
Oleh: Sihabuddin*
Menjadi cantik merupakan dambaan hampir setiap wanita, meskipun pada hakikatnya setiap wanita telah dilahirkan dengan kecantikannya masing-masing. Namun, kecantikan bersifat relatif karena penilaiannya dipengaruhi oleh standar budaya dan lingkungan tempat seseorang berada. Oleh sebab itu, meski setiap wanita pada dasarnya cantik, banyak yang tetap berupaya memenuhi standar kecantikan yang berlaku di sekitarnya. Keinginan untuk tampil cantik dianggap sebagai hal yang wajar, setidaknya untuk diri sendiri maupun pasangan.
Tidak heran jika banyak wanita menyisihkan sebagian penghasilannya, bahkan memiliki anggaran khusus untuk membeli produk dan melakukan perawatan kecantikan. Ada pula yang rela hidup sederhana demi membeli barang yang dianggap dapat menunjang penampilan. Bahkan, sebagian orang rela menghabiskan puluhan juta hingga miliaran rupiah agar tetap terlihat cantik.
Produk dan peralatan kecantikan pun terus diminati dari masa ke masa, layaknya kebutuhan pokok. Merek produk kecantikan mungkin silih berganti karena persaingan pasar, tetapi kebutuhan terhadap produk kecantikan tidak pernah hilang selama masih ada perempuan yang menganggapnya sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan industri kecantikan juga semakin pesat. Layanan perawatan kecantikan kini tidak hanya tersedia di kota besar, tetapi juga mudah ditemukan di kota-kota kecil. Industri skincare, mulai dari merek internasional, nasional, hingga lokal, berkembang sangat cepat. Bahkan, industri skincare lokal di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat sebesar 21,9 persen pada periode 2022–2023. Pertumbuhan ini didominasi oleh merek lokal skala kecil dan menengah. Fenomena tersebut didorong oleh kemudahan sistem maklon, besarnya populasi, serta perubahan skincare menjadi bagian dari gaya hidup dan kebutuhan pokok.
Untuk menunjang penampilan, wanita juga sangat memperhatikan busana dan perhiasan. Tidak heran jika model pakaian wanita jauh lebih beragam dibandingkan pakaian pria. Penjualan pakaian wanita pun cenderung lebih tinggi karena dalam acara tertentu, seperti hari raya, wanita dapat berganti pakaian beberapa kali dalam sehari. Sementara itu, pria umumnya menggunakan pakaian yang sama sepanjang hari.
Selain lebih beragam, pakaian wanita biasanya memiliki lebih banyak detail dan hiasan sehingga harganya cenderung lebih mahal. Tidak hanya pakaian, wanita juga menggunakan berbagai perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, dan aksesori lain yang terbuat dari emas, mutiara, maupun bahan lainnya untuk menunjang penampilan.
Namun, seperti telah disinggung sebelumnya, standar kecantikan wanita tidak dapat dipisahkan dari budaya tempat wanita tersebut berada. Setiap budaya memiliki pandangan tersendiri mengenai kecantikan. Saat ini, standar kecantikan modern umumnya dipengaruhi oleh budaya Barat, seperti tubuh tinggi dan langsing, kulit putih cerah, wajah tirus, hidung mancung, serta rambut sehat.
Meski demikian, beberapa budaya masih mempertahankan standar kecantikannya sendiri. Di Mauritania, misalnya, tubuh gemuk atau berisi dianggap sebagai simbol kecantikan, kekayaan, dan status sosial yang tinggi bagi perempuan. Sementara itu, di Tajikistan, alis tebal yang menyatu di tengah dahi dipandang sebagai simbol kecantikan dan keberuntungan.
Perbedaan standar kecantikan juga banyak ditemukan pada suku-suku tertentu di berbagai negara. Suku Zulu di Afrika Selatan memandang wanita berkulit gelap sebagai sosok yang cantik. Suku Mursi di Ethiopia menganggap bibir yang semakin lebar sebagai simbol kecantikan. Karena itu, wanita suku Mursi memasang piring tanah liat di bibir bawah sebagai tanda kedewasaan dan kecantikan.



