Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kesadaran ber-SIM

H
Penulis: Hanif❯
Heriansyah
Heriansyah

Advertisement

Oleh: Heriansyah 

 “SUNGGUH telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT., hari kiamat, dan banyak mengingat Allah SWT.” (Q.S. Al-Ahzab: 21).

Ayat ini mengingatkan kita pada satu peristiwa, yakni Perang Khandaq atau Al-Ahzab atau perang sekutu. Ada yang menceritakan bahwa perang tersebut terjadi pada musim kemarau dan Rasulullah sendiri membantu dalam penggalian parit tersebut. Ide penggalian atau pembuatan parit itu berasal dari seorang anak muda bernama Salman Al-Farisi.

Advertisement

Rasulullah sendiri ikut menggali. Bahkan, ada riwayat yang menceritakan beberapa kali beliau bertakbir saat menemukan batu besar yang agak sulit untuk dipecahkan. Dari persiapan perang saat itu dan ayat di atas, kita dipilihkan dan ditunjukkan langsung oleh Allah SWT. untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan.

Hari ini, sedikit sekali pemimpin yang mau ikut merasakan kesulitan bersama rakyat dalam menghadapi persoalan hidup. Melalui momentum Maulid Nabi, kita berharap banyak hal penting untuk kita biasakan demi menghadirkan pemimpin yang dapat dijadikan role model.

Judul di atas, “Kesadaran Ber-SIM”, adalah akronim dari Spiritual, Intelektual, Moral (SIM). Singkatan ini biasa digunakan guru-guru kami untuk mempermudah dalam mengingat. SIM ini sangat penting untuk dimiliki umat Islam, khususnya.

Advertisement

Walaupun hingga hari ini tidak ada yang melebihi atqanya Rasulullah, dengan kembali mempelajari kehidupan dan mendalami kitab suci yang dibawa Nabi Muhammad, kita akan berupaya diajak ber-SIM.

Pertama, kesadaran spiritual. Membangun hubungan baik kepada Sang Khaliq bukan hanya untuk investasi akhirat, tetapi juga sebagai fasilitas memperoleh petunjuk dalam menjalani kehidupan dunia, yang diikuti dengan kesabaran, bertahan dengan kondisi yang ada dan terus mengupayakan semestinya yang diridai-Nya, tanpa batas. Petunjuk itu bisa hadir melalui salat atau ide yang kita konfirmasi lagi dengan Al-Qur’an. Selagi tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, mungkin itulah petunjuk maunah Allah SWT.

Kedua, kesadaran intelektual. Spiritual yang meningkat mestinya mengantarkan kepada amal yang menanjak. Untuk beramal benar, diperlukan intelektual atau ilmu. Karena itu, menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Sebagaimana Allah juga mengingatkan bahwa Dia mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu (lihat Q.S. Al-Mujadilah ayat 11). Islam bukan hanya menekankan kebaikan secara spiritual, tetapi juga terus mendorong meningkatnya intelektual.

Ketiga, kesadaran moral. Nabi Muhammad dipuji Allah SWT. dan diabadikan dalam Al-Qur’an memiliki akhlak yang agung (lihat Q.S. Al-Qalam ayat 4). Aisyah r.a. juga memaparkan bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Advertisement

Artikel Terkait

Maulid Nabi Jadi Momentum, Edi Kamtono Ajak Warga Hadapi Kemarau dan Kabut Asap Bersama

Maulid Nabi Jadi Momentum, Edi Kamtono Ajak Warga Hadapi Kemarau dan Kabut Asap Bersama

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ajak warga perkuat kepedulian dan kebersamaan saat kemarau serta kabut asap.

Peringati Maulid Nabi, Kemenkum Kalbar Tekankan Integritas dan Budaya Layanan Publik ASN

Peringati Maulid Nabi, Kemenkum Kalbar Tekankan Integritas dan Budaya Layanan Publik ASN

Kanwil Kemenkum Kalbar menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk memperkuat nilai integritas dan etika pelayanan ASN.

Hadiri Maulid Nabi di Pontianak, Ria Norsan Tekankan Pentingnya Akhlak dan Pendidikan

Hadiri Maulid Nabi di Pontianak, Ria Norsan Tekankan Pentingnya Akhlak dan Pendidikan

Gubernur Kalbar Ria Norsan mengajak umat meneladani akhlak Rasulullah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer