23.9 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Bahasa Indonesia dan Ketidakpatuhan Pemuda

—————- Dr. Anas Ahmadi, S.Pd., M.Pd.  ——————
BULAN Oktober selalu dikenal dengan bulan bahasa yang tidak lepas dari pemuda. Secara historis,  Minggu  28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan  Sumpah Pemuda yang di antaranya berbunyi ”Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia”.  Para pemuda Indonesia bersepakat untuk menjunjung bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia. Sampai detik ini, Bahasa Indonesia menjadi  bahasa nasional dan bahasa negara Indonesia. Pelahiran Bahasa Indonesia  tidak lepas dari jasa para pemuda Indonesia.

Kini, tak terasa Bahasa Indonesia sudah mencapai usia 94 tahun. Dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia  mengalami dinamisasi. Bahasa Indonesia harus mampu bertahan ditengah gempuran bahasa asing yang memang diakui atau tidak memiliki prestise lebih tinggi dibandingkan dengan Bahasa Indonesia. Kita tidak boleh inferior dengan hal ini. Bahasa Indonesia adalah  bahasa kita. Untuk itu, mari kita junjung dan kita kuatkan Bahasa Indonesia, kini dan masa yang akan datang.

Menyoal Ketidakpatuhan Pemuda

Ketidakpatuhan memiliki terma kunci tidak mengikuti peraturan, memberontak, dan tidak disiplin. Ketidakpatuhan kita temui di berbagai segmentasi kehidupan, mulai dari konteks yang paling sederhana, yakni membuang sampah sembarangan, melanggar lampu lalu lintas, sampai dengan melanggar Undang-Undang, misalnya pembunuhan, pencurian, dan narkoba.  Menyoal tema ketidakpatuhan, memang bukan tema baru. Tulisan Fromm (1981) On Disobedience and Other Essays menunjukkan bahwa ketidakpatuhan sudah muncul zaman kenabian. Jika ditelusur secara filosofis, ketidakpatuhan muncul dalam dua kategorialisasi.

Pertama, ketidakpatuhan terhadap sistem yang ada di suatu pemerintahan ataupun lembaga dengan cara melakukan pemberontakan yang konstruktif. Munculnya pemberontakan tersebut sebenarnya tidak lepas dari keinginan akan adanya sebuah kebaruan dalam tatanan hidup. Tentunya, dalam hal ini, ketidakpatuhan tersebut tidak hanya berhenti pada memberontak, tetapi juga pada resolusi dari pemberontakan tersebut. Dengan demikian, ada kebaruan yang lebih baik. Sebuah kebaruan yang dimunculkan dari ketidakpatuhan.

Baca Juga :  Darimana Datangnya Bencana?

Kedua, ketidakpatuhan terhadap pemerintahan ataupun lembaga dengan cara pemberontakan yang destruktif. Jenis ketidakpatuhan ini memang muncul karena ketidakpuasan terhadap pemerintah ataupun lembaga. Mereka tidak suka dengan pemerintahan ataupun lembaga yang ada. Karena itu, mereka melakukan pemberontakan. Namun, pemberontakan tersebut dalam rangka untuk merusak saja, tanpa ada resolusi di balik pemberontakan tersebut. Inilah ketidakpatuhan yang destruktif.

Jika dikaitkan antara Bahasa Indonesia dan ketidakpatuhan pemuda, ada hal yang menjadi catatan utama. Pemuda saat ini memang sebagai generasi pembaharu, generasi yang melek teknologi, generasi digital, dan/atau generasi sosial media. Mereka, dengan embel-embel tersebut banyak memunculkan bahasa populer, misal saja bestie (sahabat), kudet (kurang update), ygy (ya guys ya), pargoy (partai goyang), duren sawit (duda keren sarang duit), bucin (budak cinta). Para pemuda, terutama yang di kalangan SMA ataupun mahasiswa tentunya tidak asing dengan bahasa tersebut. Jika mereka tidak memahami bahasa populer itu, dianggap sebagai anak yang ketinggalan zaman, gak update, dan kuper (kurang pergaulan). Mereka, para pemuda, menggunakan bahasa populer di dalam kehidupan keseharian, mulai dari bahasa di sosial media ataupun bahasa di konteks real (face to face).

