
Oleh: Syamsul Kurniawan*
Model beragama narsistik-eksklusif merupakan salah satu gejala paling menonjol dalam lanskap keberagamaan kontemporer, terutama di era digital yang ditandai oleh dominasi ruang publik virtual. Dalam model ini, identitas agama tidak lagi diposisikan sebagai sumber makna spiritual, melainkan sebagai instrumen untuk membangun superioritas sosial. Individu atau kelompok yang terjebak dalam model ini cenderung menampilkan diri sebagai representasi kebenaran tunggal. Mereka memproyeksikan citra “paling benar” dan “paling lurus” sebagai bagian dari kebutuhan akan pengakuan.
Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia berakar pada perubahan struktur sosial yang mempertemukan agama dengan logika atensi digital, di mana eksistensi sering kali diukur dari seberapa terlihat seseorang di ruang publik. Dalam konteks ini, agama mengalami transformasi dari ruang kontemplasi menjadi arena kompetisi simbolik. Yang dipertarungkan bukan lagi kedalaman makna, melainkan dominasi representasi.
Untuk memahami dinamika ini secara lebih mendalam, Teori Pilihan dari William Glasser (1998) memberikan landasan penting. Glasser menegaskan bahwa perilaku manusia didorong oleh motivasi internal, bukan semata oleh faktor eksternal. Dalam kerangka tersebut, narsisme beragama dapat dipahami sebagai upaya individu memenuhi kebutuhan dasar, khususnya kebutuhan akan kekuasaan (power) dan pengakuan.
Kebutuhan untuk diakui sebagai “paling benar” merupakan manifestasi dari dorongan internal untuk memperoleh status dan legitimasi di mata orang lain. Pada saat yang sama, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (love and belonging) sering kali disalurkan melalui identifikasi kelompok yang eksklusif, yang justru memperkuat batas antara “kita” dan “mereka”.
Di sinilah problem utama muncul. Ketika agama dijadikan alat pemenuhan kebutuhan psikologis tanpa disertai refleksi kritis, maka ia berpotensi melahirkan sikap eksklusif dan bahkan antagonistik. Model beragama narsistik-eksklusif juga berkaitan erat dengan konsep total behavior dalam Teori Pilihan. Perilaku keagamaan tidak hanya berupa tindakan, tetapi juga melibatkan pikiran, perasaan, dan kondisi fisiologis.
Artinya, klaim kebenaran yang eksklusif bukan sekadar pernyataan verbal, tetapi merupakan hasil dari konstruksi psikologis yang kompleks. Ketika individu terus-menerus menginternalisasi narasi superioritas, maka ia akan bertindak, berpikir, dan merasakan dunia dalam kerangka dikotomis: benar versus salah, kita versus mereka.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, pola ini menjadi sangat problematik karena berpotensi memicu polarisasi sosial. Polarisasi ini semakin diperparah oleh fenomena ujaran kebencian dan penistaan agama yang kerap muncul sebagai ekspresi lanjutan dari narsisme religius. Di ruang digital, pola ini diperkuat oleh algoritma yang cenderung memperbesar konten yang provokatif dan emosional. Akibatnya, ekspresi keagamaan yang eksklusif justru mendapatkan panggung yang lebih luas dibandingkan narasi moderat.
Dalam situasi seperti ini, moderasi beragama menghadapi tantangan serius, karena ia kalah dalam hal daya tarik emosional dan viralitas. Namun, persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan normatif yang menekankan “harus moderat”. Diperlukan pendekatan yang lebih mendasar, yaitu memahami akar psikologis dari perilaku tersebut.



