Oleh: Didik Saifuddin Anshori; Eva Dolorosa
PRODUKSI cabai di Kabupaten Melawi mencatat perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen cabai rawit meningkat tajam dari 140 hektar pada tahun 2022 menjadi 385 hektar pada tahun 2023. Produksi cabai rawit juga melonjak dari 3.593 kuintal menjadi 13.284 kuintal pada periode yang sama. Sebaliknya, luas panen cabai besar stagnan di angka 1 hektar dengan produksi hanya 5 kuintal pada 2023. Data ini menunjukkan bahwa fokus utama pertanian cabai di Melawi adalah pada jenis cabai rawit.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan upaya besar dari para petani dan pihak terkait untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas cabai. Salah satu inovasi yang diterapkan untuk mendukung budidaya cabai adalah penggunaan mikroorganisme perakaran, seperti Bacillus Plus, yang terbukti efektif meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.
Inovasi Bertani di Lahan Gambut
Salah seorang petani cabai di Melawi yang sukses mengadopsi inovasi ini adalah Taswadi, petani asal Brebes yang kini menetap di Dusun Mawang Raya, Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing. Lahir pada 4 Mei 1969, Pak Taswadi menghadapi tantangan bertani di lahan gambut dengan tekad untuk berinovasi. Ia mengungkapkan bahwa penggunaan Bacillus Plus telah membantu meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen cabainya secara signifikan.
"Penggunaan Bacillus Plus membuat batang tanaman lebih kokoh, jumlah cabang meningkat, dan produksi buah bertambah. Warna cabai juga lebih mengkilap, sehingga memiliki daya tarik lebih di pasar. Selain itu, biaya produksi dapat ditekan hingga 50% karena hemat penggunaan pupuk," jelas Taswadi.
Keberhasilan ini menjadikan Taswadi sebagai inspirasi di komunitas petani cabai Melawi, sekaligus contoh nyata bahwa inovasi teknologi dapat mendorong pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Optimalisasi Pemasaran Cabai Ramah Lingkungan
Untuk memaksimalkan hasil budidayanya, Taswadi memasarkan cabainya di Pasar Nanga Pinoh. Namun, ke depan, ia diharapkan dapat menerapkan strategi pemasaran yang lebih modern dan berbasis digital. Salah satu langkah strategis adalah dengan menciptakan merek seperti "Cabai Organik Taswadi", lengkap dengan logo sederhana yang mencerminkan identitas produk.
Melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, Taswadi dapat membagikan cerita inspiratif di balik budidaya cabai ramah lingkungan yang menggunakan Bacillus Plus. Konten berupa foto, video, atau cerita keseharian di ladang dapat menarik perhatian konsumen yang peduli terhadap produk sehat dan proses alami.
Selain itu, testimoni pelanggan juga dapat menjadi alat promosi yang efektif. Ulasan tentang kualitas cabai dan proses budidaya ramah lingkungan dapat meningkatkan kepercayaan calon pembeli. Testimoni ini dapat dikumpulkan melalui media sosial atau platform e-commerce yang mendukung pemasaran produk lokal.
Membangun Pertanian Berkelanjutan
Pemasaran digital memungkinkan Taswadi menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya praktik pertanian yang berkelanjutan. Dengan langkah ini, produk cabai Taswadi tidak hanya mampu bersaing di pasar lokal tetapi juga memberikan dampak positif bagi komunitas pertanian di Melawi.
(Ditulis oleh Mahasiswa Magister Agribisnis, Fakultas Pertanian UNTAN)
Editor : A'an