Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tragedi Dokter Bunuh Diri, Alarm Kesehatan Mental Tenaga Medis

H
Penulis: Hanif❯
Dr. Amalia Irfani, M.Si
Dr. Amalia Irfani, M.Si

Advertisement

Oleh: Amalia Irfani*

Kasus bunuh diri seorang dokter muda di Nusa Tenggara Timur, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (27 tahun) Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.00 WITA, mengguncang publik dan membuka luka sosial yang selama ini tersembunyi. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi pribadi, melainkan refleksi dari tekanan psikologis yang dialami tenaga medis akibat beban kerja berlebihan, intimidasi, dan minimnya perlindungan hukum. Dokter yang seharusnya menjadi penyelamat nyawa justru kehilangan nyawanya sendiri karena depresi yang tak tertangani. Tragedi ini menjadi alarm keras bagi bangsa bahwa kesehatan mental tenaga medis adalah isu mendesak yang harus segera ditangani.

Fenomena bunuh diri (bundir) di kalangan tenaga medis bukan hal baru. Di berbagai negara, dokter memiliki tingkat depresi dan risiko bunuh diri lebih tinggi dibanding profesi lain. Di Indonesia, kasus dr. Icha memperlihatkan betapa rapuhnya sistem perlindungan tenaga kesehatan. Ia diduga mengalami intimidasi dari seorang anggota DPRD saat bertugas di IGD RS Leona, ketika sedang menangani pasien anak korban gigitan ular. Saksi menyebut oknum dewan dalam kondisi mabuk dan berbicara dengan nada keras. Tekanan semacam ini bukan hanya melukai harga diri seorang profesional, tetapi juga menambah beban psikologis yang sudah berat.

Advertisement

Selain intimidasi, beban kerja dokter di Indonesia memang sangat tinggi. Kekurangan tenaga medis membuat banyak dokter harus bekerja dengan jam panjang, menghadapi pasien dalam kondisi darurat, dan menanggung risiko emosional yang besar. Dalam situasi seperti itu, kesehatan mental sering diabaikan. Stigma sosial terhadap depresi membuat dokter enggan mencari bantuan psikologis, karena takut dicap lemah atau tidak profesional. Akibatnya, banyak kasus depresi tersembunyi hingga berujung fatal.

 

Bundir dari Perspektif Sosiologi

Advertisement

Dalam perspektif Sosiologi, Émile Durkheim Bapak Sosiologi Modern membagi bunuh diri ke dalam beberapa kategori,  egoistik, altruistik, anomik, dan fatalistik. Kasus dr. Icha dapat dipahami sebagai bentuk fatalistic suicide, yakni bunuh diri akibat tekanan sosial yang ekstrem dan hilangnya harapan. Ia berada dalam situasi di mana pilihan dan kontrol atas hidupnya terasa sangat terbatas, sehingga jalan keluar yang dipilih adalah mengakhiri hidup.

Teori stres kerja Robert Karasek juga relevan untuk menjelaskan fenomena ini. Menurut Karasek, stres kerja muncul ketika tuntutan pekerjaan tinggi tetapi kontrol terhadap pekerjaan rendah. Dokter sering menghadapi tuntutan besar menyelamatkan nyawa, bekerja dalam kondisi darurat, namun memiliki kontrol yang terbatas atas situasi. Kombinasi ini memicu stres kronis yang berujung pada depresi.

Sementara itu, teori labeling dari Howard Becker menjelaskan bagaimana stigma terhadap kesehatan mental memperburuk keadaan. Dokter yang mengalami depresi enggan mencari pertolongan karena takut dilabeli “tidak profesional” atau “tidak kuat.” Label sosial ini membuat mereka menutup diri, sehingga masalah psikologis semakin memburuk.

Kasus dr. Icha menegaskan adanya krisis perlindungan tenaga medis di Indonesia. Ketimpangan kekuasaan antara pejabat dan dokter memperlihatkan budaya birokrasi yang tidak sehat. Dokter yang seharusnya dihormati justru diintimidasi. Kekerasan verbal maupun fisik terhadap tenaga kesehatan masih sering terjadi, dan hal ini memperburuk kondisi psikologis mereka. Budaya kerja yang menuntut dokter untuk selalu siap, tanpa ruang aman untuk mengelola stres, menjadikan profesi ini semakin rentan terhadap depresi.

Selain itu, kasus ini menunjukkan lemahnya sistem hukum dalam melindungi tenaga medis. Ketika dokter diintimidasi, mekanisme perlindungan sering tidak berjalan efektif. Hal ini menimbulkan rasa tidak aman bagi tenaga kesehatan, yang seharusnya bekerja dengan tenang demi keselamatan pasien. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka profesi dokter akan semakin kehilangan daya tarik, dan krisis tenaga medis akan semakin parah.

Advertisement

Artikel Terkait

Bupati Ketapang Ajak Masyarakat Rutin Donor Darah untuk Perkuat Aksi Kemanusiaan dan Kesehatan

Bupati Ketapang Ajak Masyarakat Rutin Donor Darah untuk Perkuat Aksi Kemanusiaan dan Kesehatan

Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengajak masyarakat rutin donor darah untuk membantu sesama dan menjaga ketersediaan stok darah.

Sejuta Vaksin HPV untuk ASN Kalbar Resmi Dimulai, Perkuat Perlindungan Kesehatan Perempuan

Sejuta Vaksin HPV untuk ASN Kalbar Resmi Dimulai, Perkuat Perlindungan Kesehatan Perempuan

Pencanangan Sejuta Vaksin HPV bagi ASN di Kalbar menjadi langkah memperkuat perlindungan kesehatan perempuan melalui vaksinasi dan edukasi.

Cara Memasak Sayur Ternyata Berpengaruh pada Kesehatan Jantung, Ahli Gizi Ungkap Alasannya

Cara Memasak Sayur Ternyata Berpengaruh pada Kesehatan Jantung, Ahli Gizi Ungkap Alasannya

Cara memasak sayuran memengaruhi kandungan gizinya. Ahli gizi menjelaskan metode terbaik bagi penderita penyakit jantung.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer