Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rindu Langit Biru, Jangan Menjadi Awan Kelabu

H
Penulis: Hanif❯
Ma'ruf Zahran Sabran
Ma'ruf Zahran Sabran

Advertisement

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

CEMAS terhadap diri sendiri dan cemas terhadap orang lain, itulah gempa pada diri. Kecemasan yang melanda semua orang menyatakan kiamat telah terjadi. Merata gempa, bukan sebatas Gunung Merapi, Galunggung, atau Rinjani. Manusia saling bertengkar tanpa ruang untuk saling mengerti dan memahami. Ego yang mengemuka, marah yang mengedepan. Lalu, untuk apa diskusi?  

Memang, bagi sebagian orang ada yang menjalani hidup dengan payah, menggapai asa dengan susah, dan meraih sukses berbalut lelah. Meraup cita-cita penuh luka. Namun bagi sebagian orang, semua yang diasa, diharap, dan dicita mudah diraih. Sejak kecil, muda, hingga tua penuh berkelimpahan, berkebahagiaan, dan berketenangan; ditutup dengan husnulkhotimah dan masuk surga. Bukan ilmu dan amal yang salah, melainkan citra diri dalam membangun relasi dengan Tuhan, manusia, dan semesta secara aman, damai, serta bahagia. Artinya, hidup bukan ditentukan oleh orang lain dan semua faktor eksternal.

Advertisement

Orang lain dan seluruh faktor eksternal hanya dampak ikutan dari jiwa diri yang memproteksi, memproyeksi, dan mempersepsi edukasi.Ibaratnya, jika ingin menjadi langit biru dan tidak berharap menjadi awan kelabu, jangan berharap kepada doa orang lain. Tuntaskan diri dengan Tuhan Allah Yang Maha Esa. Bukan berharap, tidak mendamba, dan haram mengiba kepada makhluk ciptaan, meski mereka "orang suci." Maksud isyarat ini adalah: tidak memuji orang baik, tidak menghina orang jahat.

Sikap netral sangat diperlukan untuk berpikir tenang, berpikir tengah; berperasaan bahwa diri bahagia tanpa memerlukan support kebahagiaan dari orang lain dan lingkungan. Stabilitas temperatur batin yang didata dengan tidak "merah" kalau dipuji, dan tidak marah kalau dimaki. Biasa-biasa saja, bersikap dewasa saat kaya, dan bersikap dewasa saat menderita. Orang yang demikian sudah tuntas dengan dirinya. Tidak lagi diombang-ambingkan oleh lingkungan sekitar. Biar berjalan sendiri dalam kebenaran daripada berombongan yang sesat dan tidak tahu arah.

Kini diri ditinggalkan oleh manusia yang dahulu dibela, disayang, dan dicinta. Pada saat yang bersamaan, Tuhan datang merapat supaya diri menjadi langit biru dan meninggalkan awan kelabu. Bukankah diri yang sekarang berbeda dengan diri yang dahulu? Variabel diri yang dahulu sangat kuat ketergantungannya kepada makhluk—ketergantungan kepada bank-bank konvensional dan bank syariah. Diri yang dahulu sangat berkepentingan terhadap ilmu, iman, dan amal.

Advertisement

Diri yang dahulu sangat mendamba sanggup menjawab pertanyaan Munkar-Nakir di kubur; diri yang diiming-imangi dengan surga dan ditakut-takuti dengan neraka. Variabel antaranya adalah menjawab: siapa diri yang diiming-imangi, ditakuti, dan mendamba sanggup tersebut? Jangan hidup bergantung kepada suami, sebab suami pasti mati. Jangan berpegang kepada anak, sebab anak akan melepasmu dan pergi bersama pasangan hidupnya. Pepatah tidak berlebihan sekiranya dikatakan bahwa "hidup adalah bayang-bayang awan, kasih-kasih embun."

Berikan apa yang telah diberi. Lepaskan apa yang sudah dilepas. Tolong lupakan apa yang telah ditolong. Hanya ada satu kata: ikhlaskan! Jangan diingat lagi, kecuali hanya menyisakan perih penyesalan. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Hidup berbahagia hari ini, sekarang, dan di sini (here and now). Jangan menjadi orang masa lalu karena sudah lewat. Jangan menjadi orang masa depan karena belum digarap.

Orang yang tuntas dengan dirinya bukanlah yang bergelar jenderal, kiai, profesor, maha, atau sakti. Orang yang sudah tuntas dengan dirinya adalah ketika tidak lagi terseret dengan perdebatan atas-bawah. Meskipun gelar nabi mempersyaratkan adanya umat, kiai menunjukkan disparitas dengan santri, dan profesor menunjukkan gelar penghormatan akademik tertinggi, hakikat semuanya ada di dalam yang satu (syuhudul katsrah fil wahdah).

Dan hakikat yang satu adalah semua (syuhudul wahdah fil katsrah).Diharapkan setiap orang memahami diri dan lingkungan supaya dirinya tidak terjebak oleh lingkungan. Lingkungan sudah jauh berubah, sementara ia masih menerapkan pola-pola lama yang telah usang dalam anggapan banyak orang.

Advertisement

Artikel Terkait

Di Atas Langit Masih Ada PSG, Barcelona Tumbang 2-4 di Paris

Di Atas Langit Masih Ada PSG, Barcelona Tumbang 2-4 di Paris

Barcelona dua kali menyamakan kedudukan, tetapi PSG membuktikan kelasnya dengan dua gol penentu pada menit-menit akhir untuk menang 4-2 di P

Dry Ice, BNPB Uji Coba Semai Langit dengan Es Kering untuk Mengurai Kabut Asap Karhutla

Dry Ice, BNPB Uji Coba Semai Langit dengan Es Kering untuk Mengurai Kabut Asap Karhutla

BNPB menguji dry ice, karbon dioksida padat yang langsung berubah menjadi gas, untuk membantu mengurai kabut asap karhutla. Teknologi yang p

Langit Pontianak Kembali Biru: Hotspot Karhutla Sudah Nol, Tapi Waspada Udara Masih Tidak Sehat

Langit Pontianak Kembali Biru: Hotspot Karhutla Sudah Nol, Tapi Waspada Udara Masih Tidak Sehat

Langit biru Pontianak kembali terlihat setelah hujan mengguyur Kalbar. Namun, kualitas udara di empat daerah masih tidak sehat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer