Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Ada Orang yang Tidak Pernah Merasa Bersalah?

R
Penulis: Rafael B. Junior❯
Diana Fauziah, S.Ag
Diana Fauziah, S.Ag

Advertisement

Oleh: Diana Fauziah, S.Ag.*

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang dengan karakter yang beragam. Ada yang mampu mengakui kekeliruannya dengan lapang dada, tetapi ada pula yang selalu memiliki alasan untuk membenarkan diri. Saat dikritik, ia merasa diserang. Ketika mengalami kegagalan, penyebabnya selalu berasal dari luar dirinya. Ketika hubungan memburuk, orang lain dianggap sebagai pihak yang bermasalah.

Sekilas, sikap seperti ini mudah dipandang sebagai bentuk keegoisan atau sifat manipulatif. Namun, psikologi mengajukan pertanyaan yang berbeda. Alih-alih sekadar menilai perilakunya, psikologi berusaha memahami mengapa sebagian orang begitu sulit menerima bahwa dirinya juga bisa keliru.

Advertisement

Mengucapkan "aku salah" sebenarnya hanya terdiri atas dua kata. Namun, bagi sebagian orang, dua kata itu terasa jauh lebih berat daripada yang dibayangkan. Mengakui kesalahan tidak lagi dipandang sebagai pengakuan atas tindakan yang keliru, melainkan sebagai penilaian terhadap diri sendiri. Kesalahan terasa seperti ancaman yang mengguncang harga diri.

Dalam perspektif psikoanalisis, ego memiliki fungsi menjaga keseimbangan batin. Ketika seseorang menghadapi kenyataan yang memunculkan rasa malu, rasa bersalah, atau takut ditolak, ego dapat bekerja melalui berbagai mekanisme pertahanan.

Tanpa disadari, seseorang mungkin memindahkan kesalahan kepada orang lain, mencari pembenaran atas tindakannya, atau menolak fakta yang bertentangan dengan citra dirinya. Tujuannya bukan semata-mata agar selalu menang, melainkan karena mengakui kekalahan terasa terlalu menyakitkan. Dengan cara itu, ia tetap dapat mempertahankan perasaan aman di tengah situasi yang dianggap mengancam harga dirinya.

Advertisement

Psikologi memang tidak pernah menyatakan bahwa semua perilaku manusia berasal dari masa kecil. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman awal bersama orang tua atau pengasuh berperan penting dalam membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Bayangkan seorang anak yang tidak sengaja menumpahkan air di atas karpet kesayangan orang tuanya. Alih-alih ditenangkan, ia justru mendengar kalimat seperti, "Gimana sih kamu? Punya mata enggak?" atau, "Bisa hati-hati enggak? Jadi basah, kan, karpetnya." Bagi orang dewasa, kalimat itu mungkin terdengar sepele. Namun, jika pengalaman serupa terus berulang, anak dapat belajar bahwa setiap kesalahan akan dibalas dengan rasa malu, penolakan, atau kemarahan.

Pengalaman-pengalaman semacam itu dapat membentuk keyakinan bahwa melakukan kesalahan berarti menjadi pribadi yang tidak layak diterima atau dicintai. Akibatnya, ketika dewasa, kritik tidak lagi dipandang sebagai masukan, melainkan sebagai ancaman. Reaksi defensif yang muncul pun sering kali jauh lebih besar daripada persoalan yang sebenarnya.

Psikologi kepribadian juga menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki harga diri yang stabil. Sebagian individu sangat bergantung pada pengakuan dari luar atau validasi eksternal untuk merasa berharga. Dalam kondisi seperti ini, kritik mudah dimaknai sebagai ancaman terhadap identitas diri. Tidak mengherankan jika menjaga citra diri akhirnya terasa lebih penting daripada memahami persoalan yang sesungguhnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Harisson Tekankan Peran Ayah Bangun Karakter Anak Menuju Indonesia Emas 2045

Harisson Tekankan Peran Ayah Bangun Karakter Anak Menuju Indonesia Emas 2045

Sekda Kalbar Harisson ingatkan pentingnya peran ayah mendampingi anak menghadapi tantangan era digital.

Plagiat, Krisis Karakter di Balik Ijazah

Plagiat, Krisis Karakter di Balik Ijazah

Plagiat dinilai menjadi ancaman serius dunia pendidikan dan merusak integritas akademik generasi muda.

Sekda Kalbar Ajak Generasi Muda Perkuat Karakter dan Tingkatkan Kompetensi

Sekda Kalbar Ajak Generasi Muda Perkuat Karakter dan Tingkatkan Kompetensi

Sekda Kalbar ajak generasi muda perkuat karakter, kompetensi, dan jejaring menuju Indonesia Emas 2045.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer