alexametrics
25.6 C
Pontianak
Friday, August 12, 2022

Kelulusan Sekolah

Oleh: Amalia Irfani

Mungkin ini yang dirasakan oleh para orang tua saat menerima amplop atau surat keterangan kelulusan (SKL) anak.  Rasa haru, bangga, bahagia terakumulasi. Rasa unik yang susah dinarasikan dalam kata format paragraf. Begitu  menggetarkan jiwa, penuh kesyukuran atas nikmat dan karunia sang Maha Pencipta saking bahagianya. Saya yakin dari kebahagiaan tersebut semua orang tua berharap dalam untaian doa agar kelak masa depan gemilang Allah takdirkan kepada buah hati.

Kebahagiaan-kebahagiaan tersebut dapat kita lihat dari banyaknya status yang berseliweran di berbagai media sosial. Facebook, Whatsapp, Instagram dan lain sebagainya. Mulai dari sebaris dua baris kalimat sebagai ungkapan suka cita, foto dan video anak, hingga mengupload hasil pencapaian nilai “rangking” sebagai bentuk kebahagiaan. Tradisi (habitus) yang mulai menjamur dan menjadi tren dikalangan orang tua saat menerima hasil belajar anak. Habitus yang terakhir seringkali mendapat cemoohan netizen, sebab selain dianggap berlebihan, upload hasil belajar dari sisi sosial akan membawa dampak kurang baik. Belum lagi jika dibahas dari syariah agama. Tidak ada anak yang bodoh, hanya saja tidak semua anak memiliki kelebihan diranah akademis.

Kekalutan Orang Tua Zaman Now

Juni dan Juli setiap tahunnya telah jamak menjadi waktu mendebarkan khususnya bagi orang tua, yang akan memasukkan anaknya ke pendidikan formal atau pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Perubahan dalam proses penerimaan siswa baru pun bermertamorfosis mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi berbasis online dan harus terus di update untuk mengetahui kelanjutan informasi penerimaan. Faktanya, walau memudahkan sebab bisa mendaftar dimanapun dan kapanpun, kemudahan tersebut juga  membuat banyak orang tua calon siswa/mahasiswa kebinggungan, galau dan sedikit putus asa. Beberapa kebijakan dianggap kurang pas (sesuai) dan bisa dimanipulasi.

Baca Juga :  Libur Sekolah Diperpanjang Sampai 10 April

Dalam grup kelas salah satu sekolah favorit negeri Kota Pontianak, kebetulan penulis adalah anggota grup yang senang menyimak, sesekali berkomentar sesuai kapasitas yang dimiliki. Terlihat kekalutan dan antusias para orang tua dalam berargumen. Ada yang datar, sedikit meninggi, namun ada pula yang mulai menunjukkan emosi melalui komentar provokatif karena kecewa. Seperti grup orang tua pada umumnnya yang didominasi ibu-ibu, sedikit sekali ada para bapak, grup ini pun demikian. Perbedaannya para bapak yang jumlahnya hanya beberapa persen tersebut, dihari biasa sering pula berkomentar atau memberikan informasi sosial yang bermanfaat bagi seluruh anggota. Jarang penulis dapati para bapak berkomentar di grup sekolah anak.

Merasa senasib dan sependeritaan, grup tiba-tiba menjadi ramai komentar, anggota yang biasanya hanya silent cenderung tidak aktif selama bertahun-tahun, terpancing berkomentar. Ibarat demo, suasana grup mendadak riuh dengan berbagai komentar, namun bermuara pada kekecewaan dimana hampir semua yang protes serupa mengatakan bahwa, anak saya hebat, telah berjuang mendapatkan nilai terbaiknya. Grup masih hangat berdiskusi hingga menjelang dini hari. Ini menandakan, sebegitu besar perhatian dan kepeduliaan orang tua pada masa depan anak, seolah-olah merekalah yang berkompetisi. Satu hal yang penulis cermati dan memunculkan rasa kebersamaan, para orang tua tersebut ingin segala proses dilandasi kejujuran dan transparansi khususnya untuk jalur penerimaan zonasi yang masih terbuka lebar peluang kecurangan.

