Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran
ALLAH SWT tidak ingin menjadikan manusia sebagaimana malaikat yang serba patuh, tanpa dosa. Allah SWT tidak ingin menjadikan manusia seperti iblis yang sangat durhaka, ketiadaan taat. Dia ciptakan secara khusus jiwa manusia yang dapat menampung unsur malaikat dan unsur iblis. Di sinilah esensi perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan melawan rasa pelit, perjuangan menahan amarah. Namun, raihlah ampunan Tuhan dengan cara memaafkan seluruh manusia dan berbuat baik. Meski dalam perjalanannya, ada perbuatan dosa atau menganiaya diri sendiri. Solusinya adalah segera mengingat Allah, memohon ampun, dan tidak akan mengulangi dosa selamanya.
Dalam sejarah Islam, terdapat dua malam yang paling utama. Satu malam telah berlangsung dan tidak terulang lagi. Malam kelahirannya Rasulullah SAW. Bertepatan dengan malam Senin, 20 April 571 M (bersamaan dengan tahun gajah). Kedua adalah malam Qadar (kemuliaan, ketetapan), yang berlangsung setiap tahun. Tidak diketahui pasti turunnya. Namun, para finalis Ramadan akan merasakan getarannya. Malah rasa di dalam rasa (fi sirris-sari), bisa dikisahkan tapi tidak sanggup diungkap.
Item yang dikisah itu pun adalah yang sedikit dari yang sangat sedikit. Karena masuk pada wilayah roh (zona spiritual). Zonasi tersebut dipilih oleh-Nya secara langsung. Bagi orang yang dikehendaki-Nya mendapat hidayah, dan bagi orang yang ditolak. Tanpa seorang pun yang tahu. Mengingat ilham, wahyu dalam kadar penyebutan terhadap sasaran bersifat rahasia (sir). Bila anugerah batin kepada para utusan (anbiya, jamak dari kata nabi), disebut wahyu. Bila anugerah batin terhadap para wali (kekasih Allah SWT) diistilahkan karamah. Bila bisikan halus (batin Tuhan) dicurahkan kepada hambaNya yang saleh, disebut ilham. Semua anugerah diri batin tadi, tidak bisa dipelajari.
Rahasia waktu Alqadar dalam seluruh malam Ramadan dipersempit di malam ganjil. Terutama sepuluh malam terakhir. Sebagian pendapat (qaul) ulama mengatakan setiap malam tanggal 21. Artinya, lailatul-qadar turun setiap malam 21 Ramadan, setiap tahun. Ada pendapat yang mengatakan malam 27. Dan begitu seterusnya saban tahun, tanpa selisih. Atau malam ke-29 Ramadan setiap tahun. Ada pula pendapat bahwa Alqadar turun pada pilihan malam Ramadan secara acak (random). Lebih ekstrem lagi, Alqadar turun setiap malam sepanjang tahun. Alqadar yang diartikan dengan hidayah (petunjuk), rahmat, cahaya yang turun secara terus-menerus (istimrariyah).
Meski demikian, Allah SWT memberi tanda secara individu kepada hamba-Nya. Dengan cara membuat hati mereka bertobat, sekaligus tercurah deras air mata penyesalan. Di situ bukti turun Alqadar, tumpahan penyesalan dari diri pendosa. Tangisan yang menggetarkan Alqadar. Lalu, tumpahan rindu menyayat kepada yang maha hayat. Kehayatan-Nya dalam perhatian, ampunan, kasih, sayang, cinta, dan rida-Nya. Kemudian, kerinduan dari malaikat kepada makhluk penghuni bumi (manusia).
Malaikat sebagai makhluk cahaya, tidak bernapsu untuk makan, tidak bernapsu untuk minum, tidak tidur. Pertama, malaikat merindukan orang-orang yang memberi makan kepada orang-orang yang berbuka dan kepada orang-orang yang bersahur di bulan suci Ramadan.
Kedua, malaikat merindukan tangisan hamba pendosa. Dahsyatnya tangisan para pendosa, tangisan bercampur air mata rasa penyesalan, kerinduan, kesyukuran. Derai air mata tidak pernah tertumpah dari mata malaikat. Betapa indah ketika mereka melihat keheningan air mata umat yang tertumpah. Satu titik air mata yang tertumpah karena takut kepada Allah SWT, sungguh telah mampu memadamkan seluruh api neraka.
Baca Juga: Presiden Prabowo Gelar Ratas di Hari Minggu, Panggil Sejumlah Menteri ke Hambalang
Air mata tulus yang bersumber dari penyesalan atas semua dosa. Bagaimanapun caranya, malaikat tidak pernah mampu menangis. Sebab dia tidak pernah berdosa. Sedang manusia tempat dosa dan lupa (mahallul-khatha' wannisyan). Dua amal manusia di bumi yang tidak sanggup dikerjakan di langit. Dua amal dimaksud adalah membagikan takjil berbuka dan menyediakan makan sahur. Seterusnya, tangisan hamba dalam bertaubat nasuha. Mereka akan disalami para malaikat, kecuali orang-orang yang zalim (aniaya). Wallahua'lam.(**)
*Dosen IAIN Pontianak
Editor : A'an