Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hakikat Idulfitri: Kembali kepada Fitrah

H
Penulis: Hanif PP❯

Sholihin HZ
Sholihin HZ


Advertisement

Oleh: Sholihin HZ*

 

SETELAH sebulan penuh menjalani ibadah puasa, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya Idulfitri 1 Syawal 1447 H dengan penuh suka cita. Takbir akan berkumandang di masjid-masjid dan rumah-rumah, keluarga saling bersilaturahmi, dan suasana kebersamaan terasa begitu hangat. Namun di balik kemeriahan itu, Idulfitri sejatinya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perayaan setelah Ramadan.

Advertisement

Secara bahasa, Idulfitri berasal dari dua kata: ‘id yang berarti kembali atau berulang, dan fitri yang berasal dari kata fitrah, yaitu kesucian atau keadaan asli manusia. Dengan demikian, Idulfitri dapat dimaknai sebagai momentum kembalinya manusia kepada fitrahnya, yaitu keadaan jiwa yang bersih dan suci setelah ditempa oleh ibadah selama bulan Ramadan.

Alquran memberikan isyarat tentang makna fitrah ini dalam firman Allah. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (QS. Ar-Rum/ 30: 30).”

Dalam tafsirnya, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa fitrah adalah potensi dasar yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, dan condong kepada Tuhan. Menurut beliau, manusia pada hakikatnya diciptakan dalam keadaan suci dan memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Namun dalam perjalanan hidup, fitrah itu sering tertutup oleh dosa, kesibukan dunia, dan berbagai godaan kehidupan. Di sinilah Ramadan hadir sebagai proses penyucian.

Advertisement

Puasa, shalat malam, membaca Alquran, sedekah, serta berbagai ibadah lainnya menjadi sarana untuk membersihkan kembali hati manusia. Karena itu, Idulfitri bukan sekadar tanda berakhirnya puasa, tetapi simbol keberhasilan seseorang dalam membersihkan jiwanya.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ketika seseorang mampu menahan lapar dan dahaga, menjaga lisannya, mengendalikan emosinya, serta memperbanyak amal kebaikan selama Ramadan, maka pada saat Idulfitri ia diharapkan kembali pada keadaan yang lebih bersih dari sebelumnya. Seolah-olah ia kembali seperti bayi yang baru lahir: bersih dari dosa.

Makna ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Oleh karena itu, kegembiraan pada hari raya bukan sekadar karena berhasil menahan lapar selama sebulan, tetapi karena harapan besar bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa kita.

Namun, Idulfitri juga mengandung pesan penting tentang perbaikan hubungan antar manusia. Tradisi saling memaafkan yang dilakukan saat hari raya bukan sekadar budaya, melainkan bagian dari upaya menyempurnakan kesucian hati. Kita tidak mungkin benar-benar kembali kepada fitrah jika masih menyimpan dendam, kebencian, atau permusuhan terhadap sesama. Dalam perspektif Alquran, kesucian hati tidak hanya diwujudkan melalui hubungan dengan Allah, tetapi juga melalui hubungan yang baik dengan sesama manusia.

Itulah sebabnya sebelum Idulfitri umat Islam juga diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Zakat ini memiliki makna sosial yang sangat dalam: membersihkan jiwa orang yang berpuasa sekaligus membantu mereka yang membutuhkan agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.

Mufassir Indonesia saat ini menegaskan bahwa zakat fitrah adalah simbol bahwa kesalehan spiritual harus diiringi dengan kepedulian sosial. Seseorang tidak dapat disebut kembali kepada fitrah jika ia hanya memperbaiki hubungan dengan Allah tetapi mengabaikan kondisi sesamanya.

Karena itu, Idulfitri seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar perayaan tahunan. Jika selama Ramadan kita mampu bangun lebih awal, membaca Alquran lebih sering, memperbanyak sedekah, dan menjaga lisan dari hal-hal yang buruk, maka setelah Ramadan kebiasaan itu seharusnya tetap dijaga, meskipun mungkin tidak sebanyak sebelumnya.

Idulfitri pada hakikatnya adalah kelulusan dari madrasah Ramadan. Seseorang yang benar-benar memahami makna Idulfitri tidak akan kembali kepada kebiasaan buruk yang pernah ditinggalkannya selama bulan puasa. Pada akhirnya, hakikat Idulfitri bukan terletak pada pakaian baru, hidangan yang melimpah, atau kemeriahan perayaan.

Hakikat Idulfitri terletak pada hati yang kembali bersih, hubungan yang kembali harmonis, serta tekad baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Jika setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah, maka itulah tanda bahwa kita benar-benar telah sampai pada makna Idulfitri: kembali kepada fitrah.**

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.

Advertisement

Artikel Terkait

Pln Nusa Daya Up Kalimantan 1 Gelar Apel Siaga Idul Fitri 2026 Untuk Pastikan Keandalan Operasional Dan Pelayanan

Pln Nusa Daya Up Kalimantan 1 Gelar Apel Siaga Idul Fitri 2026 Untuk Pastikan Keandalan Operasional Dan Pelayanan

PLN Nusa Daya UP Kalimantan 1 gelar Apel Siaga Idulfitri 2026 guna memastikan operasional tetap andal

Buya Yahya Ungkap Keutamaan Menafkahi Anak Istri, Pahalanya Lebih Utama dari Sedekah

Buya Yahya Ungkap Keutamaan Menafkahi Anak Istri, Pahalanya Lebih Utama dari Sedekah

Menafkahi anak dan istri bukan sekadar kewajiban keluarga, tetapi juga ibadah dengan pahala besar menurut Buya. Yahya

Jangan Mudah Memvonis Bidah, Rutinkan Amalan Belum Tentu Menyimpang

Jangan Mudah Memvonis Bidah, Rutinkan Amalan Belum Tentu Menyimpang

seseorang bisa saja memilih waktu tertentu sebagai jadwal pribadi agar lebih mudah menjaga keistiqamahan dalam beribadah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer