
Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
KESANGGUPAN memahami empat pesan takdir mengisyaratkan jalan kebahagiaan. Betapa tidak, Tuhan mengatur kehidupan supaya berlangsung dalam keseimbangan. Artinya, tidak akan ada banjir, jika manusia mau membatasi diri untuk tidak menjadikan bumi sebagai objek eksploitasi. Karena turunnya air hujan berdasarkan perhitungan Tuhan secara akurat (bi qadar). Sehingga flora bisa tumbuh, fauna bisa berkembang biak.
Ada empat takdir yang jika sanggup disikapi dengan benar, maka akan membawa kebahagiaan. Jika disikapi dengan salah, maka akan mengundang kesengsaraan tanpa berujung.
Takdir tetap berlaku sesuai dengan naskah, diktum baik atau buruk. Sekarang bagaimana cara
menyikapi takdir sehingga mendatangkan kebahagiaan bukan kesengsaraan.
Pertama, rezeki. Sifat rezeki ada saatnya luas, ada waktunya sempit. Dua keadaan tersebut mendidik akhlak syukur dan sabar. Ibarat dua sisi mata uang, syukur di kala lapang dan sabar di kala
sempit. Tuhan tidak pernah memaksa manusia untuk kaya, jaya, sempurna, hebat. Sebab kelebihan dan kekurangan pasti Tuhan pergilirkan diantara semua hamba-Nya. Bukti luka dan sembuh merupakan dualitas yang membersamai kehidupan manusia. Artinya, kemenangan merupakan saudara kandung kekalahan.
Ekspektasi manusia kadang melampaui batas yang ditentukan Tuhan. Karena manusia patuh kepada hawa nafsunya dan mengikuti hawa nafsu orang lain. Ingin kelihatan "wah," hebat, kaya, berkuasa, pintar, terhormat, terpandang, meskipun harus berhutang. Manusia menjadi tawanan bagi hawa nafsunya sendiri. Manusia merasa malu, bila secara ekonomi lebih miskin dari yang lain. Merasa kurang bila tidak memiliki kelebihan khusus. Kondisi ini bila dibiarkan, akan memantik musibah buruk yang lebih besar lagi. Tatkala manusia belum sanggup berdamai dengan takdir rezekinya sendiri.
Apa pesan batin yang terkandung dalam rezeki Tuhan? Menyimpan rahasia rida kepada-Nya, ikhlas, dan bertawakal setelah berusaha, ikhtiar dan doa. Tuhan mendidik manusia menggunakan media semesta sebagai pesan santun. Seperti peredaran bulan di langit berpengaruh terhadap pasang-surut air laut di bumi. Demikian pula hembusan angin dari selatan ke utara, dan dari utara ke selatan sangat berguna bagi nelayan untuk melaut dan petani dalam bercocok tanam.
Kedua, jodoh. Esensi satu diri memiliki unsur dualitas yang menjadi bukti kreasi kesempurnaan ciptaan Tuhan. "Tuhan yang telah menciptakan, menyempurnakan dan membuat keseimbangan di tubuhmu. (Al-Infitar:7)." Fakta keseimbangan, setiap manusia memiliki karakter maskulin (kebapaan) dan karakter feminin (keibuan). Keseimbangan pada neraca semesta (mizan). Jika bapak ibarat langit, maka ibu ibarat bumi.



