alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Rindu Guru Sehat dan Bermutu

Oleh Y Priyono Pasti

TAHUN Ajaran Baru 2022/2023 tinggal menghitung minggu. Agar optimalisasi proses pembelajaran terwujud, rupa-rupa persiapan mutlak diperlukan. Diantaranya mengidentifikasi (dan mengetahui) penyakit guru dan upaya mengatasinya. Di tahun ajaran baru, kita butuh dan rindu guru sehat yang bermutu.

Dion Eprijum Ginanto dalam bukunya “Jadi Pendidik Kreatif dan Inspiratif”, mengindentifikasi penyakit yang sering menyerang guru. Dalam amatan Dion, paling tidak ada sepuluh penyakit yang mungkin akan diidap dan bahkan telah menggerogoti guru.  Karena itu, guru harus sungguh waspada terhadap penyakit tersebut agar tidak mengalami kematian profesionalismenya sebagai guru yang bekerja di jalan kehormatan.

Sejumlah penyakit yang akan menyerang bahkan telah diidap dan menggerogoti para guru itu antara lain penyakit lesu (lemah sumber), kusta (kurang strategi), tipus (tidak punya selera), kurap (kurang persiapan), kram (kurang terampil), kudis (kurang disiplin), TBC (tidak banyak cara), mual (mutu amat lemah), asam urat (asal susun materi urutan tidak akurat), dan asma (asal masuk).

Orangtua Kedua

Guru adalah orangtua kedua bagi para siswa. Bahkan tak mustahil menjadi yang pertama bagi sejumlah siswa untuk saat ini. Maka sebagai guru, yang mesti mengetahui rahasia di balik pikiran para siswanya, menjadi guru yang sehat adalah keniscayaan. Keberadaan seorang guru di hati dan pikiran siswa akan berdampak besar pada kemajuan prestasi akademik mereka.

Sepuluh penyakit guru di atas, sangat mudah diidentifikasi. Dampaknya pun sangat gampang dibayangkan. Ketika guru mengidap di antara penyakit tersebut (apalagi yang parah), hampir dapat dipastikan proses pembelajaran menjadi membosankan dan tidak efektif. Dan itu berdampak buruk bagi siswa karena siswa tidak mendapatkan apapun dalam aktivitas belajar mereka.

Untuk itu, sejumlah penyakit guru tersebut harus disingkirkan dari seorang guru, paling tidak diminimalisir. Menyongsong tahun ajaran baru 2022/2023 dengan segala dinamika dan impian siswa yang menggelegak, guru harus sehat supaya bisa tampil prima.

Keberadaan guru mesti menjadi sumber kegembiraan para siswa. Lukislah kebahagiaan di hati siswa. Tinggalkan kesan indah yang mendalam (membekas) di pikirannya. Dengan demikian, siswa akan antusias dalam belajar untuk meledakkan potensi kreatif-unik yang mereka miliki.

Rekomendasi Obatnya

Guru yang menderita penyakit Lesu harus segera minum Jamu Kuat. Yaitu, Jangan malu (mencari sumber ajar-sumber belajar), Konsultasikan (dengan kolega untuk mengatasi penyakit lesu), Upayakan (dengan segenap cara guna memenuhi sumber pengajaran), Atasi (segala rintangan yang menghadang), dan Terapkan (sumber-sumber baru meskipun terasa sulit dan berat).

Baca Juga :  Ambalau Kekurangan Guru

Guru yang mengidap penyakit Kusta harus segera membeli Balsem. Baca (literatur-literatur yang berkaitan dengan strategi pembelajaran efektif, baca situasi dan kondisi para siswa), Latih (dan terapkan strategi pembelajaran yang didapat dari kegiatan membaca), dan Sempurnakan (strategi tersebut melalui kegiatan eksperimen, evaluasi, dan supervisi).

