23.9 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Membina Pemuda Zaman Now

Oleh: Kurniawan Widodo, S. Hut., M. Pd

Di bulan Oktober ini, kembali kita diingatkan dengan peristiwa penting yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia yaitu Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada tahun 1928. Semangat para pemuda Indonesia kala itu untuk menyatukan visi bersama yaitu persatuan dalam rangka meraih kemerdekaan bangsa Indonesia, sangat luar biasa. Kemerdekaan bangsa Indonesia akhirnya terarealisasi pada tahun 1945, yaitu 17 tahun setelah momentum Sumpah Pemuda.

Lain zaman, maka lain pula tantangannya. Pemuda Indonesia saat ini dihadapkan dengan tantangan yang berbeda. Pemuda Indonesia yang sebagian besar adalah para pelajar memiliki tantangan di masa depan yaitu baik di dunia kerja, dunia keilmuan ataupun dunia wirausaha dalam rangka mengisi kemerdekaan. Hal ini tidak lepas dari aktivitas pelajar SLTA baik di SMA, SMK dan MA, bahwa setelah lulus mereka akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi atau bekerja maupun berwirausaha.

Saat ini para pengguna tenaga kerja masih mengeluhkan softskill yang dimiliki lulusan perguruan tinggi. Beberapa hal yang dikeluhkan antara lain adalah rendahnya kemampuan lulusan dalam berkomunikasi lisan dan tulisan, kurang inisiatif dan mudah bosan, kurang dapat bekerja sama dalam sebuah tim, serta umumnya kurang tahan menghadapi tekanan dalam dunia kerja. Softskill yang masih rendah inilah menjadi salah satu alasan pemerintah mencanangkan penguatan profil pelajar Pancasila di dunia pendidikan,  mulai dari PAUD hingga SLTA. Diharapkan pelajar Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita juga mengungkapkan bahwa guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi para pelajar. Guru juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan akhlak mulia. Dengan bekal nilai-nilai tersebut, diharapkan pelajar siap menghadapi tantangan di masa depan terutama di era digital. Berdasarkan laporan dari SEA e-economy 2021, diprediksi pada tahun 2025, perekonomian digital Indonesia diperkirakan mampu mencapai US$ 146 miliar atau 20 persen pertahun.

Baca Juga :  RESTORATIVE JUSTICE

Selanjutnya diprediksi pula bahwa Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja terampil digital dan siap pakai hingga tahun 2030. Hal ini sejalan dengan perkiraan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia ke depan. Namun, hingga kini, situasinya belum ideal, karena tenaga kerja terampil digital setiap tahun baru mencapai 600 ribu orang. Angka tersebut masih di bawah kebutuhan hingga tahun 2030. Hal tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi para pendidik dan orang tua untuk mempersiapkan pelajar yang mampu berkiprah di masa depan.

Prediksi lainnya adalah terdapat perubahan skill yang dibutuhkan di pasar kerja akibat digitalisasi. Pekerjaan yang bersifat repetitif / rutin (cenderung hard skill) permintaannya akan menurun karena tergantikan oleh sistem /otomasi. Sedangkan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran inovatif, pemecahan masalah komplek, kreativitas, inisiatif dan kepemimpinan serta ketahanan terhadap stress dan kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan di masa mendatang. Hal inilah yang menjadi tantangan para pendidik baik guru maupun orang tua dalam membina pelajar sekarang.

Sebelum melakukan pembinaan terhadap pelajar, sebaiknya kita mengetahui karakteristik mereka. Pelajar saat ini dikategorikan sebagai generasi Z.  Generasi Z lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, berarti umurnya sekitar 10 hingga 25 tahun, seusia para pelajar SD hingga mahasiswa. Sedangkan generasi setelah mereka dikategorikan sebagai generasi alpha. Generasi Z atau disingkat Gen Z sangat mudah mendapatkan informasi apapun melalui gadget. Salah satu karakter dari Gen Z adalah mereka sangat menghargai perbedaan. Mereka menjunjung tinggi toleransi, pluralisme dan keadilan. Mereka percaya bahwa semua orang adalah sama dan berhak diperlakukan dengan adil.

Namun Gen Z rawan mengalami depresi. Gen Z cenderung membandingkan diri, merasa kurang update dan sangat bergantung social network atau lingkungan sosial mereka. Mereka cenderung lebih sensitive pada kegagalan karena sosial media menampilkan hanya yang “baik” bukan yang “buruk” sehingga menimbulkan stress. Namun, Gen Z akan focus dan berkomitmen jika dirasa berguna (rewarding). Mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk berdampak, mempengaruhi orang lain serta memberikan emosi positif.

