Oleh: Risky
Pengangguran adalah isu sosial dan ekonomi yang berdampak luas, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Walaupun tampak mirip, pengangguran di kedua wilayah ini memiliki karakteristik yang berbeda karena adanya faktor-faktor yang memengaruhi serta perbedaan solusi yang diperlukan. Di satu sisi, kota menyediakan kesempatan ekonomi yang lebih beragam tetapi persaingan yang ketat seringkali menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran. Sebaliknya, di desa, keterbatasan pekerjaan dan ketergantungan pada sektor pertanian merupakan hambatan utama. Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa menciptakan solusi yang lebih tepat sasaran untuk menangani masalah pengangguran. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang berbeda untuk masalah yang sama.
Berdasarkan data hasil Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat pada Selasa tanggal 5 November 2024, diketahui bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Kalimantan Barat periode Agustus 2024 sebesar 4,86 persen. Angka ini turun dari periode tahun sebelumnya yaitu 5,05 pada Agustus 2023 dan 5,11 pada Agustus 2022. Apabila dilihat dari sisi wilayah, pada Agustus 2024 angka TPT perkotaan di Provinsi Kalimantan Barat sebesar 7,24 persen. Sementara TPT perdesaan periode Agustus 2024 di Provinsi Kalimantan Barat sebesar 3,39 persen. Menurut angka tersebut, dapat terlihat bahwa TPT di perkotaan lebih tinggi dari TPT perdesaan.
Pada periode Agustus 2022 sampai Agustus 2024, tingkat pengangguran di wilayah perkotaan terus mengalami penurunan, namun tingkat pengangguran di wilayah perdesaan sedikit mengalami kenaikan pada Agustus 2023. Tingkat pengangguran wilayah perkotaan di Provinsi Kalimantan Barat pada Agustus 2022 sebesar 8,75 persen dan mengalami penurunan menjadi 7,29 persen pada Agustus 2023 kemudian terus menurun hingga Agustus 2024 mencapai 7,24 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran pada wilayah perdesaan di Provinsi Kalimantan Barat pada Agustus 2022 sebesar 3,11 persen, meningkat pada Agustus 2023 menjadi 3,78 persen dan kembali turun pada periode Agustus 2024 menjadi 3,39 persen.
Di daerah perkotaan, seringkali terjadi pengangguran karena terdapat lebih banyak angkatan kerja dibandingkan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Secara umum, kota menjadi pilihan utama bagi penduduk desa yang bermigrasi mencari peluang kerja yang lebih baik. Urbanisasi akan mempercepat pertumbuhan jumlah penduduk dan menciptakan persaingan yang sengit di pasar kerja. Walaupun terdapat berbagai opsi pekerjaan di kota seperti di sektor jasa, industri dan teknologi, namun masalah utama seringkali terletak pada tingkat pendidikan dan keterampilan para pekerja. Salah satu alasan utama orang menganggur di kota karena terdapat kesenjangan keterampilan, di mana keterampilan yang dimiliki oleh para pekerja tidak sesuai dengan kebutuhan industri modern. Pertumbuhan industri seperti teknologi informasi, layanan keuangan, dan industri kreatif memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus. Namun, banyak pekerja yang belum memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menempati posisi di sektor-sektor tersebut. Selain itu, banyak lulusan pendidikan formal yang kurang dilengkapi dengan keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Hal ini mengakibatkan tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan lulusan baru, walaupun jumlah pekerjaan yang tersedia cukup banyak di perkotaan.
Di satu sisi, situasi pengangguran di perdesaan berbeda dengan yang terjadi di perkotaan. Di desa, sebagian besar penduduk masih mengandalkan pertanian sebagai sumber pendapatan utama. Ketergantungan yang besar pada sektor pertanian menyebabkan permasalahan utama adalah pengangguran musiman. Setelah panen selesai atau cuaca buruk, banyak pekerja di sektor pertanian kehilangan pekerjaan untuk sementara waktu. Mereka tidak mempunyai pekerjaan reguler atau sumber penghasilan lain sampai tiba musim tanam atau panen berikutnya. Kurangnya variasi ekonomi di daerah perdesaan juga menyebabkan tingginya tingkat pengangguran. Selain di sektor pertanian, pilihan pekerjaan di desa sangat sedikit. Keterbatasan infrastruktur seperti jalan, listrik dan internet menghambat pertumbuhan ekonomi desa dan mengurangi investasi di sektor non-pertanian seperti pariwisata atau industri kecil. Dampaknya adalah terbatasnya opsi pekerjaan bagi penduduk desa di luar pertanian. Selain itu, akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan juga sangat terbatas di perdesaan. Masyarakat desa sering kali kesulitan untuk mendapatkan pelatihan yang relevan dengan perkembangan dunia kerja modern. Akibatnya, banyak penduduk desa yang hanya memiliki keterampilan dasar dan tidak mampu bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif. Kondisi ini mendorong urbanisasi, di mana banyak penduduk desa, terutama generasi muda, bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun, perpindahan ini sering kali tidak disertai dengan peningkatan keterampilan, sehingga hanya menambah jumlah pengangguran di perkotaan.
Tingkat pengangguran, baik di kota maupun desa akan berpengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi dan sosial. Di perkotaan, tingginya tingkat pengangguran menyebabkan kesenjangan ekonomi meningkat antara orang-orang yang bekerja di sektor formal dengan pendapatan yang tetap dan mereka yang bekerja di sektor informal atau tidak bekerja. Biaya hidup yang mahal di kota semakin memperburuk kondisi bagi orang-orang tanpa pekerjaan tetap. Di perdesaan, pengangguran menyebabkan ketergantungan besar pada pertanian subsisten dan membawa banyak keluarga terjebak dalam kemiskinan. Karena sulitnya mencari pekerjaan lain di desa, orang desa rentan terhadap perubahan harga komoditas pertanian dan iklim. Kurangnya sarana dan prasarana juga mengakibatkan terisolasi ekonomi, di mana masyarakat desa menghadapi kesulitan dalam menjual produk mereka ke kota atau daerah lain. Konsekuensi jangka panjang dari tingginya tingkat pengangguran di perdesaan adalah ekonomi perdesaan yang semakin melemah dan kesenjangan antara desa dan kota yang semakin bertambah.
Diperlukan pendekatan yang berbeda untuk mengatasi pengangguran di perkotaan dan perdesaan sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing. Di kota, salah satu cara yang efektif adalah meningkatkan akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja saat ini. Pelatihan yang difokuskan pada teknologi, kewirausahaan dan sektor jasa dapat membantu pekerja perkotaan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam industri. Di samping itu, pemerintah harus menggalakkan pembuatan pekerjaan baru dengan berinvestasi di bidang-bidang yang sedang berkembang, seperti teknologi informasi, energi terbarukan, dan industri kreatif.
Pengangguran di wilayah perkotaan dan perdesaan adalah masalah yang serius dan perlu perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat. Walaupun penyebab dan akibatnya bervariasi di tiap daerah, kerjasama antara semua pihak terkait dapat membantu menanggulangi masalah ini. Dengan meningkatkan kemampuan pekerja, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperbaiki infrastruktur, kita dapat mengurangi angka pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif baik di perkotaan maupun perdesaan. Pada akhirnya, mengatasi pengangguran akan membawa dampak positif yang luas, seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat dan stabilitas ekonomi jangka panjang. **
*Penulis adalah Statistisi Ahli Muda, BPS Provinsi Kalimantan Barat.
Editor : Miftahul Khair