Guru yang mengalami penyakit Tipus, disarankan untuk segera membeli dan meminum Puyer. Yaitu, Pikirkan (dan renungkan kembali keberadaan kita sebagai guru, apa yang sudah kita berikan untuk para siswa, masyarakat, bangsa dan negara), Usahakan (langkah atau tindakan nyata untuk melakukan perubahan), Yakinkan (diri bahwa kita mampu), Empati (mendalam pada diri sebagai guru agar mampu menjadi guru yang efektif), dan Resapi (dan tetap konsisten untuk memilih guru menjadi profesi idaman).

Guru yang sudah terlanjur mengidap penyakit Kurap, segeralah membeli Salep untuk mengobatinya. Obat Salep, yaitu Siapkan (dan identifikasi segala sesuatu terkait tugas mengajar, mulai dari unsur pra, in, dan pasca mengajar), Lakukan (apa yang sudah kita persiapkan sebelumnya dengan sebaik-baiknya), Evaluasi (kinerja kita terkait apa yang telah disiapkan dan dilakukan untuk mengetahui hasil dan rencana tindak lanjut), dan Pastikan (apa yang telah kita siapkan, lakukan, dan evaluasi berada pada rel pendidikan yang benar).

Guru yang menderita penyakit Kram, secepatnya mengonsumsi CTM. Yaitu, Cekatan (cepat, gesit namun terarah dan tepat dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran dengan target yang jelas serta cepat dalam membantu urusan siswa), Tekun (mencari bahan ajar, melatih diri untuk menjadi guru yang kreatif, inovatif, dan produktif serta mengerahkan segala daya upaya dalam mencapai tujuan), dan Menguasai (metode, pendekatan, strategi, serta teknik yang mampu mengaktifkan semangat belajar siswa).

Guru yang menderita penyakit Kudis harus segera mengonsumsi Pil Jambu. Yaitu, Profesional (selalu mengusahakan dirinya berada di ujung terbaik-cutting edge– bidang keahliannya, selalu termotivasi oleh keinginan mulia berbuat baik, mempunyai kesadaran untuk melayani orang lain demi mendapatkan kepuasan semua orang yang menyangkut profesinya, tetap bersedia terus menggali ilmu kepada siapa pun, memahami profesinya sebagai pengabdian, kreatif, tidak akan mengkhianati etika dan moralitas profesinya, Ikhlas (menjadikan amal pekerjaannya murni hanya untuk mendapat pahala dari Tuhan YME, Lincah (dalam bertindak guna mencapai hasil terbaik) serta Jangan Membuang-Buang Waktu.

Guru berpenyakit TBC ini harus segera mengonsumsi Kina. Yaitu, Kreatif (mencari cara mengajar yang belum pernah dipikirkan oleh guru lain di sekolah melalui penelusuran literatur dan bertanya kepada yang kompeten), INovatif (membuat mata pelajaran selalu terasa baru yang membuat siswa bergairah dan antusias untuk belajar), dan Aplikatif (mampu menyampaikan dan meyederhanakan materi pembelajaran dengan lebih riil dan dapat dipahami oleh siswa dengan mudah).

Baca Juga :  Potensi dan Realita Zakat Infaq dan Sedekah serta Dana Sosial Keagamaan

Untuk mengobati guru yang menderita penyakit Mual, segera rekomendasikan Bodrek. Yaitu, Belajar (baik secara mandiri,  dari lingkungan sekitar, maupun diklat untuk menambah wawasan dan secara terus-menerus meng-update pengetahuan guna meningkatkan mutu pengajaran), Olah(lah ilmu yang kita pelajari secara bijak agar berhasil dan tepat guna,  utamanya untuk kepentingan siswa), Diagnosa (terhadap diri sendiri wajib dilakukan untuk menemukan kelemahan-kelemahan dalam mengajar agar segera diperbaiki), dan Rekayasa (performa sedemikian rupa sehingga selalu terlihat kompeten di mata siswa).

Untuk mengobati Asam Urat, guru harus segera minum Sirup, yaitu Sinkronkan (urutan materi yang kita sampaikan kepada siswa dengan berpedoman pada keseragaman materi tingkat nasional), Implementasikan (Slabus, RPP, Prota, Prosem, dan perangkat mengajar lainnya menjadi acuan mengajar yang baku dan valid), Urutkan (materi ajar agar guru dan siswa lebih mudah memahami materi secara keseluruhan), dan Patenkan (materi-materi yang sudah kita ramu sedemikian rupa menjadi buku/diktat agar dapat dibaca dan dijadikan referensi oleh guru yang lain).

Guru yang mengidap penyakit Asma, harus segera mengonsumsi dua jenis obat, yaitu obat Generik dan Aspirin. Generik, yaitu Generalisasikan Iman dan Kemampuan. Guru yang mampu mengeneralisasikan iman dan kemampuan dalam tugas keguruannya, diyakini mampu menjadi guru yang baik (profesional). Sedangkan Aspirin adalah Ajari Siswa dengan Penuh Inisiatif, Reflektif, dan INspiratif.

Catatan Penutup

Menjadi guru sehat dan bermutu memang tak gampang. Ia menuntut kesabaran, ketekunan, kegigihan, kedisiplinan, keseriusan, dan komitmen. Namun, kita tidak boleh menyerah, apalagi sampai fatalistik. Jadikan ekspresi wajah murung dan kernyitan dahi para siswa kita sebagai motivasi untuk terus memperbaiki diri dan berprestasi.

Di tahun ajaran baru 2022/2023, kita butuh guru-guru yang sehat. Dengan sehat (dan cerdas), suasana hati guru menjadi tenang, lebih jernih berpikir, leluasa dan nyaman menjalankan aktivitas sebagai guru yang mengabdi di jalan kehormatan.

Mudah-mudahan bahasan ringkas tentang sepuluh penyakit guru dan obatnya sebagaimana dipaparkan di atas dapat dijadikan bahan refleksi dan referensi untuk terus memperbaiki diri menjadi guru yang mumpuni. Semoga demikian!

Penulis Alumnus USD Yogya Guru di SMP/SMA St. F. Asisi  Pontianak – Kalimantan Barat 

Oleh Y Priyono Pasti

TAHUN Ajaran Baru 2022/2023 tinggal menghitung minggu. Agar optimalisasi proses pembelajaran terwujud, rupa-rupa persiapan mutlak diperlukan. Diantaranya mengidentifikasi (dan mengetahui) penyakit guru dan upaya mengatasinya. Di tahun ajaran baru, kita butuh dan rindu guru sehat yang bermutu.

Dion Eprijum Ginanto dalam bukunya “Jadi Pendidik Kreatif dan Inspiratif”, mengindentifikasi penyakit yang sering menyerang guru. Dalam amatan Dion, paling tidak ada sepuluh penyakit yang mungkin akan diidap dan bahkan telah menggerogoti guru.  Karena itu, guru harus sungguh waspada terhadap penyakit tersebut agar tidak mengalami kematian profesionalismenya sebagai guru yang bekerja di jalan kehormatan.

Sejumlah penyakit yang akan menyerang bahkan telah diidap dan menggerogoti para guru itu antara lain penyakit lesu (lemah sumber), kusta (kurang strategi), tipus (tidak punya selera), kurap (kurang persiapan), kram (kurang terampil), kudis (kurang disiplin), TBC (tidak banyak cara), mual (mutu amat lemah), asam urat (asal susun materi urutan tidak akurat), dan asma (asal masuk).

Orangtua Kedua

Guru adalah orangtua kedua bagi para siswa. Bahkan tak mustahil menjadi yang pertama bagi sejumlah siswa untuk saat ini. Maka sebagai guru, yang mesti mengetahui rahasia di balik pikiran para siswanya, menjadi guru yang sehat adalah keniscayaan. Keberadaan seorang guru di hati dan pikiran siswa akan berdampak besar pada kemajuan prestasi akademik mereka.

Sepuluh penyakit guru di atas, sangat mudah diidentifikasi. Dampaknya pun sangat gampang dibayangkan. Ketika guru mengidap di antara penyakit tersebut (apalagi yang parah), hampir dapat dipastikan proses pembelajaran menjadi membosankan dan tidak efektif. Dan itu berdampak buruk bagi siswa karena siswa tidak mendapatkan apapun dalam aktivitas belajar mereka.

Untuk itu, sejumlah penyakit guru tersebut harus disingkirkan dari seorang guru, paling tidak diminimalisir. Menyongsong tahun ajaran baru 2022/2023 dengan segala dinamika dan impian siswa yang menggelegak, guru harus sehat supaya bisa tampil prima.

Keberadaan guru mesti menjadi sumber kegembiraan para siswa. Lukislah kebahagiaan di hati siswa. Tinggalkan kesan indah yang mendalam (membekas) di pikirannya. Dengan demikian, siswa akan antusias dalam belajar untuk meledakkan potensi kreatif-unik yang mereka miliki.

Rekomendasi Obatnya

Guru yang menderita penyakit Lesu harus segera minum Jamu Kuat. Yaitu, Jangan malu (mencari sumber ajar-sumber belajar), Konsultasikan (dengan kolega untuk mengatasi penyakit lesu), Upayakan (dengan segenap cara guna memenuhi sumber pengajaran), Atasi (segala rintangan yang menghadang), dan Terapkan (sumber-sumber baru meskipun terasa sulit dan berat).

Baca Juga :  Seorang Guru di Mempawah Diduga Aniaya Dua Siswa hingga Lebam

Guru yang mengidap penyakit Kusta harus segera membeli Balsem. Baca (literatur-literatur yang berkaitan dengan strategi pembelajaran efektif, baca situasi dan kondisi para siswa), Latih (dan terapkan strategi pembelajaran yang didapat dari kegiatan membaca), dan Sempurnakan (strategi tersebut melalui kegiatan eksperimen, evaluasi, dan supervisi).

Guru yang mengalami penyakit Tipus, disarankan untuk segera membeli dan meminum Puyer. Yaitu, Pikirkan (dan renungkan kembali keberadaan kita sebagai guru, apa yang sudah kita berikan untuk para siswa, masyarakat, bangsa dan negara), Usahakan (langkah atau tindakan nyata untuk melakukan perubahan), Yakinkan (diri bahwa kita mampu), Empati (mendalam pada diri sebagai guru agar mampu menjadi guru yang efektif), dan Resapi (dan tetap konsisten untuk memilih guru menjadi profesi idaman).

Guru yang sudah terlanjur mengidap penyakit Kurap, segeralah membeli Salep untuk mengobatinya. Obat Salep, yaitu Siapkan (dan identifikasi segala sesuatu terkait tugas mengajar, mulai dari unsur pra, in, dan pasca mengajar), Lakukan (apa yang sudah kita persiapkan sebelumnya dengan sebaik-baiknya), Evaluasi (kinerja kita terkait apa yang telah disiapkan dan dilakukan untuk mengetahui hasil dan rencana tindak lanjut), dan Pastikan (apa yang telah kita siapkan, lakukan, dan evaluasi berada pada rel pendidikan yang benar).

Guru yang menderita penyakit Kram, secepatnya mengonsumsi CTM. Yaitu, Cekatan (cepat, gesit namun terarah dan tepat dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran dengan target yang jelas serta cepat dalam membantu urusan siswa), Tekun (mencari bahan ajar, melatih diri untuk menjadi guru yang kreatif, inovatif, dan produktif serta mengerahkan segala daya upaya dalam mencapai tujuan), dan Menguasai (metode, pendekatan, strategi, serta teknik yang mampu mengaktifkan semangat belajar siswa).

Guru yang menderita penyakit Kudis harus segera mengonsumsi Pil Jambu. Yaitu, Profesional (selalu mengusahakan dirinya berada di ujung terbaik-cutting edge– bidang keahliannya, selalu termotivasi oleh keinginan mulia berbuat baik, mempunyai kesadaran untuk melayani orang lain demi mendapatkan kepuasan semua orang yang menyangkut profesinya, tetap bersedia terus menggali ilmu kepada siapa pun, memahami profesinya sebagai pengabdian, kreatif, tidak akan mengkhianati etika dan moralitas profesinya, Ikhlas (menjadikan amal pekerjaannya murni hanya untuk mendapat pahala dari Tuhan YME, Lincah (dalam bertindak guna mencapai hasil terbaik) serta Jangan Membuang-Buang Waktu.

