang sedang mengalami masa inkubasi dan tidak sedikit yang berada dalam kondisi akut dan mabuk.

Merasa diri penting adalah virus utama penyakit gila. Dr. Schindler memperlihatkan bahwa “tiga dari empat (75%) ranjang di rumah sakit sekarang ini diisi oleh pengidap penyakit yang disebabkan oleh ketidakstabilan emosi (Emotionally Induced Illness), seperti penyakit merasa diri penting”, dikutip dari David Schwart (1996) dalam bukunya berjudul; “The Magic of Thinking Big”.

Hasrat merasa diri penting adalah sifat dasar manusia dan menjadi pembeda nyata antara manusia dan binatang, demikian kata Freud dan Dewey. Namun sayangnya banyak orang para penderita penyakit merasa diri penting berusaha keras mengorbankan segala-galanya hanya untuk disebut diri penting yang kemudian tersungkur ke jurang yang dalam dan menjadi gila dengan 1001 macam jenisnya.

Alice Miller (2000) salah seorang psikiater kenamaan dalam bukunya berjudul; “The Drama of The Gifted Child” menyatakan penyakit merasa diri penting telah terjadi pada masa kanak-kanak, terutama pada anak yang tadinya berprestasi dan dikagumi menyimpan perasaan hampa dan terasing, depresi dan merasa hidupnya tak berarti setelah “Obat Kehebatan” mereka hilang, yakni tidak berada di puncak lagi atau tidak lagi menjadi “Maha Bintang” yang sekian lama disanjung, dipuji dan menjadi idola.

Astronot Apollo, orang pertama yang sampai di bulan dan beberapa atlet olimpiade setelah menjadi pusat perhatian dunia dan kembali dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah jatuh sakit dan menderita penyakit mental yang lebih dikenal Post Olympic Depression. Demikian Robin Sharma (2006) dalam bukunya berjudul; ”Who Will Cry When You Die”.

Baca Juga :  Dies Natalis 74 HMI

Setelah dilakukan pengujian “post mortem” ditemukan ternyata manusia menjadi gila tidak berhubungan secara organis dengan sel-sel otaknya sebagaimana diyakini ahli neurologis selama ini. Pertanyaan; “mengapa manusia menjadi gila?”. Beberapa bukti menunjukkan bahwa “manusia menjadi gila dalam usahanya mendapatkan perasaan “Merasa Diri Penting”, namun dunia nyata mengabaikannya atau tidak menganggapnya orang penting”, demikian Dale Carnegie dalam bukunya berjudul; “How to Win Friends and Influence People”.

Kehadiran satu orang saja penderita merasa diri penting dalam sebuah organisasi sangat menghambat kemajuan organisasi. Cynthia Barton Rabe (2014) dalam bukunya “The Innovation Killer” menyatakan bahwa penyakit merasa diri penting (sombong atau ujub) adalah pembunuh inovasi yang utama dan kehadirannya dalam organisasi membuat organisasi menjadi kurang sehat atau tidak mampu tumbuh dan berkembang dengan baik.

Fakta menunjukkan, sering kali ditemukan seorang pejabat merasa dirinya penting, sering terlambat hadir di suatu acara di mana ia bertugas membuka acara tersebut, sementara undangan sudah lama menunggu. Tanpa merasa malu dan bersalah, ia memasuki ruangan pertemuan. Sangat berbeda dengan apa yang pernah penulis alami di setiap acara di Jepang di mana pejabat datang lebih dahulu sebelum acara dimulai dan kita yang hadir merasa setara dengan undangan lainnya. Dulu pernah terjadi seorang pejabat di daerah ini memukul atau menampar seorang bawahannya di tengah jalan raya karena tidak memberi hormat kepadanya di saat keduanya berpapasan ketika sedang jogging atau lari pagi.

Fakta lain, di setiap acara, bahkan ketika hendak melaksanakan ibadah selalu ada manusia yang ingin menempati kursi atau tempat terdepan meskipun ia datang terlambat, seakan-akan kawasan VIP: mihrab dan altar di rumah ibadah tersebut adalah milik pribadinya.

