
Oleh: Dr. Ir. Naufal Mahfudz, MBA, MM
Gagasan pendirian Universitas Republik Indonesia (URI) tidak dapat dipahami semata sebagai penambahan satu perguruan tinggi baru dalam lanskap pendidikan tinggi nasional. Ia harus dibaca sebagai tawaran institusional untuk menjawab problem mendasar kepemimpinan Indonesia, yaitu fragmentasi pembinaan pemimpin, lemahnya integrasi antara pendidikan akademik dan praksis kenegaraan, serta belum terbentuknya ekosistem yang secara sistematis menyiapkan pemimpin nasional lintas sektor dengan orientasi jangka panjang.
Dengan demikian, pertanyaan utamanya bukan sekadar “apakah Indonesia memerlukan URI”, melainkan “model URI seperti apa yang benar-benar dapat menambah nilai bagi sistem kepemimpinan nasional yang sudah memiliki Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, universitas-universitas negeri, dan lembaga-lembaga pengembangan sumber daya manusia lainnya”.
Indonesia menghadapi tantangan kepemimpinan yang semakin kompleks, disrupsi teknologi, perubahan geopolitik, krisis iklim, ketimpangan sosial, polarisasi politik, serta tuntutan tata kelola pemerintahan yang transparan dan adaptif. Dalam konteks ini, kepemimpinan tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan administratif atau retorika politik, tetapi sebagai kapasitas strategis untuk membaca perubahan, membangun konsensus, mengelola konflik, dan menjaga keberlanjutan bangsa.
Model pembinaan kepemimpinan di Indonesia selama ini cenderung bersifat sektoral. Birokrat dibina melalui jalur administrasi pemerintahan, militer melalui sistem pendidikan pertahanan, akademisi melalui universitas, dan politisi melalui mekanisme partai. Akibatnya, ruang perjumpaan lintas sektor yang menghasilkan pemahaman bersama tentang visi kebangsaan masih terbatas. Di sinilah URI dapat diposisikan sebagai institusi yang berupaya mengintegrasikan dimensi akademik, strategis, dan praksis dalam pembentukan pemimpin nasional.
Posisi URI
Lemhannas memiliki mandat utama dalam pendidikan pimpinan tingkat nasional, pengkajian strategis ketahanan nasional, dan pemantapan nilai-nilai kebangsaan. Lemhannas, selama ini menjadi wahana penting bagi pejabat sipil, militer, dan tokoh masyarakat untuk memperoleh perspektif strategis mengenai ketahanan nasional.
Namun, Lemhannas pada dasarnya merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan strategis bagi pemimpin yang telah berada pada jenjang tertentu dalam kariernya. Artinya, Lemhannas lebih berfungsi sebagai institusi penguatan dan pemantapan kepemimpinan, bukan sebagai universitas yang membangun fondasi kepemimpinan sejak tahap awal pendidikan tinggi.
URI, jika didirikan, tidak boleh mengambil alih fungsi Lemhannas. Sebaliknya, URI harus menjadi jalur hulu yang menyiapkan kader pemimpin nasional, sebelum mereka memasuki fase penguatan strategis di Lemhannas. Dengan demikian, hubungan URI–Lemhannas bersifat komplementer. URI membangun basis intelektual, karakter, dan kapasitas kepemimpinan, sedangkan Lemhannas mematangkan perspektif strategis dan kebangsaan pada level pimpinan nasional.
LAN RI berfokus pada pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN), reformasi birokrasi, inovasi administrasi publik, dan pelatihan kepemimpinan birokrasi. LAN memiliki peran vital dalam menciptakan birokrasi yang profesional dan berorientasi pelayanan publik. Keterbatasan LAN terletak pada ruang lingkupnya yang dominan pada sektor pemerintahan.



