
Oleh: Enny Kurniaty*
BULAN Zulhijah menyapa, ingatan kolektif umat Islam sejagat seketika terbang ke tanah suci Makkah. Jutaan manusia dari berbagai belahan bumi, dengan latar belakang ras, bahasa, dan strata sosial yang berbeda, berkumpul mengenakan sehelai kain putih yang sama yaitu ihram. Di saat yang sama, gema takbir membubung di tanah air, mengiringi syiar penyembelihan hewan kurban.
Namun, di tengah kemegahan ritual yang kolosal ini, kita sering kali terjebak pada aspek seremonial semata. Haji kerap dipandang sebatas perjalanan spiritual personal demi meraih gelar mabrur, sementara kurban sekadar ritual tahunan membagikan daging. Padahal, jika kita menyelami lebih dalam, inti dari kedua ibadah ini bukanlah tentang ritus fisik yang kaku, melainkan sebuah deklarasi kemanusiaan (humanisme) yang luar biasa universal.
Haji dan kurban adalah madrasah agung yang mengajarkan kita untuk meruntuhkan keangkuhan ego dan melihat sesama sebagai saudara setara. Ketika melaksanakan wukuf di Arafah puncak dari ibadah haji seluruh jamaah menanggalkan segala atribut duniawinya. Tidak ada pangkat, tidak ada merek pakaian, tidak ada sekat miskin dan kaya. Di sana, manusia dikembalikan pada fitrah asalnya, makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta dan setara di antara sesama.
Untuk benar-benar merasakan hikmahnya, bayangkanlah jutaan manusia berdiri di bawah terik matahari yang sama, menangis, dan mengemis ampunan tanpa peduli apakah di sampingnya seorang raja atau seorang kuli bangunan. Di Arafah, "ke-aku-an" kita runtuh. Kain ihram tanpa jahitan yang kita kenakan adalah pengingat visual yang puitis bahwa kelak kita akan menghadap Tuhan dengan kain yang sama yaitu kain kafan.
Prinsip kemanusiaan dan kesetaraan yang menggetarkan ini ditegaskan secara eksplisit oleh Allah SWT dalam Alquran. "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Rasulullah SAW juga menggaungkan pesan ini dalam Khutbah Wada’ (khutbah perpisahan) saat beliau menunaikan haji terakhirnya. "Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhanmu adalah satu dan ayahmu satu (Adam). Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang non-Arab atas orang Arab tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas yang berkulit hitam, melainkan karena takwanya." (HR. Ahmad no 22978)
Melalui haji, Islam sedang mendidik umatnya untuk mempraktikkan human equality (kesetaraan manusia) secara nyata. Sepulang dari tanah suci, seorang haji seharusnya memiliki sensitivitas sosial yang tajam, menjadi agen perubahan yang paling depan dalam membela hak-hak kemanusiaan, dan merangkul mereka yang terpinggirkan.
Jika haji menekankan pada aspek kesetaraan global, maka ibadah kurban membawa pesan tersebut ke dalam aksi sosial yang lokal dan nyata. Kisah di balik kurban adalah potret kepasrahan Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS. Namun, hikmah terdalam kurban bagi kita hari ini adalah perintah untuk menyembelih "sifat kebinatangan" yang egois dalam dada kita keserakahan, merasa paling benar, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama.
Secara filosofis, hewan kurban yang kita sembelih melambangkan nafsu keduniawian yang sering kali membuat kita buta. Allah SWT mengingatkan kita bahwa Allah tidak butuh fisik dari hewan yang kita korbankan.



