Oleh: H. Burhansyah, S Ag, M Pd.*
PONTIANAK POST - Arti kata maaf adalah pernyataan atau sikap seseorang untuk mengampuni kesalahan orang lain, membebaskannya dari rasa bersalah, atau tidak menyimpan dendam atas kesalahan yang telah dilakukan. Secara lebih dalam, maaf juga bisa dimaknai sebagai bentuk kelegaan hati dan kelapangan jiwa untuk menerima kekurangan orang lain, serta memilih kedamaian daripada permusuhan.
Allah sudah tahu bahwa dalam pergaulan antara sesama manusia akan sering diperlakukan dengan hal-hal yang memancing emosi dan amarah. Baik dari ucapan, kebijakan, iri dengki atas capaian hidup kita, diskriminasi atau dianaktirikan. Juga perlakuan kasar, dicurangi, fitnah, ghibah dan lainnya.
Makanya Allah menjanjikan surga seluas langit dan bumi bagi hamba-Nya yang mampu memberi maaf atas kesalahan manusia secara umum. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Quran surah Ali Imran: ayat 133-134.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Semakin intens hubungan antara sesama manusia, kemungkinan besar kekecewaan pun sering terjadi. Terlebih pasangan suami istri yang setiap hari berinteraksi, menemukan kekurangan masing-masing pasangan maka harus semakin sering memaafkan kepada pasangan hidup dan anak-anak.
Dalam hal ini secara khusus Allah memberikan pedoman untuk memaafkan secara khusus kepada isteri dan anak-anak dengan standar takfu: maafkan tanpa balas, tasfahu: memaafkan tanpa mengungkit ungkit kesalahan yg terlanjur dilakukan, taghfiru : maafkan tanpa menceritakan aib aib, inilah yang dimaksud dengan firman-Nya. Qs: At Thaghabun ayat 14, "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Kisah teladan dalam hal memberi maaf diabadikan Allah SWT dalam kisah Nabi Yusuf AS. Di usia kanak-kanak dan remajanya, yang dijahati oleh saudara saudaranya, sehingga harus terpisah dengan orangtua yang sangat menyayanginya, Nabi Ya'qub AS selama 30-40 Tahun. Pada saat Nabi Yusuf AS mampu untuk membalas dendam kepada saudara-saudaranya karena Nabi Yusuf telah menjadi pejabat kerajaan Mesir. Maka Nabi Yusuf mengatakan kepada saudara saudaranya, sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam Qs : Yusuf Ayat: 92.
"Dia (Yusuf) berkata, 'Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.'"
Kisah teladan sifat pemaaf datang dari junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Salah satu ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersifat pemaaf terdapat dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159. Artinya, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Menurut beberapa riwayat tafsir, khususnya dari Ibn Katsir, ayat ini turun setelah Perang Uhud ketika sebagian sahabat nabi melakukan kesalahan fatal seperti meninggalkan posisi di atas bukit yang menyebabkan kekalahan kaum Muslimin. Meski kesalahan mereka berdampak besar, Rasulullah tidak memarahi mereka dengan kasar, melainkan tetap menunjukkan sifat lemah lembut, pemaaf, dan bahkan mendoakan mereka. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penguatan dan pujian terhadap akhlak nabi, serta petunjuk untuk terus bersikap lembut, memaafkan, memohonkan ampunan, dan bermusyawarah.**
*Penulis adalah ketua PW IKADI Kalbar.
Editor : Hanif