Pendidikan untuk Bangsa

Baca Juga :  SMPN 4 MHS Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah

Proses dalam penerimaan siswa sekolah tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi adalah cerminan kualitas pendidikan itu sendiri. Pendidikan berkualitas akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki kepekaan sosial  akan nasib bangsa dihadapan. Pentingnya penanaman pondasi agama, ilmu dan pengetahuan adalah wujud dimana penyelenggaraan pendidikan oleh negara harus mampu mengakomodir kepentingan jangka pendek, menengah dan panjang. Tidak sebatas hanya sebuah pedoman saja, tetapi ia wajib dipahami, ditelaah dan akhirnya menjadi kebiasaan untuk diikuti.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, Jumeri mengatakan pemerintah telah mengeluarkan kebijakan zonasi dalam sistem Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ). Zonasi menurutnya merupakan salah satu upaya Kemendikbudristek untuk meningkatkan akses layanan pendidikan yang berkeadilan dan merata. Dengan adanya sistem zonasi maka, tidak ada lagi stigma sekolah favorit. Masyarakat yang berdomisili di wilayah sekitar sekolah dapat melanjutkan pendidikan dengan akses terdekat dari tempat tinggal. Walaupun dilapangan, zonasi sering kali memunculkan pro dan kontra, dan dianggap membuka kesempatan manipulasi data.

Walaupun dihinggapi banyak kecemasan, sistem zonasi menurut penulis merupakan sebuah proses edukatif untuk melatih kejujuran dan kepeduliaan segala unsur masyarakat. Mulai dari pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, pihak sekolah, orang tua dan masyarakat. Pengawalan tidak mungkin bisa hanya dilakukan oleh satu pihak, perlu dukungan semua elemen masyarakat agar hasil sesuai dengan yang diharapkan. Bangsa ini masih terus harus belajar bagaimana beradab untuk berdaulat, bagaimana belajar untuk menjadi cerdas dan dihargai oleh bangsa lain.**

Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Sosiologi UMM

Oleh: Amalia Irfani

Mungkin ini yang dirasakan oleh para orang tua saat menerima amplop atau surat keterangan kelulusan (SKL) anak.  Rasa haru, bangga, bahagia terakumulasi. Rasa unik yang susah dinarasikan dalam kata format paragraf. Begitu  menggetarkan jiwa, penuh kesyukuran atas nikmat dan karunia sang Maha Pencipta saking bahagianya. Saya yakin dari kebahagiaan tersebut semua orang tua berharap dalam untaian doa agar kelak masa depan gemilang Allah takdirkan kepada buah hati.

Kebahagiaan-kebahagiaan tersebut dapat kita lihat dari banyaknya status yang berseliweran di berbagai media sosial. Facebook, Whatsapp, Instagram dan lain sebagainya. Mulai dari sebaris dua baris kalimat sebagai ungkapan suka cita, foto dan video anak, hingga mengupload hasil pencapaian nilai “rangking” sebagai bentuk kebahagiaan. Tradisi (habitus) yang mulai menjamur dan menjadi tren dikalangan orang tua saat menerima hasil belajar anak. Habitus yang terakhir seringkali mendapat cemoohan netizen, sebab selain dianggap berlebihan, upload hasil belajar dari sisi sosial akan membawa dampak kurang baik. Belum lagi jika dibahas dari syariah agama. Tidak ada anak yang bodoh, hanya saja tidak semua anak memiliki kelebihan diranah akademis.

Kekalutan Orang Tua Zaman Now

Juni dan Juli setiap tahunnya telah jamak menjadi waktu mendebarkan khususnya bagi orang tua, yang akan memasukkan anaknya ke pendidikan formal atau pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Perubahan dalam proses penerimaan siswa baru pun bermertamorfosis mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi berbasis online dan harus terus di update untuk mengetahui kelanjutan informasi penerimaan. Faktanya, walau memudahkan sebab bisa mendaftar dimanapun dan kapanpun, kemudahan tersebut juga  membuat banyak orang tua calon siswa/mahasiswa kebinggungan, galau dan sedikit putus asa. Beberapa kebijakan dianggap kurang pas (sesuai) dan bisa dimanipulasi.