Di masa lalu, tidak tahulah sekarang, apakah berpose/berfoto di samping pejabat atau orang penting masih menjadi dambaan seseorang? Kemudian foto diri tersebut dipigura lebar lalu disimpan di ruang tamu atau ruang kerjanya.

Ali ra (1993) dalam “Nahjul Balaghah” menasihati; “kebanggaan terhadap diri sendiri meskipun hanya sebesar zarah (biji sawi) adalah musuh kebenaran dan penyakit paling parah bagi akal seseorang. Ia merusak diri sendiri sebelum merusak orang lain”. Oleh karena itu suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama di sisi Allah SWT dari pada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu”.

Baca Juga :  Bahasa, Sastra, dan Agama

Rasulullah SAW dan para sahabat mengajarkan kepada kita agar tawadhu’ atau suka merendahkan diri, bukan merasa diri penting, seperti Abu Ubaidah Ibnu Jarrah ra satu di antara sahabat Rasulullaah SAW yang sukses sebagai pimpinan perang selalu berwajah ceria, dan terpuji akhlaknya. Tidak seorang muslim pun merasa dirugikan olehnya. Ia juga dikenal seorang pemalu.

Pada saat kepentingan jemaah kaum muslimin menuntut persatuan, dan kekompakan, beliau berkata, “Kalian jangan berselisih. Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu”.

Beliau sangat mengerti tentang hak menjadi seorang pemimpin sebagai gambaran kerendahan budinya, Misalnya, setelah Rasulullah SAW wafat, banyak orang yang datang menemuinya, termasuk Umar Ibnul Khattab ra hendak membaiat Abu Ubaidah menjadi khalifah pengganti Rasullah SAW, tetapi ia menolak seraya menjawab, “Apakah kalian datang kepadaku sedangkan di tengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga, yang lebih layak menjadi khalifah, maksudnya Abu Bakar ash-Shiddiq”.

Sikap tawadhu’ pada diri Abu Ubaidah jelas terlihat misalnya di suatu hari beliau menjadi iman salat. Ketika dia pergi meninggalkan tempat itu, dia berkata, “Setan telah menggodaku hingga aku merasa bahwa aku lebih baik dari pada orang lain. Oleh karena itu, aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya”. Diceritakan, ia memilih pindah rumah meninggalkan rumah di mana banyak orang sering memujinya. Demi menjaga dari merasa diri penting dan sejenisnya, ia tinggalkan kampung halamannya, pindah ke tempat lain yang lebih aman dari pujian dan sanjungan. Padahal pujian sangat layak diberikan kepada seorang panglima perang. ahli agama dan berkepribadian tawadhu’ kepada semua orang tersebut.

Ibnu Abas ra juga demikian, seorang ahli fikih yang sangat zuhud dan wara’. Ilmu dan amal kita dalam keagamaan tidak sebanding dengan mereka, mengapa kita menyombongkan diri, apa tidak malu kepada diri sendiri. Ngaca, berdiri di depan cermin, tatap jasatmu dengan jujur, ikhlas dan khusyuk.

Bercermin kepada kepribadian seorang sahabat Rasulullah SAW Abu Ubaidah dan Ibnu Abas cukuplah menjadi pelajaran kepada kita, betapa tinggi dan mulianya akhlak mereka, dan rendahnya kualitas akhlak yang kita miliki, dan menjadi bukti rendahnya pula derajat keimanan kita kepada Allah SWT.

*Dosen FKIP Untan

Oleh: Aswandi*

 TIDAK hanya Virus Corona 19 yang lagi mewabah, melainkan ada satu jenis virus penyakit mental yang tidak kalah penyebarannya di masyarakat akhir-akhir ini, yakni penyakit merasa diri penting. Sering sekali kita mendengar teman bercerita bahwa mereka baru saja bertemu seorang yang mengaku dirinya penting atau suka menyobongkan diri. Di antara mereka terdapat negarawan, politisi, usahawan, akademisi dan ilmuwan, olahragawan, artis, selebritis serta banyak profesi lainnya.

Tidak terbatas ruang dan waktu, di mana-mana dan kapan saja dengan mudahnya kita temui banyak saudara kita yang telah tertular virus penyakit mental “Merasa Diri Penting” tersebut. Mereka banyak berada di sekitar kekuasaan atau orang-orang yang berpengaruh dan tidak terkecuali mereka berada di rumah-rumah ibadah. Mereka senang memajangkan foto dirinya bersama penguasa dan orang penting lainnya. Di mana ada penguasa, di situlah dia terlihat menyibukkan diri.

Penyakit “Merasa Diri Penting” sepertinya terdapat pada masyarakat kita dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Ada yang sedang mengalami masa inkubasi dan tidak sedikit yang berada dalam kondisi akut dan mabuk.

Merasa diri penting adalah virus utama penyakit gila. Dr. Schindler memperlihatkan bahwa “tiga dari empat (75%) ranjang di rumah sakit sekarang ini diisi oleh pengidap penyakit yang disebabkan oleh ketidakstabilan emosi (Emotionally Induced Illness), seperti penyakit merasa diri penting”, dikutip dari David Schwart (1996) dalam bukunya berjudul; “The Magic of Thinking Big”.

Hasrat merasa diri penting adalah sifat dasar manusia dan menjadi pembeda nyata antara manusia dan binatang, demikian kata Freud dan Dewey. Namun sayangnya banyak orang para penderita penyakit merasa diri penting berusaha keras mengorbankan segala-galanya hanya untuk disebut diri penting yang kemudian tersungkur ke jurang yang dalam dan menjadi gila dengan 1001 macam jenisnya.

Alice Miller (2000) salah seorang psikiater kenamaan dalam bukunya berjudul; “The Drama of The Gifted Child” menyatakan penyakit merasa diri penting telah terjadi pada masa kanak-kanak, terutama pada anak yang tadinya berprestasi dan dikagumi menyimpan perasaan hampa dan terasing, depresi dan merasa hidupnya tak berarti setelah “Obat Kehebatan” mereka hilang, yakni tidak berada di puncak lagi atau tidak lagi menjadi “Maha Bintang” yang sekian lama disanjung, dipuji dan menjadi idola.

Astronot Apollo, orang pertama yang sampai di bulan dan beberapa atlet olimpiade setelah menjadi pusat perhatian dunia dan kembali dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah jatuh sakit dan menderita penyakit mental yang lebih dikenal Post Olympic Depression. Demikian Robin Sharma (2006) dalam bukunya berjudul; ”Who Will Cry When You Die”.

Baca Juga :  Kesan Haji Tamu Raja 1440 H/2019 M

Setelah dilakukan pengujian “post mortem” ditemukan ternyata manusia menjadi gila tidak berhubungan secara organis dengan sel-sel otaknya sebagaimana diyakini ahli neurologis selama ini. Pertanyaan; “mengapa manusia menjadi gila?”. Beberapa bukti menunjukkan bahwa “manusia menjadi gila dalam usahanya mendapatkan perasaan “Merasa Diri Penting”, namun dunia nyata mengabaikannya atau tidak menganggapnya orang penting”, demikian Dale Carnegie dalam bukunya berjudul; “How to Win Friends and Influence People”.

Kehadiran satu orang saja penderita merasa diri penting dalam sebuah organisasi sangat menghambat kemajuan organisasi. Cynthia Barton Rabe (2014) dalam bukunya “The Innovation Killer” menyatakan bahwa penyakit merasa diri penting (sombong atau ujub) adalah pembunuh inovasi yang utama dan kehadirannya dalam organisasi membuat organisasi menjadi kurang sehat atau tidak mampu tumbuh dan berkembang dengan baik.

Fakta menunjukkan, sering kali ditemukan seorang pejabat merasa dirinya penting, sering terlambat hadir di suatu acara di mana ia bertugas membuka acara tersebut, sementara undangan sudah lama menunggu. Tanpa merasa malu dan bersalah, ia memasuki ruangan pertemuan. Sangat berbeda dengan apa yang pernah penulis alami di setiap acara di Jepang di mana pejabat datang lebih dahulu sebelum acara dimulai dan kita yang hadir merasa setara dengan undangan lainnya. Dulu pernah terjadi seorang pejabat di daerah ini memukul atau menampar seorang bawahannya di tengah jalan raya karena tidak memberi hormat kepadanya di saat keduanya berpapasan ketika sedang jogging atau lari pagi.

