Oleh: Deny Ariyanto*
Kota Pontianak yang dilintasi garis khatulistiwa ini tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan bisnis kuliner yang menjanjikan. Salah satunya adalah bisnis kopi kekinian, yang merambah ke konsep mobile coffee melalui gerobak keliling. Dengan modal terjangkau dan fleksibilitas lokasi, waralaba gerobak kopi keliling menjadi pilihan menarik bagi pemula yang ingin meraih untung dari tren ngopi masyarakat Kalimantan Barat.
Jika kita flashback belasan tahun lalu di Jakarta, konsep mobile coffee ini sebenarnya banyak dijumpai di sepanjang jalan besar ibu kota, yang dikenal dengan sebutan starling. Istilah starling muncul karena banyak pedagang kopi keliling yang bersepeda menawarkan kopi kemasan yang mirip dengan Starbucks.
Tak hanya kopi sachet, mereka juga menawarkan menu minuman ringan lainnya dan mi seduh instan siap santap. Target pasar mereka adalah para penikmat kopi yang tidak bisa meninggalkan tempat kerja mereka untuk sekadar membeli kopi di kedai kopi, atau ingin mengganjal perut dengan mi seduh instan.
Menjamurnya starling di ibu kota ini menjadi inspirasi bagi pelaku usaha untuk terus berinovasi dan mengembangkan starling modern menjadi lebih berkualitas dan berkelas, tetapi tetap ramah di kantong. Konsep mobile coffee ini berkembang setelah pandemi Covid- 19, dan peminatnya semakin merambah ke kota besar lainnya.
Mengapa Gerobak Kopi Keliling menjadi Primadona?
Bisnis waralaba gerobak kopi menawarkan kemudahan bagi franchise (mitra) karena tidak memerlukan sewa tempat yang permanen atau tetap. Gerobak bisa dioperasikan di lokasi strategis seperti sekolah, kampus, perkantoran, ataupun di pusat keramaian. Modal awal yang relatif kecil juga menjadi daya tarik utama. Franchisor atau pemilik waralaba biasanya menyediakan paket lengkap, mulai dari desain gerobak, menu standar, template pemasaran, hingga pelatihan barista. Berbeda dengan kedai kopi konvensional, sistem ini memungkinkan pemilik usaha untuk menjangkau para pelanggannya secara langsung di berbagai titik, sehingga dapat menghemat biaya operasional.
Budaya “ngopi” di Pontianak tidak hanya bertumpu pada warung kopi tradisional. Generasi muda dan pekerja kantoran mulai beralih ke kopi kekinian dengan harga terjangkau. Data Dinas Perdagangan Kalbar menunjukkan peningkatan konsumsi kopi robusta lokal hingga 12 persen per tahun. Kawasan seperti Jalan Gajah Mada, Universitas Tanjungpura, dan Pontianak Kota menjadi hotspot potensial untuk gerobak kopi keliling. Meski pesaing seperti kedai kopi modern sudah ada, gerobak kopi keliling tetap unggul karena bisa menyesuaikan lokasi dengan tren harian.
Langkah Praktis Memulai Bisnis Waralaba Gerobak Kopi Keliling
Tentunya yang pertama adalah memilih franchisor/waralaba yang tepat. Merek waralaba yang memiliki reputasi baik dan memberikan dukungan penuh biasanya menawarkan paket kemitraan lengkap, mulai dari pelatihan hingga pemasaran. Perlu juga memastikan terkait penyediaan bahan baku berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Berikutnya menghitung modal dan biaya operasional. Rincian modal awal umumnya meliputi biaya lisensi waralaba, pembuatan gerobak beserta perlengkapannya, dan stok bahan baku awal. Total modal sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta. Biaya bulanan diperkirakan antara dua hingga tiga juta rupiah untuk kebutuhan restock bahan, biaya listrik dan perawatan gerobak/sepeda, serta gaji dan komisi karyawan.
