
Oleh: Sholihin HZ*
DARI Ibnu Abbas ra, mengatakan ketika Jibril as duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba ia mendengar ada suara terdengar dari atas. Lantas Jibril memandang ke atas dari arah sumber suara. Jibril berujar yang menyatakan bahwa selama ini pintu langit ini tidak pernah terbuka, dan apa gerangan sehingga pintu ini terbuka. Kemudian turunkan seorang malaikat menghampiri malaikat Jibril sehingga Jibril berkata, “Malaikat ini tidak pernah turun ke bumi.”
Malaikat ini kemudian mengucapkan salam dan berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang telah diturunkan kepadamu. Belum pernah diturunkan sebelumnya kepada nabi manapun. Dua cahaya tersebut adalah surat al Fatihah dan penutup surat al Baqarah.”
Malaikat itupun berujar, “Tidaklah engkau membaca satu hurufpun daripada keduanya, melainkan engkau akan diberi (apa yang menjadi permohonanmu).”
Rasulullah SAW lantas bersabda, “Jangan jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat al Baqarah.”
Pada redaksi lain, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa membaca dua ayat di akhir surat al-Baqarah dalam satu malam, maka cukuplah dua ayat tersebut sebagai penyebab perlindungan Allah kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Penjelasan di atas dapat diambil beberapa point penting. Pertama, Jibril dan Nabi SAW biasa berjumpa untuk menyampaikan informasi sebagai layaknya dua sahabat. Dalam momen tertentu, Rasulullah membaca Al Qur’an di hadapan malaikat Jibril. Pertemuan yang selalu membawa kebaikan dan inilah selayaknya pertemuan sahabat, saling mengingatkan dan menginformasikan kebaikan. Kedua, siapapun yang dekat dengan sesuatu yang mulia maka ia terikut menjadi mulia.
Jibril sebagai ruhul quds menjadi mulia salah satunya karena membawa kalam Ilahi yang mulia dari Zat yang Maha Suci (Quddus), kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga dengannya menjadi sayyidul anbiya i wal mursalin (penghulu para nabi dan rasul). Al Qur’an diturunkan di dua kota suci Makkah dan Madinah sehingga keduanya menjadi haromain. Allah SWT memuliakan mereka yang dekat dengan Al Qur’an, membacanya, menghafalkannya dan mengamalkannya sebagai ahlulllah (‘keluarga’ Allah) sebagai kiasan dekatnya dan pengakuan sebagai orang yang mencintai Al Qur’an.
Berikutnya, Al Qur’an al Karim (Al Qur’an yang Mulia) berisikan nasehat, pelajaran, kisah juga obat (penawar) sakit manusia. Bukan sakit fisik, bukan sakit jasmani tapi sakit psikis dan ruhani manusia. Psikis manusia termasuk di dalamnya adalah pikiran manusia. Motivasi kebaikan yang terdapat di dalam Al Qur’an menjadi penawar dan pencegahan terhadap sakit manusia.
Al Qur’an menyatakan sebagaimana dalam Qs. Al An’am/ 6: 160: “Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan).”



