Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bahaya Ego

H
Penulis: Hanif PP❯
Ma
Ma'ruf Zahran Sabran

Advertisement

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

MOHON ampun kepada-Nya sudah menjadi kebiasaan kaum beriman, laki-laki dan perempuan. Sebab, dipastikan sebagai seorang hamba memiliki dosa. Dosa merupakan penghalang (hijab) hajat dan doa kepada-Nya. Hijab terbesar adalah ego, kesombongan diri terhadap-Nya yang Agung.

Tidak mungkin di dunia ada dua, tiga, empat, atau lebih banyak keagungan, kemurahan, dan kesempurnaan. Jangan mau disanjung sebagai manusia agung. Jangan mau dianggap manusia pemurah. Jangan mau dikata manusia sempurna. Mahaagung, Mahapemurah, Mahasempurna hanya satu, milik Allah. Niscaya Dia tidak akan menerima salat, puasa, zakat, haji, dan doa dari hati yang sombong.

Advertisement

Sombong, saudara kembar durhaka. Pasti Allah tidak menerima doa dari hati yang sombong. Orang sombong tampak dari kehidupan sehari-hari yang menolak kebenaran dan merendahkan sesama. Tidaklah doa mereka, kecuali dalam kesesatan karena berangkat dari hati yang lalai.

Ternyata, sangat dianjurkan sebelum berdoa untuk memohon ampun kepada-Nya terlebih dahulu. Istighfar ibarat pembukaan sebelum ke acara inti, yakni doa.

Mereka yang tidak mau melakukan introspeksi, evaluasi, dan muhasabah diri, tidak berguna lagi nasihat untuknya. Karena semua standar kebenaran berpusat pada dirinya (egosentris). Penentuan barometer benar-salah terdapat pada diri sendiri.

Advertisement

Dampaknya, orang yang egosentris akan sulit membangun pertemanan sejati. Sebab, jiwanya hanya ingin kehadirannya diterima dan dihargai. Namun, tidak mau menerima kehadiran orang lain.

Dampak penyerta lainnya, orang yang egois akan sulit membentuk keluarga sakinah, mawaddah warahmah. Karena orang di sekitarnya dibuat untuk tidak tenang. Mulai dari gaya bahasa sarkas, pembicaraan yang menyerang (ofensif), sampai konflik yang dihadirkan setiap hari.

Selama tidak menyadari bahwa diri merupakan bagian dari diri-diri yang lain, aku adalah bagian dari aku-aku yang lain. Selama itu pula masih berpola pikir negatif-ofensif, yaitu lebih baik menyerang daripada diserang.

Orang sekitar selalu dibuat gaduh, kalut, dan kusut. Orang lain disuruh memahami dirinya. Dirinya tidak pernah benar-benar memahami orang lain.

Advertisement

Artikel Terkait

Jangan Sembarangan Menetapkan Amalan Khusus, Ibadah Harus Berdasarkan Dalil

Jangan Sembarangan Menetapkan Amalan Khusus, Ibadah Harus Berdasarkan Dalil

Masalah muncul ketika pengaturan amalan pribadi kemudian dianggap sebagai aturan syariat yang memiliki keutamaan khusus, padahal tidak terda

Menentukan Waktu dan Jumlah Ibadah Sendiri, Apakah Termasuk Bidah?

Menentukan Waktu dan Jumlah Ibadah Sendiri, Apakah Termasuk Bidah?

Target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir tidak termasuk bidah..

Keutamaan Salat Subuh dan Ashar, Dua Ibadah yang Membuka Jalan Menuju Surga

Keutamaan Salat Subuh dan Ashar, Dua Ibadah yang Membuka Jalan Menuju Surga

siapa yang mengerjakan dua salat pada waktu dingin akan masuk surga. Dua waktu yang dimaksud adalah salat Subuh dan Ashar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer