
Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
SETIAP ibadah pasti berdampak positif terhadap kesehatan jasmani dan rohani seseorang, termasuk zikir. Kebermanfaatan zikir secara makro mampu mendatangkan ketenangan bagi sebuah negeri, bahkan semesta. Bukti bahwa negeri dan semesta berzikir menjadi sebab Tuhan menurunkan rahmat ketenangan. Kebermanfaatan zikir secara mikro, minimal, adalah menghadirkan ketenangan hati seorang penzikir (dzakir).
Mengapa ketenangan hidup menjadi faktor yang sangat utama? Tenang dan ketenangan merupakan modal untuk berpikir sehat sebelum melangkah. Maksudnya, berpikir sebelum melangkah dan berpikir sebelum berbuat jauh lebih baik daripada melangkah sebelum berpikir atau berbuat sebelum berpikir. Skemanya adalah berzikir, tenang, berpikir, lalu bertindak. Respons spontan lebih banyak tidak menguntungkan. Refleks bertindak biasanya akan merugi di ujung. Oleh karena itu, Islam mengajarkan tabayyun (konfirmasi) sebelum memutuskan perkara.
Cek terlebih dahulu materi sebelum berkomentar karena mulut yang berbicara bisa menjadi jalan menuju surga atau neraka seseorang. Zikir mengajak seseorang memahami dari mana dirinya datang, di mana dan untuk apa sekarang berada, lalu ke mana akan kembali pulang. Jika hidup akan berakhir dengan kematian, untuk apa hidup disombongkan dan untuk apa hidup dikeluhkesahkan? Sombong merupakan sumber penyakit, demikian pula keluh kesah. Maka, kesombongan jangan ditonjolkan dan keluh kesah jangan dikisahkan. Bila kesah dikisahkan, musuhmu akan bersyukur dan temanmu akan menjauh, kecuali sahabat setia yang tetap setia di kala sehat maupun sakit.
Kebermanfaatan zikir sangat ampuh untuk kesehatan lahir dan batin karena zikir membangun kesadaran fisik dan mental. Kesadaran adalah modal hidup untuk meraih cita-cita dan harapan. Mereka yang memiliki kesadaran akan sanggup dan tahan uji untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang.
Misalnya, orang yang bersungguh-sungguh kuliah akan memperoleh hasil yang memuaskan. Artinya, ia sanggup menahan atau menunda kesenangan sekarang demi kebahagiaan yang akan datang. Demikian pula seseorang yang menunaikan perintah dan meninggalkan larangan Allah Swt. di dunia akan meraih kebahagiaan abadi di akhirat, yakni surga.
Di samping itu, kebermanfaatan zikir sanggup menyambung frekuensi hubungan harmonis antara ketuhanan dan kemanusiaan. Frekuensi ketuhanan berdiameter spiritual, sedangkan frekuensi kemanusiaan berdiameter sosial. Orang yang berzikir kepada Tuhan akan memberi pengaruh positif terhadap sesama manusia. Jangan lupakan Allah meskipun satu detik. Orang yang selalu lalai sungguh Allah sedang mengujinya melalui kekayaan dan kemiskinan. Membiasakan zikir merupakan sebuah kekuatan untuk melawan kelemahan diri. Para penzikir laki-laki (dzakirin) dan para penzikir perempuan (dzakirat) sedang menggunakan daya upaya dan kuasa Tuhan.
Rahasia kalimat yang terkandung dalam zikir adalah, “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan Allah” (kalimah hauqalah). Fakta manfaat kalimah hauqalah di tangan Nabi Daud, besi menjadi lunak. Manfaat kalimah hauqalah di tangan Nabi Musa, tongkat menjadi ular. Nabi Ibrahim, api menjadi sejuk, dingin, dan keselamatan atasnya. Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, mengobati orang buta, dan menyembuhkan orang kusta dengan izin Allah Swt.
Zikir la ilaha illallah (tidak ada Tuhan kecuali Allah) dimaknai tidak ada kuasa manusia kecuali Allah. Tidak ada yang wujud kecuali Allah, tidak ada yang melihat kecuali Allah, dan tidak ada yang mendengar kecuali Allah. Kalimat syahadat mampu melembutkan hati yang keras dan mencairkan hati yang beku karena dosa. Bukan sekadar meyakini kalimat syahadat, tetapi yakin kepada kuasa pemilik syahadat. Bukan menyembah rumah Allah, tetapi menyembah Tuhan Allah, Sang Pemilik rumah ini (Ka'bah).
Zikir astagfirullah (aku mohon ampun kepada Allah) yang dilazimkan minimal 70 kali sehari semalam akan membersihkan kotoran dan daki batin dari penzikir. Hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud menyebutkan, “Siapa yang membiasakan istighfar, Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari semua kesempitan. Dan akan memberikan rezeki kepadanya dari segala arah yang tidak terduga.”