Fakta lain, di setiap acara, bahkan ketika hendak melaksanakan ibadah selalu ada manusia yang ingin menempati kursi atau tempat terdepan meskipun ia datang terlambat, seakan-akan kawasan VIP: mihrab dan altar di rumah ibadah tersebut adalah milik pribadinya.

Di masa lalu, tidak tahulah sekarang, apakah berpose/berfoto di samping pejabat atau orang penting masih menjadi dambaan seseorang? Kemudian foto diri tersebut dipigura lebar lalu disimpan di ruang tamu atau ruang kerjanya.

Ali ra (1993) dalam “Nahjul Balaghah” menasihati; “kebanggaan terhadap diri sendiri meskipun hanya sebesar zarah (biji sawi) adalah musuh kebenaran dan penyakit paling parah bagi akal seseorang. Ia merusak diri sendiri sebelum merusak orang lain”. Oleh karena itu suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama di sisi Allah SWT dari pada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu”.

Baca Juga :  Marhaban Ya Ramadan

Rasulullah SAW dan para sahabat mengajarkan kepada kita agar tawadhu’ atau suka merendahkan diri, bukan merasa diri penting, seperti Abu Ubaidah Ibnu Jarrah ra satu di antara sahabat Rasulullaah SAW yang sukses sebagai pimpinan perang selalu berwajah ceria, dan terpuji akhlaknya. Tidak seorang muslim pun merasa dirugikan olehnya. Ia juga dikenal seorang pemalu.

Pada saat kepentingan jemaah kaum muslimin menuntut persatuan, dan kekompakan, beliau berkata, “Kalian jangan berselisih. Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu”.

Beliau sangat mengerti tentang hak menjadi seorang pemimpin sebagai gambaran kerendahan budinya, Misalnya, setelah Rasulullah SAW wafat, banyak orang yang datang menemuinya, termasuk Umar Ibnul Khattab ra hendak membaiat Abu Ubaidah menjadi khalifah pengganti Rasullah SAW, tetapi ia menolak seraya menjawab, “Apakah kalian datang kepadaku sedangkan di tengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga, yang lebih layak menjadi khalifah, maksudnya Abu Bakar ash-Shiddiq”.

Sikap tawadhu’ pada diri Abu Ubaidah jelas terlihat misalnya di suatu hari beliau menjadi iman salat. Ketika dia pergi meninggalkan tempat itu, dia berkata, “Setan telah menggodaku hingga aku merasa bahwa aku lebih baik dari pada orang lain. Oleh karena itu, aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya”. Diceritakan, ia memilih pindah rumah meninggalkan rumah di mana banyak orang sering memujinya. Demi menjaga dari merasa diri penting dan sejenisnya, ia tinggalkan kampung halamannya, pindah ke tempat lain yang lebih aman dari pujian dan sanjungan. Padahal pujian sangat layak diberikan kepada seorang panglima perang. ahli agama dan berkepribadian tawadhu’ kepada semua orang tersebut.

Ibnu Abas ra juga demikian, seorang ahli fikih yang sangat zuhud dan wara’. Ilmu dan amal kita dalam keagamaan tidak sebanding dengan mereka, mengapa kita menyombongkan diri, apa tidak malu kepada diri sendiri. Ngaca, berdiri di depan cermin, tatap jasatmu dengan jujur, ikhlas dan khusyuk.

Bercermin kepada kepribadian seorang sahabat Rasulullah SAW Abu Ubaidah dan Ibnu Abas cukuplah menjadi pelajaran kepada kita, betapa tinggi dan mulianya akhlak mereka, dan rendahnya kualitas akhlak yang kita miliki, dan menjadi bukti rendahnya pula derajat keimanan kita kepada Allah SWT.

*Dosen FKIP Untan

Most Read

Artikel Terbaru

/