Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Matamuda: Pedagogi Cinta di Gerbang Madrasah

R
Penulis: Rafael B. Junior❯
Mustafa
Mustafa

Advertisement

Oleh: Mustafa*

Setiap awal tahun pelajaran, halaman madrasah selalu menghadirkan pemandangan yang menggetarkan hati. Seorang ibu membetulkan kerah seragam anaknya untuk terakhir kali. Seorang ayah menggenggam tangan putranya sambil berpesan, “Belajarlah dengan sungguh-sungguh, hormati guru, cintai teman-temanmu, dan jagalah salatmu.”

Beberapa saat kemudian, kendaraan meninggalkan halaman madrasah, sementara seorang anak masih berdiri memandang hingga bayangannya menghilang di tikungan jalan.

Advertisement

Sesungguhnya, pada saat itulah seorang murid tidak hanya memasuki lingkungan madrasah. Ia sedang melangkah menuju ruang peradaban, tempat ilmu dipelajari, akhlak dibentuk, karakter ditempa, dan masa depan mulai dirajut. Karena itu, Masa Ta'aruf Murid Madrasah (Matamuda) tidak semestinya dipahami hanya sebagai kegiatan pengenalan lingkungan atau pembacaan tata tertib. Matamuda adalah gerbang pendidikan yang membentuk kesan pertama murid terhadap madrasah. Cara mereka disambut akan memengaruhi cara mereka belajar, berinteraksi, dan mencintai ilmu.

 

Pedagogi Cinta

Advertisement

 

Bagi penulis, Matamuda perlu dibangun di atas pedagogi cinta, yaitu pendekatan pendidikan yang menjadikan cinta, penghormatan terhadap martabat manusia, keteladanan, dialog, dan pengasuhan sebagai dasar pembentukan karakter. Disiplin tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan madrasah, tetapi disiplin yang tumbuh dari kesadaran akan jauh lebih kuat daripada kepatuhan yang lahir karena ketakutan.

Dalam suasana yang penuh kasih sayang, murid tidak merasa diawasi, melainkan didampingi. Mereka tidak sekadar menaati aturan, tetapi memahami makna di balik setiap aturan. Pendidikan pun berubah dari proses mengendalikan menjadi proses menumbuhkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara (1962), menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Kata "menuntun" menjadi sangat penting karena guru bukan penguasa yang memaksakan kehendak, melainkan pembimbing yang membantu setiap anak menemukan potensi terbaiknya.

Nilai tersebut dipertegas oleh firman Allah SWT, "Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (li ta'arafu)…." (QS. 49: 13).

Advertisement

Artikel Terkait

Achmad Sholeh Dukung Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah, Ajak Para Ayah Lebih Aktif Dampingi Pendidikan

Achmad Sholeh Dukung Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah, Ajak Para Ayah Lebih Aktif Dampingi Pendidikan

Ketua DPRD Ketapang Achmad Sholeh dukung Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah, ajak ayah aktif dampingi pendidikan anak.

Dinas Pendidikan Kayong Utara Tegaskan MPLS 2026 Wajib Bebas Perpeloncoan dan Kekerasan

Dinas Pendidikan Kayong Utara Tegaskan MPLS 2026 Wajib Bebas Perpeloncoan dan Kekerasan

Dinas Pendidikan Kayong Utara menegaskan MPLS 2026 wajib bebas perpeloncoan dan mengutamakan sekolah yang aman dan ramah.

Norsan Minta CSR Perusahaan di Kalbar Tepat Sasaran: Prioritaskan Pendidikan, Stunting, dan Infrastruktur

Norsan Minta CSR Perusahaan di Kalbar Tepat Sasaran: Prioritaskan Pendidikan, Stunting, dan Infrastruktur

Ria Norsan mengarahkan program CSR perusahaan di Kalbar fokus pada pendidikan, stunting, dan infrastruktur demi percepat pembangunan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer