Oleh:
Taubat secara bahasa bermakna kembali. Kembali dari kemaksiatan (akhlak tercela) kepada ketaatan. Orang yang bertaubat dengan segala kelengkapan syarat-syaratnya termasuk orang orang yang dicintai oleh Allah SWT. Allah SWT menyatakan hal ini sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan yang menyucikan diri." (Qs. 2: 222).
Penggunaan kata yuhibbu menunjukkan bahwa kapanpun dan siapapun yang datang menghadap Allah untuk bertaubat dan menyucikan dirinya maka ia akan disambut dengan segala kasih oleh yang Maha Pengasih dan segala sayang oleh yang Maha Penyayang. Kata yuhibbu juga mengisyaratkan ampunan selalu terbuka lebar sehingga keberlangsungan penerimaan taubat selalu terhampar luas, hingga ajal menjemput.
Allah SWT Maha Tahu bahwa kita makhluk lemah dan penuh dosa, Dia sangat memahaminya karenanya pintu taubat dan segala kebaikan disiapkannya untuk kita sebagai proses penyucian diri. “Betapa banyak dosa yang engkau lakukan, ketika engkau datang kepada-Ku dengan penuh penyesalan, dengan iringan istighfar dan isakan tangis seorang hamba sebagai pengakuan dosa dan pujianmu kepadaKu di atas sajadah, ketahuilah pintu rahmatKU sangat terbuka lebar,” demikian penjelasan sederhananya bila kita memahami esensi taubat.
Sesungguhnya term taubat adalah bicara tentang diri kita. Adakah manusia tanpa dosa? Tidak satupun, hanya mungkin tingkatannya yang berbeda. Ibarat penggunaan kata ada dengan kasus berat, kasus sedang atau kasus tergolong recehan. Tapi, dosa kecil jika dibiarkan, ditumpuk terus maka ia semakin banyak dan bahaya yang paling berbahaya adalah jika seseorang merasa tenang usai melakukan dosa. Jika ini yang terjadi yakni merasa tidak berdosa setelah melakukan dosa, maka itulah alamat matinya hati seseorang.
Dalam Risalah Mu'awanah (h. 44) disebutkan bahwa orang yang benar-benar bertaubat maka ia harus memperhatikan hal hal sebagai berikut, pertama, meninggalkan bentuk perbuatan dosa tersebut. Orang yang ingin bertaubat dari kebiasaan minum khamar maka detik itu juga ia harus menjauhinya. Kata taubat dan istighfar secara lisan tapi masih mengulangi perbuatan itu maka ia belum dinamakan taubat.
Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukannya. Dosa yang telah dilakukan hendaknya tidak dijadikan sebagai satu kebanggaan masa lalu, “Kamu belum apa-apa mabuk satu botol, nih saya lima botol ngga teller.” Kata ini seharusnya tidak dijadikan sebagai kebanggaan malah harus menyesali mengapa sampai terjerumus ke dalam dosa. Lagi-lagi Allah SWT senantiasa menyambut harapan, doa dan taubat hamba-Nya yang memang betul-betul ingin bertaubat kepada-Nya.
Ketiga, bertekad dengan penuh kesadaran untuk tidak mengulangi lagi. Tekad dan komitmen ini sangat penting karena ketika seseorang menyatakan taubat maka berbagai godaan baik secara terang-terangan maupun secara tersirat akan menghalangi niat baik ini. Entah teman lama berkunjung kembali, entah bisikan yang menyatakan bahwa sedikit dosa tidak apa-apa dan sebagainya. Bahkan termasuk orang yang benar-benar bertaubat adalah memutus mata rantai dan celah yang dapat mengantarkan kembalinya seseorang ke jalan sebelumnya. Hijrah kearah yang lebih baik adalah bagian dari sikap seseorang yang benar-benar bertaubat.
Saudaraku, beruntung kita memiliki Sang Pencipta yang Maha Penyayang. Sayang-Nya mengalahkan murka-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa jika melihat tingkah laku manusia yang sombong, yang menutupi nikmat Allah, yang menindas orang lain, yang pura-pura membisu-tulikan peringatan Allah maka ingin sebenarnya Dia menurunkan azab-Nya namun karena ada orang dan atau sekelompok orang yang senantiasa menyebut asma Allah, masih adanya orang yang memakmurkan masjid, masih ditemukan orang yang bershilaturrahmi dan tegur sapa lillahi ta’ala maka musibah (azab) ditahan karena luasnya kasih sayang Allah SWT.
Baca Juga: Edy Rahmansana: Debat Publik Wadah Kampanye untuk Kenalkan Visi Misi
Tangisan pertaubatan dan penyesalan mendalam disertai permohonan ampun lebih dicintai Allah SWT daripada lisan ahli ibadah dengan untaian tasbihnya namun merasa ia yang paling suci di muka bumi ini.**
*Penulis adalah Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat; Sekretaris Umum PW IPIM Kalimantan Barat.
Editor : A'an