Penentuan lokasi yang strategis berpengaruh besar terhadap tingkat penjualan produk. Lakukan survei lokasi untuk memastikan area tersebut ramai target pasar. Target distribusi dapat dilakukan di area transportasi umum, area sekitar perkantoran, area zona pendidikan, area sarana olahraga, ataupun di pusat-pusat keramaian kota.
Di Pontianak, spot-spot sekitar kampus Universitas Tanjungpura, kawasan Taman Tugu Digulis, area perkantoran Jalan A. Yani, serta pusat perbelanjaan Ayani Megamal juga layak dipertimbangkan. Bundaran Kota Baru, samping rumah adat dayak (Rumah Radakng), pun ramai dijumpai barista keliling ini. Bahkan, jika sedang berlangsung event lokal ataupun car free day, semakin memperbesar peluang dalam peningkatan target penjualan.
Proyeksi Keuntungan dan Peluang Pengembangan
Berdasarkan pengalaman mitra franchise, Break Even Point (BEP) umumnya tercapai dalam tiga hingga empat bulan, jika penjualan stabil di atas 100 cup/hari. Setelah BEP, pemilik bisa menambah gerobak kedua dan seterusnya, atau memilih waralaba yang juga memiliki menu pendamping, misalnya snack atau cemilan ringan.
Harga jual tiap gelas/cup kopi berkisar antara Rp8 ribu hingga Rp15 ribu, tergantung variannya. Diversifikasi menu minuman non-kopi, seperti lychee tea dan signature chocolate, bisa menarik pelanggan baru. Selain itu, penjualan menu kopi literan juga dapat mempercepat BEP dengan dijual sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu.
Dukungan Franchisor: Kunci Minim Risiko
Salah satu kelebihan waralaba adalah dukungan sistem dari franchisor. Mitra biasanya mendapatkan pelatihan teknis cara membuat kopi dan manajemen keuangannya. Selain itu, akses untuk bahan baku dapat diperoleh dengan harga lebih murah, serta bantuan pemasaran melalui media sosial untuk event-event lokal di kota. Beberapa bahkan menyediakan layanan konsultasi gratis untuk mengatasi kendala operasional.
Meski menjanjikan, bisnis ini memiliki tantangan seperti persaingan ketat dan ketergantungan pada cuaca. Untuk bertahan, pemilik perlu menjaga kualitas dan kebersihan gerobak, membangun relasi dengan pelanggan tetap melalui program loyalitas, dan memiliki cadangan dana untuk menghadapi hari sepi pelanggan.
Pertumbuhan ekonomi Pontianak yang stabil dan budaya ngopi masyarakatnya menjadi faktor pendukung utama. Dengan modal sekitar Rp30 juta, siapa pun bisa mencoba peruntungan di bisnis ini. Bisnis waralaba gerobak kopi keliling bukan sekadar usaha sampingan, melainkan peluang untuk membangun jaringan bisnis yang scalable, yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan diperluas dengan mudah. Konsepnya adalah menjual kopi di berbagai lokasi menggunakan kendaraan (sepeda, motor, atau mobil yang dimodifikasi).
Bisnis ini dapat ditingkatkan dengan mudah dengan menambahkan lebih banyak gerobak atau titik penjualan tanpa memerlukan perubahan signifikan dalam model bisnis. Intinya adalah memiliki modal awal, semangat usaha, dan komitmen menjalankan SOP. Dengan strategi tepat, lokasi akurat, dan dukungan franchisor, gerobak sederhana bisa menjelma menjadi mesin penghasil uang.**
*Penulis adalah Fungsional Penilai Ahli Muda Kanwil DJKN Kalimantan Barat. Artikel ini berdasarkan riset lapangan dan wawancara dengan mitra waralaba. Angka bersifat ilustratif dan dapat berbeda tergantung kondisi pasar.
Editor : Miftahul Khair