
Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
IMAN kepada dua sifat utama Allah SWT, yaitu sifat jamal dan jalal, menjadi harmoni dalam kehidupan alam semesta. Tumbuhan dan hewan yang diciptakan berpasangan menjadi tanda bahwa Zat Allah Yang Maha Esa tidak memiliki pasangan.
Seluruh makhluk hidup menjalankan dua sifat tersebut. Jamal berarti sifat kelembutan, keindahan, keelokan, kesantunan, serta seluruh nama, sifat, zat, dan perbuatan kasih sayang serta kemurahan dari-Nya. Sementara itu, jalal berarti sifat keagungan, kebesaran, keperkasaan, keterpujian, kemuliaan, termasuk memberikan peringatan, hingga memaksa dan mengalahkan.
Perlu dipahami bahwa Dia Yang Maha Memulai tidak dapat diperintah oleh siapa pun apabila Dia belum berkehendak untuk memulai. Dia Maha Menahan karunia (menutup tangan-Nya), sehingga tidak ada seorang pun yang mampu membuka tangan-Nya. Bagaimanapun seseorang ingin berubah, tetapi apabila Dia belum memberikan restu, seseorang tidak akan berubah sampai Allah SWT berkehendak mengubahnya.
Sebab, sifat manusia adalah lemah dalam kehendak (‘ajuz). Memaksakan sesuatu yang belum tiba waktunya sebagai takdir baik bagi seseorang tidak akan mampu dilakukan oleh dirinya maupun orang lain. Sebaliknya, apabila seseorang telah ditakdirkan mendapatkan suatu keburukan, tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi datangnya takdir tersebut.
Artinya, sifat jamal Allah SWT hadir dan kembali dalam kehidupan manusia sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan-Nya sejak masa azali. Begitu pula sifat jalal Allah SWT apabila datang, sungguh tidak dapat dibendung dan tidak mampu ditahan oleh siapa pun. Perlakuan jamal dan jalal-Nya pasti terjadi.
Sebagai contoh, Allah SWT memberikan sifat jamal-Nya dalam bentuk rahmat kepada Nabi Musa AS dan menuntunnya menuju jalan kebenaran sehingga mendapatkan keselamatan. Sebaliknya, Allah SWT memberikan sifat jalal-Nya berupa siksa yang pedih kepada Fir’aun karena memilih kesesatan daripada petunjuk.
Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada pasien yang sedang menunggu kesembuhan. Apakah sifat jamal atau sifat jalal Allah SWT yang diturunkan kepadanya? Apabila sifat jamal yang menyapa, pasien akan kembali sehat lahir dan batin seperti sediakala tanpa menyisakan rasa sakit. Namun, apabila sifat jalal yang datang, sakit tersebut dapat berlangsung panjang dan berakhir dengan takdir kematian. Meskipun ditangani oleh tim dokter ahli, tetap saja tangan Allah SWT berada di atas tangan-tangan manusia.
Ketika Allah SWT menetapkan sifat jamal-Nya kepada seseorang, Dia menyiapkan jalan yang mengantarkan kepada kebaikan melalui kemurahan, kelembutan, kelapangan, dan kesantunan dari-Nya. Bukti dari hal tersebut adalah Dia memudahkan hamba untuk taat dengan membuka pintu ketaatan dan penerimaan amal, serta menutup pintu kemaksiatan.
Sebaliknya, apabila Dia menghendaki keburukan pada seseorang, Dia dapat menutup pintu ketaatan dan membuka pintu kemaksiatan. Di sinilah pelajaran bahwa seorang hamba tidak boleh sombong kepada Allah SWT, Sang Penentu takdir.



