Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Apa Konsep Sekolah Unggul?

Hanif PP • Selasa, 18 November 2025 | 11:40 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

Menurut pembaca, apa kriteria sebuah lembaga pendidikan dikatakan bermutu? Berbagai ragam jawaban untuk sementara penulis temukan dari perbincangan singkat. Ada yang memberikan jawaban, bahwa lembaga pendidikan dikatakan bermutu manakala siswanya selalu berprestasi dalam berbagai lomba dan berbagai level. Ada juga yang mengatakan dikatakan bermutu selalu berawal dari tenaga pendidikan yang smart, pendidikan yang berkelas dan sebagainya. Penulis temukan juga jawaban bahwa lembaga pendidikan dikatakan bermutu kalau gedungnya mewah, berlantai lebih dari 1 dengan lift dan sarana prasarana yang up to date. Jawaban yang termasuk ditemukan adalah lembaga pendidikan yang alumninya menembus ke berbagai jenjang pendidikan di atasnya yang bonafide, berkelas, populer dan berprestasi. Apakah demikian adanya? Unggul tentu ada indikasinya dan indikasinya bisa saja berasal dari perspektif pengguna lembaga pendidikan tersebut.

Era beberapa tahun yang lalu, ada konsep mutu yang  pernah dikenal yaitu TQM atau Total Quality Manajemen yang konsep awalnya adalah sebuah istilah yang akrab di dunia industri. Penekanannya pada kontrol mutu yang menjamin bahwa hanya produk yang memenuhi spesifikasi yang boleh keluar dari pabrik dan dilempar ke pasaran (Edward Sallis dalam bukunya Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan, 2010:  35). Sejalan perubahan paradigma dan perkembangan zaman, beberapa aspek menjadi lirikan dunia pendidikan untuk diterapkan. Tahun 1991 konsep TQM mendapat dukungan untuk dipublikasikan di lembaga pendidikan.

Dalam konsep menuju lembaga pendidikan bermutu, ada hal yang menarik untuk dikaji bahwa filosofis menuju madrasah bermutu adalah perbaikan terus menerus. Konsep ini mengajarkan jangan pernah berhenti untuk kreasi dan inovasi. Bagi yang memahami filosofi ini, selalu berpikir untuk kemajuan lembaga pendidikannya menjadi cara berpikirnya adalah dengan mengkondusfikan lingkungan pendidikannya bahwa perbaikan tidak boleh berhenti dan puas sampai disini. Seseorang yang berpikir untuk peningkatan mutu maka cara berpikirnya harus up todate, cerdas melihat peluang, mengajak tim dan lingkungan berpikir maju dan memperkuat mitra yang ada.

Sallis juga menyebutkan (h. 77) bahwa menciptakan kultur perbaikan terus menerus diharuskan untuk berfikir delegatif yakni memberikan kepercayaan kepada staff dan lingkungan untuk bekerja dan membangun kepercayaan sesamanya. Pada uraian ini, mutu lembaga pendidikan dapat dipandang dari sisi proses penguatan pada lingkungan (khususnya pendidik dan tenaga kependidikan) dengan memberikan ruang kreasi dan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang unik, tetapi bermartabat.

 

Sekolah yang Gagal Mutu?

Secara umum, sekolah yang gagal mutu karena tidak adanya keinginan untuk memajukan sekolah dan selalu tenang dan senang di ’zona aman dan nyaman’. Sallis mengklasifikasi rendahnya mutu pendidikan disebabkan beberapa faktor mencakup desain kurikulum yang rendah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang buruk, sistem dan prosedur yang tidak sesuai, jadwal kerja yang serampangan, sumberdaya yang kurang, dan pengembangan staff yang tidak memadai (h. 104).

Beberapa lembaga pendidikan dengan kondisi yang beragam seperti diuraikan di atas tentunya memerlukan dukungan dari jalinan kemitraan baik internal maupun eksternal lembaga pendidikan tersebut. Kemampuan melihat peluang sebagaimana konsep analisis SWAT harus menjadi perhatian. Disinilah pentingnya pengambil keputusan di tingkat pimpinan perlunya menjalin kemitraan (networking) ke berbagai pihak.

Penulis hanya melihat dari sisi peluang bahwa potensi anak didik, potensi guru dan tenaga kependidikan serta potensi internal untuk mengangkat harumnya sebuah lembaga pendidikan adalah strategi yang efektif. Ketika adanya prestasi maka sesungguhnya itu mengharumkan nama sekolah, lembaga, dan otomatis memberikan penilaian tersendiri ke khalayak ramai apalagi serba medsos saat ini. Setiap anak didik memiliki potensi, banyaknya kecerdasan harus mampu dilihat oleh guru dan pembimbingnya. Sepertinya keunggulan sebuah lembaga harus dilihat secara komprehensif, jika tidak, maka dituntut melihat peluang yang ada.

Unggulnya sebuah lembaga pendidikan tidak serta merta bak membalik telapak tangan atau bahkan sekedar melipat jari-jemari. Ia adalah sebuah proses, lingkungan menjadi aspek tidak terelakkan. Luasnya relasi dengan raihan prestasi adalah diantara wujudkan sekolah unggulan.**

 

(Kepala MAN 1 Pontianak; Kepala MTs Berprestasi Kanwil Kemenag Prov. Kalimantan Barat 2013 & 2015)

Editor : Hanif
#Tenaga Pengajar #Kualitas Pendidikan #lembaga pendidikan #fasilitas #bermutu #Perspektif #kriteria