Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gentengisasi, Bisakah Menasional?

H
Penulis: Hanif❯
H. Abdul Hamid
H. Abdul Hamid

Advertisement

Oleh: Abdul Hamid*

Genteng adalah salah satu jenis penutup atap rumah tinggal, gudang, atau perkantoran yang terbuat dari tanah liat yang dicetak dan dibakar, dengan bentuk yang bermacam-macam. Jika sebuah rumah tidak memiliki genteng, misalnya karena terlepas akibat gempa bumi atau rangka atapnya runtuh, rumah tersebut menjadi genting dan tidak dapat dihuni.

Menurut ahli bahasa Indonesia, bentuk baku yang tepat sebenarnya adalah genting. Namun, sejauh ini belum lazim ditemukan kalimat seperti, “Tak ada genting, rumah tersebut menjadi genting.” Atau, “Karena menggunakan atap genting, bangunan tersebut menjadi genting; pemiliknya pun menjual bangunan beratap genting itu.”

Advertisement

Saya sendiri, yang dilahirkan dan dibesarkan di Kota Pontianak, yang dahulu banyak menggunakan atap sirap, baru pertama kali melihat genteng (selanjutnya digunakan istilah genteng untuk membedakannya dengan kata genting) pada usia 24 tahun.

Saat itu, saya ditugasi Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) untuk melanjutkan pendidikan di Departemen Teknik Sipil ITB pada tahun 1974, sekitar 52 tahun yang lalu. Hingga kini, setelah 28 tahun era reformasi, rumah beratap genteng di Pontianak masih dapat dihitung dengan jari.

Pada masa itu, umumnya rumah-rumah di Kota Bandung, termasuk di sekitar kampus ITB, menggunakan genteng konvensional (genteng kodok). Hal ini karena genteng mudah diperoleh dan harganya relatif murah per buah, kecuali untuk jenis dengan bentuk dan bahan tanah liat khusus yang dikerjakan lebih teliti. Rangka atap untuk genteng umumnya dibuat dari kayu dan bambu pilihan.

Advertisement

Seiring perkembangan pembangunan perumahan, khususnya pada era Orde Baru, penutup atap mulai dibuat dari berbagai bahan, seperti seng, aluminium, serta beton atau asbes. Masyarakat berpenghasilan rendah cenderung memilih atap seng karena ringan dan terjangkau, tergantung pada ketebalan serta ada atau tidaknya lapisan cat.

Atap genteng konvensional memiliki sejumlah kelemahan, antara lain berat massanya besar, memerlukan struktur rangka atap (kuda-kuda) yang lebih kuat dan mahal, serta rentan terhadap gempa bumi dan angin kencang atau puting beliung.

Atap ini juga rawan bocor, mudah bergeser, mudah retak atau pecah jika diinjak, biaya awalnya tinggi, serta memerlukan pembersihan berkala akibat lumut sehingga biaya perawatannya lebih besar.

Seiring meningkatnya harga kayu untuk bahan rangka atap (reng dan usuk), penggunaan genteng konvensional pada rumah sederhana mulai ditinggalkan. Sejak tahun 1980-an, bermunculan berbagai jenis penutup atap ringan berbentuk genteng yang tetap menggunakan nama genteng, meskipun bahannya bukan tanah liat.

Advertisement

Artikel Terkait

Stunting Mempawah Naik Jadi 28,6 Persen, Pemkab Perkuat Gerakan Orang Tua Asuh

Stunting Mempawah Naik Jadi 28,6 Persen, Pemkab Perkuat Gerakan Orang Tua Asuh

Stunting di Mempawah naik menjadi 28,6 persen pada 2024. Pemkab memperkuat Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting.

Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Kalbar: Lawan Stunting Lewat Gotong Royong Demi Anak Berkualitas

Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Kalbar: Lawan Stunting Lewat Gotong Royong Demi Anak Berkualitas

Kalbar perkuat gotong royong percepat penurunan stunting melalui Program Genting demi lahirkan generasi sehat berkualitas.

Mengungkap Sejarah Kota Pontianak dan Asal-Usul Mitos Kuntilanak di Persimpangan Sungai

Mengungkap Sejarah Kota Pontianak dan Asal-Usul Mitos Kuntilanak di Persimpangan Sungai

Mengulas sejarah penjelajahan Syarif Abdurrahman Alkadrie dan detik-detik berdirinya Kota Pontianak pada 1771.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer