
Oleh: Dewi Puryanti, ME*
ADA sesuatu yang selalu terasa ironis setiap kali langit Kalimantan Barat berubah kelabu.
Matahari masih ada, tetapi cahayanya seperti kehilangan tenaga. Jarak pandang menurun. Bau asap memasuki rumah. Tenggorokan terasa kering dan mata perih. Anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas justru harus belajar dari rumah.
Kita kembali berhadapan dengan persoalan yang sebenarnya bukan sesuatu yang baru: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap. Namun, ada satu hal yang semestinya membuat kita lebih khawatir. Kabut asap tahun ini bukan sekadar gangguan musiman. Data menunjukkan bahwa persoalan karhutla di Kalimantan Barat sudah berada pada skala yang sangat serius.
Data Kementerian Kehutanan yang dikutip pemerintah dan BPBD Kalimantan Barat menunjukkan bahwa sepanjang Januari–Juni 2026, luas karhutla di Kalimantan Barat mencapai 28.216,31 hektare. Angka ini menjadikan Kalimantan Barat sebagai provinsi dengan luas karhutla terbesar di Indonesia pada periode tersebut. Luasan itu bahkan mencapai sekitar 26,7 persen dari total luas karhutla nasional yang pada periode yang sama mencapai 107.465,47 hektare.
Angka tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas. Di dalam 28 ribu lebih hektare itu terdapat lahan masyarakat, kawasan gambut, vegetasi, habitat satwa, sumber ekonomi, dan ruang hidup manusia. Tiga wilayah yang tercatat memiliki luasan terbakar terbesar hingga Juni adalah Ketapang sekitar 8.095,5 hektare, Kubu Raya 7.913,05 hektare, dan Mempawah 6.139,53 hektare.
Memasuki Agustus, situasinya kembali mengkhawatirkan.
Pada 20 Agustus 2026, data satelit BMKG yang diberitakan sejumlah media mencatat ribuan hotspot di Kalimantan Barat. Salah satu laporan menyebut 3.759 hotspot di Kalbar, dengan Ketapang menjadi wilayah dengan konsentrasi terbesar.
Tetapi, angka hotspot harus dibaca dengan hati-hati. Hotspot bukan berarti setiap titik tersebut adalah kebakaran aktif yang memiliki luasan sama. Hotspot merupakan indikator panas yang terdeteksi satelit dan perlu diverifikasi di lapangan. Karena itu, angka hotspot sebaiknya digunakan sebagai sinyal peringatan dini, sementara luas terbakar digunakan untuk menggambarkan dampak kebakaran.
Justru di sinilah persoalannya: ketika dua indikator tersebut sama-sama menunjukkan tekanan yang tinggi, kita tidak seharusnya menunggu sampai asap semakin tebal untuk bertindak.