Para pemuda yang menggunakan bahasa populer sebenarnya merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap Bahasa Indonesia. Mereka sebagai pemuda memberontak dengan cara memunculkan bahasa baru yang digunakan dalam pergaulan keseharian, baik yang luring ataupun daring. Apakah hal ini salah? Apakah ini merusak Bahasa Indonesia? Sekali lagi tidak.  Apa yang dilakukan oleh para pemuda dalam memunculkan bahasa baru yang dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan adalah hal yang menguatkan Bahasa Indonesia. Pada satu sisi, Bahasa Indonesia memang perlu penguatan untuk pengunaan bahasa resmi. Pada sisi lain, Bahasa Indonesia juga memiliki ragam, salah satu di antaranya ragam cakap. Dalam konteks ini, apa yang dimunculkan oleh pemuda adalah ragam cakap Bahasa Indonesia ketika mereka bercakap-cakap dengan teman sefrekuensi. Tentunya, sangat mustahil jika mereka menulis karya ilmiah menggunakan ragam cakap, misal bestie, kudet, ataupun mofo.

Terakhir, mengutip kata Fromm (1973) The Anatomy of Human Destructiveness, kehidupan itu terbagi menjadi dua, yakni biophilia dan necrophilia.  Pada satu sisi, biophilia, berusaha membangun kehidupan. Pada sisi lain, necrophilia, merusak kehidupan. Keduanya, muncul dalam rangka mewujudkan keseimbangan alam. Dengan demikian, adanya bahasa gaul, bahasa cakap yang dianggap merusak Bahasa Indonesia, sebenarnya, merupakan pendamping agar Bahasa Indonesia resmi masih tetap ada. Bukankah ada neraka ada surga. Jika tidak ada neraka, tidak ada surga. Begitu juga dengan pengguna Bahasa Indonesia. Jika semuanya mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, bisa-bisa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tutup sebab semuanya sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. (Penulis: Dosen S-1, S-2 dan S-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra, Kajur Bahasa dan Sastra Mandarin, Universitas Negeri Surabaya)

—————- Dr. Anas Ahmadi, S.Pd., M.Pd.  ——————
BULAN Oktober selalu dikenal dengan bulan bahasa yang tidak lepas dari pemuda. Secara historis,  Minggu  28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan  Sumpah Pemuda yang di antaranya berbunyi ”Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia”.  Para pemuda Indonesia bersepakat untuk menjunjung bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia. Sampai detik ini, Bahasa Indonesia menjadi  bahasa nasional dan bahasa negara Indonesia. Pelahiran Bahasa Indonesia  tidak lepas dari jasa para pemuda Indonesia.

Kini, tak terasa Bahasa Indonesia sudah mencapai usia 94 tahun. Dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia  mengalami dinamisasi. Bahasa Indonesia harus mampu bertahan ditengah gempuran bahasa asing yang memang diakui atau tidak memiliki prestise lebih tinggi dibandingkan dengan Bahasa Indonesia. Kita tidak boleh inferior dengan hal ini. Bahasa Indonesia adalah  bahasa kita. Untuk itu, mari kita junjung dan kita kuatkan Bahasa Indonesia, kini dan masa yang akan datang.

Menyoal Ketidakpatuhan Pemuda

Ketidakpatuhan memiliki terma kunci tidak mengikuti peraturan, memberontak, dan tidak disiplin. Ketidakpatuhan kita temui di berbagai segmentasi kehidupan, mulai dari konteks yang paling sederhana, yakni membuang sampah sembarangan, melanggar lampu lalu lintas, sampai dengan melanggar Undang-Undang, misalnya pembunuhan, pencurian, dan narkoba.  Menyoal tema ketidakpatuhan, memang bukan tema baru. Tulisan Fromm (1981) On Disobedience and Other Essays menunjukkan bahwa ketidakpatuhan sudah muncul zaman kenabian. Jika ditelusur secara filosofis, ketidakpatuhan muncul dalam dua kategorialisasi.

