
Oleh: Miftahhurrahman*
SEPAK bola seharusnya menjadi panggung pembinaan, ruang belajar tentang disiplin, sportivitas, dan pengendalian diri. Namun, yang terjadi dalam laga Elite Pro Academy U-20 antara Dewa United U-20 dan Bhayangkara FC U-20 justru menghadirkan wajah lain dari olahraga ini, wajah yang penuh emosi, konflik, dan hilangnya kendali.
Insiden yang mencuat ke publik bukan hanya berupa pelanggaran biasa. Tendangan berbahaya, keributan massal, hingga keterlibatan staf pelatih dalam konflik menjadi bukti bahwa sesuatu yang lebih mendasar sedang terjadi. Ini bukan sekadar soal teknik bermain atau keputusan wasit. Ini adalah persoalan tentang bagaimana manusia bereaksi dalam tekanan.
Laporan media menyebut bahwa kericuhan bermula dari gol yang diperdebatkan, yang kemudian memicu protes keras dari pemain Bhayangkara dan berkembang menjadi benturan fisik. Situasi semakin memanas ketika pemain Bhayangkara, Fadly Alberto Hengga, melakukan tendangan berbahaya yang kemudian viral dan menuai kecaman. Insiden ini bahkan berujung pada pencoretan dari tim nasional U-20 sebagai bentuk konsekuensi serius. Namun, jika kita berhenti pada kronologi, kita hanya melihat gejala. Untuk memahami peristiwa ini secara utuh, kita harus masuk lebih dalam, ke dalam tubuh manusia itu sendiri.
Sepak bola adalah olahraga dengan intensitas biologis yang sangat tinggi. Ketika seorang pemain memasuki pertandingan, tubuhnya tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi juga mengalami perubahan fisiologis yang signifikan. Dalam ilmu olahraga, kondisi ini dikenal sebagai stress-competition state, suatu keadaan di mana tubuh merespons tekanan kompetisi melalui aktivasi sistem saraf, hormon, dan emosi secara bersamaan (Filaire et al., 2001; Crewther et al., 2010).
Begitu peluit pertandingan dibunyikan, sistem saraf simpatik langsung aktif. Ini adalah sistem yang bertanggung jawab atas respons fight or flight. Detak jantung meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, dan aliran darah difokuskan ke otot-otot utama. Tubuh bersiap untuk bertarung—secara harfiah maupun metaforis. Dalam kondisi ini, hormon adrenalin dilepaskan dalam jumlah besar. Adrenalin meningkatkan kewaspadaan, mempercepat reaksi, dan memungkinkan pemain mengambil keputusan dalam waktu yang sangat singkat. Tanpa adrenalin, sepak bola tidak akan dimainkan dengan intensitas seperti yang kita lihat hari ini. Namun, adrenalin juga memiliki sisi gelap: ia membuat keputusan menjadi lebih impulsif dan mengurangi kemampuan berpikir jernih dalam situasi emosional (Sapolsky, 2004).
Pada saat yang sama, kadar testosteron juga meningkat. Testosteron sering dikaitkan dengan maskulinitas, tetapi dalam konteks olahraga, ia lebih tepat dipahami sebagai hormon kompetisi. Ia meningkatkan dorongan untuk menang, memperkuat rasa percaya diri, dan mendorong perilaku dominan. Namun, testosteron juga membuat individu lebih sensitif terhadap ancaman terhadap status sosial, termasuk rasa dipermalukan, dirugikan, atau ditantang (Archer, 2006; Carré & Olmstead, 2015). Sementara itu, kortisol sebagai hormon stres turut meningkat. Kortisol membantu tubuh menghadapi tekanan, tetapi dalam kadar tinggi, ia juga meningkatkan kecemasan, ketegangan, dan kecenderungan untuk bereaksi secara emosional (Hellhammer et al., 2009).
Kombinasi adrenalin, testosteron, dan kortisol menciptakan kondisi biologis yang unik: tubuh berada dalam mode siap tempur, emosi meningkat, dan kemampuan berpikir rasional menurun. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Emotional hijacking—ketika sistem limbik mengambil alih sebelum korteks prefrontal sempat mengendalikan respons (Goleman, 1995). Di sinilah kita mulai memahami mengapa tindakan seperti tendangan berbahaya atau keributan massal dapat terjadi dalam hitungan detik. Bukan karena pemain “tidak tahu aturan”, tetapi karena tubuh mereka sedang berada dalam kondisi biologis yang mendorong reaksi cepat dan emosional.
Faktor usia semakin memperkuat kerentanan ini. Pemain dalam kompetisi U-20 berada pada rentang usia 17 hingga 20 tahun, fase yang secara biologis masih berada dalam transisi dari remaja menuju dewasa. Dalam fase ini, perkembangan otak belum sepenuhnya matang. Sistem limbik yang mengatur emosi berkembang lebih cepat dibandingkan korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas kontrol diri dan pengambilan keputusan (Steinberg, 2010).
Akibatnya, individu pada usia ini cenderung: Lebih impulsive; Lebih sensitif terhadap tekanan sosial; Lebih reaktif terhadap provokasi;Lebih sulit mengendalikan emosi dalam situasi kompetitif. Ditambah dengan lonjakan hormon testosteron yang masih tinggi pada fase pubertas akhir, maka risiko terjadinya perilaku agresif dalam situasi kompetitif menjadi semakin besar. Namun, penting untuk ditegaskan: pemahaman ini bukan untuk membenarkan perilaku, melainkan untuk menjelaskan konteksnya.