Baca Juga :  Memaknai Hari Raya Iduladha dalam Kehidupan Sehari-Hari

Kita harus membekali pelajar dengan ketrampilan abad 21 agar mereka nantinya bisa menyesuaikan diri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Keterampilan atau soft skill ini dikenal dengan singkatan 4C, yaitu Critical Thinking atau berpikir kritis, Collaboration atau kemampuan bekerja sama dengan baik, Communication atau kemampuan berkomunikasi, dan Creativity atau kreatifitas. Selain itu mereka harus dibekali dengan kemampuan menggunakan teknologi serta etka dan tanggung jawab dalam belajar dan bekerja.

Kompetensi yang ada dalam diri pelajar yaitu keimanan, keilmuan, ketrampilan dan kemasyarakatan haruslah bisa dikembangkan dan dituangkan dalam aktivitas mereka sehari-hari. Misalnya pemahaman mengenai manajemen waktu, pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, interpersonal, juga ketrampilan dasar berorganisasi dan jurnalistik serta kepedulian terhadap alam maupun lingkungan masyarakat.  Tidak lupa pula membangun fisik mereka agar sehat dan bugar serta mencintai budaya lokal.

Berbagai pilihan program di sekolah bisa menjadi bagian dari pembinaan pelajar untuk meningkatkan kompetensi tersebut. Mulai dari kegiatan ekstra kurikuler (ekskul), klub olah raga dan seni. Komunitas yang sesuai dengan minat dan bakat pelajar juga efektif diikuti pelajar baik di dalam maupun luar sekolah. Orang tua sangat penting untuk tetap memberikan perhatian, arahan dan control tanpa bersifai “menggurui” kepada pelajar. Orang tua dan guru perlu meng“update” ilmunya dalam memberikan pendekatan kepada Gen Z ini. Perhatian kita kepada pelajar sangat berarti bagi masa depan bangsa dan negara yang kita cintai bersama ini. Sedikit saja nilai kebaikan yang kita wariskan kepada pelajar, tentu saja akan menjadi amal jariyah kita dan berguna bagi masa depan mereka. Semoga kita tetap diberikan semangat membina generasi muda harapan bangsa ini.**

Penulis adalah guru SMK Negeri 2 Pontianak.

Oleh: Kurniawan Widodo, S. Hut., M. Pd

Di bulan Oktober ini, kembali kita diingatkan dengan peristiwa penting yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia yaitu Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada tahun 1928. Semangat para pemuda Indonesia kala itu untuk menyatukan visi bersama yaitu persatuan dalam rangka meraih kemerdekaan bangsa Indonesia, sangat luar biasa. Kemerdekaan bangsa Indonesia akhirnya terarealisasi pada tahun 1945, yaitu 17 tahun setelah momentum Sumpah Pemuda.

Lain zaman, maka lain pula tantangannya. Pemuda Indonesia saat ini dihadapkan dengan tantangan yang berbeda. Pemuda Indonesia yang sebagian besar adalah para pelajar memiliki tantangan di masa depan yaitu baik di dunia kerja, dunia keilmuan ataupun dunia wirausaha dalam rangka mengisi kemerdekaan. Hal ini tidak lepas dari aktivitas pelajar SLTA baik di SMA, SMK dan MA, bahwa setelah lulus mereka akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi atau bekerja maupun berwirausaha.

Saat ini para pengguna tenaga kerja masih mengeluhkan softskill yang dimiliki lulusan perguruan tinggi. Beberapa hal yang dikeluhkan antara lain adalah rendahnya kemampuan lulusan dalam berkomunikasi lisan dan tulisan, kurang inisiatif dan mudah bosan, kurang dapat bekerja sama dalam sebuah tim, serta umumnya kurang tahan menghadapi tekanan dalam dunia kerja. Softskill yang masih rendah inilah menjadi salah satu alasan pemerintah mencanangkan penguatan profil pelajar Pancasila di dunia pendidikan,  mulai dari PAUD hingga SLTA. Diharapkan pelajar Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita juga mengungkapkan bahwa guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi para pelajar. Guru juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan akhlak mulia. Dengan bekal nilai-nilai tersebut, diharapkan pelajar siap menghadapi tantangan di masa depan terutama di era digital. Berdasarkan laporan dari SEA e-economy 2021, diprediksi pada tahun 2025, perekonomian digital Indonesia diperkirakan mampu mencapai US$ 146 miliar atau 20 persen pertahun.