Pertama, ketidakpatuhan terhadap sistem yang ada di suatu pemerintahan ataupun lembaga dengan cara melakukan pemberontakan yang konstruktif. Munculnya pemberontakan tersebut sebenarnya tidak lepas dari keinginan akan adanya sebuah kebaruan dalam tatanan hidup. Tentunya, dalam hal ini, ketidakpatuhan tersebut tidak hanya berhenti pada memberontak, tetapi juga pada resolusi dari pemberontakan tersebut. Dengan demikian, ada kebaruan yang lebih baik. Sebuah kebaruan yang dimunculkan dari ketidakpatuhan.

Baca Juga :  Komunikasi Partai Politik di Kabupaten Sekadau Pasca Pilkada 2020

Kedua, ketidakpatuhan terhadap pemerintahan ataupun lembaga dengan cara pemberontakan yang destruktif. Jenis ketidakpatuhan ini memang muncul karena ketidakpuasan terhadap pemerintah ataupun lembaga. Mereka tidak suka dengan pemerintahan ataupun lembaga yang ada. Karena itu, mereka melakukan pemberontakan. Namun, pemberontakan tersebut dalam rangka untuk merusak saja, tanpa ada resolusi di balik pemberontakan tersebut. Inilah ketidakpatuhan yang destruktif.

Jika dikaitkan antara Bahasa Indonesia dan ketidakpatuhan pemuda, ada hal yang menjadi catatan utama. Pemuda saat ini memang sebagai generasi pembaharu, generasi yang melek teknologi, generasi digital, dan/atau generasi sosial media. Mereka, dengan embel-embel tersebut banyak memunculkan bahasa populer, misal saja bestie (sahabat), kudet (kurang update), ygy (ya guys ya), pargoy (partai goyang), duren sawit (duda keren sarang duit), bucin (budak cinta). Para pemuda, terutama yang di kalangan SMA ataupun mahasiswa tentunya tidak asing dengan bahasa tersebut. Jika mereka tidak memahami bahasa populer itu, dianggap sebagai anak yang ketinggalan zaman, gak update, dan kuper (kurang pergaulan). Mereka, para pemuda, menggunakan bahasa populer di dalam kehidupan keseharian, mulai dari bahasa di sosial media ataupun bahasa di konteks real (face to face).

Para pemuda yang menggunakan bahasa populer sebenarnya merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap Bahasa Indonesia. Mereka sebagai pemuda memberontak dengan cara memunculkan bahasa baru yang digunakan dalam pergaulan keseharian, baik yang luring ataupun daring. Apakah hal ini salah? Apakah ini merusak Bahasa Indonesia? Sekali lagi tidak.  Apa yang dilakukan oleh para pemuda dalam memunculkan bahasa baru yang dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan adalah hal yang menguatkan Bahasa Indonesia. Pada satu sisi, Bahasa Indonesia memang perlu penguatan untuk pengunaan bahasa resmi. Pada sisi lain, Bahasa Indonesia juga memiliki ragam, salah satu di antaranya ragam cakap. Dalam konteks ini, apa yang dimunculkan oleh pemuda adalah ragam cakap Bahasa Indonesia ketika mereka bercakap-cakap dengan teman sefrekuensi. Tentunya, sangat mustahil jika mereka menulis karya ilmiah menggunakan ragam cakap, misal bestie, kudet, ataupun mofo.

Terakhir, mengutip kata Fromm (1973) The Anatomy of Human Destructiveness, kehidupan itu terbagi menjadi dua, yakni biophilia dan necrophilia.  Pada satu sisi, biophilia, berusaha membangun kehidupan. Pada sisi lain, necrophilia, merusak kehidupan. Keduanya, muncul dalam rangka mewujudkan keseimbangan alam. Dengan demikian, adanya bahasa gaul, bahasa cakap yang dianggap merusak Bahasa Indonesia, sebenarnya, merupakan pendamping agar Bahasa Indonesia resmi masih tetap ada. Bukankah ada neraka ada surga. Jika tidak ada neraka, tidak ada surga. Begitu juga dengan pengguna Bahasa Indonesia. Jika semuanya mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, bisa-bisa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tutup sebab semuanya sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. (Penulis: Dosen S-1, S-2 dan S-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra, Kajur Bahasa dan Sastra Mandarin, Universitas Negeri Surabaya)

Most Read

Artikel Terbaru

/