
Oleh: Aliffahannisa Ajzahra Roka*
INDONESIA sering dibanggakan sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Hutan tropis, mangrove, terumbu karang, satwa endemik, hingga beragam tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pangan dan obat merupakan bagian dari kekayaan alam yang tidak dimiliki semua negara. Dari Sumatra hingga Papua, setiap wilayah memiliki karakteristik flora, fauna, dan ekosistem yang berbeda. Kekayaan itu bukan sekadar daftar panjang nama spesies, melainkan penyangga kehidupan manusia.
Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar seberapa kaya Indonesia: sampai kapan kekayaan itu dapat dipertahankan? Di tengah deforestasi, perubahan penggunaan lahan, perdagangan satwa liar, pencemaran, eksploitasi sumber daya, dan perubahan iklim, kekayaan hayati Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Karena itu, persoalan keanekaragaman hayati tidak semestinya berhenti sebagai materi pelajaran biologi atau slogan tentang “negara megabiodiversitas”. Ia harus menjadi persoalan publik yang menyangkut pangan, kesehatan, ekonomi, budaya, dan masa depan masyarakat.
Keanekaragaman Hayati Bukan Sekadar Banyaknya Spesies
Ketika berbicara tentang biodiversitas, perhatian masyarakat sering berhenti pada hewan yang menarik seperti orangutan, harimau Sumatra, komodo, atau burung cenderawasih. Padahal, keanekaragaman hayati jauh lebih luas. Ia mencakup keragaman genetik, spesies, dan ekosistem yang saling berhubungan.
Keragaman genetik memungkinkan suatu populasi memiliki variasi sifat untuk menghadapi perubahan lingkungan. Keragaman spesies membentuk komunitas dengan fungsi ekologis yang berbeda, sedangkan keragaman ekosistem menyediakan berbagai habitat bagi kehidupan. Kehilangan satu bagian dapat memberikan konsekuensi terhadap bagian lainnya.
Inilah alasan mengapa membicarakan biodiversitas tidak cukup dengan menghitung berapa banyak spesies yang masih tersisa. Kita juga perlu bertanya apakah habitatnya masih berfungsi, apakah populasinya mampu berkembang biak, dan apakah keragaman genetiknya tetap terjaga.
Kekayaan hayati juga hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pangan, bahan obat, hasil pertanian, perikanan, hingga berbagai pengetahuan tradisional masyarakat memiliki hubungan dengan sumber daya biologis. Dengan kata lain, biodiversitas bukan sesuatu yang jauh di dalam hutan. Ia ada di meja makan, lingkungan tempat tinggal, bahkan dalam berbagai kebutuhan manusia.
Kekayaan yang Terus Ditekan
Masalahnya, kekayaan tersebut berada di tengah tekanan yang tidak sederhana. Perubahan penggunaan lahan dan fragmentasi hutan dapat membuat habitat semakin terpecah. Perburuan dan perdagangan ilegal dapat menekan populasi satwa. Pencemaran mengubah kualitas air, tanah, dan udara, sementara perubahan iklim dapat menggeser persebaran spesies dan mengganggu hubungan ekologis.



