
Oleh: Santriadi*
UNGKAPAN “belum bisa move on” adalah kondisi seseorang yang masih terikat emosi, kenangan, atau perasaan yang lebih identik dengan mantan kekasih atau masa lalu. Sebagai orang yang beriman (dan berharap naik derajat menjadi orang bertakwa usai berpuasa) harusnya belum bisa move on dari Ramadan yang di dalamnya bertabur keistimewaan, pahala dilipatgandakan dan beragam kebaikan lainnya. Betapa tidak, di bulan Ramadan, ibadah sunah dinilai pahalanya setara dengan ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib dilipatgandakan pahalanya hingga tujuh puluh kali lipat atau lebih.
Kendatipun Ramadan berlalu meninggalkan kita, namun kita harus merindukan suasananya. Biarlah kita belum bisa move on terhadap Ramadan. Belum bisa move on biasanya lebih cenderung bagi orang yang galau dan masih punya kenangan manis dan sebagainya, tapi khusus untuk bulan Ramadan kita harus belum bisa move on agar suasana Ramadan tetap dirasakan pada 11 bulan ke depan.
Ramadan yang juga dikenal dengan bulan tarbiyah (pendidikan) telah melatih kita semua yang berpuasa untuk menahan dan mengendalikan diri agar tidak terlalu memperturutkan hawa nafsu. Ramadan mengajarkan kepada kita untuk selalu melakukan hal-hal baik dan positif agar bisa dilakukan secara berkesinambungan di bulan Syawal dan bulan lainnya hingga bertemu kembali dengan Ramadan. Inilah yang penulis maksud belum bisa “move on” dari bulan Ramadan. Artinya, kebiasaan-kebiasaan yang baik harus tetap kita lestarikan pasca Ramadan.
Belum bisa “move on” dalam artian masih ingin merasakan suasana dan spirit Ramadan yang tidak boleh pergi menghilang sejalan berlalunya cahaya Ramadan, bahkan spirit tersebut harus ditingkatkan dan dipertahankan. Maksudnya? Jika di dalam bulan Ramadan, kita menahan lapar dan dahaga, maka setelah Ramadan kita harus berusaha untuk mengatur makanan dan minuman serta melindungi diri dari sesuatu yang membahayakan kesehatan.
Ingatlah kaidah “makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang”, sehingga kita mengamalkan hadis nabi Muhammad SAW, “Bahwa sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga lagi untuk udara. (HR. Tirmizi dan Ibnu Hibban).”
Pengaturan pola makan yang dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin dengan baik di bulan Ramadan, tidak sekedar berhasil menghemat, akan tetapi bahkan berhasil mengurangi berat badan yang berlebih, karena yakinlah, berat badan yang berlebihan adalah salah satu dari sumber penyakit. Bukti empiris menunjukkan tidak sedikit orang yang berpuasa berat badannya turun dan merasa lebih sehat ketimbang tidak puasa. Inilah yang dibilang ahli medis dengan ungkapan, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.”
Ketika Ramadan kita tidak sekedar menahan laparnya perut dan dahaganya tenggorokan, tetapi kita juga diperintahkan untuk menahan pancaindra kita dari hal-hal yang bisa mencederai nilai dan pahala serta hakikat puasa kita. Menjaga lisan, menjaga pikiran, pandangan, telinga, tangan, kaki dan lainnya, agar puasa kita bernilai tinggi dan berpengaruh positif terhadap diri kita. Jika kita mampu melakukannya di bulan Ramadan, maka demikian juga seharusnya yang kita lakukan di bulan lainnya.
Menjaga anggota tubuh kita, agar selalu berada dalam ketaatan serta fitrahnya, adalah menjadi tanggung jawab serta amanah individu masing-masing, yang benar-benar harus dijaga. Allah SWT Berfirman, “Katakanlah kepada mukmin laki-laki agar menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (QS. An-Nur 30-31)”
Bahkan, tidak segan-segan nabi Muhammad SAW. menjadikan perkataan baik sebagai tugas lisan kita yang menjadi ukuran kesempurnaan iman, beliau SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah berkata baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).”



