Nenekku seorang yang buta huruf. Beliau wafat tahun 1995 dalam usia 92 tahun. Semasa kecil sebelum sekolah saya tinggal dengan nenek. Sejak kecil saya diajari dua kalimah syahadat dan lafazh shalawat oleh nenek. Setiap hari jumat nenek memanggil cucu-cucunya untuk bercerita dan memberikan kata-kata mutiara. Setelah puluhan tahun nenek telah tiada, beberapa wejangan nenek saye renungkan, terasa ada muatan hikmah yang tinggi di baliknya.
Di antara wejangan nenek saya sekalian jadi sumpahnya untuk anak-cucunya, adalah “nak selama kamu tidak menghina orang maka orang menipu kaku dia tidak akan kebih mulia darimu. Selama kamu tidak menipu orang maka orang menipu kamu tidak akan lebih kaya darimu. dan sesungguhnya jika ada orang berbuat baik kepada kamu sesungguhnya itu Allah yang berbuat baik, maka jangan jadi bebek, karen bebek itu walaupun kamu taro di kelambu emas dia tetap kembali ke comberan.
pertama, selama kamu tidak menghina orang maka orang yang menghinamu tidak akan lebih mulai darimu. Intinya jangan menjadi tukang hinn atau jangan suka menghina orang. Sumpah nenek saya ini bagi saya sangat dalam maknanya. Guru sekaligus sebagai telaga hikmah untuk saya mengajarkan bahwa “di dalam setiap dada manusia itu ada amanah Allah. Sesungguhnya jika menghina orang adalah pada hakikatjya telah menghina Allah. Sesungguhnya ketika kita menghina seseorang pada hakikatnya tidak menghina tubuh seseorang itu melainlan menghina subyek pada tubuh itu, yaitu ruh yang datang dari pada Allah. Itu artinya sama saja menghina Allah. Yang lebih hebat lagi bahwa ruh itu bersaudara karena ruh itu berasal dari satu sunber yaitu Allah Swt. Itu sebabnya, jika kita memelihata kehidupan seseorang manusia maka seolah-olah dia memeliharan kehidupan manusia seluruhnya (Qs. al-Mâidah/5:32).
Banyak sekali bentuk penghinaan kepeda seseorang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap kita tahu dan bisa merasa bentuk penghinaan. Seperti memaki dengan sebutan nama penghuni kebun binatang, menebar aib saudara, menggunjing, mempermalukan, dan lain-lain.
Kedua,selama kamu tidak menipu orang lain, maka orang yang menipu dirimu itu tidak alan lebih kaya darimu. Naehat ini mengandung nasehat bahwa menipu orang tidak akan membuat kaya. Dapat dirasakan bahwa perilaku menipu ini ajaran universal adalah babwq tak seorangpun di permukaqn bumi senang kalau ditipu. Dalam ajaran Agama diungkap kata menipu digambarlan dalam Qs al- Baqarah/2:9-10. Tuhan menyindir bahwa tipuan itu berupa kuslihat yang dihajatkan kepada orang lain oleh orang yang berpenyakit hati. Rangkaian teks ayat ini menunjuk prilaku orang-orang munafik. Orang munafik itu hajat tipuannya besar sekali bahkan Tuhanpun hendak ditipu. Namun sesungguhnya mereka hanya dapat menipu diri mereka sendiri.
Ketiga,jika ada orang berbuat baik kepada kamu sesungguhnya itu Allah yang berbuat baik, maka jangan jadi bebek, karena bebek itu walaupun kamu taro di kelambu emas dia tetap kembali ke comberan. Maksudnya seseorang yang tidak tahu terima kasih walaupun dimuliakan tetap saja berperilaku dengan tabi’at buruknya. Sikap dan perilaku berterima kasih merupalan ajaran kebaikan dalam beragama. Terima kasih bagian dari perilaku pandai bersykur kepada Allah.
Tiga nasehat kebaikan ini terlihat kecil dan ringat. Namun sesungguhnya berat di timbangan. Maka siapa yang dapat mengamalkan kebaikan di baliknya juga akan mensapat kebaikan yang banyak. Semoga kita tergolonh orang dengan kebaikan di balik nasehat ini. Editor : Super_Admin