Baca Juga :  Menjadi Sekolah Dambaan Siswa

Dalam grup kelas salah satu sekolah favorit negeri Kota Pontianak, kebetulan penulis adalah anggota grup yang senang menyimak, sesekali berkomentar sesuai kapasitas yang dimiliki. Terlihat kekalutan dan antusias para orang tua dalam berargumen. Ada yang datar, sedikit meninggi, namun ada pula yang mulai menunjukkan emosi melalui komentar provokatif karena kecewa. Seperti grup orang tua pada umumnnya yang didominasi ibu-ibu, sedikit sekali ada para bapak, grup ini pun demikian. Perbedaannya para bapak yang jumlahnya hanya beberapa persen tersebut, dihari biasa sering pula berkomentar atau memberikan informasi sosial yang bermanfaat bagi seluruh anggota. Jarang penulis dapati para bapak berkomentar di grup sekolah anak.

Merasa senasib dan sependeritaan, grup tiba-tiba menjadi ramai komentar, anggota yang biasanya hanya silent cenderung tidak aktif selama bertahun-tahun, terpancing berkomentar. Ibarat demo, suasana grup mendadak riuh dengan berbagai komentar, namun bermuara pada kekecewaan dimana hampir semua yang protes serupa mengatakan bahwa, anak saya hebat, telah berjuang mendapatkan nilai terbaiknya. Grup masih hangat berdiskusi hingga menjelang dini hari. Ini menandakan, sebegitu besar perhatian dan kepeduliaan orang tua pada masa depan anak, seolah-olah merekalah yang berkompetisi. Satu hal yang penulis cermati dan memunculkan rasa kebersamaan, para orang tua tersebut ingin segala proses dilandasi kejujuran dan transparansi khususnya untuk jalur penerimaan zonasi yang masih terbuka lebar peluang kecurangan.

Pendidikan untuk Bangsa

Baca Juga :  Senang Sekolah Dibuka Lagi

Proses dalam penerimaan siswa sekolah tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi adalah cerminan kualitas pendidikan itu sendiri. Pendidikan berkualitas akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki kepekaan sosial  akan nasib bangsa dihadapan. Pentingnya penanaman pondasi agama, ilmu dan pengetahuan adalah wujud dimana penyelenggaraan pendidikan oleh negara harus mampu mengakomodir kepentingan jangka pendek, menengah dan panjang. Tidak sebatas hanya sebuah pedoman saja, tetapi ia wajib dipahami, ditelaah dan akhirnya menjadi kebiasaan untuk diikuti.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, Jumeri mengatakan pemerintah telah mengeluarkan kebijakan zonasi dalam sistem Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ). Zonasi menurutnya merupakan salah satu upaya Kemendikbudristek untuk meningkatkan akses layanan pendidikan yang berkeadilan dan merata. Dengan adanya sistem zonasi maka, tidak ada lagi stigma sekolah favorit. Masyarakat yang berdomisili di wilayah sekitar sekolah dapat melanjutkan pendidikan dengan akses terdekat dari tempat tinggal. Walaupun dilapangan, zonasi sering kali memunculkan pro dan kontra, dan dianggap membuka kesempatan manipulasi data.

Walaupun dihinggapi banyak kecemasan, sistem zonasi menurut penulis merupakan sebuah proses edukatif untuk melatih kejujuran dan kepeduliaan segala unsur masyarakat. Mulai dari pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, pihak sekolah, orang tua dan masyarakat. Pengawalan tidak mungkin bisa hanya dilakukan oleh satu pihak, perlu dukungan semua elemen masyarakat agar hasil sesuai dengan yang diharapkan. Bangsa ini masih terus harus belajar bagaimana beradab untuk berdaulat, bagaimana belajar untuk menjadi cerdas dan dihargai oleh bangsa lain.**

Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Sosiologi UMM

Most Read

Artikel Terbaru

/