Baca Juga :  CMI Gelar Seminar Kepemudaan Bersama Pelajar

Selanjutnya diprediksi pula bahwa Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja terampil digital dan siap pakai hingga tahun 2030. Hal ini sejalan dengan perkiraan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia ke depan. Namun, hingga kini, situasinya belum ideal, karena tenaga kerja terampil digital setiap tahun baru mencapai 600 ribu orang. Angka tersebut masih di bawah kebutuhan hingga tahun 2030. Hal tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi para pendidik dan orang tua untuk mempersiapkan pelajar yang mampu berkiprah di masa depan.

Prediksi lainnya adalah terdapat perubahan skill yang dibutuhkan di pasar kerja akibat digitalisasi. Pekerjaan yang bersifat repetitif / rutin (cenderung hard skill) permintaannya akan menurun karena tergantikan oleh sistem /otomasi. Sedangkan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran inovatif, pemecahan masalah komplek, kreativitas, inisiatif dan kepemimpinan serta ketahanan terhadap stress dan kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan di masa mendatang. Hal inilah yang menjadi tantangan para pendidik baik guru maupun orang tua dalam membina pelajar sekarang.

Sebelum melakukan pembinaan terhadap pelajar, sebaiknya kita mengetahui karakteristik mereka. Pelajar saat ini dikategorikan sebagai generasi Z.  Generasi Z lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, berarti umurnya sekitar 10 hingga 25 tahun, seusia para pelajar SD hingga mahasiswa. Sedangkan generasi setelah mereka dikategorikan sebagai generasi alpha. Generasi Z atau disingkat Gen Z sangat mudah mendapatkan informasi apapun melalui gadget. Salah satu karakter dari Gen Z adalah mereka sangat menghargai perbedaan. Mereka menjunjung tinggi toleransi, pluralisme dan keadilan. Mereka percaya bahwa semua orang adalah sama dan berhak diperlakukan dengan adil.

Namun Gen Z rawan mengalami depresi. Gen Z cenderung membandingkan diri, merasa kurang update dan sangat bergantung social network atau lingkungan sosial mereka. Mereka cenderung lebih sensitive pada kegagalan karena sosial media menampilkan hanya yang “baik” bukan yang “buruk” sehingga menimbulkan stress. Namun, Gen Z akan focus dan berkomitmen jika dirasa berguna (rewarding). Mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk berdampak, mempengaruhi orang lain serta memberikan emosi positif.

Baca Juga :  Menyikapi Musibah dengan Bijak

Kita harus membekali pelajar dengan ketrampilan abad 21 agar mereka nantinya bisa menyesuaikan diri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Keterampilan atau soft skill ini dikenal dengan singkatan 4C, yaitu Critical Thinking atau berpikir kritis, Collaboration atau kemampuan bekerja sama dengan baik, Communication atau kemampuan berkomunikasi, dan Creativity atau kreatifitas. Selain itu mereka harus dibekali dengan kemampuan menggunakan teknologi serta etka dan tanggung jawab dalam belajar dan bekerja.

Kompetensi yang ada dalam diri pelajar yaitu keimanan, keilmuan, ketrampilan dan kemasyarakatan haruslah bisa dikembangkan dan dituangkan dalam aktivitas mereka sehari-hari. Misalnya pemahaman mengenai manajemen waktu, pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, interpersonal, juga ketrampilan dasar berorganisasi dan jurnalistik serta kepedulian terhadap alam maupun lingkungan masyarakat.  Tidak lupa pula membangun fisik mereka agar sehat dan bugar serta mencintai budaya lokal.

Berbagai pilihan program di sekolah bisa menjadi bagian dari pembinaan pelajar untuk meningkatkan kompetensi tersebut. Mulai dari kegiatan ekstra kurikuler (ekskul), klub olah raga dan seni. Komunitas yang sesuai dengan minat dan bakat pelajar juga efektif diikuti pelajar baik di dalam maupun luar sekolah. Orang tua sangat penting untuk tetap memberikan perhatian, arahan dan control tanpa bersifai “menggurui” kepada pelajar. Orang tua dan guru perlu meng“update” ilmunya dalam memberikan pendekatan kepada Gen Z ini. Perhatian kita kepada pelajar sangat berarti bagi masa depan bangsa dan negara yang kita cintai bersama ini. Sedikit saja nilai kebaikan yang kita wariskan kepada pelajar, tentu saja akan menjadi amal jariyah kita dan berguna bagi masa depan mereka. Semoga kita tetap diberikan semangat membina generasi muda harapan bangsa ini.**

Penulis adalah guru SMK Negeri 2 Pontianak.

Most Read

Mbah Kukuh

Tidak Suka Semua Keributan

Makin Asyik Diiringi Alunan Country

Masyarakat Adat Merasa Diakui

Artikel Terbaru

/