Guru berpenyakit TBC ini harus segera mengonsumsi Kina. Yaitu, Kreatif (mencari cara mengajar yang belum pernah dipikirkan oleh guru lain di sekolah melalui penelusuran literatur dan bertanya kepada yang kompeten), INovatif (membuat mata pelajaran selalu terasa baru yang membuat siswa bergairah dan antusias untuk belajar), dan Aplikatif (mampu menyampaikan dan meyederhanakan materi pembelajaran dengan lebih riil dan dapat dipahami oleh siswa dengan mudah).

Baca Juga :  (Jelang) Seabad Pers Kalimantan Barat

Untuk mengobati guru yang menderita penyakit Mual, segera rekomendasikan Bodrek. Yaitu, Belajar (baik secara mandiri,  dari lingkungan sekitar, maupun diklat untuk menambah wawasan dan secara terus-menerus meng-update pengetahuan guna meningkatkan mutu pengajaran), Olah(lah ilmu yang kita pelajari secara bijak agar berhasil dan tepat guna,  utamanya untuk kepentingan siswa), Diagnosa (terhadap diri sendiri wajib dilakukan untuk menemukan kelemahan-kelemahan dalam mengajar agar segera diperbaiki), dan Rekayasa (performa sedemikian rupa sehingga selalu terlihat kompeten di mata siswa).

Untuk mengobati Asam Urat, guru harus segera minum Sirup, yaitu Sinkronkan (urutan materi yang kita sampaikan kepada siswa dengan berpedoman pada keseragaman materi tingkat nasional), Implementasikan (Slabus, RPP, Prota, Prosem, dan perangkat mengajar lainnya menjadi acuan mengajar yang baku dan valid), Urutkan (materi ajar agar guru dan siswa lebih mudah memahami materi secara keseluruhan), dan Patenkan (materi-materi yang sudah kita ramu sedemikian rupa menjadi buku/diktat agar dapat dibaca dan dijadikan referensi oleh guru yang lain).

Guru yang mengidap penyakit Asma, harus segera mengonsumsi dua jenis obat, yaitu obat Generik dan Aspirin. Generik, yaitu Generalisasikan Iman dan Kemampuan. Guru yang mampu mengeneralisasikan iman dan kemampuan dalam tugas keguruannya, diyakini mampu menjadi guru yang baik (profesional). Sedangkan Aspirin adalah Ajari Siswa dengan Penuh Inisiatif, Reflektif, dan INspiratif.

Catatan Penutup

Menjadi guru sehat dan bermutu memang tak gampang. Ia menuntut kesabaran, ketekunan, kegigihan, kedisiplinan, keseriusan, dan komitmen. Namun, kita tidak boleh menyerah, apalagi sampai fatalistik. Jadikan ekspresi wajah murung dan kernyitan dahi para siswa kita sebagai motivasi untuk terus memperbaiki diri dan berprestasi.

Di tahun ajaran baru 2022/2023, kita butuh guru-guru yang sehat. Dengan sehat (dan cerdas), suasana hati guru menjadi tenang, lebih jernih berpikir, leluasa dan nyaman menjalankan aktivitas sebagai guru yang mengabdi di jalan kehormatan.

Mudah-mudahan bahasan ringkas tentang sepuluh penyakit guru dan obatnya sebagaimana dipaparkan di atas dapat dijadikan bahan refleksi dan referensi untuk terus memperbaiki diri menjadi guru yang mumpuni. Semoga demikian!

Penulis Alumnus USD Yogya Guru di SMP/SMA St. F. Asisi  Pontianak – Kalimantan Barat 

Most Read

Artikel Terbaru

/